Episode 6 Badminton Freak

2097 Words
Rasanya Eza ingin pelajaran ini segera berakhir saja. Tapi mengapa mendadak waktu berjalan begitu lambat? Menyebalkan sekali. Selama satu jam terakhir dia harus bekerja sama dengan nenek sihir. Sorry-sorry saja, dia paling anti berdamai dengan cewek sok pintar itu. Bisa-bisa kesabarannya habis kalau satu kelompok dengan nenek sihir itu terus. Ugh, waktu lari marathon saja, peringkatnya menurun drastis di angka 28. Padahal biasanya dia bisa menyabet angka 1 dengan mudah. Tapi semenjak Mauren menelusup menjadi timnya, peringkat marathon Jaja Suhardja turun ke angka 28. Ah, sial! Padahal tadi dia sudah menambah kecepatan ekstra. Eza mengumpat malas. Materi selanjutnya adalah badminton. Oh, god! Nenek sihir pembawa sial itu juga tidak bisa badminton dengan benar. Kalau begini terus tamatlah riwayat Eza sebagai masterpiece olahraga di SMA 40. Emang dasar apes! Beda sekali dengan Faza yang kelihatannya sejak tadi ceria bersama dengan Melodi. Hell, Faza pasti sangat bahagia mendapat partner seperti Melodi. Cita-citanya sudah terwujud sekarang. Bahkan keduanya tertawa-tawa senang tanpa memperhatikan tim lain yang turun ke lapangan bermain badminton. Susan mengambil kocokan dari dalam botol dan membukanya. "Baik, tim selanjutnya yang akan bertanding adalah tim 18 dan tim 39." Eza mengorek telinga sekali lagi. Tunggu—39? What? Are you serious? Lagi-lagi suara tawa Gio berderai. "Selamat berjuang kawan! Oh, siap-siap kalah juga maksudnya!" "Wah, ini pasti panas banget!" seru Adit dari kursi penonton. Eza mendesis. Matanya berputar memberi isyarat agar Mauren yang masih duduk-duduk bangkit. Dengan langkah ogah-ogahan Mauren bangkit mengikuti Eza. Suasana gedung olahraga langsung ricuh begitu tahu yang menjadi lawan Eza adalah Faza, sepupunya sendiri—yang kini tengah mengibarkan bendera peperangan. Faza dan Melodi saling menyemangati. Terlihat jelas kekompakan mereka sebagai tim. Berbanding terbalik dengan Eza dan Mauren—yang bahkan untuk menatap satu sama lain saja ogah-ogahan. "Gue jaga belakang. Lo depan." Eza memposisikan diri di belakang Mauren. "Agak geser dikit, dong. Gue nggak bisa lihat." Mauren menggeser tubuhnya. "Udah?" "Akh, bego banget, sih! Kiri neng, bukan kanan! Gimana, sih?" Mauren menggeram. "Sok pinter banget sih, lo! Jangan ngatur-ngatur gue! Gue emang nggak bisa olaharaga. Tapi—" Seruan peluit terdengar bersahutan. Susan datang dengan wajah jengkel. Anak-anak yang menonton langsung cekikan. Begitu pula dengan Faza. Dalam hati dia sudah menertawai si tengil. Huh. Biar tahu rasa si tengil satu kelompok dengan Mauren yang notabene lemah dalam olahraga. Ah, siap-siap saja. Faza akan menertawai nilainya yang jeblok sampai puas. Tentu kalau tidak dalam perang dingin begini, Faza pasti sudah terpingkal-pingkal di depan si tengil. Bisa-bisanya mereka satu kelompok olahraga. Eza yang jago olahraga disandingkan dengan Mauren yang sangat bolot dalam olahraga. Hell, perpaduan yang indah. Tuhan itu memang Maha Adil, kok. Eza bersama Mauren. Dan dia bersama Melodi. Aww, sepanjang sejarah tidak pernah ada hal yang seindah ini di catatan hidupnya. Sorak-sorai semakin riuhh terdengar. Bel istirahat pertama berbunyi tepat saat itu. Gedung olahraga menjadi ramai karena kebanyakan murid malah menonton pertandingan bukannya ke kantin Eza melengos. Semakin malas melihat Azel dan Finza yang ada di antara kerumunan penonton. Ya ampun, ini benar-benar memalukan. Eza bahkan bisa melihat Finza terkikik senang dan Azel tersenyum miring. Peluit tanda mulai dibunyikan. Melodi memukul shuttlecock untuk mengawali pertandingan. Mauren tampak kewalahan tapi cukup berhasil mengembalikan ke kubu lawan. Lalu c**k terbang ke arah Faza. Eza bisa melihat senyuman Faza agak licik. Oh, dia mengeluarkan smash. Sialan. Mauren pasti tidak bisa menahannya. c**k berputar kembali ke kubu 39 dan melayang cepat ke arah Mauren. Eza segera berlari dan merentangkan raket ke depan. Di saat yang bersamaan Mauren juga melakukannya. Raket mereka terantuk satu sama lain dan keduanya langsung memasang wajah tajam. Sementara c**k yang tadi dipukul Faza malah mendarat mulus di kandang mereka. "Satu poin untuk tim 18." Dion menulis angka di papan tulis. Eza menggeram. "Lo tinggal nurutin kata gue apa susahnya, sih?" Mauren tak mempedulikan Eza. Dia hanya diam sambil menyiapkan posisi. Mau tak mau Eza melakukan hal yang sama. Dari sini dia bisa melihat Faza teertawa ke arahnya. Ah, sial. Pertandingan berlanjut kembali. Eza memukul shuttlecock dengan tenang. Faza langsung membalasnya. Lagi-lagi dengan smash. Mau tak mau Eza melakukan hal yang sama. Suasana menjadi tegang dan panas. Azel yang duduk di tepian langsung memasang wajah serius. Sementara Finza sudah tak seheboh tadi. Sekarang dia ikutan cemas. Baru kali ini duo sepupu paling lengket dan biang onar itu saling menghancurkan. Smash datang lagi. Eza mengembalikan dengan kewalahan. Hanya ada dua pilihannya. Menyerang atau bertahan. Dan dalam posisi ini dia hanya mampu bertahan. Mauren sama sekali tak bisa diandalkan. Semakin kesini tim 39 semakin terpojok. Sudah berulang kali pula mereka melakukan kesalahan. Ada-ada saja hal yang dilakukan Mauren dan Eza. Entah mereka yang malah memukul ke arah yang sama. Mauren yang tidak sengaja menabrak Eza. Raket Mauren yang sering terbang dari tangannya. Eza yang emosi dan malah ikut melempar raketnya. Lalu yang terakhir terjadi Mauren yang dengan bodohnya menangkap c**k dengan tangan. Eza nyaris membenturkan diri ke dinding saking emosinya. Bodoh sekali Mauren ini. Dia bawa raket tapi malah menangkap shuttlecock dengan tangan. Bolot sekali! Bolot! Merasa frustasi Eza ingin memukul kepala Mauren menggunakan raketnya. Tapi gara-gara itu dia malah kecolongan lagi oleh tim 18. "Poin 19 untuk tim 18 dan poin 5 untuk tim 39" Eza menatap Mauren sinis. "Bego banget, sih!" gerutunya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Mauren mengedikkan bahu cuek. Ah, hancur sudah reputasi Eza sebagai masterpiece olahraga. Hancur lebur menjadi kerikil debu yang beterbangan di langit. "Oh, nggak kerasa ya Mel, tinggal dua poin lagi?" kata Faza dengan rupa bangga. Melodi hanya terkekeh sekilas sambil memukul c**k ke depan. Eza menatap mereka sambil mencemoh. Pukulan Melodi lumayan kencang. Mauren kewalahan lagi. Raketnya terangkat ke depan. Berusaha mengatur posisi dengan jatuhnya c**k. Tapi yang terjadi malah satu kebodohan lagi. Sepatuya licin dan dia jatuh menubruk Eza di belakang. Eza mengedip saking kagetnya. Mauren lumayan berat ternyata. Eza bisa merasakan betisnya tertekan kuat gara-gara menyangga tubuh Mauren. Dan ketika dia bangun semua orang sudah menertawai mereka sambil bersiul-siul romantis. Sialan. Mana sudi dia menahan Mauren kalau saja cewek itu tidak di depannya. Cih. Mauren berdeham-deham. Skor di papan tulis sudah menunjukkan perbedaan yang sangat mustahil untuk dijangkau. Eza ingin menangis saking sedihnya. Harga dirinya sudah hancur remuk di bawah kaki sepupunya sendiri. Tak pernah dia sekalah ini dalam olahraga. Sialan sekali! Ini pasti ulah nenek sihir! "Masih ada satu kesempatan. Kalian belum sepenuhnya kalah." Sebodo amat dengan Faza dan pertandingan sialan ini. Eza sudah tidak peduli lagi. Bahkan ketika Faza memukul c**k-nya, Eza tak ambil pusing dan membiarkan Mauren sendiri yang melawan. Serius, dia sudah malas. Smash dengan sangat kencang menerjang kubu mereka. Mauren terlalu kaget karena diserang begitu cepat. Dia mengangkat raketnya dengan mata terpejam, takut pada gerakan gesit shuttlecock yang terbang. Merasa takut, akhirnya dia menggerakkan raketnya asal-asalan. Mauren tidak sadar raket yang dilayangkannya begitu cepat menembus ke belakang. Suasana hening mendadak karena raket itu melayang tak tentu arah. Detik selanjutnya bencana datang lagi. Eza yang masih merenungi papan skor tidak sadar akan adanya raket melayang itu. Baru ketika dia menoleh, raket terbang itu sudah menghantam wajah ganteng kebanggaannya dengan begitu kuat. Saat itulah semua orang menjerit dan berlarian mendekat. Finza dan Azel bahkan ikut turun dari bangku penonton. Semua orang kaget dan shock. Eza meraba hidungnya yang terasa perih. Ada bercak merah disana. Eza menatap bercak itu linglung. Darah? Hidungnya berdarah? Detik selanjutnya dia jatuh pingsan bersamaan dengan suara teriakan orang-orang. *** Kekalahan sang masterpiece menjadi trending topic tersendiri. Sepanjang sisa pelajaran olahraga dilakukan Eza dengan malas-malasan. Dalam hati dia terus menyalahkan si nenek sihir pembawa sial yang menghancurkan harga dirinya. Dan hell, hidungnya bahkan berdarah gara-gara menjadi korban raket terbang nenek sihir itu. Untung saja cuma raket. Kalau yang diterbangkan nenek sihir itu sapu terbang ajaibnya, bisa-bisa Eza dibawa ke negeri antah berantah yang mengerikan Hiiy. Namanya juga nenek sihir pasti mengerikan. "Aww..." Eza meringis sambil menyentuh hidungnya yang disumpali tisu. Sakit sekali. Darahnya masih terus keluar pula. Sialan memang nenek sihir itu. Awas saja Eza akan membuat perhitungan dengannya. "Kalian kerja yang benar, ya." Susan berkata tajam. Mauren mengangguk pasrah. Sementara Eza masih terus menggerutu saking kesalnya. Bu Susan ini jahat sekali, sih. Sudah tahu hidungnya berdarah malah disuruh kerja rodi. Alasannya cuma gara-gara poin tim mereka paling rendah pula. Tidak adil sekali, sih. "Eh, nenek sihir! Denger, ya! Kalau bukan gara-gara kebolotan lo main badminton, mungkin sekarang gue masih di peringkat pertama." Mauren pura-pura tak mendengar. Melayani Eza dan setiap keberisikannya sama sekali tak ada di kamus hidupnya. Dia memilih mengabaikan sambil meneruskan pekerjaannya memebereskan shuttlecock yang bertebaran di area lapangan. "Nggak cuma bolot. Lo juga bawa sial. Gara-gara lo hidung gue mimisan." Eza berkacak pinggang. "Lo tahu nggak sih, udah berapa banyak kadar kegantengan gue yang hilang sejak raket terbang lo ninju hidung gue?" Mauren menggeram frustasi. Tangannya penuh oleh setumpuk c**k. "Udah ngomongnya?! Lebih baik lo bantu gue supaya ini cepet selesai. Gue nggak mau ketinggalan pelajaran Fisika." Eza semakin emosi. Tak mau sama sekali membersihkan c**k, bola, dan tali tambang yang beterbangan di bawah. Dia malah duduk-duduk memperhatikan Mauren selayaknya boss yang mengamati kerja bawahannya. "Sayang, aku denger kamu mimisan. Kamu nggak apa-apa, kan?" Suara itu berasal dari Thalita, salah satu boneka barbie koleksi Eza. Sekarang cewek centil itu sudah berlarian dengan beberapa botol air mineral di tangan. Eza tersenyum sumringah melihat kedatangan barbie-nya itu. "Nih, aku bawain minuman sama roti. Aku nggak mau kamu sakit." "Ya ampun, makasih banyak ya, Tha. Untung aja masih ada yang peduli sama aku." Eza melirik Mauren yang masih pura-pura tak melihat. Biar tahu rasa dia penderitaan para jomblo yang tidak mendapat perhatian. Well, Eza harus berterima kasih banyak pada Thalita yang peduli padanya. Memang Mauren? Pacar saja tidak punya. Siapa pula yang mau mempedulikan nenek sihir itu. "Aduuh kamu keringetan deh, Za. Sini aku bersihin." Thalita mengeluarkan tisu dari saku roknya. Dengan telaten dibersihkannya bulir-bulir keringat yang mengalir di wajah tampan Eza. Eza sendiri langsung pasang wajah bangga diperlakukan begitu. Matanya berputar ke arah Mauren yang masih sok sibuk membereskan bola ke gudang. Hahaha. Rasakan kalau tidak punya pacar. Ugh, Mauren hampir saja muntah melihat tingah laku sok mesra sekaligus menjijikkan itu. Apalagi rupa sombong Eza yang seakan menghinanya habis-habisan dan mengasihaninya yang tidak punya pacar. Brengsek! Mauren memaki dalam hati. Lebih lagi ketika si tengil itu dengan angkuh menendang shuttlecock yang tercecer ke arahnya seakan dia babu yang harus membersihkan semuanya sendiri. Mauren menggeram dan berbalik. Langkahnya limbung karena dia nyaris menubruk tubuh—Oh my God si ganteng Adry. "Duh, gue nggak sengaja, Ren. Maaf." Adry meringis. "Omong-omong permainan lo nggak begitu buruk. Yah, meskipun lo kalah lawan tim Melodi. Seenggaknya... lo menang di tim lo sendiri, kan?" Adry tertawa lebar sembari melirik Eza dengan sudut matanya. Mauren yang mengerti maksud perkataan Adry ikut tertawa. Benar juga kata Adry. Setidaknya dia sudah berhasil mengalahkan si tengil. Big thanks untuk raket terbangnya yang berjasa besar membawanya menuju kemenangan dan menampar muka sombong itu. Sialan, batin Eza dalam hati. Adry pasti menertawakan dirinya yang terkena raket terbang tadi. Oh, lihat saja mereka berdua. *** Faza berlarian mengikuti langkah Divia. Entah mengapa, dirinya langsung cemas saat mengetahui keadaan kaki Divia. Pelan-pelan Faza mengikutinya dari belakang. Divia tampak kerepotan waktu melangkah menggunakan tongkat. Pada langkah ketiga, tubuh Divia nyaris oleng. Refleks Faza berlarian dan menahannya. Muka Divia memanas sewaktu sadar yang menahan tubuhnya adalah Faza—bukan Mauren seperti dugaannya. Buru-buru dia mencari penyangga tembok untuk bangkit. "Thanks, Fa," jawab Divia lirih. "By the way, tadi lo sama Melodi keren banget. Kalian bener-bener tim yang kompak. Nggak kayak Jaja sama Aren." Faza tersenyum masam. "Tadi lo bareng siapa?" katanya mengalihkan. Divia menunduk. Takut menatap wajah mengiterogasi di depannya. "Namanya Raymond. Anak SMA 28." Faza mengangguk-angguk paham. Ada jeda panjang saat dia menatap dalam manik mata Divia. Pikirannya kembali berputar pada kaki Divia yang diperban. "Omong-omong, kaki lo kenapa, Div? Kok gue nggak tahu?" Divia mengernyit bingung. Tampak berusaha berpikir. Akhirnya dia sadar bahwa kemarin Faza tidak ada di rumah sakit. Mungkin saja Faza belum tahu perihal serempetan yang terjadi di Plaza. "Ehm... Jaja nggak bilang sama lo?" Faza mengangkat sebelah alis. "Jaja bilang apa emang?" Divia terkaget. "Maksud gue..." hening sesaat sebelum Divia melanjutkan. "Semalem gue keserempet motor si Raymond yang tadi jemput gue itu. E—Emang Jaja nggak kasih tahu apa-apa ke lo semalem? So—soalnya kemarin Jaja sama Acel juga disana. Gue pikir—" Faza mengepalkan tangan kuat-kuat. "Jaja nggak bilang apa-apa!" "Oh, mungkin dia—" "b******k! Lagi-lagi tuh anak bikin masalah!" Divia menjerit kaget sewaktu Faza sudah berlarian menuju kelasnya. Gawat! Gawat sekali! Jangan sampai ada perang dingin lagi setelah ini. Sudah cukup perang dingin antara Faza dan Eza di lapangan tadi. Divia tidak mau melihat mereka bertengkar lagi. Ah, bodoh! Divia memang bodoh! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD