Episode 10 Mauren-Eza's Side

2597 Words
Jika ada kategori award manusia paling menyebalkan abad ini, Mauren akan langsung memilih Jaja Suhardja sebagai kandidatnya. Si tengil itu menyebalkan sekali. Selama nyaris tujuh belas tahun hidupnya, tidak ada hal paling menyebalkan selain Jaja Suhardja. Playboy cap lintah lapis kadal yang sok-sokan dan semena-mena itu selalu saja menghancurkan hari-harinya. Mauren mengerang frustasi. Sebelah tangannya masih berusaha menghentikan aksi ugal-ugalan yang dilakukan Eza menggunakan mobil kesayangan mamanya. Tangannya yang lain sibuk mencari pegangan sekuat mungkin. Sambil membunyikan klakson berulang-ulang, Eza tertawa. Melihat raut ketakutan yang ditunjukkan Mauren adalah hal terindah di hidupnya. Mauren kembali menjerit saat mobil menukik tajam dan berbelok memasuki kawasan puncak. Bola matanya melotot. Ditatapnya Eza dengan raut sinis. Sementara matanya berputar cemas menatap spion yang menampilkan jalanan di belakang. "Mau lo apa, sih?" sinis Mauren pedas. "Gue mau ajarin lo cara nyetir yang bener. Nih, gini caranya—" Eza tersenyum miring sambil menambah kecepatan gas saat mobil menaiki tanjakan. Mauren kembali berjengit saat mobil yang ditumpangi mereka melaju semakin kencang. Kesal dengan keadaan membuatnya tak tanggung-tanggung merebut setir yang dikemudikan Eza. Lalu tak lama setelahnya mobil bergerak ugal-ugalan. Sebentar ke kanan, lalu sebentar ke kiri. "Gila lo, Ren! Minggir lo, minggir!" "Lo yang harusnya minggir! Turun lo sana! Ini mobil gue! Lo nggak berhak nyetir mobil gue!" "Dengerin ya Maurenka Rosallia Fabrian yang terhormat, anaknya Dokter Mario Fabrian—" Mauren mendecih tak suka. "Om Erro pasti malu lihat kelakuan lo yang kayak gini." Detik selanjutnya tawa Eza keluar. Hell, papanya malu? Hahaha, yang benar saja. Bukankah papanya sewaktu SMA dulu tak jauh beda dengannya. Si biang kerok yang hobi balapan liar di sekitar gunung. Mauren bilang begitu karena dia hanya tahu bentuk luaran papanya saja. Coba dia tahu masa lalu papanya. "Lo sama aja kayak yang lain." Eza kembali tertawa. "Asal lo tahu papa gue ini jagonya ngebut-ngebutan. Juara dia kalau suruh naik gunung pake mobil gini. Lo nggak tahu aja masa lalu dia yang sebenernya." "Oh, seenggaknya dia nggak setengil lo!" Mauren menatap Eza sinis. Matanya berputar menatap palang hijau di atas jalanan. Sialan. "Mau ngapain lo ke sini?" "Gue mau kasih lihat lo tempat kesayangan bokap gue." Mauren menyipit tajam. Perlahan menoleh memandang Eza yang malah asyik menyalakan radio dan bersenandung kecil menirukan alunan musik yang berputar. Gayanya santai sekali seakan tidak peduli dengan jalanan yang semakin berkelak-kelok ke atas. Jujur saja Mauren tidak terlalu suka dengan liburan, travelling, dan semacamnya. Dia lebih suka berdiam diri di dalam kamarnya dan belajar. Atau mungkin menghabiskan harinya bersama Azel di perpustakaan milik Ello yang luasnya berkali-kali lipat dibandingkan perpustakaan sekolah. Melihat puncak gunung dengan jurang lebar di sekelilingnya memang membuatnya sedikit ketakutan. Tapi entah kenapa melihat Eza yang masih sibuk bernyanyi dengan suara tak jelas membuat rasa takutnya sedikit berkurang. "Lo nggak pernah travelling, kan?" Mauren menoleh sekilas. Lagi-lagi matanya menyalang. "Kenapa lo tanya-tanya? Bukan urusan lo juga." "Aren... Aren... Gue kenal lo nggak cuma sebulan-dua bulan. Gue udah kenal lo sejak bayi. Jadi, lo nggak usah sok tegar gini, deh. Gue tahu semua hal tentang lo termasuk—lo yang nggak pernah punya pacar dan—Ups! Sorry, gue keceplosan." Eza kembali tertawa. "Makanya sekali-kali lo harus pergi sama cowok selain Acel sama Adry. Karena gue yakin cowok sekolot mereka nggak pernah ngenalin lo tentang alam." "Emang siapa yang pengen ke sini? Gue nggak suka." Mauren mendengus. "Lagipula, apa yang bisa lo lihat dari gunung, hutan, dan teman-temannya yang serba hijau? Tempat kayak gini nggak menambah ilmu sama sekali." "Well, lo nggak pernah tahu aja tempat kayak gini punya magic luar biasa," jawab Eza sambil menginjak rem kuat-kuat. Mobil berhenti tepat di samping pepohonan yang menjulang tinggi. Eza melepas sealtbelt yang dipakainya dan bergerak turun. Perlahan menghirup udara segar yang masih terasa menyejukkan. Matanya berputar cepat menatap sekeliling. Tempat ini masih sama seperti dulu. Masih sama seperti saat Erro mengajaknya travelling berdua mengarungi puncak Bogor beberapa tahun silam. Semenjak hari itu Eza mulai tertarik dengan apa yang disukai papanya. Travelling, kamera, dan keindahan alam. Semua hal yang disukai Erro ternyata mampu menghipnotisnya dan menarik minatnya. Alasan mengapa Eza sangat tertarik dengan hasil jepretan kamera juga karena tempat ini. Foto yang ditunjukkan Erro saat travelling dulu. Juga cerita masa lalunya di tempat ini. Hal itu memberi kesan tersendiri untuk Eza. Dan di tempat ini Eza bisa merasakan setiap sudut kenangan orang tuanya yang tersusun rapi. Pohon-pohon tinggi itu, jurang yang lebar dan siap menerkam itu, serta kursi-kursi bambu yang berdiri kokoh di tepi bebatuan itu. Semua adalah memori milik orang tuanya. Eza mengetuk kaca jendela Mauren. "Ayo turun!" Mauren bersedekap malas. "Gue nggak tertarik. Lo aja sana main sepuas lo. Gue tunggu di sini." Eza memasang senyuman miring. Si nenek sihir ini senang sekali menggodanya. "Yakin nggak mau turun?" Mauren tak menjawab dan memilih menyalakan radio. Malas menanggapi si tengil yang menyebalkan. "Well, kalau lo nggak mau turun gue cium." Mauren masih tak peduli. Rasanya Eza gemas setengah mati. Oke, kali ini dia tidak bercanda. Kemudian dibukanya pintu mobil dengan cepat. Sontak Mauren kembali berjengit. Raut wajahnya menegang saat kedua tangan Eza bergerak menutup seluruh akses gerakannya. "Mau ngapain lo? Kalau lo berani deket-deket gue bakal teriak." Eza kembali tertawa. "Ya teriak aja sepuas lo. Di sini jarang ada orang lewat kali, Ren. Gue kalau mau ngapa-ngapain lo juga bisa. Buruan turun sebelum gue ci—" Detik berikutnya Mauren bergerak patuh. Secepat kilat beranjak turun dan membanting pintu. Eza nyaris tergelak melihat wajah Mauren yang ketakutan. Ya ampun si nenek sihir seseram apapun tetaplah cewek biasa yang terlalu polos dan lugu. Hanya diancam begitu saja langsung terbirit ketakutan. "Apa lo ketawa?!" "Gue cuma bercanda kali. Sumpah, gue udah pernah bilang, kan? Gue nggak nafsu sama lo, Ren. Gue emang pengen sih ngapa-ngapain cewek. Tapi bukan lo. Gue nggak minat sama lo." "Lo udah bilang itu berkali-kali. Jangan ngomong lagi." "Bagus deh kalau lo sadar. Jadi, jangan kegeeran kalau gue baik sama lo." "Hm." Eza hanya bisa terkekeh melihat raut tak peduli Mauren. Sekarang dia asik menaiki tangga kayu yang ada di pepohonan. Hanya butuh beberapa detik sampai dia berhasil duduk di atas bambu-bambu kayu. Lalu dengan kurang ajarnya dia berteriak-teriak dari atas dan menyuruh-nyuruh Mauren mengikuti kekonyolannya. "Lo aja sendiri." "Kalau lo nggak naik gue bakal cium lo besok di kantin sekolah." Eza tahu titik kelemahan Mauren. Hanya ancaman sesimpel ini dan pasti Mauren akan menuruti semua perkataannya. Dan benar saja setelah itu Mauren sudah beranjak menaiki tangga-tangga kayu yang menancap kuat di badan pohon. Sepertinya Eza harus sering-sering mengancam Mauren agar cewek itu lebih penurut dan tidak pembangkang ketika bersamanya. Sesampainya di kursi bambu, Mauren memilih tempat terpojok yang jauh dari jangkauan Eza. Sumpah, kali ini Eza benar-benar gemas setengah mampus. Hell, mereka berdua sudah bukan orang asing. Tapi Mauren selalu saja menganggapnya begini. Padahal, Eza sering berharap hubungannya dengan Mauren lebih lunak seperti ketika dia tertawa bersama Divia atau sahabat ceweknya yang lain. Hanya saja Mauren berbeda dalam menyikapinya. "Well, lo harus sering-sering ngehabisin waktu bareng gue kalau mau bener-bener kenal gue." "Buat apa gue kenal lo?" Eza menghembuskan nafas jengkel. Dia menggaruk kepalanya frustasi. "Lo bisa nggak sih bersikap biasa aja sama gue? Maksud gue—kayak sikap lo ke Fa atau sikap lo ke Acel. Gue ngerasa aja cara lo menyikapi gue berbeda." Tentu saja berbeda! Mana mau Mauren berbaik hati dengan bocah nakal yang selalu mengganggu hidupnya sejak kecil itu! Sudah cukup Eza menakalinya dengan melempar cacing ke baju TK-nya, menyingkap roknya, merusak seluruh kubus yang disusunnya, merebut jatah cupcake-nya, atau bahkan mengganggu tidur siang Rongrong—kucing kesayangannya jaman kecil dulu. Tak perlu ditambah-tambahi kenakalan dan segala kebrengsekannya sekarang ini! "Sini! Gue mau cerita." Eza menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Mauren tak menggubris. Hal itu membuat Eza dengan lancang menggeser duduknya "Jangan deket-deket." Eza terkekeh sejenak sembari tangannya membuka tas selempang hitam yang selalu dibawanya kemana-mana. Di sampingnya Mauren tampak melongok. Merasa penasaran dengan apa yang dibawanya kali ini. Rupanya sebuah kamera DSLR berwarna hitam dengan ukuran lumayan besar. KLIK Beberapa detik selanjutnya terdengar bunyi klik beberapa kali. Mauren hanya diam menatap sinis Eza yang mulai asyik membidik pemdandangan di hadapannya. Pohon-pohon yang membentang tinggi dengan seluruh panorama keindahan yang ada di sekelilingnya. Jurang yang dalam dan mencekam tapi terasa indah jika dilihat dari kejauhan. Sebuah gambar muncul membuat Mauren sedikit tergerak dan mengintip layar screen kamera. Betapa terkejutnya dia saat menemukan panorama indah yang terpampang di layar. Pantulan yang tergambar terasa pas di setiap bagiannya. Dan efek kamera yang muncul juga terasa sangat cocok. "Gue tahu hasil bidikan gue bagus. Tapi lo nggak perlu melongo gitu, deh. Muka lo udah jelek, makin jelek." Mauren segera mengatupkan mulut. Merasa tak terima, akhirnya dia menjawab dengan pedas. "Siapa bilang hasil jepretan lo bagus? Jelek. Banget." Eza menurunkan kameranya tiba-tiba. Matanya menoleh menatap Mauren dari atas ke bawah lalu tertawa. Cewek berkacamata yang hobi belajar dan menghabiskan uang demi buku macam Mauren ini tak akan pernah mengerti dunia fotografi. Huh, percuma saja mengajak Mauren berjelajah menemukan tempat-tempat indah untuk dieksplor dan dijadikan objek foto. Sepertinya cewek ini tak tertarik sama sekali. "Well, kalau gue kasih lihat ini, lo bakal kaget nggak?" Mauren menoleh sejenak. "Apa?" Eza mengulurkan kamera di tangannya. Di layar screen terpampang sosok cewek seusia mereka yang membuat Mauren mengernyit. Sepertinya dia mengenali cewek ini. Entah dia pernah melihat di mana, tapi rasanya sosok ini sangat familiar dengannya. Rambut lurus panjang dengan poni terbelah rapi. Kemeja kotak-kotak berwarna pink pastel. Jeans belel dengan warna setengah pudar. Dan pembawaan wajah yang begitu mandiri dan tegas. Mauren membelalak kaget. Tiba-tiba sadar siapa yang ada di foto. "Mama gue." "Tante Riska cantik. Kok lo enggak?" Begitulah komentar Eza saat mengamati foto di kameranya secara detail. Mau tak mau membuat amarah Mauren tersulut keluar. Apalagi telinganya yang kini terasa panas karena Eza tertawa sangat lebar. Ugh, Mauren tidak suka mendengar tawa iblis itu. "Kenapa lo bisa punya foto mama gue?! Hapus sekarang!" "Ya mana gue tahu. Orang foto ini ada di kamera papa gue. Mana gue ngerti kenapa bisa ada si Tante di sini. Lagipula foto si Tante nggak kalah banyak sama foto Mama. Aneh banget." Mauren terdiam. Kepalanya mulai asyik berpikir. Si tengil itu benar juga. Mengapa bisa ada foto mamanya di kamera Om Erro? Aneh juga. Kalau papanya sih sudah jelas mereka berdua bersahabat sejak dulu. Tapi, mamanya? Memang ada hubungan apa mamanya dengan Om Erro? Oh, please. "By the way, kok mendadak mendung, sih?" Hah, mendung? Mauren mendongak dan merasakan setetes air meluncur dari langit. Lalu lama-kelamaan titik-titik itu berubah menjadi tetes-tetes hujan yang semakin banyak. Eza terkesiap dan segera bangkit. Kemudian mengambil langkah cepat menuruni tangga kayu di pepohonan. Mauren mengikutinya dari belakang. Setelahnya mereka berlarian menuju tempat mobil terparkir. Mauren mendesis jengkel. Tahu bahwa seluruh ide gila si tengil pasti menjadi petaka yang buruk. Ugh, Mauren sangat benci padanya. Lagi-lagi harinya jadi kacau. Tadi acara shooping bukunya gagal dan sekarang bajunya basah kuyup. Ckck benar-benar sial. "Baju gue basah gara-gara lo!" "Sorry, gue kirain nggak bakal hujan. Eh, ternyata. But, thanks ya udah mau nemenin gue ke sini." Eza tersenyum tipis sambil meraih tisu di atas langit-langit mobil. "Pacar-pacar gue nggak suka diajak ke tempat kayak gini soalnya. Mereka mintanya ke mall buat shooping. Habis itu uang jajan gue ludes, deh, dirampok mereka." Mauren menatap sinis. "Emangnya gue suka?" "Yeah, lo emang nggak suka. But, lo bukan tipikal cewek yang jijik sama alam. Kalau mereka jijik. Gue ya nggak bisa maksa, kan? Padahal gue pengen banget mereka tahu tempat kesayangan gue." Mauren mendecih dalam hati. Mereka? Dasar playboy. Dari cara bicaranya saja kelihatan jelas kalau bocah tengil ini memang kadal. Hell, mana ada cowok yang menyebut ceweknya dengan sebutan 'mereka'. Ya mungkin kecuali dia yang kadar kebrengsekannya memang sangat tinggi dan pacarnya sekandang. Ya, mereka. Dalam tanda kutip berarti jumlahnya lebih dari satu. Kasihan sekali sih, pacar-pacarnya. "Lo udah selesei ngomongnya?" Eza mengernyit tak suka. Nada bicara Mauren masih sama seperti biasa. Judes, jutek, dan dingin. Dih, sialan. Sumpah mati Eza menyesal bermanis-manis di depannya tadi. Huh, harusnya dia menarik kembali kata terima kasihnya tadi. "Well, lo tenang aja. Gue nggak bakal ngomong lama-lama, kok. Lagian gue juga males ngomong sama lo. Tadi kebetulan aja gue pengen ngomong." Eza mendesis sambil menyalakan mesin mobil. Lalu mesin menyala sebentar. Kemudian berhenti tiba-tiba. Eza mengernyit bingung. Sekali lagi dicobanya menyalakan mesin. Lagi-lagi mesin berhenti mendadak. "Lo nggak usah main-main, deh. Gue lagi males bercanda." Raut wajah Eza menegang. Tangannya terpaku di kemudi. "Ren, gue nggak bercanda. Mo—Mobilnya si Tante mogok. Sumpah, gue nggak boong." Mauren menoleh dan terbelalak. Apa? *** Sore harinya mereka masih terjebak di puncak. Untungnya beberapa orang penduduk di sana membantu mencarikan montir sekaligus mendorong mobil ke bengkel. Hampir beberapa jam berlalu dan cuaca mendung membuat Eza dan Mauren kesulitan mendapatkan sinyal. Tak berapa lama setelah hujan reda, sinyal datang sedikit demi sedikit. Lalu nama Faza muncul di layar. Mauren melirik sekilas saat Eza berlarian menjauh dan mengangkat ponsel ke udara sambil berteriak memanggil-manggil Faza. Beberapa menit obrolan itu berlangsung dan Mauren terus berusaha menguping pembicaraan mereka. Sampai tak lama pembicaraan terhenti dan Mauren kembali berpura-pura serius sambil memandang ponselnya. Sementara Eza memasukkan ponselnya dan segera berlalu dengan santai. Kembali ke hadapan meja yang menghidangkan dua buah mangkuk mie rebus panas. Mauren di sana, masih memasang raut wajah jengkel dengan apa yang terjadi hari ini. "Lo nggak mau makan?" "Makan?" Mauren bertanya dengan nada sinis. "Di saat gue besok ulangan fisika, dan harusnya gue balajar, lo pikir gue bisa makan?" Eza mengerang frustasi. "Terserah lo deh mau ngomong apa. Yang jelas gue laper. Kalau lo nggak mau makan ya udah. Gue aja yang habisin bagian lo." Baru saja Eza akan menarik mangkuk dari hadapan Mauren ketika tiba-tiba cewek itu merebutnya kembali. Lalu memakan mie bagiannya pelan-pelan. Eza tersenyum sinis melihat Mauren yang tiba-tiba makan dengan lahap. "Ternyata semua cewek sama aja. Bilangnya enggak, padahal iya. Dasar. Kalau mau ya bilang aja nggak usah malu-malu gitu, kali." "Gue emang laper. Masalah buat lo?" "Diih... Udah mending gue beliin makan." Eza menyeruput kuahnya hingga mengeluarkan suara keras. Membuat Mauren melirik jijik. Lalu sesi ceramahnya dimulai lagi. "Pantes aja lo nggak laku-laku. Harga diri lo aja selangit. Coba lo turunin dikiiit aja, Ren. Kali aja ada yang mau gitu." Mauren meletakkan sendoknya. Suara berdencing hebat terdengar dari sini. "Loh, apanya yang salah? Manusia emang harus punya harga diri tinggi. Gue pikir cewek-cewek yang nggak punya harga diri malah murahan." Eza memicingkan mata. Sumpah, dia hanya lapar. Bukan bermaksud memancing emosi singa betina satu ini. Tapi, lama-lama dia gondok juga mendengar kata-kata pedas yang mengucur dari mulut si nenek sihir. Padahal dia hanya berpendapat saja tadi. Maksudnya baik. Biar Mauren juga bisa merasakan kebahagiaan sama seperti remaja lainnya. Hanya itu saja. "Marsella, Thalita, siapa lagi?" Mauren tersenyum miring. "Jadi, berapa harga mereka?" Eza membanting sendoknya. "Maksud lo apa bawa cewek-cewek gue? Tadi gue cuma kasih saran. Kenapa lo jadi makan ati, sih?" "Gue cuma mau tahu aja berapa kadar harga diri mereka. Sampe mau-mau aja dipermainin sama playboy kayak lo." Untuk kali ini Eza tak bisa menahan amarahnya, dia menggebrak meja dengan sangat kuat. Membuat mangkuk mereka saling beradu dan mengeluarkan dencingan hebat. Sepersekian detik kemudian, dia bangkit. Dicengkramnya bahu Mauren kuat-kuat hingga cewek itu mendongak dan mata mereka beradu tajam. Penuh kobar kebencian. "Kalau lo bukan anak sahabat papa gue, udah gue cium lo sekarang," teriak Eza penuh emosi. "Biar lo sadar, kalau harga diri lo nggak jauh beda sama mereka!" Mauren menegang ketakutan. Setelahnya Eza menghempaskan uang lima puluh ribuan ke atas meja dan berlalu cepat. "Bayar sana! Biar bisa cepet pulang!" Lalu dia berteriak dari kejauhan. Mauren menggeram sambil merampas uang lima puluh ribuan itu. Sial. Menyeramkan sekali. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD