Selama hampir seminggu benar-benar digunakan Divia untuk menentukan pilihannya. Tak terasa hari H menuju liburannya dan tes tahap selanjutnya semakin dekat. Dan hingga hari ini Divia masih belum bisa memilih mana yang dia inginkan.
Itu sebabnya selama sehari penuh dilalui Divia seperti mayat hidup. Dia tidak banyak bicara dan bercanda. Dia lebih sering diam saat sahabat-sahabatnya tertawa membicarakan ini dan itu yang akan mereka persiapkan untuk hari esok.
Suara tawa menggelegar Finza dan Eza terdengar dari sudut telinganya. Divia tidak begitu dengar. Tapi yang dia tangkap Eza akan melancarkan misi menggoda cewek-cewek Bandung. Dan Finza akan menggaet bule-bule ganteng yang berwisata ke Ciwidey. Lalu Divia juga mendengar Acel akan mengepak buku-bukunya untuk dibawa ke sana supaya dia bisa tetap belajar. Sama halnya dengan Mauren. Setelahnya masih terdengar seruan bersemangat dari sahabat-sahabatnya. Hanya Divia saja yang tidak mengerti akan melakukan apa.
"Gue mau bawa tanktop, ah! Biar bisa godain Acel!" Finza berseru riang membuat Azel melirik kakak sepupunya jijik.
"Well, kalau gitu di sana gue mau pake boxer. Biar bisa godain nenek sihir." Eza menambahkan sambil tersenyum miring. Langsung saja mendapat tatapan membunuh dari Mauren.
"Sorry, gue nggak berminat dan nggak bakal tergoda," kata Mauren ketus.
Eza tertawa terpingkal-pingkal. Merasa bahagia bisa mengerjai Mauren. Dih... lagipula siapa juga yang mau memamerkan perut six pack-nya pada cewek seperti Mauren. Toh, tidak akan ada untungnya.
Azel yang tadi diam di balik headset mulai terusik. Kali ini mengeluarkan kata-kata pedas dan tajam untuk Eza. "Kenapa lo nggak sekalian telanjang aja? Paling lo cuma bakal dilempar sampah sama cewek-cewek di sana."
Eza yang tadi tertawa bahagia langsung menatap Azel datar. "Gila. Lo ternyata pedes banget ya kalau ngomong, Cel. Untung nggak gue masukin ke hati."
"Masukin hati juga nggak apa-apa."
Azel hanya melirik Eza cuek. Otomatis membuat Eza melemparinya dengan bantal. Faza yang baru datang dari dapur belakang langsung berteriak-teriak heboh. Sebelah tangannya membawa toa yang biasa dipakai papanya.
"Tadaaa... Gue udah menemukan barang-barang menarik." Faza tersenyum bangga. Perlahan menarik kardus di belakangnya. Lalu kemudian dikeluarkannya satu per satu barang dari dalam kardus. Ada botol bekas sirup, penggilasan kue, senter, lilin, kipas baterai, tali tambang, kaos oblong dua warna, bantal bekas, dan masih banyak lagi.
"Rongsokan dari mana?" Azel bertanya heran.
Faza menatap Azel jengkel. "Ini bukan rongsokan, Celita. Sembarangan aja lo kalau ngomong."
"Ya habis mau liburan lo malah bawa barang-barang norak kayak gitu. Menuh-menuhin mobil, Fa."
Finza mengangguk mengiyakan. "Ih... Jijik. Ada bantal bekas."
"Lo berdua diem. Biar gue jelasin dulu." Faza menatap barang temuannya satu per satu. Pertama dia meraih senter. "Senter ini buat jerit malem. Jadi nanti di vila kita main jerit malem sekitar jam 12. Semua wajib harus ikut. Apalagi lo, Ja! Nggak ada waktu buat molor. Ngerti?"
Eza mendesis. "Iya gue nggak molor, deh. Tapi, gue mau jadi hantunya aja. Ntar kalau udah jerit malem tapi nggak ada hantunya sama aja dong. Nggak asyik. Percuma kita jerit malem."
"Ihhh... Nggak mau! Aku nggak mau ikutan kayak gitu!" jeritan Finza terdengar. "Pokoknya aku nggak ikut! Kalian aja sana!"
"Dasar penakut," sindir Eza.
"Semua wajib ikut! Tanpa terkecuali!" Faza memutuskan. "Gue paling tua dan boss di sini. Lo semua nggak bisa lawan gue. Oke?"
Azel dan Eza sontak mendecih pada Faza. Sementara Faza sendiri hanya tertawa lebar.
Selanjutnya Faza mengambil penggilasan dan botol bekas sirup. "Nah, yang ini buat main Truth or Dare." Faza terdiam menatap Divia. "Gue nggak mau ya ada kebohongan di antara kita. Makanya gue mau kita main ToD sampai nggak ada satupun yang kita tutupi. Gimana pun juga Champ harus terbuka satu sama lain."
Divia yang mendengar ucapan Faza menajam mulai mendongak. Saat itulah mata mereka bertemu satu sama lain. Ada jeda yang panjang saat mata mereka bertatapan. Tiba-tiba semua hening. Seolah hanya ada mereka berdua saja di sana.
"Div, lo mau bawa sesuatu?" tanya Faza lirih. "Kayaknya daritadi lo diem aja. Lo nggak seneng besok liburan?"
Divia salah tingkah. "Eh—Seneng, kok. Siapa bilang gue nggak seneng?"
Faza memaksakan tawa. Kemudian mengepalkan tinju ke udara. "Oke,deh. Champ siap liburan!" serunya penuh semangat.
Faza langsung sadar tak ada jawaban dari yang lain. Saat dia menoleh rupanya mereka sibuk sendiri. Eza, Azel, dan Finza asyik membongkar barang-barang temuannya. Eza tampak mencoba sebuah senter, Finza memainkan kipas baterai, sedangkan Azel sibuk membuang sebuah bantal ke belakang taman. Faza hanya bisa menatap mereka datar.
"Wah, Fa, ini berguna banget!" teriak Finza sambil menunjukkan kipas baterai dan menyalakannya. "Jadinya gue nggak bakal kepanasan dan keringetan sepanjang perjalanan."
Faza merebut kipasnya jengkel. "Lo semua! Kita high-five dulu untuk holiday mission kita! Ayo dong yang semangat!"
Faza kembali bersorak sorai. Sebelah tangannya terulur ke udara. Eza tertawa dan mengulurkan tangannya. Lalu disusul Finza dan Mauren. Kemudian Azel yang kembali dari aktifitas membuang bantal kotor yang menjijikkan. Hanya Divia saja yang melamun di tempatnya duduk. Faza tahu ada sesuatu yang disembunyikan cewek itu.
"Div!" Faza berusaha menegur.
Divia tersentak kaget. "Sorry, Fa," jawabnya sambil bangkit dan ikut mengulurkan tangan dan berseru untuk kesuksesan misi liburan mereka.
Tapi, Faza sadar ada sesuatu yang mengganjal dari Divia.
***
Detik demi detik berlalu. Jam demi jam berlalu tanpa terasa. Akhirnya hari ini datang juga. Hari keberangkatan Champ liburan ke Bandung. Divia mendesah menatap langit-langit kamar. Dia baru saja menyelesaikan ibadah subuh memohon pada Tuhan supaya keputusan yang dia ambil ini tanpa menimbulkan penyesalan sedikit pun.
Pandangan Divia tertuju lurus pada foto-foto Champ yang memenuhi setiap sudut kamarnya. Sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyum tipis. Selama tujuh belas tahun hidupnya Divia tidak pernah berpisah sedetikpun dengan mereka. Meski begitu, mereka semua memiliki impian yang berbeda. Tujuan hidup yang berbeda. Tidak mungkin mereka semua mengikuti jejaknya mejadi pelukis atau pergi ke Swiss.
Divia menghembuskan nafas panjang. Mau tidak mau dia tetap harus mewujudkan mimpinya. Dia tidak ingin bersikap egois, tapi tak ada pilihan lagi. Janji mereka untuk kuliah di tempat yang sama kini rasanya semakin jauh. Mungkin memang ini jalan satu-satunya. Karena ada kalanya mereka harus berpisah.
Suara ketukan pintu membuat Divia menoleh ke depan. Nella melongokkan kepala ke dalam ruangan dengan seulas senyuman lebar. Di belakangnya Zion menatap dengan kernyitan di wajahnya.
"Lo dari kemarin anteng banget, Kak. Tumben." Zion menatap Divia dengan raut wajah serius.
Nella menatap putrinya dari kejauhan. Seulas senyum tersungging di wajah cantiknya. Dari jarak selekat ini Nella sadar bahwa Divia merupakan cerminan dirinya yang dulu. Meski seiring berjalannya waktu Nella berusaha menjadi ibu yang baik untuk kedua anaknya. Tapi sifat-sifatnya yang dulu masih terselip dalam dirinya. Nella yang galak, jutek dan blangsakan. Apalagi jika menghadapi Fathur yang super duper tidak peka, yang kadang bloon dan lola. Benar-benar menguras hati dan perasaannya. Nella tertawa sendiri mengingat dia sering meneriaki Fathur saat kebloonannya sedang kumat.
Nella berjalan mendekati Divia, "Div, ini udah jam berapa? Kok belum siap-siap? Katanya mau liburan?"
Divia mendesah menatap mamanya dengan pandangan sendu. "Ma, kayaknya aku nggak bisa."
"Hmm?" Nella duduk di samping putrinya mengelus rambutnya dengan penuh sayang.
"Aku nggak bisa, Ma." Divia merebahkan kepalanya di pelukan Nella. "Aku nggak bisa pergi sama Champ."
Nella tersenyum mengelus-elus kepala putrinya. "Mama percaya sama kamu, Div. Apapun keputusan itu jangan sampai membuat kamu menyesal." Divia mengangguk-angguk.
"Jadi lo beneran mau ke Swiss, Kak?" Zion duduk di kursi belajar Divia dan memainkannya.
"Belum tentu sih, On. Tapi kan dicoba dulu. Hari ini seleksi tahap akhir."
Divia mengernyit menatap sang adik. Tumben pagi-pagi begini si Oon satu itu sudah mandi dan rapi. Biasanya hari Minggu begini bakal dihabiskan adiknya bermain game di rumah. Atau paling tidak kelayapan bersama gengnya.
Suara teriakan Fathur terdengar dari kejauhan sibuk memanggil Zion. Membuat Zion berteriak membalas. Tak lama kemudian suara ceklekan pintu terbuka menampilkan sosok Fathur yang sudah rapi. Dia mengernyit keheranan melihat istri dan anak-anaknya berkumpul di kamar Divia. Mereka sedang apa, sih? Jangan-jangan mereka sedang menggelar rapat dadakan tanpa mengundangnya sebagai kepala keluarga.
"Lagi pada ngapain, sih?" Fathur mengamati istri dan anaknya bergantian. Lalu senyum liciknya keluar. "Lagi pada ngomongin Papa ya, hayo ngaku?"
Sontak Divia dan Zion mendengus. Malas meladeni kegeeran sang papa. Sementara Nella hanya mengulum senyum ke arah suaminya. "Bukan kok, Pa. Ini lagi ngomongin soal beasiswanya Divi. Ada kemungkinan Divi lulus sampai ke Swiss kalau tes yang ini lolos."
Senyum Fathur langsung terukir cerah begitu mendengar kata beasiswa. Tentu saja dia bangga purtinya bisa mendapatkan beasiswa dari hobinya melukis. Fathur mengambil duduk di sebelah kiri putrinya. Membuat Divia diapit kedua orang tuanya.
"Jadi kamu memutuskan mengambil beasiswa itu?"
"Ya belum tahu sih, Pa. Pengumumannya kan setelah seleksi terakhir hari ini."
Divia memasang wajah sendu. Fathur mengerti perasaan Divia. Dia pasti sedih karena harus merelakan waktu liburannya bersama sahabat-sahabatnya. Tapi bagaimanapun juga ini proses kehidupan yang harus dilalui Divia. Dia harus bisa memilih. Antara impian dan cita-citanya atau waktu bersama sahabatnya. Salah satu dari dua hal itu harus ada yang dikorbankan. Yeah... Sacrifice is a part of life.
"Kalo gitu Divi mau siap-siap dulu." Divia tiba-tiba beranjak. "Divi mau ke rumah Fa dan bilang kalo Divi nggak bisa ikut." Dia meraih handuknya dan masuk ke kamar mandi.
Fathur dan Nella menatap punggung Divia yang menjauh. Mereka saling melempar senyum. Tak menyangka bahwa putri kecil mereka yang dulu hobi bermain salon-salonan sudah mulai tumbuh menjadi dewasa. Ah... Waktu cepat sekali berlalu.
"Anak kamu tuh, Pa." Nella menyenggol lengan Fathur dan tersenyum jahil.
"Anak kamu juga, Ma. Kan produk kita berdua."
Sementara Zion hanya bisa membulatkan bibir. Ckck... Kenapa mereka jadi mesra sendiri, sih? Bagaimana dengan urusan perutnya yang sejak tadi berdemo meminta jatah sarapan.
"Ah, aku laper nih, Pa. Katanya Papa mau beli sarapan di luar? Jadi nggak siiih?"
Fathur seketika menepuk jidat. Melupakan maksudnya mencari Zion tadi. Padahal dia sendiri yang menjanjikan mengajak Zion jalan-jalan pagi sekaligus mencari sarapan di luar. Fathur juga yang sejak semalam melarang istrinya membuat sarapan. Karena dia ingin beli nasi uduk di luar. Sebelum Zion berteriak lebih lama lagi, Fathur segera menyeretnya keluar diikuti Nella.
Ya, Divia harus belajar mengorbankan salah satunya.
***