Hari Minggu tiba, namun suasana di kediaman Saverio tetap terasa hambar.
Kaizan menuruni tangga dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah kedekatan Yasmin dengan Rafka.
Pemandangan yang kontras dengan kenyataan bahwa Sarah, sang istri sah, belum juga menginjakkan kaki di rumah sejak kemarin.
Kaizan berdeham pelan, lalu mendudukkan diri di kursi ruang tengah.
"Tuan sudah bangun?" tanya Yasmin dengan nada manis.
Kaizan hanya mengangguk singkat.
"Saya siapkan sarapan dulu ya, Tuan," ujar Yasmin sembari hendak beranjak.
"Biarkan Nur saja yang siapkan. Kamu duduk di sini saja, temani Rafka," titah Kaizan. Ia entah kenapa merasa lebih tenang melihat Yasmin ada di dekat putranya.
Yasmin kembali duduk. Dari sudut matanya, ia memperhatikan Kaizan yang tampak letih, jemari pria itu memijat tengkuknya berkali-kali.
Yasmin tahu betul, pria di hadapannya ini sedang sekarat karena kesepian. Dan ia siap menjadi penawarnya.
"Tuan... mau saya pijat?" tawar Yasmin halus.
Kaizan menggeleng. Namun, perhatian mereka teralih saat Rafka pamit. "Tante, Papa, Rafka ke rumah Jojo dulu ya mau main lego!"
"Iya, jangan jauh-jauh ya, Sayang," sahut Yasmin lembut. Begitu Rafka menghilang di balik pintu, suasana rumah seketika menjadi sunyi. Hanya ada mereka berdua.
"Maaf, Tuan," ucap Yasmin tiba-tiba.
"Minta maaf untuk apa, Yas?"
"Saya jadi lancang duduk di sini, padahal saya cuma ART..."
"Sudahlah. Kamu juga manusia, posisi itu tidak mengubah apa-apa," potong Kaizan datar.
Yasmin tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh arti. Ia bangkit dan melangkah ke belakang kursi Kaizan. "Saya pijat sebentar ya, Tuan? Saya cukup ahli soal ini."
Sebelum Kaizan sempat menolak lagi, jemari lentur Yasmin sudah mendarat di bahunya.
Sentuhannya lembut namun bertenaga. Kaizan terdiam, matanya terpejam saat rasa nyaman merambat ke seluruh sarafnya. Lihai.
Yasmin tahu persis titik-titik mana yang harus ditekan. Namun, lama-kelamaan sentuhan itu berubah menjadi belaian halus di area sensitif leher dan belakang telinganya.
Debar jantung Kaizan mulai tak keruan. Sesuatu dalam dirinya mulai bereaksi, memicu gejolak yang sudah lama ia tekan.
"Yasmin... sudah," gumam Kaizan, mencoba mempertahankan sisa logikanya.
"Kenapa, Tuan? Pijatan saya nggak enak?"
"Bukan nggak enak. Tapi ini nggak pantas. Kamu bukan istri saya."
"Tuan adalah majikan saya. Saya siap melakukan apa pun untuk Tuan, apalagi cuma memijat seperti ini. Anggap saja ini pengabdian saya," bisik Yasmin meyakinkan.
Godaan itu hampir saja menang, hingga Nur datang menginstrupsi. "Tuan, sarapan sudah siap."
Yasmin tidak peduli pada tatapan kaget Nur yang melihatnya sedang memijat mesra sang majikan. Kaizan segera bangkit, mencoba menetralisir kecanggungan. "Baik. Nur, kamu mau ke mana?"
"Saya mau ke pasar dulu, Tuan. Kalau butuh apa-apa, ada Yasmin," pamit Nur.
Kini Kaizan kembali sendirian di ruang makan, dengan Yasmin yang berdiri tak jauh darinya, menanti instruksi layaknya pelayan setia. Namun, bagi Kaizan, kehadiran Yasmin kini terasa seperti ancaman bagi pertahanan hatinya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Kaizan tanpa menoleh.
"Sudah, Tuan."
"Ya sudah, kamu masuk kamar saja. Saya mau makan sendiri."
Yasmin mengangguk patuh dan melangkah pergi. Ia merasa sedikit kecewa karena Kaizan masih mencoba membentengi diri. Namun, Yasmin punya rencana cadangan.
Di meja makan, Kaizan mendesah panjang. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, ia mulai tertarik pada Yasmin. Tidak boleh, pikirnya. Jangan sampai pengkhianatan Sarah membuatku jatuh pada lubang yang sama.
Namun, keheningan sarapan itu pecah oleh suara yang membuatnya membeku.
Ahhh... mmhh...
Sebuah desahan halus, berirama, dan sangat sensual terdengar dari arah lorong kamar ART.
Kaizan membelalak. Suara itu... suara yang sering ia dengar tanpa sengaja di tengah malam. Kini ia sadar sepenuhnya, itu adalah suara Yasmin. Karena Nur sedang ke pasar, dan Sarah tak di rumah.
Rasa ingin tahu mengalahkan akal sehatnya. Hasratnya yang sedang haus seolah terpanggil oleh suara itu.
Dengan langkah pelan agar tak menimbulkan bunyi, Kaizan beranjak dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang campur aduk antara rasa bersalah dan rasa penasaran yang membuncah.
Ia melangkah mendekat ke arah sumber suara, ingin melihat dengan matanya sendiri: apa yang sebenarnya sedang dilakukan Yasmin di balik pintu kamar itu?