Divia masih terdiam di halaman Champs. Sejak tadi dia di sini, menimang-nimang apakah akan masuk ke dalam atau tidak. Sebentar-sebentar matanya menatap ke arah Eza. Lalu ke arah Mauren dan Azel. Kemudian pada Finza yang masih merenung di depan ponselnya. Azel menghembuskan nafas panjang. "Ayo masuk! Champ keburu tutup. Ini udah jam sepuluh malem." Eza mengangguk. "Acel bener. Nggak ada gunanya kita di sini terus. Mendingan kita masuk dan ngomong baik-baik." Divia mendesis saat tatapan mata Azel dan Eza tertuju padanya. Entah ini maksudnya memberi kode atau memang memaksanya yang harus turun tangan duluan. Menyerah, Divia memaksakan kakinya masuk ke dalam diikuti yang lain. Keadaan Champ sudah remang-remang. Manda dan pegawai lainnya sibuk membereskan meja dan kursi di depan. Begitu pul

