Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Sejak bangun tidur tadi Faza sudah sangat membara untuk segera mengalahkan Raymond. Bayang-bayang senyuman menjijikan cowok itu terus membayangi membuat semangat dalam diri Faza semakin membara. Saking semangatnya, Faza sampai tak bisa berkata-kata membuat Izzy, Zaza dan Fisha menatapnya tak mengerti.
Saat sarapan pun Faza terus memakan roti bakarnya dengan mulut terkatup rapat. Faza jadi pendiam. Coletahan andalannya di pagi hari sama sekali tak terdengar. Hal itu sontak membuat kedua orang tuanya berpandangan khawatir. Izzy sampai menyentuh kening Faza takut-takut jika anaknya kerasukan sesuatu yang membuatnya berlaku aneh seperti ini. Zaza juga menanyakan keadaan Faza beberapa kali. Yang hanya dijawab dengan dehaman singkat anaknya. Lain dengan Fisha, si Ikan satu itu malah berkomentar jika abangnya sudah mulai niat belajar. Faza tidak menggubris tanggapan keluarganya. Begitu sarapannya sudah habis dia segera meluncur ke sekolah.
Sepanjang pelajaran dilalui Faza dengan perasaan tidak karuan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Penjelasan Bu Atun tentang matriks matematika benar-benar hanya numpang lewat di telinganya. Juga kecerewetan Jaja Suhardja yang menceritakan kalau dia harus membatalkan jadwal kencannya dengan sang mantan Marsella gara-gara pertandingan basket sore nanti.
Bel pulang akhirnya berbunyi nyaring. Faza langsung bangkit berlarian keluar kelas. Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir pukul 3 sore. Artinya kawanan Raymond dan SMA 28 akan segera datang. Tiba-tiba keringat dinginnya mengalir turun. Degupan jantungnya pun berdetak tak karuan. Mendadak rasanya tiba-tiba dia merinding.
"Fa, lo ngapain diem di situ? Ayo kita siap-siap!" Raden berseru mendekat.
Faza tersentak dan buru-buru melakukan stretching sekaligus warm up. Keduanya sudah bersiap di lapangan dengan seragam basket mereka. Dari jauh tampasuk Azel berlarian sembari memasang wajah malas sekaligus ogah-ogahan.
"Cel, lo juga sini buruan! Bentar lagi Raymond bakal datang."
Azel mengeluh sekilas tentang belajar dan segala macamnya. Pada akhirnya dia menyerah dan mengganti seragam putih-abunya dengan seragam basket sekolah mereka yang dipinjam dari club ekskul.
"Gue nggak yakin kita bakal menang." Azel mendesis lirih.
Faza mengorek telinga sekilas. "Apa lo bilang? Kita nggak menang? Kita pasti menang! Jangan pesimis gitu dong, Cel! Lagipula ada si tengil sama Adry. Ya kan, Den?" Faza meminta kepastian dari Raden.
Raden mengangguk. "Yo'i. Gue juga yakin seratus persen kalau kita bakal menang."
Azel menepuk jidat frustasi. "Justru karena itu masalahnya. Duo musuh itu yang nanti bakal bikin kita kalah. Feeling gue nggak bakalan salah, Fa."
Faza mengangkat sebelah alisnya kebingungan. Tepat saat itu seru-seruan penuh amarah terdengar dari kejauhan. Faza menengok sekilas. Matanya langsung tertuju pada Eza dan Adry yang tengah melempar kata-kata pedas.
"Mau lo apaan, sih, Ja?"
"Ye, siapa juga yang mulai duluan."
"Lo ngaca, dong! Gue nggak ngomong apa-apa juga sama lo! Kenapa lo ungkit-ungkit terus?"
"Well, ngeles aja terus! Lo emang beneran cocok ya sama nenek sihir! Sama-sama emosian!"
"Bilang aja lo yang suka sama Mauren."
"What? Gue? Hahaha..."
Faza, Raden, dan Azel memandang mereka bergantian. Azel mendengus malas. Tahu keduanya pasti akan memulai sesi bertengkar seperti hari biasa. Dugaannya memang tidak salah lagi. Ternyata perasaan tidak enaknya sejak tadi pagi terbukti sekarang. Cepat-cepat disenggolnya lengan Faza dan Raden agar keduanya melerai.
Faza memberi kode pada Azel dan Raden agar keduanya diam saja di tempat. Kemudian Faza yang sekarang sibuk melerai mereka. Baru separuh jalan, tatapan mata tajam Adry dan Eza langsung menhunusnya. Membuat Faza jengkel setengah mati.
"Lo berdua apa-apaan, sih? Kita bahkan belum tanding." Faza menggaruk rambut frustasi. "Lihat, tuh. Raden sama Acel udah pada pemanasan. Daripada lo berdua berantem nggak guna kayak gini, mending lo gabung sama mereka."
Eza melempar bola di tangannya jengkel. Setelahnya dia memalingkan wajah dan berlari mendekati Azel dan Raden. Lalu sibuk melakukan stretching bersama.
Faza menepuk bahu Adry. "Please, buat hari ini aja lo berdua jangan berantem."
"Gue nggak janji, Fa." Adry tersenyum sinis. Sebelah tangannya berusaha menyingkirkan tangan Faza yang menyentuh pundaknya. Membuat Faza terkaget seketika dengan ulah Adry yang tiba-tiba.
Adry pura-pura biasa saja. Dia berusaha mengabaikan wajah diam Faza. Namun, di beberapa langkah selanjutnya Adry membeku di tempat.
"Thanks soal Melodi."
Faza mengernyit. Soal apa? Sungguh dia tak mengerti sama sekali.
***
Pertandingan melawan SMA 28 memang santer terdengar di seluruh telinga anak-anak SMA 40. Sore hari itu keadaan gedung olahraga sudah seperti arena tawuran. Divia, Finza, dan Mauren—yang paling tak berminat—tampak berusaha membelah kepadatan yang sedang terjadi.
Finza masih terus berteriak dengan gaya centil andalannya. Yang pasti langsung membuat cowok-cowok memberi celah agar mereka bertiga bisa lewat. Lalu setelahnya dia akan menebar kiss bye jarak jauh yang membuat cowok-cowok itu berlari kegirangan. Kemudian Divia dan Mauren akan langsung memasang wajah sinis karena malas dengan aksi menjijikkan itu.
"Yeah, lo berdua harus tahu magic dari gue selalu bisa mencairkan hati orang-orang." Finza kembali membanggakan diri seperti yang sudah-sudah. Kali ini diiringi dengan kedipan mata super eksotis dan kibasan rambut manja.
Mauren mendesis jengkel. "Terserah lo, Cha. Gue nggak peduli."
Divia mengangguk sembari menambahkan. "Dan inget, lo udah punya Darian. Jadi jangan macem-macem sama cowok lain."
Finza memanyunkan bibir. Setelahnya dia mengikuti langkah cepat Divia dan Mauren memasuki arena gedung sekolah. Lalu ketiganya memilih bangku penonton terdepan. Hanya beberapa detik sampai dia kembali berseru dan memulai keberisikan begitu tim SMA 28 memasuki lapangan.
Suasana gedung menjadi ramai dan penuh sorak-sorai. Apalagi saat sosok tampan Raymond memasuki lapangan. Divia malas sekali melihat cowok itu. Apalagi senyuman mautnya yang sangat menyebalkan. Bahkan dari sini dia bisa melihat senyuman itu ditujukan untuknya. Dan jujur saja, Divia tidak menyukai senyumannya.
"Ya ampun, Raymond kalau di lapangan ganteng banget. Oh my gosh, gue bisa pingsan mendadak kalau gini caranya." Finza kembali berteriak. Sebelah tangannya melambai-lambai ke atas berusaha mencari perhatian Raymond. Tapi yang dicari perhatian justru malah menatap fokus pada Divia. Lama-lama hal itu membuat Finza kesal setengah mati. Belum lagi sikap Divia yang malah acuh dan mengabaikan cowok seganteng Raymond.
"Div, lo dilihatin Raymond dari tadi!" Finza menyenggol lengan Divia. "Salam balik, kek."
Divia melengos tanpa minat. "Hih.... lo aja sana."
Finza mendesis malas. Lalu tiba-tiba keadaan hening. Divia mulai fokus menatap segerombolan pemain yang berada di lapangan. Mauren tak ketinggalan. Kini buku Biologi yang tadi dihafalnya sudah tertutup rapat dan diletakkan agak jauh dari jangkauan. Sudah jelas Mauren pasti tak mau ketinggalan dengan segala hal berbau Adry.
Sekarang seluruh fokus penonton tertuju pada lapangan. Di sana sudah berjejer rapi tim SMA 28 dan SMA 40. Dan di paling terdepan, Divia bisa melihat Raymond yang saling berhadapan dengan Faza. Keduanya tampak menebar gendang peperangan. Entah mengapa hal itu sedikit membuat Divia merasa waswas. Padahal biasanya dia tidak peduli dengan basket dan segala macamnya. Tapi hal ini lain. Divia merasa Faza harus menang kali ini. Harus. Karena sepertinya sesuatu yang buruk bisa saja terjadi kali ini.
Divia menunduk menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Memorinya berputar dan dia mengingat wajah misterius Raymond sore kemarin. Ada sesuatu terselubung di balik senyumannya. Divia mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi.
Salah seorang siswa kelas sebelas yang menjadi wasit mulai membunyikan peluit. Bola dilempar dan Raden berhasil merebut bola. Cowok itu melakukan dribble dan mulai masuk ke bagian lawan. Salah seorang pemain dari SMA 28 mencoba merebut bola. Raden terdiam sebentar, memandang ke sekeliling dan melakukan passing ke arah Faza.
Faza berlari ke depan berusaha menangkap bola. Tapi, dari sisi yang lainnya Raymond muncul sambil memasang senyum menyebalkan. Faza menyumpahi senyuman sok manis itu. Keduanya terlibat povit selama beberapa kali. Faza yang terus berputar mencari celah kesana-kemari dari tubuh Raymond. Dan sepertinya Raymond tak memberi celah sama sekali. Terus mengikuti Faza dan menghalau pergerakannya.
"Sebentar lagi, gue pastikan Divia jadi cewek gue."
Suara itu terdengar lirih. Namun, cukup untuk didengar Faza. Tentu saja hal itu membuatnya naik darah dan mulai membalas dengan perkataan yang pedas.
"Oh, itu nggak bakal terjadi. Gue yang akan menang."
"Kita lihat aja."
Raymond kembali tersenyum miring. Cowok itu mendongak dan mengirim kiss bye unuk Divia dari jauh. Faza menggeram mengutuk aksi cium jauh itu. Dari sudut matanya Faza melirik ke arah Divia. Divia terlihat sedang mengobrol dengan Mauren. Sepertinya cewek itu tidak menyadari cium jauh Raymond. Baguslah. Sepertinya hanya Finza yang sadar adegan cium jauh tadi ditujukan untuk Divia. Karena sekarang cewek itu terlihat menarik-narik seragam Divia.
Pertandingan masih berlangsung sengit. Kulit bundar itu bergulir kesana-kemari. Kali ini dia berada di tangan Raden. Raden terlihat bingung akan melempar bola itu kemana. Di ujung lapangan sana Eza dan Adry mengangkat tangan memberi kode pada Raden agar memberikan bola itu pada mereka. Namun Raden segera menggeleng masih mendribel bola sambil berfikir. Di dekat ring Faza dijaga ketat oleh Raymond. Jalan satu-satunya adalah... Raden melempar bola itu ke belakang.
Azel yang berada di deretan paling belakang. Siap tidak siap harus menerima bola itu. Untung saja si bundar mendarat tepat di tangan Azel. Dari kejauhan dia melotot pada Raden yang seenaknya saja melepar bola. Bagaimana jika bola itu tidak tepat sasaran. Azel dengan terengah-engah membawa bola ke tengah lapangan.
Azel menatap sekeliling mencari celah untuk melakukan povit. Dua orang pemain SMA 28 berusaha membayanginya membuat Azel mendengus. Dalam hati dia merutuki pertandingan ini. Seharusnya dia sekarang sudah berada di rumah belajar mengerjakan soal-soal latihan. Bukannya bermain basket! Huh, Azel segera melempar bola ke depan.
Si bundar itu dengan sigap ditangkap oleh Eza. Kemudian Eza melakukan dribling secara cepat. Lagi-lagi hanya gaya sederhana saja sudah membuatnya terlihat keren di sana. Pergerakannya lancar dan bebas. Tapi, dia mulai kehilangan akses saat dua orang pemain lawan berlari menghadang. Eza bergerak mundur. Di depan sana Adry melambaikan tangan memberi kode.
"Buruan passing ke gue!" Adry berbisik. Penuh perintah yang tak bisa ditolak.
Eza tak menjawab apapun. Matanya langsung menajam melihat gaya sok bossy yang ditunjukkan Adry. Cih. Sorry saja dia tidak sudi bekerja sama dengan cowok itu. Lebih baik dia bermain sendiri daripadi harus berbaikan dengan Adry—yang tadi sebelum pertandingan berhasil memancing emosinya.
Lalu yang tak diduga, Eza malah berbalik dan melakukan passing ke arah Faza. "Fa, tangkap!"
Faza yang semula tengah mengawasi lawan terkaget dan buru-buru menyambar bola. Tatapan matanya berubah tajam. "Harusnya lo lempar ke Adry, bego! Bukan gue!"
Eza tak menjawab apapun. Raut wajahnya cuek dan masa bodoh. Tak kuasa hal itu mengundang amarah Adry yang berada di sisi kanan lapangan.
"Eh, maksud lo apaan? Lo mau ngajak berantem gue? Hah?!" Adry menuding Eza dengan telunjuknya. Tak peduli penonton yang mulai cemas dan berseru ketakutan. "Lo masih anggep gue musuh? Di sini kita satu team, bego!"
Faza terdiam mematung. Melihat keadaan yang mulai sengit membuatnya kehilangan kontrol. Bola yang sejak tadi dia dribble tiba-tiba sudah beralih tangan pada Raymond. Hanya gerakan sekilas dan cowok itu sudah berada di ujung ring. Faza tersadar dan buru-buru berlari. Sayang terlambat karena bola sudah dilempar dan menjebol ring dengan mulus.
Raden menepuk pundak Faza yang tampak hopeless. "Ayo kita kejar!"
Faza yang semula hanya bisa memandang hampa ring basket langsung memantapkan diri. Berusaha mengabaikan kericuhan akibat ulah Adry dan Eza. Sekarang permainan kembali berlangsung. Bola berhasil dikawal oleh Azel. Beberapa pemain lawan berusaha membentengi pergerakan Azel.
Faza mundur dan mengambil ancang-ancang. Eza dan Adry tidak bisa diharapkan jika keadaan begini. Mau tak mau dia harus maju. Faza yakin Azel cukup hebat dalam bidang ini. Meskipun olahraga bukan keunggulannya, tapi si kecil satu itu pasti tak kalah hebat membangun taktik.
Cel, lempar ke gue. Sekarang.
Faza membatin. Azel yang paham segera melempar bola. Untuk kesekian kalinya terjadi perebutan sengit antara Raymond dan Faza. Faza merutuk dalam hati. Sial. Raymond memang sengaja melawannya. Faza tahu ada dendam yang memancar dari cowok itu. Sejak tadi yang terus dia incar hanya Faza. Seolah pemain lain kasat mata. Bahkan Eza musuhnya saja dia abaikan kali ini. Padahal Raymond selalu mengincar Eza di setiap pertandingan futsal.
"Ada yang salah di sini." Faza mendesis sembari men-drible bola.
"Salah? Maksud lo apa?" tanya Raymond tak mengerti. Dirinya masih terus melakukan povit untuk mengejar Faza.
"Lo cuma ngincer gue."
"Iya, karena musuh gue sekarang lo." Raymond menjawab santai. Sengaja memancing amarah Faza dengan mengirimkan kiss bye jarak jauh pada Divia yang berdiri di bangku penonton.
Faza mendesis. Memutar wajah dan melihat respon Divia. Untunglah di atas tribun sana Divia terlihat cuek bebek bermain ponsel. Lagi-lagi hanya Finza yang terlihat girang dengan aksi Raymond tersebut. Faza kembali fokus pada si bundar di tangan Raymond. Tubuhnya sudah berputar beberapa kali. Tapi tetap saja dia terhalang tubuh besar Raymond.
Pluit tiba-tiba berbunyi panjang. Babak pertama sudah berakhir. Raymond tersenyum remeh dan menghempaskan bola di tangannya ke arah Faza. Faza menangkap bola itu dengan cepat. Dalam dia hati ingin sekali merontokkan seluruh gigi Raymond beserta kawat-kawatnya supaya cowok itu tak pernah bisa menunjukkan senyum menjijikkan itu lagi.
Begitu para pemain sudah menepi di pinggir lapangan. Divia, Finza dan Mauren—yang dipaksa-paksa ikut turun juga. Mereka membawakan minuman dingin untuk tim SMA 40. Eza langsung saja menyambar air mineral dari tangan Finza. Di belakangnya Adry masih berteriak tak terima atas perlakuan si tengil di lapangan tadi.
"Kenapa lo tadi nggak ngasih bolanya ke gue. Jelas-jelas gue bebas tadi." Adry menatap tajam Eza. Mulai menabuh genderang peperangan.
Eza menutup botol minumannya. "Sorry, gue nggak lihat," jawabnya asal.
"Apa?!" Adry melotot. "Eh, sekarang kita lagi main basket ya, bukan adu anggar. Lo ngerti arti kerjasama tim nggak, sih?!"
Faza menggeram dengan ulah mereka berdua. Kalau tidak ingat situasi mungkin dia sudah mengepak dua orang itu ke dalam kardus dan dia buang ke kali Ciliwung. Sementara Raden hanya bisa geleng-geleng kepala sambil meneguk minumannya. Azel hanya memandang mereka malas tahu hal seperti ini akan terjadi jika mereka bersama.
"Fa, ini minuman buat lo." Divia mengulurkan air mineral pada Faza dengan mata menatap khawatir.
Azel meneguk minumannya dan memandang Adry bergantian dengan Eza. "Lo berdua... Tolong bersikap lebih dewasa. Gue tahu kalian ada masalah pribadi. Tapi kalian nggak bisa bawa-bawa masalah kalian ke dalam hal ini. Soalnya ini bakal berdampak pada team kita sendiri. Dan jujur, gue malu kalau semisal kita kalah di kandang kita sendiri."
"Lo berdua! Dengerin apa yang Acel bilang! Kalian lebih tua, tapi pemikiran kalian masih kayak anak kecil." Faza mengedarkan pandangannya dan menemukan wajah Eza yang menyebalkan. Seperti biasa menganggap semua perkataan orang-orang adalah angin lalu. Mau tak mau membuat amarah Faza bangkit dan dia melempar handuk di tangannya kasar. "Apalagi lo, Ja! Selalu aja bersikap semaunya sendiri! Lo nggak pernah mau dengerin perkataan orang lain!"
Eza terkesiap. Tak terima mendengar perkataan Faza. "Kok lo jadi nyalahin gue, sih?!"
"Kekanak-kanakan," Mauren mendesis tiba-tiba. Tanpa sadar dan tanpa sengaja. Namun, cukup untuk didengar Eza. Lagi-lagi hal itu kembali menyulut amarah Eza.
"Lo nggak usah ikutan, deh! Diem aja sana!" Eza menatap Mauren dongkol.
"Cukup!" Divia berteriak. Matanya menghujam Eza penuh emosi. "Lo selalu aja cari musuh! Berhenti bertindak seakan lo paling bener, Ja!" teriak Divia. Pandangannya teralih pada Faza yang terdiam pasrah di sisi lapangan. "Fa, kita masih bisa menang, kok," katanya berusaha menenangkan Faza.
Faza memaksakan seulas senyum. Tiba-tiba tangannya terangkat dan menyentuh pundak Divia. "Kalau gue menang, kemenangan gue ini gue tujukan buat lo, Div."
Divia terdiam. Hatinya mulai terenyuh. Merasa sangat terharu dengan perkataan Faza barusan. Pada akhirnya dia hanya bisa mengangguk. "Gue tunggu kemenangan lo. Gue ke atas dulu."
Divia langsung memberi komando pada Finza dan Mauren untuk berbalik. Saat itulah Faza berusaha meyakinkan dirinya untuk membawa kemenangan ini.
Pertandingan kembali berlanjut saat peluit dibunyikan. SMA 40 memimpin permainan. Awalnya keadaan normal dan baik-baik saja. Semua berjalan lancar baik bagi Eza maupun Adry. Faza merasa cukup tenang sebelumnya. Namun, menjelang menit kesepuluh, keduanya kembali bersitegang. Faza yang tadi tengah men-dribble bola dibuat bingung dengan Eza dan Adry yang sama-sama menghadang di depannya.
"Fa, passing ke gue!" Adry berteriak kencang. Kedua tangannya bersiap di udara.
Seolah tak mau kalah, di sisi lainnya Eza berteriak. "Nggak, passing ke gue, Fa!" teriaknya tak kalah tegas.
Faza menatap keduanya bingung. Matanya berputar ke arah Adry dan Eza bergantian. Lagi-lagi tak ada yang mau mengalah dari mereka. Faza meneguk ludah frustasi. Tak ada pilihan akhirnya dia berbalik dan mengumpan ke belakang. Tepatnya ke arah Azel.
Azel berteriak jengkel. "Jangan ke belakang, Fa!"
Bola bergerak cepat. Dan benar saja Azel mulai kelimpungan menerima passing yang tiba-tiba dari Faza. Saat itulah bola kembali direbut kubu lawan. Hingga menit-menit terakhir kejadian itulah yang menjadi boomerang bagi kekalahan tim SMA 40.
Faza mengerang frustasi. Angka mereka semakin tertinggal jauh. Papan skors menampilkan 30-19. Kekalahan bagi timnya sendiri. Oh, tidak. Bahkan mungkin kekalahan hanya untuk dirinya sendiri. Mungkin kekalahan ini tak berarti apa-apa bagi yang lainnya. Tapi kekalahan ini amat sangat menyakitinya.
Dan ketika Faza mendongak ke arah ring bermaksud melempar bola di tangannya, semua sia-sia. Peluit tanda pertandingan berakhir mulai dibunyikan.
Kekalahan bagi tim SMA 40.
***