Minggu pagi di kediaman Saverio biasanya sunyi, namun sejak Kaizan memutuskan untuk mengambil sesi terapi dan mengurangi jam kerjanya di kantor pusat, rumah itu mulai memiliki nyawa. Yasmin terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan karena aroma mentega cair dan wangi kopi yang menyeruak masuk ke celah pintu kamar. Ia bangkit, merapikan piyamanya, dan melangkah turun. Di sana, ia tertegun di ambang pintu dapur. Kaizan, pria yang biasanya mengenakan setelan jas seharga ratusan juta rupiah, kini hanya mengenakan kaos putih polos dan apron hitam. Tangannya yang besar dan kokoh terlihat sangat kontras saat memegang spatula, mencoba membalik pancake dengan sangat hati-hati. Di sampingnya, Aksa berdiri di atas kursi kecil, sibuk menaburkan butiran cokelat ke seluruh permukaan meja dap

