Episode 8 Heartbreak

2677 Words
Faza menghembuskan nafas panjang sambil menghapus sisa keringat yang menempel di dahinya. Setelah kurang lebih satu jam akhirnya hukuman ini selesai juga. Faza meletakkan gagang pel di tangannya ke tepi kamar mandi dan segera bergegas ke luar. "Akhirnya selesai juga!" Suara teriakan Eza terdengar membahana. Tak lama kemudian mereka keluar beriringan dari dalam toilet. Faza keluar pertama. Lalu disusul dengan Eza dan Azel yang berjalan di belakangnya. Semua memasang tampang kusut dan kucel. Kecuali Eza—yang tentu saja masih memasang senyuman tengilnya. Finza langsung berdecak melihat tampang saudara kembarnya yang sama sekali tidak kelelahan. "Yeah, lo emang strong!" Finza menggeleng sambil melemparkan botol minumannya yang langsung ditangkap Eza dengan sigap. "Lo harusnya bangga punya saudara kayak gue. Selain strong dan penuh tanggung jawab, gue juga pekerja keras!" jawab Eza sambil sesekali meneguk minuman milik Finza. Finza hanya menanggapi malas. Faza dan Azel juga mendapat minuman dari Mauren. Keduanya tampak tak berselera dan sangat kelelahan. Berbanding terbalik dengan Eza yang masih terus mengumbar senyum sana-sini. "Divi mana?" Faza mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tak menemukan Divia sama sekali. "Oh, tadi udah pulang. Katanya ada janji sama Raymond." Mauren menjawab cepat. Finza si biang gosip langsung tertarik begitu ada hal yang menarik perhatiannya. "Siapa? Raymond? Gebetan baru Divi namanya Raymond? Anak mana, tuh? Kok kayaknya gue nggak kenal?" Mauren menyipitkan mata tajam. "Emangnya lo harus kenal semua orang, Cha?" Finza memanyunkan bibir. "Ya enggak. Cuma gue kan kenal semua populasi SMA 40. Tapi, kayaknya nggak ada yang namanya Raymond, deh." "Raymond bukan anak sini." Eza menjelaskan. "Lo tahu kapten basket SMA 28? That's it!" "Oh, I see." Finza berseru sambil menjentikkan tangan. Lalu dia mulai merajuk sambil menarik-narik baju seragam Eza. "Ihh, Raymond kan ganteng banget, Ja. Gue juga mau dapat cowok ganteng kayak Raymond. Divi curang banget, sih. Ja, comblangin gue sama satu temen lo yang ganteng dong. Please." Eza meleletkan lidah. "Males. Lo kan udah mau dijodohin sama anak temennya papa di London." "Yah, kan nggak apa-apa punya cadangan satu. Lo aja punya banyak. Gue juga mau." "No. Cuma gue yang boleh punya banyak cewek. Lo nggak boleh." Faza berdeham-deham menginterupsi. Si kembar Eza dan Finza selalu saja berisik. Kalau biasanya dia bisa lebih berisik dibanding mereka, sekarang dia tidak tertarik untuk melakukannya. Suasana mulai hening karena Faza tak banyak bicara dan malah merapikan tasnya. "Gue mau pulang dulu." Faza memutuskan. Sebelah tangannya menjinjing tas dan mulai melangkah cuek. "Kalau mau ketemu gue nanti sore di Champ kayak biasa." Eza dan Finza berpandangan sambil mengedikkan bahu. Semakin aneh saja sikap Faza belakangan ini. "Gue juga duluan, ya. Ada tentor gue di rumah. Bye." Tak lama setelahnya Azel bangkit dengan gerakan yang sama. Otomatis membuat Mauren ikut-ikutan bengong karena ditinggal begitu saja dengan si kembar yang berisik sekali. Finza menarik lengan Mauren dengan cepat. "Ren, lo nggak boleh pergi. Awas lo!" Mauren tak menjawab. Hanya pasrah mengikuti langkah Finza. Eza melirik Mauren sinis. "Nenek sihir mana bisa pergi, Cha. Kan harus belajar di rumah." "Ohiya..." tawa Finza meledak begitu saja. Mauren melayangkan tatapan tajam pada dua saudara tersebut. Baru saja dia akan melayangkan bom. Sayangnya bom itu tertahan di mulutnya karena tiba-tiba suara derum motor terdengar dari kejauhan. Motor ninja berwarna merah berhenti di hadapan mereka. "Hai, Ren. Bisa antar gue ke toko buku?" Adry membuka kaca helm dan tersenyum. Mauren tergagap tanpa tahu harus menjawab apa. Sorot matanya yang tajam dan aura dinginnya selalu meleleh setiap kali ada Adry di sampingnya. Ah, cowok ini benar-benar sumber kelamahan dalam dirinya. "Eh, itu, gue—" Mauren menggigit bibir menatap Eza dan Finza secara bergantian. Adry hanya tertawa menanggapi sikap Mauren. Selalu saja begitu jika tengah kebingungan. Sebagai sesama anggota OSIS, Adry sudah cukup mengenal Mauren. Sekretarisnya itu memang sering kebingungan menjawab setiap pertanyaan atau ajakan ngobrolnya. Tapi bagi Adry, sikap Mauren yang seperti itu terasa lucu baginya. Finza berdeham-deham. "Nggak apa-apa, Ren. Pergi aja kali." Adry terkesiap dan buru-buru mengalihkan wajah. "Eh, sorry. Baru nyadar. Hai, Cha. Hai juga—" tatapannya bertemu dengan mata tajam Eza. "Hai juga, Ja." "Oh, hai." Eza tersenyum sinis sambil melirik Mauren. "Jadi, setelah Melodi sekarang nenek sihir? Waow, selera lo menurun drastis," lalu jeritan Eza terdengar karena Finza langsung mencubitnya. "Kita temen, kok. Emang salah?" Mauren benci sekali mendengar perkataan Eza yang seakan merendahkan dirinya. Tapi, mendengar kata 'temen' dari mulut Adry jauh lebih menyakitkan daripada hinaan Eza itu. Entah kenapa kakinya mendadak kelu dan dia tidak bisa berdiri. Rasanya nyaris ambruk dan jatuh pingsan. Finza segera mendorong tubuh Mauren. Sangat tahu sahabatnya pasti bahagia dengan ajakan Adry. "Sana buruan! Bu sekretaris harus selalu setia sama si boss." Mauren mengernyit ke arah Finza. Dasar aneh. Tadi si manja itu mengancamnya dan melarangnya pergi, sekarang malah tiba-tiba menngusirnya begini. Benar-benar menyebalkan. Sejujurnya Mauren mau-mau saja—sangat mau malah. Tapi sejak mendengar 'temen' tadi membuatnya sangat malas. "Ayo, Ren!" Adry mengulurkan helm berwarna pink pada Mauren. Mauren menatap helm itu malas. Oh, helm yang sering dipakai Melodi. Ugh, yang benar saja dia harus memakai ini. Lalu setelah terdiam beberapa saat, pada akhirnya Mauren tetap memakainya. "Gue duluan ya, semua. Bye." Adry menyalakan motor. "Aku duluan ya, Cha." Mauren tersenyum pada Finza. Dan seperti biasa, mengabaikan Eza yang ada di sana. Eza tertawa sinis. "Well, hati-hati nenek sihir di belakang lo bisa berubah jadi kuntilanak." Adry melempar senyuman sinis dan segera melajukan motor. Eza mendesis berulang kali sambil menatap motor yang mulai bergerak menjauh. Huh, gayanya sedunia. Apa sih, bagusnya ketua OSIS itu sampai banyak cewek tergila-gila padanya—yang bahkan tipe ganas seperti Mauren pun juga menyukainya? Sungguh, Eza tidak mengerti sama sekali. Finza menyikut lengan Eza. "Ya ampun lo cemburu sama si Adry? Jangan-jangan lo suka sama Aren ya, Ja?" Eza masih menampilkan raut sinis. Kali ini ditambah tawa membahana. "Gue? Suka sama Aren? Hell, kayak nggak ada cewek lain aja di muka bumi ini." Finza menjawab malas. "Ya, gue tahu tipe cewek favorite lo seperti apa. Hmm... Whatever." "Then, lets." Dan Eza melenggang sambil membanting pintu mobil kuat-kuat. *** Suasana parkiran lumayan sepi saat Faza melangkah menuju motornya. Sayup-sayup terdengar langkah kaki orang berlarian dari sis koridor. Faza menajamkan pendengarannya dan mulai merinding sendiri. Sore begini suasana sekolahnya memang kadang mengerikan. Faza pernah mendengar cerita-cerita aneh tentang sekolahnya yang tersebar luas di masyarakat. Ternyata memang benar, sih. Terkadang sekolahnya terasa mengerikan di sore hari begini. Ah, lebih baik Faza segera pergi. Faza baru akan menyalakan motornya saat tiba-tiba sebuah tepukan lembut di bahunya mengagetkan. Nyaris saja Faza menjerit merasakan keganjilan yang terjadi itu. Dia berbalik dan hampir menubruk seseorang yang berdiri di belakangnya. Melodi. "Mel, ya ampun. Bikin kaget aja." Faza mengelus d**a kaget. Melodi hanya tersenyum sekilas. "Maaf, Fa. Ehm, lo belum pulang?" Faza langsung mengubah keterkejutannya dengan tawa. "Ah, santai aja. Gue cuma kaget. Ini juga baru mau pulang. Lo sendiri ngapain belum pulang?" "Tadi abis ngurusin ekskul cheers, gue mau ketemu Adry terus ngajakin dia pulang bareng. Tapi dianya malah buru-buru gitu. Katanya mau cari buku buat makalah tugas akhir. Mau gue temenin, tapi dia bilang mau sama Aren aja soalnya Aren tahu mana buku yang cocok buat tugasnya." "Oh..." Faza membulatkan bibirnya lebar. Jadi, semua demi Adry. Oh. Suasana hening menyelimuti mereka sesaat setelah nama Adry menyelip dalam percakapan itu. Melodi terdiam merasa tiba-tiba salah bicara. Dia meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari balik sana. "Minum buat lo." Melodi mengulurkan sebotol cola dingin ke arahnya. Faza membulatkan mata tak percaya. Melodi memberinya minum? Serius? "Loh, bu—buat apa?" Faza terkaget. "Karena tadi lo dihukum. Minum dulu biar seger." Faza masih terpaku saat tiba-tiba Melodi sudah menyingkir dari hadapannya dan berlalu dengan seulas senyuman lebar. Dan Faza masih terdiam layaknya orang bodoh dengan sebelah tangan menerima cola dinginnya. Kali ini Faza benar-benar tidak akan meminumnya! *** Malam hari suasana Champ De Mars semakin ramai. Banyak pelanggan berdatangan dengan aneka ragam menu yang siap dipesan. Ada yang dari kalangan pelajar, pegawai kantoran, sampai para lansia yang menghabiskan waktu bersantai. Tapi jangan ditanya, sudah pasti sebagian besar adalah pelajar yang menghabiskan waktu hangout dengan teman-teman gaulnya. Azel masih terdiam dengan dentuman lagu dibalik headset birunya ketika lonceng kafe berbunyi. Diliriknya sekilas ke arah pintu. Ternyata si kembar dengan baju nyentrik ala mereka. Azel mendesah pelan melihat keduanya dari jauh sudah memulai keberisikan. "Acel!" Finza berseru kencang dan langsung mendudukkan diri tepat di samping Azel, membuat cowok berkacamata itu menghembuskan nafas panjang. Azel melepas sebelah headset. "Please, kalian nggak lihat kafe lagi rame kayak gini. Jangan teriak-teriak bisa, kan?" Eza terkekeh sekilas dan menatap sekeliling. Mata elangnya berputar mencari Faza. "Fa mana, Cel?" "Kayaknya lagi bantu-bantu di dapur. Lo cari aja." Eza mengangguk sekilas. Pada detik kelima langkahnya terhenti. "Anak-anak yang lain mana?" "Maksud lo Divi sama Aren?" Eza mengedikkan bahu jengkel. "Yeah, siapa lagi?" "Mereka belum pulang dari tadi." "Ya ampun ini udah hampir jam tujuh." Azel berdecak malas melihat wajah sok cemas sepupunya. Sendirinya tidak pernah berkaca, sih. Padahal setiap malam minggu Eza yang paling punya rekor dahsyat di antara yang lain. Dia bisa menghabiskan malam bersama pacar-pacarnya sampai pukul sebelas malam lebih. Tapi giliran orang lain pulang jam tujuh, Eza sudah sok khawatir. "Santai aja, kali. Toh Divi sama Aren perginya bareng cowok." Azel tersenyum miring sambil memasang headset kembali. "Ehm maksud gue, cowok yang sama mereka ini kan baik-baik." "What? Maksud lo si Adry juga? No, dia nggak baik! Hih... males banget." "Lo bilang begitu karena Adry musuh lo, Ja." "Yeah. Lo tahu juga." "Udah, ah, sana lo mending bantu Fa! Gue lagi mau ngerjain tugas." Lalu Azel sudah sibuk dengan tas yang dibawanya. Beberapa detik kemudian dia asyik membuka-buka kertas hvs dan mengeluarkan kotak pensil. Perlahan mulai menulis sesuatu yang entah menurut Eza sangat rumit karena dalam hitungan detik saja essay yang ditulis Azel nyaris memenuhi setengah halaman. Belum lagi Finza yang kini mulai melakukan hal sama. Membuka sketchbook dan asyik menggambar baju-baju aneh. Eza berdecak. Setengah jengkel berjalan meninggalkan keduanya. Di area dapur, Eza langsung bisa melihat tubuh tingga tegap Faza tengah mengurus nampan-nampan penuh piring-piring kotor. "Hoi, bantu gue lo!" hardik Faza dengan wajah jengkel. Eza terkesiap dan segera menunjuk diri sendiri. "Lo ngomong sama gue?" Faza berdecak. "Menurut lo siapa lagi? Sini lo!" Eza baru mendekat beberapa langkah. Tapi Faza sudah berlari ke arahnya dan mengulurkan bertumpuk-tumpuk piring kotor ke tangannya. Membuat Eza menampilkan raut wajah datar. "Oh, lagi musuhan aja udah dibudak kayak gini, gimana kalo nggak." "Mbak Manda meja nomor enam, ya." Faza menilik kertasnya sebentar. Lalu setelah mendapat seruan dari dapur, dia kembali menatap Eza yang masih terdiam di hadapannya. Alis Faza terangkat. "Kok malah diem? Buruan cuci piringnya." "Oke, setelah ini gue tunggu maaf dari lo." Eza segera menyingkir masuk ke dalam. Faza terkekeh sekilas melihat raut wajah menyebalkan Eza. Rasanya seperti berabad-abad tidak menganggu si tengil. Dan lama-lama dia gerah juga. Hell, harus diakui kalau sebenernya dia paling tidak bisa lama-lama bermusuhan dengan sepupunya satu itu. "Mas Fa, ini Mas pesenan meja enam." "Oke, udah semua Mbak?" Faza mulai mengangkut nampan di hadapannya. Setelah mendapat anggukan dari Manda, dia langsung beringsut ke depan. Langkahnya sangat hati-hati. Suara lonceng kafe membuat Faza sedikit terganggu. Dia melirik sebentar ke depan. Matanya langsung melebar melihat Divia yang masuk bersama dengan Raymond. Sebenarnya bukan masalah buat Faza. Tapi, senyuman Divia itu. Senyuman lebar yang belakangan ini jarang sekali dilihat Faza. Dan Faza sangat merindukan senyuman Divia yang itu. Begitu asyiknya Faza menatap pasangan itu, sampai-sampai dia tidak sadar seorang remaja cowok berjalan ke arah yang sama. Lalu yang tak disangka, keduanya saling menubruk. Dan tiba-tiba gelas yang dibawa Faza tumpah membasahi pelanggan tersebut. "Mas jalannya gimana, sih? Nggak punya mata, ya?!" teriak pelanggan di hadapan Faza. Faza berjengit melihat jus yang dibawanya tumpah di baju OSIS pelanggan tersebut. "Aduh, maaf, gue nggak sengaja. Maaf banget." "Enak aja lo ngomong maaf! Baju seragam gue ini besok masih dipakai! Lo mau tanggung jawab kalau gue dihukum sama guru besok?!" Faza tak berkutik sama sekali melihat wajah garang di depannya. Dia hanya bisa menunduk sambil berusaha membersihkan tumpahan jus dengan serbet tangannya. "Udah nggak perlu dibersihin segala! Lagian pelayan kayak lo nggak guna banget. Mending lo dipecat aja kalau nggak becus kayak gini." Faza baru saja akan membela diri ketika tiba-tiba Divia muncul di hadapannya dan mendorong si pelanggan dengan kasar. Lalu menampilkan wajah sengak yang penuh kemarahan. Dan suara jeritan terdengar tak lama kemudian karena tubuh si pelanggan mengenai meja pengunjung lainnya. Sontak seruan dan jeritan terdengar dari berbagai arah. Suasana semakin memanas. "Tolong, jaga bicara kamu! Mas ini bukan pelayan, tapi Mas ini anaknya pemilik kafe. Dia di sini karena dia mau bantu orang tuanya." Divia tersenyum miring. "Dan pelanggan nggak punya sopan santun seperti kamu! Silahkan pergi ke kafe lain! Karena kami cuma mau melayani pelanggan yang beretika baik dan mau memaafkan kesalahan orang lain!" Suasana yang semula ramai menjadi hening. Si pelanggan remaja langsung mendengus kesal dan bangkit meraih tasnya di meja pojok. Lalu gerombolannnya mengikuti di belakang. Ternyata kumpulan ABG badboy. Pantas saja kelakuannya seperti binatang. Faza berlari masuk secepat yang dia bisa. Divia yang bingung melihat sikapnya langsung memohon maaf pada pelanggan dan berlari mengikutinya. Sementara para pelanggan lain kembali melanjutkan acara makan seolah tak menganggap adegan tadi tak begitu penting. Beda lagi dengan Eza yang sejak tadi mematung bengong di tempatnya. Lalu Finza dan Azel yang ikut menegang sejak tadi. Belum lagi Zaza dan para pelayan lain yang sama-sama salut dengan sikap berani Divia. Waow, Divia keren sekali tadi. *** Divia memaksakan dirinya berjalan. Meski harus tersere t-seret menggunakan tongkat, dia tetap berusaha mengejar Faza. Berjalan sedikit demi sedikit. Menaiki anak tangga satu per satu. Sampai akhirnya berhasil menyentuh lantai atas dan menemukan Faza bersender di sana sambil memasang wajah murung. Detik-detik terasa berlalu sangat lama. Keduanya hanya terdiam dalam keheningan yang panjang. Faza masih tak mau menoleh meski dia tahu sekarang Divia berada di belakangnya dan seperti menanti suaranya. Divia pun demikian. Hanya berdiri sambil terus memunggunginya. Sampai tiba-tiba Divia mendesah panjang dan mendekat secara perlahan ke arah Faza. "Tadi lo sampe nggak nyadar baju lo basah, Fa. Mendingan lo buru-buru ganti." Kali ini Faza menoleh. Kemudian mereka berhadap-hadapan. "Lo nggak perlu melindungi gue, Div. Gue bisa urus diri gue sendiri." Divia mengangkat sebelah alisnya. "Apa lo bilang? Lo bisa sendiri? Bahkan tadi lo nggak membela diri lo sama sekali. Lo cuma diem aja waktu dimarahin cowok tadi." "Semua gara-gara lo yang tiba-tiba muncul dan ganggu konsen gue. Lo nggak sadar, ya? Atau lo pura-pura—" suara Faza meninggi. Tanpa sadar membocorkan seluruh resah hatinya. Lalu dalam sekejap tenggorokannya mengering melihat raut Divia yang berubah kecewa. "Gara-gara gue lo bilang?" suara Divia terdengar serak. "Gue mati-matian belain lo, Fa. Karena lo nggak salah. Dan gue nggak suka lo dihina-hina orang kayak gitu. Tapi lo malah berpikiran kayak gini tentang gue. Lo bahkan nggak bilang makasih sama sekali." "Div... Maksud gue..." Faza kehilangan kata-kata. "Gue nggak nyangka lo malah berpikiran kayak gini setelah gue nolong lo." Faza menelan ludah kasar. Sebelah tangannya berusaha meraih Divia. Tapi dengan kasar Divia menepis tangan Faza. Lalu detik selanjutnya Divia berbalik dan memaksakan kakinya turun. "Divi!" Faza berteriak dan berlari mengejar Divia. Dan yang membuatnya semakin merasa bersalah ketika melihat air mata Divia meluncur deras di pipi putihnya. "Ray, antar gue pulang!" Divia berujar pelan begitu sampai di lantai bawah. Raymond yang tadinya asyik mengobrol bersama Azel dan Finza terkaget. Secepat kilat menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Divia berjalan dengan wajah pias menahan kekecewaan. Lalu Raymond berlarian dan memegang pundak Divia. "Kenapa?" tanya Raymond dengan bingung. Matanya berputar menatap Divia. Lalu Faza yang berada di belakang. "Gue mau pulang. Kalau lo masih mau di sini, nggak apa-apa. Ada Jaja sama yang lainnya, kok." Raymond langsung meraih tangan Divia. "Oh, enggak, kok. Ayo kita pulang." "Bye semua." Setelah mengucapkan itu Divia pergi bersama dengan Raymond. Lagi-lagi Azel dan Finza dibuat kebingungan dengan keanehan yang tiba-tiba terjadi. Mata mereka berputar dan saling menatap satu sama lain. Pada akhirnya Azel mengedikkan bahu. "Kenapa lagi, Fa?" tanya Azel memastikan. Dan bukannya menjawab, Faza malah mematung di depan pintu memandangi punggung Divia yang bergerak menjauh bersama Raymond. Di sampingnya Eza yang baru muncul menepuk-nepuk punggungnya. Mengapa hatinya tiba-tiba ngilu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD