Part 1
Gemuruh di dalam rumah itu seolah tak pernah padam. Bagi Kaizan, rumah yang harusnya jadi pelabuhan tempatnya melepas penat, kini malah terasa seperti medan perang.
Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak? Istri yang ia ratukan, Sarah, ternyata diam-diam bermain api dengan pria lain, yang ironisnya, adalah bawahannya sendiri di kantor.
Dulu, Kaizan memanjakan Sarah tanpa batas. Mau liburan ke luar negeri? Tinggal tunjuk. Mau ganti mobil mewah? Langsung ada di garasi.
Kaizan percaya bahwa membahagiakan istri adalah kunci keberkahan hidupnya. Namun, semua kemewahan itu ternyata tak cukup untuk membuat Sarah menetap dengan hati yang utuh.
Pernikahan mereka memang sudah terasa hambar sejak Rafka, putra mereka, menginjak usia tiga tahun. Namun, Kaizan tak menyangka Sarah akan mencari pelarian di pelukan orang lain.
Sial!
Kaizan mendengus kasar saat teringat bukti-bukti yang ia temukan. Pesan-pesan mesra yang menjijikkan, hingga video-video yang tak seharusnya ia tonton.
Sebagai pria normal, harga diri Kaizan serasa diinjak-injak. Ia bisa menahan hasratnya selama ini karena sibuk bekerja demi keluarga, tapi istrinya? Sarah justru membiarkan tubuhnya dijamah pria lain demi kepuasan sesaat.
Setelah pertengkaran hebat yang melelahkan di kamar, Kaizan melangkah keluar dengan rahang mengeras.
Di ruang tengah, ia melihat Rafka sedang asyik bermain lego. Tak ingin menularkan energi negatif pada sang putra, Kaizan memilih melipir ke taman belakang untuk mencari udara segar.
Ia memijat pelipisnya. Bayangan Sarah bersama pria bernama Latif itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Ehem..."
Sebuah dehaman halus memecah kesunyian. Kaizan menoleh.
Di sana berdiri Yasmin Malika, ART mereka, membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan sepiring camilan.
"Ini kopi dan cemilan buatan saya, Tuan. Biar pikirannya sedikit tenang," ujar Yasmin dengan suara lembut yang menyejukkan.
"Taruh saja, Yasmin," jawab Kaizan singkat.
Saat membungkuk untuk meletakkan nampan, Yasmin melakukan gerakan yang sangat halus namun mematikan. Ia membiarkan rambutnya terjatuh, dan secara sengaja memberikan sudut pandang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di depan sang majikan.
Yasmin memang cantik, putih, mulus, dan memiliki aura yang menggoda bagi pria mana pun yang melihatnya.
"Duduk, Yasmin," titah Kaizan tiba-tiba, matanya mendongak menatap gadis itu.
Yasmin tampak sedikit terkejut. "Saya? Duduk di sini? Enggak usah, Tuan, saya berdiri saja."
"Duduk saja. Temani saya," ulang Kaizan, kali ini dengan nada yang tak bisa dibantah.
Akhirnya, Yasmin duduk di hadapan Kaizan. Ini pertama kalinya mereka duduk berhadapan sedekat ini.
Yasmin menunduk sopan, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Kaizan yang tampak hancur.
"Tuan sepertinya lagi banyak pikiran ya?" tanya Yasmin hati-hati.
"Begitulah. Berantakan," sahut Kaizan pendek.
"Tuan... dalam hidup itu cobaan pasti datang. Kadang memang bikin kita pengen menyerah. Tapi kalau kita coba lihat dari sisi lain, pasti ada hikmahnya. Sabar ya, Tuan." Yasmin menatap dalam ke mata Kaizan.
Kaizan sedikit terpana. "Pintar juga kamu merangkai kata."
Yasmin tersenyum manis, tipe senyum yang bisa membuat pria lupa sejenak pada masalahnya. "Ngomong sabar itu emang gampang, Tuan. Tapi menjalaninya yang butuh jiwa besar. Saya yakin Tuan punya itu."
Kaizan memperhatikan Yasmin lebih detail.
Gadis ini baru lima bulan bekerja di sini, tapi perangainya sangat tenang. Berbeda jauh dengan Sarah yang meledak-ledak dan egois.
"Saya ngerasa dunia saya lagi hancur, Yas," gumam Kaizan, entah kenapa ia merasa nyaman bicara pada gadis ini.
"Tuan nggak sendirian kok. Kalau Tuan butuh teman cerita, saya siap dengerin kapan saja," jawab Yasmin penuh perhatian.
Tepat saat itu, Rafka berlari kecil menghampiri mereka sambil memamerkan robot lego buatannya. "Tante Yas! Lihat deh, keren kan?"
"Wah, hebat! Kamu buat sendiri, Aka?" Yasmin langsung menyambut Rafka dengan hangat.
"Iya dong. Ini kan diajarin Tante Yas kemarin waktu nemenin Rafka tidur," seru Rafka semangat, lalu menoleh ke ayahnya. "Papa lihat, Tante Yas baik banget kan, Pa?"
Kaizan tertegun. Ia melihat pemandangan di depannya, seorang wanita yang tampak sangat keibuan dan seorang anak yang merasa nyaman.
Sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah ini.
"Oh, jadi ini yang terjadi kalau aku nggak ada di rumah?"
Suara melengking itu menyambar seperti petir. Yasmin spontan berdiri, wajahnya pucat.
"Nyonya!"
Sarah berdiri di ambang pintu taman dengan tangan bersedekap. "Kamu berani banget ya? Mau menggoda suami dan anak saya?"
"Nyonya salah paham, saya cuma..."
"Halah! Kamu itu cuma ART, nggak pantes duduk bersanding sama mereka!" Sarah melangkah maju dan mendorong bahu Yasmin hingga gadis itu terhuyung.
"SARAH! Cukup!" bentak Kaizan sambil berdiri melindungi Yasmin.
"Kenapa? Kamu marah aku selingkuh, tapi kamu sendiri apa? Malah asik-asikan sama pembantu!" tuding Sarah dengan wajah sinis.
"Jangan samakan aku sama kamu yang murahan," desis Kaizan dingin. "Yasmin, bawa Rafka masuk ke kamar sekarang!"