“Kamu mau urus semuanya sendiri? Kamu yakin? Kakimu masih sakit kan?” tanya Mas Daffin, heran. “Iya, aku mau urus sendiri. Kakiku sudah sembuh, Mas. Kamu nggak usah turun. Awas saja kalau berani turun,” ancamku sambil keluar dari mobil. “Ren,” panggilnya. Namun, aku tak peduli dan pergi melangkah meninggalkannya sendiri. “Ngeselin banget sih! Apa susahnya kasih tau siapa yang baru saja meneleponnya. Mana dimatiin lagi, nggak diangkat. Bikin tambah penasaran kan jadinya.” Sambil berjalan, bibirku komat-kamit menggerutui sikap yang dilakukan oleh Mas Daffin tadi. Semua yang ia lakukan membuat batinku meronta saking penasarannya. Ia mematikan panggilan itu sambil berbicara dengan nada yang ketus. Kenapa Mas Daffin seperti itu? Siapa penelpon itu sebenarnya? “Aku jadi kepikiran kan? Nyebe

