Episode 5 That Feeling

2026 Words
Pagi-pagi sekali Faza terbangun oleh suara jam wekernya. Semalam dia tidur cepat agar bisa bangun lebih pagi seperti sekarang. Berbeda dari hari biasanya, hari ini dia sengaja bangun pagi dan membawa motor sendiri. Huh, sorry saja dia sedang tidak sudi berangkat bersama Jaja Suhardja. Bendera peperangan di antara mereka masih berkibar tinggi. Dan Faza akan memenangkannya sampai tuntas. Tapi diam-diam Faza menuruti nasehat Eza. Sekarang dia sudah berlarian dengan sepotong roti keju di tangannya. Ah, bawa beberapa potong boleh juga. Lagi-lagi Faza sudah berlarian meraih box dari atas kulkas. Kemudian dimasukkannya beberapa cheesecake ke dalam kotak, lalu dia sudah berlari lagi. Fisha berlarian di belakang. "Iiih... abang! Gue bagi satu dong! Laper..." "Ah, elu mah!" Faza berlarian dengan langkah buru-buru. "Minta Mbak Gita bikinin kan bisa. Nanti habis pulang sekolah tinggal ambil aja di cafe. Mama juga masih punya cake lain di kulkas. Ada brownies juga, kok." "Gue maunya keju, Bang." Faza meleletkan lidah sembari menjawil hidung adiknya. Lalu dia sudah berlarian pergi menuju halaman. Fisha menjerit-jerit saking sebalnya. Dia berlarian ke depan dan menemukan motor kakaknya sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Suara jeritan Fisha masih terdengar. Si penggila keju macam adiknya mana terima jatah kue kejunya diambil begitu. Tapi, masa bodohlah, Faza sedang malas berdebat. Dia juga tidak sengaja mengambil cheesecake di kulkas. Kebetulan saja kue itu masih tertumpuk banyak di kulkas tadi. Daripada mubazir mending ambil saja, deh. Sekitar dua puluh menit kemudian, ninja hijau Faza sudah memasuki salah satu kompleks asri Jakarta. Beberapa blok dari sini, rumah Divia akan terlihat. Faza mulai menurunkan kecepatan motor. Samar-samar dari kejauhan dilihatnya sebuah motor ninja berwarna biru tengah berhenti tepat di depan rumah Fathur. Faza bisa melihat dua sosok manusia tengah bersiap di depan motor. Oh, cewek yang tengah dipakaikan helm itu benar-benar Divia. Faza tidak mungkin salah. Aneh. Ada rasa nyeri yang membakar dirinya saat ini. Faza memberhentikan laju motor dan membuka kaca helm-nya sekilas. Saat itulah Divia membeku dan secepat kilat menjauhkan kepalanya dari jangkauan Raymond. "Fa..." lirih Divia terbata-bata. Faza tak menjawab apapun selain melangkah turun dan menyurungkan kotak cheesecake di tangannya. "Gue kesini cuma mau minta maaf kalau ada salah sama lo. Niatnya mau ngajak lo bareng juga, sih. Tapi kayaknya nggak jadi karena lo udah ada tebengan. Hmm, gitu aja sih..." Statis. Seumur hidupnya, Faza tidak pernah segaring ini. Apalagi dengan Divia. Sepanjang sejarah, baru kali ini dia merasa kaku di depan Divia. Sama sekali bukan Faza yang konyol dan ceria. Kata-katanya saja garing dan tidak enak didengar. "Oh, gue... gue... nggak...." terpatah Divia berusaha menjelaskan. Faza menggeleng. Secepat mungkin berbalik. "Gue berangkat dulu. Sampe ketemu nanti," potongnya sambil menatap Raymond tajam-tajam. Divia masih mematung ketika Faza sudah melesat jauh. Rasanya ada sebagian hal dari dirinya yang ikut hilang. Hatinya. Hatinya sudah hilang bersama dengan laju motor Faza yang secepat baritone itu. "Tadi siapa, sih? Mukanya lumayan tapi... nggak ada ekspresi?" Raymond terkekeh sembari menoleh pada Divia. "Gara-gara cemburu lihat kita?" Divia mengalihkan pembicaraan. "Ayo berangkat! Udah keburu siang." *** Bel berbunyi tepat saat Faza berlarian menuju kelasnya. Semua orang melihatnya dengan raut wajah khawatir. Bahkan si tengil tampak sedang menatapnya dengan cemas. Dahinya berkerut seakan bertanya, hari ini kenapa lo nggak nebeng gue? Faza tak begitu mengindahkan Eza yang masih terus menatapnya. Dia malah berjalan pelan ke bangku pojok. Tepatnya ke arah Nuno yang tengah bermain game dengan tablet-nya. "No, gue duduk sama lo." Faza meraih tas milik Adit dan menaruhnya ke depan. "Gue males sebangku sama orang songong yang sok-sokan nyeramahin orang yang sendirinya aja nggak ngerti mana yang bener." Eza melotot kaget. Sudah pasti kata-kata pedas itu ditujukan untuknya. "Fa, lo masih marah sama gue?" tanya Eza hati-hati. "Padahal semalem gue udah—" Tak ada jawaban. Faza berlalu sambil menenteng kaos olahraganya. Eza mengumpat dalam hati. Terus mengejarnya sampai akhirnya dia menubruk Adit di pintu kelas. "Ya ampun, tas gue kenapa pindah sendiri?" jerit Adit bingung. Matanya melacak ke depan dan menemukan bangkunya sudah diisi tas milik Faza. Wah, kabar buruk. Duo sepupu pembuat onar sedang musuhan rupanya. Ah, gawat. Bisa-bisa perang dunia ke-tiga setelah ini. "Gue duduk sama lo deh, Ja." Adit melempar tasnya ke bangku Eza. "By the way, lo sama sepupu lo kenapa?" Eza menghembuskan nafas jengah. "Gue nggak tahu. Lagi sensi kayaknya dia. Biarin aja, deh. Ntar juga balik lagi." Adit berdecak. Malas menanggapi Eza dan Faza kalau sudah sok-sokan ngambek begini. Bis-bisa dia juga yang kena imbasnya. "Yuk, buruan ganti! Nanti Bu Susan marah kalau kita telat!" Eza menghembuskan nafas panjang sambil mengangguk-angguk. Diraihnya kaos olahraga dari tas dan mengikuti langkah Adit keluar. Suasana kelas sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua saja tadi. Ah, apes. Eza merutuk dalam hati. Bahkan saat mereka ganti di satu ruangan pun, Faza masih berlagak tak mengenalnya. Duh... rasanya sakit juga kalau dikacang begini. Pagi-pagi sudah makan kacang, batin Eza jengkel. Suara peluit yang bersahutan membuat anak-anak IPA 2 segera berlarian keluar. Dari kejauhan Susan sudah berteriak mengomando murid-muridnya untuk berlari keliling lapangan. Seperti biasa, Eza si jagoan atlet memimpin jauh di depan. Anak-anak lain ngos-ngosan di belakang. Sial. Si perfect nan tengil itu selalu saja di depan! Faza berlarian malas. Sama sekali tak berminat dengan olahraga kali ini. Padahal biasanya mata pelajaran olahraga menjadi mata pelajaran yang paling menyenangkan baginya. Karena hanya saat pelajaran inilah dia bisa memandangi Melodi sampai puas. Yup, Bu Susan selalu menggabung IPA 1 dan IPA 2 dalam pelajaran olahraga. Jadilah suasana sangat amat riuh di pagi hari ini. Gio beserta gengnya sudah berteriak-teriak menggoda anak IPA 1 yang cantik-cantik. Oh, Faza jadi melupakan Divia dan Mauren. Omong-omong mereka dimana, sih? Kenapa daritadi dia belum melihatnya? Harusnya mereka sudah berada disini sekarang. Faza masih celingukan kesana-kemari. Detik selanjutnya dia baru sadar Divia dan Mauren tengah berjalan kesini dengan langkah hati-hati. Tapi tunggu—sejak kapan Divia pakai tongkat? Bukannya tadi pagi dia baik-baik saja? Ada apa, sih, sebenarnya? Faza sangat ingin menanyakannya. Tapi, kata-kata itu tak keluar juga. Bahkan hingga keduanya melewati Faza, dia masih tak bergerak sama sekali. Faza tahu, Divia melihat dirinya lewat sudut matanya. Hanya saja Divia tak berkata apa-apa. Biasanya cewek itu sudah berteriak-teriak heboh memanggilnya. Tidak untuk hari ini, esok, dan mungkin... seterusnya? Membayangkan saja membuat Faza takut. Persahabatan indahnya bersama The Champ. Tidak mungkin kan, berakhir tidak jelas begini? Argh... belum lagi hubungannya dengan Eza sama-sama buruknya. "Sssttt..." Bisikan Nuno terdengar melalui sela-sela teliganya. Faza mendongak dan melihat keadaan sudah hening. Sekarang perpaduan kelasnya dan kelas IPA 1 mulai tenang karena Bu Susan sudah memulai pelajaran. "Jadi, pagi ini saya akan menjelaskan tata tertib Ujian Praktek di semester depan. Karena jumlah kalian lumayan banyak, ibu akan membagi kalian menjadi 40 tim selama satu semester ke depan. Masing-masing tim terdiri dari putra-putri yang ibu acak secara pararel." Sontak terdengar kicauan bahagia dari barisan cowok. Tak ketinggalan Gio yang sudah mulai tebar pesona dengan cewek-cewek kelas sebelah. Wah, jarang-jarang bisa ber-partner dengan cewek. Apalagi anak IPA 1 yang kinclong-kinclong itu. Bu Susan memang baik hati mau membentuk tim ganda begini. Selama satu semester terakhir pula! Aww, lumayan lama. Bisa lihat betis putih teman satu partner selama tiga bulan lebih. Eza yang berdiri di samping Gio tersenyum sombong. "Well, siapa ya cewek beruntung yang bakal jadi partner gue?." Gio paling malas kalau Jaja Suhardja sudah mulai besar kepala dan menyombongkan diri sendiri. Dia hanya berdeham-deham mengiyakan saja. "Hmm.... terserah kata lo, Ja." "Udah gue ganteng, pinter, jago olahraga lagi! Bisa-bisa nilai olahraga cewek itu langsung melejit kalau satu tim sama gue." Adit yang berada di sebelah kiri Eza kini sudah menguap-nguap tidak jelas. Ya kali melejit. Emangnya roket. Dasar gila, rutuk Adit dalam hati. Hell, tapi memang ada benarnya juga sih kata-kata si tengil tadi. Eza memang jago dalam segala bidang olahraga. Nilainya selalu paling tinggi dibanding yang lain. Tentu cewek yang mendapat partner seperti dia sangat beruntung. Pasti nilai olahraganya ikutan melejit setelah satu tim dengan Eza. Eza masih tersenyum-senyum dengan rupa sombong. Well, sudah tentu ujian praktek kali ini nilai ujiannya pasti tertinggi lagi. Bahkan Adry si jagoan basket itu masih berada beberapa poin di bawahnya. "Sekarang kita lanjutkan ke materi. Jadi, ada lima cabang olahraga yang akan ibu ujikan dalam praktek kelulusan ini. Pertama, lari marathon. Kira-kira dua kali lapangan ini jaraknya. Kemudian ada basket, semua materi lemparan bola. Lalu s**t up, lompat tinggi, dan yang terakhir badminton." Faza mendengus. Di belakangnya gelak tawa si tengil masih terdengar dengan jelas. Si tengil satu itu pasti bahagia sekali karena dia menguasai semua materinya. Sedangkan Faza? Ugh, kecepatan s**t up-nya rendah. Punggungnya pernah cedera saat mengendarai mobil. Dan ketika Susan meminta anak-anak melihat pembagian kelompok di depan, semua sudah berlari tak karuan. Gio berteriak-teriak heboh karena dia benar-benar satu tim dengan Amel—gebetannya sejak kelas sebelas. Nuno menjerit bahagia mendapat teman partner si cantik Kayla—teman dekat Melodi. Faza? Seharusnya Faza juga bahagia. Di depannya tertulis dengan jelas Rafanza Atthar Razakian Dan Melodi Cantika pada deret tim 18. Tapi, hari ini rasanya Faza tidak mood sama sekali. Bahkan mimpinya terwujud bisa bersama Melodi. Sayangnya semua hambar. Diam-diam Faza malah melirik Divia yang duduk termangu dengan sebelah tongkatnya. "Fa, kita satu tim, yah. Nih, gue ambilin raket." Melodi datang dengan seulas senyum lebar. Sebelah tangannya mengulurkan raket berwarna biru untuk pertandingan badminton. "Eh, iya, thanks..." jawab Faza sambil tersenyum tipis. Berusaha menghilangkan keanehan dirinya. Ah, ayolah Fa! Di depan lo ini Melodi! Mimpi lo akhirnya terwujud! Lo harusnya seneng bisa sedeket ini sama Melodi. Jarang banget, loh. Faza memantapkan dalam hati. Kemudian dia dengan senang mengikuti langkah Melodi ke dalam lapangan. "Minggir! Minggir! Gue nggak lihat!" seruan Eza terdengar dari kejauhan. Faza tak peduli dan memilih mengabaikannya. Adit berteriak. "Yuhuuu gue sama Denna." "Eh, nama gue kok nggak ada!" Eza masih berteriak saking paniknya. Adit mengangkat sebelah alis. "Masak?" tanyanya kemudian sibuk membantu Eza mencari nama si tengil satu itu. "Noh di nomer 39. Satu tim sama—" tepat saat itu tawa Adit pecah. Eza menatap Adit malas. Sama siapa memang? Eza menerobos kerumunan dan matanya langsung melotot menemukan namanya berada satu kolom dengan nama nenek sihir. Oh God, ini pasti bencana! Gila saja dia satu tim dengan Mauren! Ini sih bencana abadi! Mana timnya berada di dua terbawah lagi. "Take me to hell," Eza menganga kaget. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau begini sih, bukannya cewek itu yang nilainya melejit. Tapi dia yang nilai olahraganya ikut merosot. Hell, semua orang juga tahu kelemahan terbesar nenek sihir itu di bidang olahraga! "Wah, selamat ya, Ja! Lo satu tim sama nenek sihir kesayangan lo, kan?" tanya Nuno girang. "Yoi, siap-siap aja nilai lo gue labas!" timpal Adit cepat. Gio tertawa terbahak-bahak. "Makanya jadi orang jangan songong! Kena sekarang lo batunya!" Sialan. Kenapa semua orang bahagia melihatnya sengsara? Eza menghembuskan nafas jengkel. Tepat saat dia berbalik, dia berpapasan dengan Mauren. Mata mereka menghujam satu sama lain. Ada kobar kebencian dan dendam yang dahsyat tercetak di bola mata mereka. Eza mengibaskan tangan. "Well, lo harus berterima kasih sama gue karena nilai lo pasti naik setelah ini." "Oh, makasih!" Mauren tersenyum sinis. "Tapi gue sama sekali nggak tertarik dapet nilai bagus di mata pelajaran olahraga!" Eza menggeram marah. Sialan. Sombong sekali nenek sihir satu itu. Hish. Mauren memilih segera beranjak menuju lapangan. Eza dengan wajah iblis buru-buru mengikuti. Olahraga dimulai dengan pemanasan setelah tadi Bu Susan mengurutkan mereka berdasar kelompok masing-masing. Dan sesuai dugaan Eza—mereka harus berpanas-panas di urutan ke-tiga puluh sembilan. Sialan kuadrat. "Sekarang kalian berhadapan sama pasangan kalian." Susan mengomando di depan. "Nah, begitu! Letakkan tangan di atas pundak—Heh! Nomer 39 jangan diam saja!" Sontak semua perhatian tertuju pada baris dua dari belakang. Tawa hebat langsung memenuhi area lapangan. Siapa sih, yang tidak tahu Tom and Jerry SMA 40? Hell, mana mau mereka berolahraga mesra begitu. Eza memasang wajah melas sembari mengacungkan tangan. "Bu Susan yang cantik dan berhati baik. Saya mau minta tukeran partner dong, Bu." Susan menggeram. "Tidak bisa, Za. Sudah! Lebih baik segera lakukan apa yang ibu peritahkan sebelum kalian berdua nomer 39 ibu hukum lari di lapangan." Eza mendengus jengkel. Begitu pula Mauren. Dengan sangat ogah-ogahan mereka akhirnya berpandangan sambil mengangkat dua tangan ke pundak. "Thanks udah bikin hari gue sial." "Oh, you're welcome. Thanks juga udah bikin gue makin benci olahraga!" sungut Mauren marah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD