"Ada apa denganmu? Jangan mengada-ngada, Sarah. Aku dan Yasmin tidak ada hubungan apa-apa. Dia cuma menemaniku mengobrol sebentar," ujar Kaizan dingin, menatap istrinya yang sedang dikuasai amarah.
Sarah mendengus sinis. "Aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia! Kita belum resmi cerai, jadi kamu nggak berhak dekat dengan siapa pun!"
"Oh? Jadi cuma kamu yang boleh asik-asikan dengan priamu itu?" sindir Kaizan telak.
"Aku akan mengatur pertemuanku dengan Latif, tapi kamu jangan jadikan itu alasan untuk mencari pelarian pada pembantu!" balas Sarah tak mau kalah.
Kaizan menghela napas lelah. "Sudahlah, Sarah. Kita sudah terlalu jauh. Kita bertahan selama ini cuma demi Rafka. Biarkan kita pisah baik-baik. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu."
"Tapi ingat," Sarah menatap Kaizan tajam, "harta gono-gini tetap harus dibagi. Aku nggak mau keluar dari sini dengan tangan kosong."
Kaizan terkekeh hambar, sebuah tawa yang meremehkan. "Kamu lupa? Sebelum kita menikah, ayahku memintamu menandatangani perjanjian pranikah. Kamu nggak punya hak sepeser pun atas harta keluarga Saverio. Jadi, kalau kamu mau pergi, silakan. Tapi jangan bawa apa pun dari rumah ini. Sudah cukup aku membiayai hidup glamourmu selama ini."
Wajah Sarah seketika pucat. Ia benar-benar lupa soal surat sialan itu. Ia tak mungkin pergi tanpa membawa modal apa-apa.
"Latif mampu memberimu segalanya, kan? Dia cukup kaya menurutmu. Jadi, buat apa menuntut dariku?" Kaizan kembali duduk, memunggungi istrinya seolah Sarah tak lebih dari angin lalu.
"Tapi dia nggak sekaya kamu, Kai!" Sarah akhirnya jujur pada keserakahannya. Ia duduk di hadapan Kaizan, mencoba melunakkan suaranya. "Sebenarnya ini semua salahmu. Kamu nggak pernah punya waktu buat aku. Kamu kasih harta, tapi kamu nggak kasih dirimu sendiri."
"Ya, anggap saja semua salahku. Yang penting kita cerai," sahut Kaizan datar.
Tiba-tiba, Sarah bangkit dan duduk di pangkuan Kaizan. Ia mulai melancarkan aksi rayuannya, membelai pipi suaminya dengan lembut. "Aku nggak akan biarkan kamu jatuh ke tangan wanita lain," bisiknya posesif.
"Egois," desis Kaizan sembari menepis tangan Sarah.
Namun Sarah tidak berhenti. Ia mengecup pipi Kaizan, jemarinya merayap nakal di d**a bidang suaminya, lalu beralih memberikan kecupan di leher jenjang pria itu.
Kaizan terdiam sejenak. Sebagai pria normal, ia tak bisa memungkiri ada desiran yang muncul, tapi logikanya berteriak jijik karena ia tahu Sarah baru saja dari pelukan pria lain.
Sebelum Sarah melangkah lebih jauh, Kaizan langsung bangkit berdiri hingga Sarah hampir terjatuh. "Jangan mempermainkanku, Sarah. Kamu terlalu murah melakukan ini setelah semua pengkhianatanmu."
Kaizan melangkah masuk ke rumah dengan perasaan muak, meninggalkan Sarah yang menghentak kaki penuh kekesalan.
Gagal merayu suami, Sarah butuh pelampiasan. Dan sasarannya hanya satu, yaitu Yasmin.
Sarah melabrak kamar ART yang kecil itu. Tanpa mengetuk, ia masuk dan langsung menjambak rambut Yasmin yang sedang membaca buku.
"Kamu mau menggoda suamiku, hah?!" teriak Sarah kalap.
"Aww! Nyonya, sakit... Saya nggak melakukan itu," rintih Yasmin, namun matanya tidak menunjukkan ketakutan yang tulus.
Sarah menyeret Yasmin keluar kamar, menarik rambutnya dengan kasar hingga Yasmin tersungkur di lantai dapur. "Lihat pakaianmu! ART macam apa yang berpakaian begini di depan majikan pria? Kamu nggak level duduk bersanding dengan suamiku!"
PLAK! Sarah menghempaskan tubuh Yasmin ke lantai, lalu dengan kejam ia menginjak jari-jemari Yasmin menggunakan sandalnya.
"Sakit, Nyonya! Tolong lepaskan!" lirih Yasmin kesakitan.
"Ini peringatan! Kalau aku lihat kamu mendekati Kaizan atau Rafka lagi, aku pastikan kamu nggak akan betah hidup. Aku bakal siksa kamu sampai mati!" ancam Sarah sebelum akhirnya melenggang pergi dengan perasaan puas.
Yasmin perlahan bangkit. Ia masuk kembali ke kamar, meraih tisu basah untuk mengelap tangannya yang memerah dan kotor akibat injakan sandalnya Sarah. Ia tidak menangis.
Sebaliknya, sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.
"Kamu pikir aku bakal berhenti, Sarah?" bisik Yasmin pada bayangannya di cermin.
Ia meraih jedai miliknya, merapikan penampilannya kembali. Matanya berkilat penuh kebencian yang sudah dipendam bertahun-tahun.
"Aku akan merebut segalanya darimu. Rumah ini, suamimu, anakmu... Aku akan pastikan kamu keluar dari sini tanpa sisa. Sama seperti cara ibumu merebut kebahagiaan ibuku dulu."
Yasmin menyeringai. Permainan baru saja dimulai, dan ia tak akan gentar hanya karena injakan kaki seorang wanita yang sebentar lagi akan kehilangan segalanya.
***
Malam menunjukkan pukul dua dini hari. Kaizan terbangun dengan tenggorokan kering kerontang.
Persediaan air di kamarnya habis, memaksanya untuk turun ke lantai bawah. Ia tak tega membangunkan Nur atau Yasmin hanya untuk segelas air, mereka pasti sudah kelelahan setelah seharian mengurus rumah dan Rafka.
Di dapur yang remang, Kaizan membuka kulkas besar itu, meraih sebotol air mineral, dan meneguknya hingga hampir tandas.
Rasa dingin yang menjalar di kerongkongannya sedikit memberi ketenangan pada pikirannya yang penat.
Namun, saat hendak beranjak, telinganya menangkap sesuatu.
Sebuah suara yang samar namun cukup lantang memecah keheningan malam.
Kaizan mengernyit. Suara itu berasal dari arah area kamar ART.
Langkahnya terhenti. Ia mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak peduli, tapi suara desahan itu terdengar semakin jelas dan dalam.
Rasa penasaran mulai merayapi benaknya. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara derap langkah kaki lain mendekat.
Kaizan mematung, berpura-pura kembali meneguk airnya.
"Sayang? Kenapa bangun?"
Itu Sarah. Ia muncul dengan jas tidur sutra yang terbuka, sengaja memamerkan lekuk dadanya. Sayangnya, bagi Kaizan, pemandangan itu tak lagi memicu gairah. Ia hanya merasa muak membayangkan tubuh itu baru saja disentuh pria lain.
"Ambil minum," jawab Kaizan pendek.
"Aku dengar suara... suara apa itu?" Sarah celingukan.
"Aku nggak dengar apa-apa," dusta Kaizan, meski jantungnya berdegup kencang karena suara dari arah kamar ART itu masih terngiang di telinganya.
"Ya sudah. Nggak mungkin ada suara aneh di rumah ini," sahut Sarah sembari meraih botol minum. "Aku bangunkan Nur saja ya, suruh siapkan minum di kamar."
"Nggak usah. Ayo kembali ke kamar." Kaizan mendesak, ia ingin segera menjauh dari situasi gelisah itu.
Dalam perjalanan kembali, Sarah menghentikan langkah. "Kamu mau tidur sama aku?"
"Enggak. Pekerjaanku masih banyak," tolak Kaizan telak.
"Ini sudah jam dua, Kai. Kamu nggak ngantuk?"
"Aku bisa kontrol jam tidurku sendiri. Kamu tidur saja."
"Sayang..." lirih Sarah.
Tiba-tiba, ia menanggalkan baju tidurnya di depan Kaizan. Tanpa rasa malu, ia memamerkan tubuhnya, bahkan melakukan gerakan provokatif pada dirinya sendiri. Sarah sedang berjudi dengan harga dirinya, ia bingung harus memilih siapa. Latif adalah cintanya, tapi Kaizan adalah sumber uangnya.
Bisakah ia memiliki keduanya?
Kaizan hanya menatapnya datar. Ia membungkuk, mengambil pakaian Sarah yang terserak di lantai, lalu membantu istrinya mengenakannya kembali.
"Jaga harga dirimu di depanku. Kita sebentar lagi cerai," bisik Kaizan sembari menepuk pundak Sarah dingin. "Aku nggak mau berhubungan badan di tengah proses perceraian kita."
"Aku akan batalkan gugatannya di mediasi nanti!" seru Sarah panik.
"Jangan. Kejar saja pria yang kamu cintai itu. Jangan siksa dirimu denganku."
"Tapi aku nggak bisa kehilangan kamu, Kai..."
Kaizan menatapnya tajam. "Kamu mau uang? Aku akan kasih berapa pun yang kamu minta."
Seketika, raut wajah Sarah berubah. Kesedihan palsunya lenyap, berganti dengan binar serakah. "Kamu serius? Aku akan kasih tahu jumlahnya nanti."
Kaizan hanya mengangguk tipis. Ia merasa miris melihat betapa mudahnya cinta Sarah dibeli dengan angka.
Setelah Sarah masuk ke kamar dengan wajah semringah, Kaizan kembali ke ruang kerjanya. Namun, fokusnya pecah. Suara desahan dari kamar ART tadi terus berputar di kepalanya.
***
Pagi harinya, rumah sudah terasa berbeda.
Sarah sudah pergi sejak subuh, meninggalkan kamar yang kosong.
Saat Kaizan turun dengan setelan kantor yang rapi, ia disambut pemandangan yang tak biasa di ruang makan.
Yasmin di sana, tampak begitu menawan dengan pakaian yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang semok.
Kulit putihnya yang terpapar cahaya pagi membuat Kaizan tertegun sejenak. Biasanya ia bisa menahan diri, tapi pagi ini, gairahnya seolah dipicu oleh kehadiran gadis itu.
Yasmin sedang telaten menyiapkan bekal untuk Rafka.
"Eh, Tuan sudah bangun?" sapa Yasmin menyadari kehadiran majikannya.
"Iya," jawab Kaizan singkat sembari duduk.
"Nyonya pergi pagi-pagi sekali, katanya ada urusan penting."
"Ya."
"Sini Tuan, biar saya bantu siapkan..." Yasmin menghampiri Kaizan dengan terburu-buru, lalu seolah kehilangan keseimbangan, ia tergelincir dan jatuh tepat ke pelukan Kaizan.
Bugh.
Kaizan merasakan sensasi lembut yang menabrak dadanya. Aroma tubuh Yasmin yang segar menyerbu indra penciumannya.
"Maaf, Tuan! Maaf sekali, saya nggak sengaja," ucap Yasmin dengan wajah memelas, namun tangannya masih bertumpu pada d**a Kaizan.
"Nggak apa-apa," sahut Kaizan, suaranya sedikit serak.
"Baju Tuan jadi kotor..."
"Sudah, Yas. Nggak apa-apa."
Yasmin berdiri tegak kembali dengan wajah memerah. Saat Kaizan mulai menyantap sarapannya, ia melihat Yasmin hanya berdiri di pojok.
"Kenapa berdiri di situ? Duduklah. Sarapan sama-sama," titah Kaizan.
"Eh? Tapi saya nggak pantas, Tuan... Saya kan cuma ART."
"Nggak usah mikir begitu. Ini perintah. Duduk."
Dengan ragu, Yasmin duduk di kursi kosong di hadapan Kaizan. "Saya jadi nggak enak, Tuan..." gumamnya sembari mengelus leher belakangnya pelan.
"Ayo makan, Tante Yas! Jangan bengong terus," celetuk Rafka polos.
Yasmin tersenyum dan mulai makan, sementara diam-diam ia melirik Kaizan. Di balik wajah tenangnya, Yasmin tahu rencananya mulai membuahkan hasil.
Kaizan mulai memperhatikannya, dan itu adalah awal dari kehancuran Sarah yang sudah ia ranca sedemikian rupa.