Faza sudah tidak peduli lagi dengan kejadian di kafe waktu itu. Satu bulan rasanya hanya seperti satu minggu. Satu minggu rasanya hanya seperti satu hari saja. Terakhir, dia sempat mengirim chat pada Divia yang hanya dibaca cewek itu tanpa membalas sama sekali. Lalu sudah, setelahnya Faza berlagak tidak peduli. Dia sudah minta maaf pada Divia, Tapi sampai hari ini pun Divia tidak memperdulikannya. Sahabatnya itu sekarang juga jarang sekali main ke Champ. Kalau pun iya, Divia hanya mampir sebentar untuk mencoba resep baru dan mengobrol dengan yang lain. Dengan lainnya tentu saja selain dia. Divia hanya mengobrol dengannya sebatas itu-itu saja. Seperlunya. Faza merasa sekat di antara mereka semakin tinggi.
Merasa frustasi, Faza membanting PSP-nya. Hal itu sontak membuat si tengil menjerit-jerit dari samping.
"Sial. Maksud lo apa banting-banting PSP kayak gini?! Gue udah hampir menang. Ulang lagi lo, ulang lagi!"
Faza menatap Eza jengkel. Bibirnya maju beberapa senti. "Gue lagi males, Ja! Sekarang semua makin runyam."
"Maksud lo—" Eza memasang wajah berpikir. "Lo sama Divi?"
"Yeah. You're right!"
Eza terdiam dengan wajah berpikir. Seumur hidupnya memang baru kali ini dia melihat Divia dan Faza tidak akur. Entah mengapa, sebenarnya itu membuat dia risih. Pasalnya sejak kecil dulu Faza memang lumayan lengket dengan Divia.
"Ja, mall yuk! Suntuk gue lama-lama!"
Faza merebut PSP di tangan Eza dan membantingnya ke sofa. Sama seperti yang dilakukannya tadi. Mau tak mau Eza menjerit dan melempar Faza menggunakan remote di atas meja kaca.
"Udah yuk, cabut!"
Eza menggerutu. Tapi akhirnya bangkit mengikuti langkah Faza. Dari balik koran Izzy berseru melihat keduanya berjalan menuju teras.
"Heh, mau ke Champ? Papa nitip dompetnya Mama ini ketinggalan."
Faza menoleh sekilas. "Mau pergi tapi ke tempat selain Champ."
Izzy menutup korannya dan mengernyit. Raut wajahnya tampak kebingungan. Lalu dia hanya berdecak dan kembali membaca koran. Aneh sekali. Minggu pagi begini sudah main ke mall. Dasar anak jaman sekarang.
"Beneran nih nggak mau ke Champ?" tanya Eza sambil memasang helm.
"Hari ini Minggu, bro. Divi pasti di sana. Gue semakin males ketemu dia. Lo tahu, kan? Gue benci suasana awkward, Ja."
"Yeah. Dan lo emang harus mengubah suasana itu jadi kayak dulu." Eza melempar satu helm lagi untuk Faza.
"Sialan. Helm apaan, nih?" ringis Faza setelah menerima helm berwarna merah ala kodok. "Sorry, gue punya helm sendiri. Dan gue bukan cewek simpenan lo!"
"Udah, jangan banyak omong. Tinggal pake aja apa susahnya sih, Fa?!" Eza memasangkan helm pada Faza dengan setengah Faza.
"Heh, ingat ya! Cuma hari ini doang gue sudi pake!"
Eza tertawa sekilas. Tak mempedulikan suara omelan Faza yang menyebalkan. Oh, setidaknya Eza lega Faza sudah kembali bersikap seperti dulu padanya. Meski fakta jika hubungan Divia dengan Faza semakin tidak beres dan tentu menyeret yang lainnya juga.
"Buruan jalan!" Faza berteriak selayaknya boss.
"Lo harus traktir gue karena hari ini sebenernya gue ada jadwal jalan sama Wina." Eza masih tertawa.
"Ah, berisik! Iya, bawel! Mau jalan sama Wina kek, Thalita kek, bodo amat!"
***
Pukul 9 pagi taksi yang dinaiki Divia berhenti tepat di rumah keluarga Fabrian. Divia mengetik chat beberapa kali pada Mauren tapi sahabatnya itu tak keluar juga. Pada akhirnya Divia menyerah dan menggedor-gedor rumah bercat kuning itu.
Dan seperti biasa suara Dokter Mario menjadi yang pertama menyapanya. Divia hanya tertawa-tawa sekilas saat mencium tangan Om berisiknya satu itu. Belum lagi kerempongannya setiap kali berada di sini. Juga seluruh cicitannya yang sepanjang kereta.
"Divi, kamu harus ikut sarapan. Tante Riska lagi masak nasi goreng super enak."
Begitulah yang dikatakan Rio padanya. Dan tentu langsung menyeretnya pada salah satu bangku di meja. Divia tidak bisa menolak jika sudah berhubungan dengan masakan ala Chef Mariska. Masakan tantenya satu ini memang yang paling enak dari yang lain. Jika Zaza jago memasak bagian pastry dan cake, Riska jago dalam masakan berat seperti khas Indonesia atau bahkan yang Western sekalipun. Sedangkan Echa jago dalam hal membuat camilan ringan. Apalagi jamur crispy dan stick goreng yang selalu jadi andalannya. Oh, tentu mamanya tidak kalah. Nella paling jago meramu resep baru. Semua bahan makanan yang ada bisa dia buat sekali sentuh.
Untuk soal masak-memasak ini memang masing-masing tantenya memiliki keunggulan. Kecuali Tante Sharyn, sih. Jika dirangking tante termudanya itu akan menempati peringkat terakhir dalam hal masak-memasak. Pernah Divia dan yang lain makan di rumah Azel, ternyata rasanya asin sekali. Bahkan asam lambung Mauren sempat kumat saat itu.
Hanya butuh beberapa menit sampai Divia menghabiskan sarapannya. Piring yang tadinya penuh sekarang sudah bersih tanpa sisa. Beginilah hebatnya Riska dalam memasak—membuat yang memakan ketagihan.
"Jadi, kalian mau jalan-jalan sepagi ini?" Riska melirik jam dinding yang masih menunjuk pukul 9.
"Iya, Tante. Aren mau beli buku. Biasanya ada sale sebelum jam 12 siang. Kalau Divi mau cari hair dryer hehe." Divia menjawab sambil tertawa. Tiba-tiba merasa malu dengan jawabannya barusan.
"Yah, Moldy mau ikutan dong." Moldy memanyunkan bibir. "Gue mau cari tamiya terbaru."
Mauren melirik Moldy dengan tatapan tajam. "Lo nggak boleh ikut, Mol. Ini urusan cewek."
"Ihh... Kak Aren kan bukan cewek. Tapi—cewek jadi-jadian." Lalu tawa Moldy terdengar membahana memenuhi ruangan. Membuat Muaren mendesis jengkel merasa dihina.
Rio menjewer telinga Moldy secepat kilat. "Cimol, kamu diem! Berisik!"
"Kamu ngomong apa sih, Mol? Tentu aja Kak Aren cewek. Buktinya Kak Aren cantik kayak mama." Riska tersenyum bangga.
Mauren menghela nafas panjang. Ah, sudahlah. Keluarganya ini memang paling berisik. Jika sudah ditanggapi akan begini urusannya. Lebih baik Mauren diam saja daripada mengurusi mereka.
Maka, secepat kilat Mauren menarik tangan Divia dan menyeretnya menuju garasi. Di sana mobil merah kesayangan Riska terparkir rapi. Mobil BMW itu tidak terlalu besar. Jadi, Mauren kerap menggunakannya untuk bepergian. Jujur saja dia paling malas naik taksi karena harus merogeh kocek. Kalau bisa menyetir sendiri, why not?
Divia melempar diri ke atas kursi penumpang. Tangannya bergerak menyalakan AC. Setelahnya tak ketinggalan memutar musik melalui radio. Dari sana terdengar alunan merdu penyanyi dengan suara seksi, Ariana Grande. Divia bersenandung lirih sambil mengikuti irama lagu. Untung saja yang menyetir ini Mauren. Jadi, dia bisa tenang selama perjalanan. Beda halnya jika Finza yang duduk di kursi kemudi, bisa-bisa Divia mati jantungan.
Divia harus mengakui jika dalam segala hal Mauren memang unggul. Mulai dari otak, keterampilan, hobi, dan keahlian. Mauren memegang semua kunci. Dia adalah tipikal cewek remaja berpikiran dewasa dan mandiri dalam segala hal. Sangat berbeda dengan Finza. Mauren terbiasa melakukan apapun sendiri. Dia paling tidak suka meminta bantuan orang lain.
Menurutnya, sesuatu akan lebih bermakna apabila dikerjakan diri sendiri. Divia tidak menampik bahwa perkataan Mauren memang benar. Tapi, kadang ada beberapa hal yang membuat Divia jengkel setengah mati karena terkadang Mauren memang membutuhkan bantuan orang lain. Tapi harga dirinya terlalu tinggi dan dia akan menyimpannya sendiri. Divia tidak habis pikir dengan orang berpemikiran seperti Mauren itu.
Mobil yang dinaiki mereka kini mulai menembus padatnya jalanan Jakarta di Minggu pagi. Divia membuka sedikit kaca jendela. Berusaha menghirup udara pagi yang terasa masih segar di hidungnya. Hanya beberapa detik sampai lampu merah tiba-tiba menyala. Membuat seluruh pergerakan angin sepoi-sepoi berhenti. Bersamaan dengan itu suara ketukan kaca terdengar bersahutan.
"Hai, cantik."
Divia mengerjap bingung. Suara itu sangat dikenalnya. Kebingungan Divia langsung terjawab saat dia mendongak dan menemukan wajah sok ganteng si tengil. Divia melotot kaget. Apalagi saat matanya menangkap sosok Faza yang duduk di boncengan Eza.
"Oh, maksud gue yang cantik lo aja, Div. Samping lo nggak usah." Eza tertawa sinis saat melihat Mauren duduk tak jauh dari Divia.
Divia berdecak jengkel. "Lo berdua ngapain, sih?"
"Ya ampun Divi. Lo ketemu kita kayak apa aja, sih?"
"Gue lagi nggak pengen lihat muka nyebelin lo, Jaja Suhardja." Divia menuding Eza dengan raut wajah jengkel. Sementara sebelah tangannya menekan tombol jendela.
Faza yang sejak tadi hanya diam sontak menahan pergerakan jendela kaca. "Stop, Div!"
Divia menyipit. Lalu menjauhkan tangan dari tombol. Matanya menatap Faza lurus-lurus. "Kenapa?"
"Sebenernya kita perlu bica—"
Tak lama setelah itu terdengar suara klakson bersahutan di belakang mereka. Divia melotot saat menyedari lampu merah telah berubah menjadi hijau. Tanpa mempedulikan Faza, digoyangkannya pundak Mauren.
"Ren, jalan! Buruan jalan!"
Mauren mengangguk pasti. Matanya melirik Eza sekilas dan sesegera mungkin melajukan mobil. Sayangnya si tengil itu memang kurang ajar. Dengan kecepatan tinggi Eza berusaha mengejar mobil Mauren. Divia menjerit panik merasakan ketegangan yang terjadi. Apalagi Mauren yang seakan tak terima laju mobilnya dikalahkan.
"Eh, lo berdua stop sekarang!"
Divia memekik kaget mendengar teriakan Faza yang tiba-tiba sudah berada di samping. Tangannya menarik lengan Mauren. Berusaha menghentikan aksi kejar-kejaran ini. Tapi yang dilakukan Mauren malah mempercepat mobilnya.
"Ren, gue mohon please kita ngalah aja! Udah berhenti!"
"Gue nggak mau ngalah sama mereka!" Mauren menukas tajam.
Huh, apa sih mau dua kurcaci itu? Ugh, acaranya memburu buku-buku murah jadi gagal total gara-gara mobilnya terlanjur melewati area mall. Semua salah si tengil! Si playboy cap lintah lapis kadal itu memang selalu membawa petaka di hidupnya. Setiap kali ada dia pasti Mauren ketiban sial.
"Ren!" Divia masih berteriak.
Tepat saat itu sebuah belokan menghadang dari depan. Mobil menukik tajam dan terdengar suara gesrekan rem yang kuat. Dan hal itu dimanfaatkan Eza untuk menembus pergerakan mobil Mauren. Hanya butuh beberapa detik sampai gesrekan rem kuat terdengar dan Eza tertawa melihat mobil BMW merah di depannya tampak kelabakan. Untung jalanan belum terlalu ramai di pagi hari begini. Jadi, tidak ada polisi yang melihat aksi ngawurnya.
"Well, jangan sok-sokan nantang gue kalau lo nggak sanggup!" Eza membuka kaca helm-nya dan kembali tertawa.
Faza tak peduli dengan suara tawa Eza. Sekarang dia sudah beranjak dari jok dan membuka pintu mobil Mauren. Lalu diseretnya Divia keluar dari mobil. Sontak Divia menjerit berusaha melepaskan diri.
"Lo mau apa sih, Fa? Lepasin gue! Lepasin!"
"Kasih waktu gue buat ngomong! Just one hour please!"
"Gue mau pergi sama Aren!"
Faza tak menjawab. Malah berjalan memutar mobil dan menggedor kaca mobil Mauren.
"Buka, Ren!"
Mauren mengangkat sebelah alis bingung. Tapi, Faza tak menjelaskan apa-apa. Mauren menghembuskan nafas panjang dan menuruti perkataan Faza. Ketika pintu mobil dibuka, Faza menyerobot dengan paksa kunci yang terpasang di bawah setir sehingga Mauren memekik kesal gara-gara perlakuan tidak sopan Faza.
"Ja, urus Aren!" Faza memberi komando sembari tangannya melempar kunci BMW merah yang tadi direbutnya dari Mauren.
Eza tersenyum miring. Sebelah tangannya berhasil menangkap kunci itu dengan sigap. "Oh, tenang aja. Gue paling jago ngurus dia."
Setelahnya terdengar jeritan Mauren karena Eza sudah berlarian menerobos pintu secara paksa. Gayanya seperti maling handal saja. Mau tak mau Faza tertawa melihat Tom and Jerry yang sekarang terkurung di dalam mobil sambil ribut-ribut tak jelas.
Divia berusaha mengirimkan serangannya pada Faza. Kedua tangannya memberikan cubitan-cubitan ganas yang sayangnya tidak mempan di tangan Faza. Akhirnya yang bisa dia lakukan hanya menjerit dan memukul-mukul kaca mobil Mauren.
"Jaja Suhardja tengil! Gue laporin lo sama Om Rio! Lihat aja lo!"
"Santai, Div. Gue cuma mau ngajarin nenek lampir gimana cara nyetir yang bener. Dia ngawur soalnya."
"Dasar lo berdua berandal! b******k!"
Eza hanya tertawa. "Bye."
Beberapa detik kemudian mobil BMW merah itu sudah melesat jauh dengan kecepatan tinggi. Divia mengumpat dalam hati. Benar-benar dua biang kerok ini perusuh. Semua rencana shooping-nya sudah gagal total dirusak mereka.
"Buruan naik, Div!" Faza mengulurkan helm merah yang diambilnya dari jok motor.
Divia menerimanya dengan wajah kesal. Ugh, mana sudi dia memakai helm bekas mantan-mantan Jaja Suhardja yang banyaknya satu gentong. Tak ada pilihan akhirnya Divia menyerah dan memakai helm itu meski harus menahan gondok setengah mati.
"Mau lo apa sih, Fa?"
Faza terdiam sambil memainkan kunci motor milik Eza. Bukannya menjawab dia malah balik tanya. "Kita mau main ke mana?"
Divia menyipitkan mata tajam. "What? Main? Are you serious? Setelah apa yang lo dan Jaja lakukan, lo masih bisa ngajak gue main? Lo mikir nggak, sih?"
Faza menghembuskan nafas jengkel. "Jadi lo marah? Ya ampun, Div. Ini gue sama Jaja. Bukan orang lain. Lo bicara seakan-akan kita maling."
"Bawa kabur mobil orang apa namanya kalau bukan maling?"
"Oke, fine. Gue minta maaf. Gue sama Jaja emang sering kelewatan. Lo udah tahu sejak dulu."
"That's right. Karena lo berdua kayak gitu makanya banyak orang yang jengkel sama kalian. Apalagi papa kalian yang sering stres gara-gara tingkah kalian."
"Kok lo jadi bahas papa gue, sih?"
Divia menendang motor di hadapannya frustasi. "Ya habis lo yang mulai. Lo pikir ini lucu?"
Faza terdiam sejenak. Matanya menatap Divia lurus-lurus. Rasanya ada sekat tinggi yang berdiri tegak di antara mereka. Bahkan dalam posisi sedekat ini. Di mana hanya ada mereka dan keheningan, tetap saja sekat itu masih terasa. Faza tak bisa menembusnya sama sekali. Dan Divia terlalu gigih mempertahankan benteng dirinya.
"Kejadian di Champ waktu itu. Gue—minta maaf. Seharusnya gue bilang makasih sama lo. Bukannya malah marah-marah nggak jelas kayak gitu."
"Kejadian yang mana? Gue udah lupa."
Divia menyedekapkan tangan. Ya, tentu saja dia ingat. Mana mungkin dia melupakan hari menyebalkan itu. Hingga hari ini pun rasanya masih menyakitkan. Berbicara dengan Faza sangat berbeda dengan obrolan seru mereka dulu. Rasanya Divia malah ingin segera mengakhiri ini semua.
"Div, gue beneran minta maaf. Gue nggak bermaksud begitu. Gue cuma—cemburu."
Perkataan itu mau tak mau membuat Divia menegang. Mendadak kakinya seperti jelly. Lututnya pun melemas selayaknya oli. Matanya berputar menatap fokus manik mata Faza yang tampak bimbang. Berusaha meyakinkan diri bahwa pendengarannya tak salah.
"Maksud gue—gue cuma. Apa yah... Ya kebetulan gue lihat lo aja gitu. Lo sama Raymond. Jadinya gue nggak fokus dan nabrak orang." Faza menggigit bibir frustasi. Lalu tertawa lantang. "Lo kan sahabat kita. Champ. Masak lo lebih milih sama Raymond. Ya wajar kan kita cemburu?"
Dan buuum. Divia bisa merasakan kepalanya berdentum hebat. Rasanya seperti gunung meledak yang mengeluarkan seluruh lavanya. Oh, sahabat. Jadi dia saja yang berpikir berlebihan. Faza memang kurang ajar. Sehabis mengajaknya terbang langsung menghempaskannya begitu saja. Bocah ini meski sok polos ternyata sama brengseknya dengan si tengil.
"Div, maaf gue diterima, kan? Ya?" Faza memasang wajah berbinar dengan kedua tangan dirapatkan. Seperti kebiasaannya saat merajuk meminta sesuatu.
Divia menghembuskan nafas jengkel dan berdeham. "Hm."
"Lo udah maafin gue?"
"Hm."
"Div, sumpah hari ini gue lagi serius."
Divia terdiam melihat wajah Faza yang mendadak dipenuhi kerutan. Artinya cowok itu sedang serius. Sebenarnya hal ini yang paling disukai Divia dari Faza. Yaitu raut wajah seriusnya yang sangat jarang dia keluarkan. Harusnya Divia bangga karena dia menjadi salah satu orang yang bisa membuat Faza menampilkan wajah serius seperti ini.
"Traktir gue dulu. Es krim hawai di Ancol."
Faza mengerjap senang. "Jadi gue dimaafin, kan?"
"Kalau lo nggak mau traktir ya nggak jadi."
"Oke. Oke."
Mau tak mau seulas senyum terbit di wajah Divia. Melihat raut panik Faza yang ketakutan membuatnya senang. Apalagi sekarang cowok itu sudah sibuk menstarter motor. Dan selayaknya komando memerintah Divia menaiki jok belakang. Ah, Divia rindu duduk di boncengan Faza. Setiap hari yang dilihatnya hanya punggung lebar Raymond. Padahal yang dia inginkan adalah berada di belakang punggung Faza—yang meski tak begitu kokoh dan lebar karena badan Faza memang lebih kecil daripada Raymond si kapten futsal—Tetapi punggung Faza terasa lebih hangat dibanding siapapun. Ups, ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa.
***