Saat itulah Faza merasa sebagian tubuhnya melemas. Degupan jantungnya mulai tak karuan dan bola di tangannya menggelinding tak tentu arah. Seruan-seruan meminta maaf dari Adry dan Eza tak begitu didengarnya karena fokusnya sekarang hanya pada satu hal.
Raymond.
Cowok itu sekarang tersenyum sombong ke arahnya. Dengan senyuman miring yang penuh ketengilan. Yang bahkan jauh berkali-kali lipat lebih tengil daripada Jaja Suhardja.
"Yeah, seperti yang gue bilang kemarin, perjanjian kita masih berlaku."
Faza diam membeku. Tak mempedulikan riuh keramaian yang terdengar memenuhi arena gedung olahraga. Matanya menghujam penuh dendam pada Raymond. Terlebih saat cowok itu mulai bertepuk tangan meminta perhatian seluruh penonton.
Oh, tidak. Faza tidak sanggup mendengarnya.
"Gue minta perhatian kalian sebentar!" Raymond berteriak ke arah tribun. "Buat lo semua SMA 40, gue minta maaf karena pasti kemenangan SMA kami ini sama sekali nggak kalian harapkan. Tapi, gue di sini cuma mau nyampein satu hal sama kalian, kemenangan gue ini gue tujukan untuk satu dari kalian."
Raymond tersenyum manis. Beberapa temannya juga melakukan hal yang sama. Seolah memberi dukungan penuh atas perbuatan Raymond. Sementara suasana semakin riuh karena sebagian penonton di atas tribun mulai menebak-nebak siapa yang dimaksud Raymond.
Dan dari bawah lapangan, Raymond bisa menatap mata Divia secara langsung. Cewek itu pun melakukan hal yang sama. Ada rasa bahagia dalam diri Raymond meskipun wajah Divia tak menampakkan sirat bangga sedikit pun. Ya, Raymond tahu Divia pasti akan mendukung Faza. Tapi, Raymond tak peduli. Raymond jatuh hati padanya dan sejauh ini belum pernah ada cewek yang berani menolaknya. Tentu itu pasti juga berlaku pada Divia. Dia sangat yakin.
"Kalian pasti penasaran kan siapa dia? Sekarang dia ada tepat di depan gue." Raymond terdiam sejenak. "Finanta Divia Alfathur."
Tepat setelah itu suasana gedung olahraga makin geger. Seluruh perhatian kini tertuju pada Divia. Sementara Divia sendiri terlalu kaget untuk bereaksi. Sungguh dia paling benci menjadi pusat perhatian. Dan tindakan Raymond barusan sangatlah membuatnya muak dan malu.
"Divi, sejak pertama kali ketemu lo gue udah suka sama lo. Dan seperti yang gue bilang, kemenangan ini buat lo. Please, be my girl."
Faza memejamkan mata rapat-rapat mendengarkan kalimat terakhir yang diucapkan Raymond. Eza yang mendengarnya langsung tersentak kaget dan menatap Faza dengan mata membulat tak percaya. Begitu juga dengan Azel yang sama terkejutnya. Keduanya langsung menatap Faza meminta kejelasan. Di sisi lain ada raut menyesal di wajah Eza dan Azel.
Faza hanya menatap keduanya putus asa. Dan tanpa menjawab apapun dia berlari keluar meninggalkan gedung olahraga.
Dari kejauhan Divia bisa melihat bayangan Faza berlari menjauh. Tak lama setelahnya Eza dan Azel menyusul. Hatinya tiba-tiba resah. Tanpa sadar Divia sudah berbalik bersiap mengejar Faza.
"Lo nggak bisa pergi gitu, aja!" Finza berbisik sambil menarik pergelangan tangan Divia. "Buruan terima Raymond, Div. Buruan. Kesempatan nggak datang dua kali."
Divia menghempaskan tangan Finza dan berputar kembali menghadap Raymond. Mata mereka bertemu satu sama lain. Raymond masih tersenyum menanti jawaban dari Divia.
"Jadi, gue diterima, kan?"
Divia memaksakan senyum. "Sebelumnya makasih karena udah mempersembahkan kemenangan lo itu. Jujur aja, gue akui lo hebat. Tapi maaf, gue nggak bisa jadi pacar lo, Ray. Gue punya orang lain yang gue suka."
Raymond terdiam membeku. Seruan kekecewaan dari seluruh penjuru seperti tawa yang mengejeknya. Sebelum ini tidak pernah ada cewek yang berani menolaknya. Dan ini kali pertama baginya. Rasanya cukup menyakitkan. Tapi Raymond tidak ingin menunjukkannya. Dia hanya menertawakan diri sendiri dengan senyum mengembang.
"Hmm... gue ditolak."
"Maaf, Ray."
Setelah itu Divia berlari keluar meninggalkan keramaian. Dia tidak peduli anak-anak akan menertawakan kebodohannya yang menolak jawara semacam Raymond. Hatinya tidak bisa dibohongi. Divia tahu milik siapa hati ini. Bahkan sejak kecil dulu hati ini sudah ditempati.
***
Faza terus berlarian menelusuri lorong sekolah. Dia tahu dari belakang Azel dan Eza berusaha mengejarnya. Dari jarak jauh pun dia bisa mendengar suara mereka yang berteriak memanggil-manggil namanya. Tapi sungguh, Faza sedang ingin sendiri.
"Fa, berhenti!" Eza menarik pundak Faza dan Faza menepis tangannya kasar.
"Apa lo?!" sungut Faza marah.
Eza menghembuskan nafas panjang. Raut penuh penyesalan tergambar di wajahnya. "Kenapa lo nggak bilang? Kalau lo bilang sejak awal, kita pasti bantu lo dengan serius."
Azel mengangguk. "Iya, Fa. Maafin kita. Kita nggak maksimal tadi."
Faza tertawa sedih. "Jadi menurut kalian apa yang gue lakukan itu selalu lelucon di mata kalian?!"
Azel berusaha menenangkan Faza. "Bukan gitu, Fa. Cuma kalau lo mau cerita lebih awal ini nggak bakal terjadi."
"Lo nggak mau jujur sama perasaan lo sendiri. Itu masalahnya." Eza mencetus tiba-tiba. "Lo ngaku aja, deh. Lo mulai suka sama Divi, kan? Lo nggak perlu pura-pura. Kita kenal lo lebih dari apapun, Fa. Lo nggak mungkin tiba-tiba nerima tawaran tanding dari Raymond tanpa ada alesannya. Sebenernya lo nggak mau kan mereka jadian?"
Faza terdiam. Ternyata apa yang dikatakan Eza memang ada benarnya. Tapi sudahlah. Toh semua sudah terlanjur. Pasti di dalam sana Raymond tengah merayakan kebahagiannya mendapatkan hati Divia. Yang harus Faza lakukan adalah menenangkan diri. Sendirian.
"Gue mau sendiri dulu." Faza memutuskan. "Nanti kalau udah mau pulang gue kabari."
Azel dan Eza bertatapan. Kemudian keduanya mengangguk.
"Jangan lupa telpon gue, Fa." Azel menepuk bahu Faza. Eza hanya diam menatap Faza penuh maaf. Setelahnya mereka berbalik kembali.
Faza menatap hampa bangku kosong di taman. Tanpa sadar kakinya melangkah ke sana. Kemudian dia terduduk sambil menatap langit mendung di atas. Pandangannya mengabur. Dia tidak pernah sekecewa ini. Tidak pernah seserius ini dalam perasaannya. Bahkan mungkin rasa sukanya pada Melodi hanya seperti angin lalu dan selingan saja. Tapi untuk Divia. Ada rasa lain yang lebih besar. Rasa di mana Faza merasa tak sanggup melepaskannya. Tak sanggup melihat Divia dimiliki orang lain. Tak sanggup ada jarak di antara mereka.
Mungkin tanpa sadar Faza juga telah jatuh cinta.
Cinta karena terbiasa.
***
Hari Minggu kembali dihabiskan Faza menjadi pelayan ala-ala di Champ. Kebiasaan rutinnya ini memang berlaku sejak dia SMP dulu. Setiap hari setelah pulang sekolah dia akan datang ke Champ dan membantu mamanya membawakan pesanan. Tak jarang anak-anak Champ menjadi pesuruh yang juga diperbudaknya untuk menjadi pelayan. Lalu mereka akan menghabiskan seharian penuh di Champ dan akan mendapat bayaran berupa cake gratis buatan Zaza.
Faza menatap Mauren dan Azel tanpa minat. Keduanya sibuk belajar di sofa. Tampak sekali tak ingin diganggu. Biasanya Faza akan mengganggu mereka. Tapi hari ini dia tak berminat melakukannya. Jika ada si tengil dia bisa mendapat hiburan. Sedikit game dan permainan kartu mungkin. Sayangnya sepupunya itu entah sedang berkencan dengan siapa. Dan Finza si manja yang bisa dia ajak bercanda juga pergi ke salon bersama Echa.
Dan, Divi? Jangan tanya dia dimana. Mungkin sedang bersama pacar barunya.
Sebenarnya Faza tidak tahu kelanjutan cerita sore hari itu. Tapi menurutnya, sudah jelas mereka pasti berpacaran. Cowok macam Raymond tidak mungkin ditolak. Divia pasti menyesal jika menolak Raymond.
Huh, sudahlah. Biarkan saja. Faza tidak mau tahu dengan hubungan mereka sekarang. Lebih baik dia kembali pada tujuan awalnya. Mendapatkan hati Melodi.
Ya, Melodi.
Tapi, entahlah, Faza merasa sudah tidak begitu mempedulikan Melodi. Ada suatu hal baru yang tiba-tiba mengusiknya. Dan itu bukan tentang Melodi.
Faza menghembuskan nafas pasrah. Kemudian melangkah menuju area taman. Di sana dia bisa melihat kandang Isa si iguana. Langkah Faza terhenti di sisi kanan kandang. Perlahan dia menunduk dan mengamati hewan peliharaannya yang tengah makan siang itu.
"Sa, gue lagi galau." Faza menatap Isa berharap mendapat respon. Beberapa detik berlalu dan Faza tetap tak mendapat jawaban apapun.
"Sa! Sekali-kali lo dengerin gue ngomong, kek! Serius gue lagi galau! Gue lagi butuh pundak bersandar!" Faza melotot menatap Isa yang tak bergeming. Huh, sebodo amatlah Isa mau mendengarkan atau tidak. Yang jelas dia sedang butuh pelampiasan. "Lo tahu kan, Sa? Semua orang sibuk sama pacar mereka! Sedangkan gue? Sama siapa gue?"
Faza menatap Isa sendu. "Gue sama lo aja kali ya, Sa?"
"Lo lagi ngapain, Fa?"
Satu suara yang sangat dihafal Faza muncul tiba-tiba. Faza mendongak dan langsung menatap manik mata Divia yang mengedip-ngedip keheranan. Faza nyaris terjungkal saking kagetnya dengan kedatangan Divia.
Faza terbata-bata menjelaskan. "Div—Lo sejak kapan di sini?"
Divia tertawa. "Mmm... Baru aja. Kenapa?"
Sejujurnya Faza merasa tidak sanggup melihat Divia. Sudah seharian penuh mereka saling menghindar gara-gara kejadian sore hari kemarin. Baik Faza maupun Divia sama-sama merasa canggung.
Faza menghembuskan nafas panjang. Sepertinya sudah cukup dia bersikap seperti anak kecil. Toh, Divia mau punya pacar atau tidak bukan urusannya. Lalu yang dilakukan Faza adalah tersenyum dan memaksakan tawa.
"Cie yang abis jadian. Mana pajaknya? Lo nggak mau traktir gue?" tanya Faza dengan senyuman menggoda. Ya, meskipun Faza harus merasa sebagian hatinya sakit saat melakukan hal itu.
"Apa?" Divia mengernyit bingung. Sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Faza. "Siapa yang ja—"
"Udahlah, Div. Lo ngaku aja, deh. Nggak apa-apa kali. Lo sama Raymond cocok, kok. Gue bakal dukung kalian." Faza menaik-naikkan sebelah alisnya.
"Tapi serius, Fa. Gue nggak—"
Suara dering ponsel menyeruak tiba-tiba. Divia terpaksa mengakhiri percakapannya dengan Faza. Sekarang perhatiannya tertuju penuh pada ponsel yang berada di tas selempang miliknya. Divia menatap Faza sekilas sebelum akhirnya menjauh untuk mengangkat telpon.
Meski dari jauh, Faza masih cukup bisa mendengar perkataan Divia lewat ponsel itu. Entah apa yang dibicarakan, tapi samar-samar Faza bisa mendengar Divia menyebut dirinya 'aku'.
"Jadi, aku harus ke sana sekarang? Oke, tunggu sepuluh menit. Aku bakal langsung sana."
Divia mengakhiri pembicaraannya dengan seulas senyum bahagia. Faza bisa melihat senyuman itu. Rasanya sesak sekali saat melihatnya. Apalagi mendengar sebutan 'aku' yang meluncur dari mulut Divia. Benar-benar membuat hatinya ngilu.
Diam-diam Faza mulai berpikir, sudah sejauh itukah hubungan mereka? Padahal baru kemarin mereka jadian. Tapi kenapa seromantis itu, sih? Sebersit rasa iri dan tak terima berkecamuk dalam diri Faza.
"Fa, kayaknya gue nggak jadi bantu-bantu. Maaf banget, ya. Tiba-tiba gue harus pergi. Nanti malem kalau sempet gue ke sini lagi."
Faza menahan lengan Divia. Matanya menajam dan tegas. "Lo baru aja dateng. Kenapa mesti buru-buru?!"
Divia tersentak kaget menyadari perubahan Faza yang tiba-tiba. "Gue beneran ada perlu mendadak. Dan ini penting banget."
Faza tertawa remeh. "Alah, nggak usah bohong, deh. Bilang aja lo mau pergi sama Raymond."
Divia melotot ke arah Faza. "Raymond?! Siapa bilang gue mau pergi sama dia?!"
"Div, gue ini sahabat lo! Bukan orang lain!" teriak Faza kencang. "Lo nggak perlu tutupin apapun dari gue. Lo juga nggak perlu bohongin gue. Gue nggak pernah masalahin lo pacaran sama siapapun. Asal lo mau jujur, nggak masalah buat gue."
"Tapi, Fa, dengerin gue dulu. Biar gue bisa jelasin."
"Nggak perlu, Div. Gue udah tahu semuanya," suara Faza melirih. "Gue cuma minta satu hal. Meskipun ada orang lain, tolong jangan berubah sama kita."
Divia menatap Faza kecewa. Matanya terasa panas dan kabur. Mungkin sebentar lagi air matanya akan turun. Salah. Semuanya serba salah. Apa yang dikatakan Faza sama sekali tidak benar.
"Dan inget, minggu depan lo juga harus tetep ikut ke Bandung. Pokoknya nggak ada alesan. Gue nggak mau denger lo pergi sama Raymond waktu holiday Champ."
Setelahnya Faza menepuk pundak Divia dan mendorongnya perlahan. "Sana pergi. Raymond pasti udah nunggu."
Divia tak menjawab apapun selain berlari pergi sambil menahan tetes air matanya yang berjatuhan. Di ambang pintu dia nyaris menubruk Mauren dan Azel yang sepertinya sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Kalian berantem lagi?" tanya Azel khawatir.
"Div, kayaknya Fa salah paham." Mauren menambahkan.
Divia berbalik cepat menghadap keduanya. "Biarin! Biarin dia mau mikir apa! Gue udah nggak peduli!"
Dan kemudian Divia benar-benar berlari pergi.
***
Setelah satu jam perjalanan menggunakan taksi, akhirnya Divia sampai di sebuah rumah klasik bergaya Jawa Modern. Rumah di hadapannya ini adalah sebuah sanggar lukis. Sanggar Lukis Jelita namanya. Sudah hampir tiga tahun Divia menghabiskan waktu menggambar di tempat ini. Dia banyak belajar mengenai seni lukis. Mulai dari menggambar objek pemandangan, objek manusia, bahkan menggambar karikatur sebuah benda.
Divia menatap rumah itu dengan senyuman lebar. Biasanya dia akan datang ke sini bersama Finza. Lalu dia akan menghabiskan waktu berjam-jam melukis sambil mengobrol dengan Jelita—si pemilik sanggar. Tapi hari ini ada sesuatu penting yang tidak bisa diceritakannya pada siapapun selain hanya dia dan Jelita saja yang tahu.
Perlahan Divia melangkahkan kaki ke dalam. Seketika riuh suara tawa terdengar dari dalam. Beberapa cewek berseragam SMA sama seperti dirinya tengah melukis di dalam joglo. Hal ini sudah biasa di rumah Jelita. Ada kelas siang dan sore yang bisa diikuti untuk melukis. Dulu Divia paling aktif untuk mengikuti kelas. Sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktu mengikuti les untuk persiapan UNAS.
Sosok Jelita yang tadinya tengah menjelaskan karikutur wajah manusia pada murid-muridnya tersadar dengan kedatangan Divia. Sambil tersenyum dia meminta yang lain melanjutkan lukisan masing-masing. Kemudian dia segera bangkit mendatangi Divia.
"Mbak Lita serius aku diterima?" tanya Divia tak sabaran.
Jelita hanya tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Div, kamu diterima. Semua berkat Rafanza yang kamu lukis itu."
Divia menutup mulut sambil menahan isak tangis haru. Lukisan yang diseleseikannya hampir tiga bulan itu ternyata memiliki magic luar biasa. Apalagi wajah seseorang yang dia lukis di sana. Rafanza Atthar Razakian. Seberapa pun menyebalkan cowok itu, tetap saja dia adalah hal terindah untuk Divia. Bagaimana tidak, Divia hanya iseng saja menggambar wajah serius Faza saat mencatat pesanan pelanggan di kafe Champ. Lalu saat dia mencoba mengirimnya untuk seleksi masuk sekolah seni di Swiss, ternyata lukisan itu mampu meloloskannya. Divia benar-benar bahagia sekarang. Semua berkat Faza dia bisa sampai di tahap sejauh ini dalam meraih mimpi besarnya.
"Aku bilang juga apa, Div. Jika kita cinta sama seseorang dengan sepenuh hati, aku yakin suatu saat nanti akan ada balasannya. Entah dalam wujud apapun. Dan sekarang kamu bisa dapatin ini." Jelita mengulurkan sebuah surat keemasan pada Divia. "Seleksi selanjutnya seminggu lagi, Div."
Bola mata Divia melebar. "Seminggu lagi?"
"Iya, memang kenapa?"
"Tapi, Mbak—Minggu depan aku nggak bisa. Aku liburan ke Bandung sama Champ."
"Batalin, Div." Jelita meraih kedua tangan Divia dan menatapnya penuh permohonan. "Kamu udah berhasil sejauh ini. Aku yakin udah ratusan bahkan ribuan pelukis yang kamu kalahin di luar sana demi beasiswa ini. Kamu nggak mungkin mundur begitu aja."
Divia menghembuskan nafas frustasi. "Tapi kita udah rencana liburan dari lama banget, Mbak. Sayang banget kalau aku nggak ikut."
Jelita terdiam sebentar. Kemudian dengan bijak memberi solusi. "Ya udah, sekarang terserah kamu. Kamu tahu sendiri apa yang terbaik buat diri kamu. Kalau kamu lebih memilih sahabat kamu, kamu harus relakan mimpi kamu ke Swiss. Begitu juga sebaliknya. Semua kembali ke kamu. Ikuti aja kata hati kamu, Div. Terkadang manusia emang butuh bersikap egois. Dan itu sebabnya kita nggak bisa memiliki semuanya. Harus ada yang kita korbankan."
Divia terdiam. Memang benar yang dikatakan Jelita. Dalam hidup ini, harus ada sesuatu yang dikorbankan.
***