Suasana kelas masih sepi semenjak jam olahraga berakhir. Eza menghempaskan tubuhnya ke atas meja. Bulir-bulir keringat masih terus berjatuhan. Tangannya bergerak meraih apa saja yang bisa dijadikan kipas untuk menghalau panas yang menjalar.
Dari kejauhan Adit muncul dengan terpingkal-pingkal. "Ya ampun Ja, Sumpahan tadi lo lucu banget perut gue sampe mules lihat tingkah lo sama Mauren. Ada-ada aja raket bisa terbang segala ke hidung lo."
Eza mendesis malas. Tak mau mengingat-ingat pertandingan itu sama sekali. Dia memilih meraih air mineralnya dan meneguknya sampai habis. Tapi bayang-bayang tentang pertandingan tadi berputar-putar, membuatnya ingin menangis dan mengadu pada papa tentang kekalahannya sebagai atlet. Sialan. Apalagi yang mengalahkannya tadi ini Faza loh! Iya, Faza!
Faza sepupunya yang kadang bolot soal pelajaran dan mukanya selalu cengoh saat menghadapi Matematika. Tadi mendadak sepupunya itu mengerikan sekali. Tiba-tiba berubah layaknya hero lapangan. Membuat pamornya turun begitu saja.
Hell, ada apa dengan dunia ini? Apa sekarang sedang ada dunia terbalik seperti di kartun Spongebob. Saat squidword tertukar dan jadi mirip busa kuning macam pencuci piring itu. Kalau iya, otaknya sekarang tertukar dengan Faza.
Ah, apes memang hari ini. Sudah mimisan sampai berdarah, disuruh membersihkan lapangan, habis itu dijadikan bahan gosip pula. Ya kalau gosip seperti biasanya sih tak masalah.
Maksud Eza, gosip biasa yang seperti: Wah Eza anak IPA 2 itu keren banget. Ya ampuuun Eza emang ganteng banget. Aduuh siapa sih yang ngelahirin orang sekeren itu. Iih... gue mau deh ngantri jadi pacarnya Eza. Gue mau jomblo seumur hidup nunggu Eza putus sama Thalita. Atau... Eza emang keren banget kayak papanya... itu lho papanya yang mantan atlet jawara SMA 40.
Sekarang gosip yang santer dia dengar adalah yang seperti ini: Lo tahu kan si Eza? Masak dia tadi lawan sepupunya Faza aja kalah. Ya ampun Eza bego banget main badminton aja nggak becus. Iihhh... setelah kena raket terbang mukanya Eza kayak penggilesan, gue udah nggak minat. Uwaaa sekarang posisi Eza udah lengser digantikan sepupunya, Rafanza. Ampuuun Faza keren banget tadi, gue nggak nyangka loh. Fix sekarang gue berpaling ke Faza. Aaa Kak Fa aku padamu.
Sampai-sampai telinga Eza panas mendengarnya. Well, sekarang Faza sudah menggeser posisinya. Eza tak habis pikir hanya gara-gara dia salah partner dampaknya akan sebesar ini. Coba saja kalau dia yang satu tim dengan Melodi mungkin dalam hitungan detik saja Faza dan Mauren sudah terkapar.
Eza masih merutuk ketika derap langkah bersahutan terdengar dari luar. Suara sepatu itu pasti Faza. Eza malas sekali melihatnya. Bagus sih kalau bocah itu duduk jauh darinya. Jadi dia tidak perlu repot-repot mengusir Faza.
Dalam hitungan detik tubuh menjulang Faza menerobos ke dalam kelas. Adit yang semula duduk di samping Eza langsung menyingkir. Eza mendesis melihat sikapnya. Dan ketika dia mendongak, wajah menyeramkan Faza adalah hal yang pertama dilihatnya. Eza tersentak dan menoleh ke arah Adit meminta pertolongan. Sialnya Adit pura-pura tak melihat.
"Kenapa?" tanya Eza cuek. Berusaha meyembunyikan rasa takut yang menjalarnya. Ah, Faza jarang sekali marah. Sekalinya marah lebih seram dari iblis. Bulu kuduknya sudah meremang saking takutnya. Ya ampun dimana sih Faza asli yang konyol dan tidak tahu malu itu? Ini sih yang di depannya monster. Bukan Faza.
"Lo ikut gue!" teriak Faza garang.
Oh, men! Eza mendesah panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah Faza menuju taman pinggir kelas. Baru saja Eza menanyakan perihal maksud Faza, satu bogem mentah melayang.
Eza menjerit saking kagetnya. Tunggu—Salahnya apa?
"Fa, lo kenapa sih? Gue nggak ngerti—"
Satu bogem melayang lagi. Eza menjerit kaget karena hidungnya menjadi sasaran. Astaga. Rasanya sakit sekali. Hidungnya sudah berdenyut-denyut. Oh, Eza tidak siap kalau harus melihat bercak merah mengalir lagi dari tubuhnya.
Tidak sekarang, esok, dan selamanya. Tidak akan. Karena dia benci pada darah. Oh, lebih tepatnya takut! Takut pada darah!
"Kenapa lo nggak ngasih tahu gue kalau semalem Divi kecelakaan?" teriak Faza penuh amarah.
Eza meringis menahan rasa sakit di hidungnya. "Fa, lo salah paham. Gue udah chat lo berkali-kali tapi lo nggak bales gue."
"Salah paham?" Faza tertawa remeh. "Lo udah mulai nggak anggap gue, kan? Lo jujur aja sekarang!"
Eza tak menjawab. Faza menghantamkan tinjunya lagi. Hal itu membuat Eza tak terima dan membalasnya. Lalu mereka terlibat perkelahian hebat di sekeliling koridor IPA. Murid-murid yang ada di sekitar mereka menjerit. Suasana menjadi gaduh karena sebagian dari isi sekolah malah berlarian menonton.
Ini adalah hot news! Duo sepupu biang onar berkelahi!
Azel yang kebetulan berada di kerumunan penonton memekik kaget. Begitu pula dengan Mauren dan Divia. Mereka bertiga sama-sama shock dengan apa yang terjadi. Buru-buru mereka berlarian melerai.
"Berhenti lo berdua! Berhenti!" Azel berseru kencang dan refleks memposisikan diri di tengah keduanya. Dan hal yang terjadi selanjutnya malah Azel yang terkena hantaman tinju.
Mauren dan Divia yang muncul di tengah keributan sama kagetnya melihat hal itu. Tampak Azel yang kewalahan menghalau keributan mereka berdua. Sekarang dia malah terjebak dalam keributan duo biang onar itu.
Divia mendesis menatap teman-teman sekelasnya yang malah asyik berseru menyemarakkan perkelahian. Bodoh sekali, sih, mereka ini. Bukannya membantu melerai malah bersorak-sorai.
Dan setelah Divia dengan galaknya memarahi mereka, barulah teman-temannya menghentikan aksi Faza dan Eza. Lalu anak-anak kelas IPA 2 turun tangan dan menghindarkan perkelahian yang terjadi dari warga mereka.
"Gue benci sama lo, Ja! Gue benci!" Faza berteriak kencang dalam seretan Gio.
Eza juga memberontak ketika Adit menariknya menjauh. "Lo nggak tahu apa-apa, Fa! Lo nggak bisa narik kesimpulan seenaknya!"
Azel menghembuskan nafas panjang ketika berhasil terlepas dari jeratan keduanya. Pada detik-detik terakhir tubuhnya rubuh menyentuh lantai koridor. Nafasnya terdengar sesak. Finza dan Mauren berlarian mendekat dengan sebotol air putih.
"Cel, lo nggak apa-apa?"
Azel menggeleng dan merampus air putih dari tangan Mauren. "Gila. Mereka ada apa, sih? Kok jadi ngeri gini."
Mauren mengedikkan bahu.
Finza berkacak pinggang. "Ini pasti Jaja yang bikin onar. Gue nggak mungkin salah lagi."
Azel mengepalkan tangan kesal. "Ugh, gue yakin setelah ini gue juga bakal diseret ke BK."
***
Dan benar saja, tepat setelah bel pulang, speaker sekolah berbunyi nyaring. Ini benar-benar kabar buruk bagi Azel. Yeah, tentu saja. Azarel tidak pernah dipanggil dalam speaker sekolah kecuali dalam penyebutan nama-nama murid berprestasi. Tapi kali ini lain. Seumur hidupnya, ini adalah hal paling memalukan bagi seorang Azel. Hell, dipanggil ke ruang BK untuk mendapat hukuman sama sekali tidak ada di dalam kamus hidupnya. Oh, kecuali kalau dia dipanggil untuk menerima beasiswa.
"Ya ampun Azarel, ibu sampai nggak nyangka kamu duduk di sini untuk mendapat hukuman," Bu Shinta berdecak sambil menggelengkan kepala. "Ini bener-bener rekor buat kamu."
"Maaf Bu, saya cuma ingin melerai mereka." Azel menjawab lirih.
Faza dan Eza tak bicara apapun. Keduanya hanya diam dengan wajah saling menyalahkan satu sama lain. Sementara Azel yang duduk di tengah hanya bisa menghembuskan nafas panjang-panjang.
"Dan buat kalian!" Bu Shinta menunjuk Eza dan Faza bergantian. "Kalian yang sering keluar-masuk ruangan ibu ini, jangan harap ibu akan beri keringanan buat kalian! Awas kalian kalau sampai ibu dengar kalian bikin onar lebih dari ini! Tidak akan ada ampunan lagi buat murid bandel seperti kalian."
Eza mengangkat tangan bersiap melayangkan protes. "Tapi Bu, saya kan cuma—"
Sebelum Eza selesai mengatakannya, Bu Shinta sudah memotong dengan kejam. "Meskipun kamu murid berprestasi, tetap saja tidak akan ada dispensasi untuk kamu! Semua murid diperlakukan sama! Baik kesalahan maupun kebenarannya."
Butuh waktu kira-kira setengah jam untuk bisa lolos dari guru killer tersebut. Itupun harus melalui ceramahan yang panjangnya mengalahkan Terusan Suez di Mesir. Bahkan mengalahkan lebarnya Laut Hindia Selatan. Sampai-sampai ketiganya keluar dengan muka kusut mirip baju jemuran di sore hari.
Divia menunggu di depan pintu dengan gelisah. Barulah ketika Faza muncul dari pintu keluar kantor, senyumnya terbit.
"Fa, lo nggak apa-apa?"
Faza menoleh sekilas pada Divia dan tersenyum tipis. Sama sekali bukan Faza yang dikenalnya suka tersenyum selebar tiga jari. Bukan juga Faza yang dikenalnya tertawa heboh dengan mulut penuh popcorn. Bukan Faza. Bukan. Semua yang dilihatnya dari cowok ini sama sekali bukan Faza.
Eza menepuk pundak Divia dan tertawa. "Tenang aja, Div. Kita cuma mau ngebersihin toilet bentar, kok."
Divia balas tertawa. "Gue pulang duluan, ya! Semangat kalian bertiga."
Tak ada yang menjawab. Hanya Eza yang tampak mengacungkan jempol.
Azel yang berada di baris terbelakang malah asyik menggerutu. Sesekali dia mendesis, lalu setelahnya menggeram. Dan yang dia bicarakan hanya tentang belajar. Ya, seharusnya sekarang dia sudah pulang ke rumah dan mengulang kembali pelajaran tadi. Sialnya yang terjadi malah dia harus membersihkan toilet sekolah. Benar-benar membuang waktu.
"Kalau bukan gara-gara lo semua yang kayak anak kecil, gue nggak bakal terjebak di sini!" Azel masih menggerutu ketika langkahnya terhenti di muka kamar mandi.
Eza yang sejak tadi tertawa malah bersiul-siul riang. "Yah, sekali-kali main di WC nggak ada salahnya. Daripada lo main-main ke perpus mulu bikin otak lo keriting."
"Perpus jauh lebih bermanfaat dari pada tempat bau ini!"
Faza melempar tongkat pelnya dengan kasar. "Bisa nggak, sih, lo berdua diem?! Jangan bikin gue makin pusing!"
Azel melotot pada Faza. Sialan. Kenapa sekarang Faza jadi sok-sokan dewasa begini? Biasanya kan dia yang selalu memarahi Eza dan Faza yang bertengkar tak tahu waktu dan tempat. Kenapa sekarang jadi Faza yang menggantikan posisinya? Kenapa juga dia tiba-tiba marah dan berlaku kekanak-kanakkan layaknya Faza waktu mengeluhkan PR-nya. Sama sekali bukan Azel.
Azel berdeham sekali dan langsung diam. Tidak mau dia terlibat celotehan yang tidak ada habisnya dengan Eza. Bisa-bisa Faza menceramahinya lagi seperti tadi.
Tapi seriuuus, baru kali ini Azel jengkel setengah mampus! Dan ketika dia jengkel, sifat anak-anaknya akan kambuh dan uring-uringan tidak jelas seharian! Biasanya yang sering kena dampak kemarahannya hanya Avriel saja. Tapi untuk hal ini, Azel tak bisa mencegah kemarahannya yang berapi-api pada si duo onar.
Finza berkacak pinggang di belakang pintu. Tak habis pikir dengan ketiga saudaranya yang tampak kesal. Lebih lagi Azel uring-uringan sambil menggerakkan kain pelnya secara asal membuat Finza terpingkal-pingkal.
"Cel, kerja yang ikhlas dong!"
Azel menyipit tajam. "Gue bakalan kerja dengan ikhlas kalau gue juga salah. Sayangnya gue nggak salah apa-apa di sini. Jadi gue nggak mau ngerjain ini."
Finza masih tertawa di depan pintu. Kaleng jus colla-nya nyaris berjatuhan saking bahagianya dia melihat muka iblis ala Azarel. Mauren hanya melirik sekilas Finza yang sejak tadi tak henti tertawa.
"Loh, Divi mana, Ren?" Finza stop tertawa.
"Tadi dijemput Raymond." Mauren mendongak sekilas dari buku biologi yang dibawanya. Sekarang pandangan cewek itu kembali ke dalam buku. Finza berdecak sebal melihat sahabatnya yang setiap hari keranjingan buku.
Finza merengut di samping. "Ihh... Aren mah nggak asyik. Dari tadi baca buku terus. Sekali-kali lo harus lihat sahabat-sahabat lo ngepel di WC. Sumpah lucu banget. Apalagi muka Acel."
Mauren menutup bukunya sebentar dan melongok ke dalam kamar mandi. Niatnya sih, mau melihat Azel. Tapi yang menoleh saat itu malah si tengil. Ugh! Amit-amit. Apalagi sekarang mata mereka saling beradu. Membuat Mauren jijik dan tiba-tiba memalingkan wajah sambil menyambar kotak jus di hadapannya. Jijik habis deh melihat bocah itu! Lebih baik lihat orang gila jalan-jalan di taman!
"Apa lo lihat-lihat? Suka lo sama gue?" Eza tertawa kencang melihat muka Mauren yang memanas. Senang sekali rasanya berhasil membuat si nenek sihir itu mati gaya. Hahaha. Lihat saja nanti dia akan kembali membuat perhitungan. Oh, Eza tidak akan pernah lupa legenda raket terbang dan penghinaan Adry. Siap-siap saja cewek itu akan mendapat balasannya!
***
Sejak tadi Divia hanya memandang mangkuk bakso di hadapannya. Rasanya sama sekali tidak berminat dengan bakso itu. Hanya Faza saja yang terus menguasai pikirannya. Lagi-lagi dia teringat tentang kejadian tadi di sekolah. Semakin hari, semakin aneh saja sikapnya. Divia tidak tahu harus bagaimana lagi.
Raymond yang asyik mengunyah bakso terdiam. Ditatapnya Divia yang tak bergerak sama sekali. "Kenapa, Div? Lo nggak suka bakso, ya?"
"Oh..." Divia tersentak sambil menyambar sendok dan melahap baksonya. "Suka, kok. Suka."
"Jangan bohong, deh. Lagi mikirin sesuatu, ya?"
Divia menggeleng. "Gue udah kenyang aja. Tapi tenang, gue pasti habisin baksonya. Makasih banyak, ya, Ray."
"No problem." Raymond terkekeh. "Jadi gimana? Lo setuju kan kalau gue antar-jemput lo?"
Divia menghentikan kunyahannya. Sekarang dia tampak berpikir. Hmm, boleh juga, sih. Lagi pula sekarang hubungannya dengan Faza sedang tidak membaik. Tentunya kalau setiap hari dia diantar-jemput Raymond, kesempatan bertemu Faza juga semakin sedikit. Berarti dia tidak perlu merasa canggung setiap berada di dekata Faza. Dia juga tidak perlu berlama-lama satu mobil dengan Faza yang kerjaannya merenungi Melodi dan membuatnya cemburu selama perjalanan pulang.
Akhirnya Divia mengangguk dan tersenyum senang. "Boleh, deh."
Raymond ikut tersenyum senang. Tanpa sadar bibirnya bersuara. "Yes."
Divia mendongak dan mengernyit. "Hah? Lo bilang apa?"
"Oh enggak. Ini, gue, gue—Yes, gue bisa nebus dosa gitu."
Tawa Divia kontan terdengar. "Dosa apaan coba? Ihh... nggak jelas!"
Divia hanya terkekeh dalam hati.
***