Episode 4 Little Distance

2980 Words
Sudah menjadi rutinitas wajib bagi Eza untuk menghabiskan sisa malam dengan bermain PSP. Dia akan begadang sampai subuh bermain game warior ditemani dua box popcorn extra large di tangan. Lalu keesokan harinya dia akan bangun pukul tujuh tepat dan berangkat kesiangan. Setelah itu salah satu guru yang menyayanginya akan datang dan menolongnya dari hukuman. Seperti itulah setiap harinya. Sudah. Semua beres. Tidak usah berlari keliling lapangan ataupun membersihkan toilet seperti Faza minggu lalu. Tidak ada yang perlu diributkan. Tapi, itu bagi Eza. Bukannya Faza. Eza menatap layar TV LED di hadapannya tanpa minat. Rasanya bermain bersama Faza jauh lebih asyik daripada melawan komputer yang sulit dikalahkan. Yeah, sudah pasti bertarung dengan Faza jauh lebih mengasyikkan karena Faza sangat mudah dikalahkan. Hanya butuh sekali sentuh saja ninja bentukan Faza akan terkapar tak berdaya. Tapi sayangnya hari ini berakhir kurang menyenangkan karena Faza ngambek tidak jelas. Jadilah hari ini Eza menghabiskan malamnya dengan membosankan. Padahal biasanya Faza akan langsung datang dan mungkin menginap di rumahnya. Lamunan Eza terganggu oleh seruan mamanya dari sebrang kamar. Dia menoleh sekilas dan melihat Echa tengah menatapnya dengan penuh interogasi. Membuat Eza mendesah malas tahu tatapan itu memaksanya belajar. "Sampai kapan kamu males-malesan begini, Ja? Harusnya kamu contoh dong Fien. Setiap hari kerjaannya belajar. Sedangkan kamu?" Echa menggelengkan kepalanya yang nyaris pecah. Eza mendesah malas. Tangannya yang semula asyik menerjang lawan langsung terhenti karena mamanya malah asyik mengacak rambutnya. "Nilai raport Jaja selalu bagus. Buat apa belajar?" katanya bangga. Echa berdecak sebal. "Huh. Orang kayak kamu mah nggak pantes dapat rangking." "Kok mama jadi nggak terima gitu, sih? Jaja kan emang pinternya nurun dari Papa. Emang Incha?" Finza yang kebetulan lewat langsung menggeram marah. Niat awalnya mau ke dapur mencari sekotak pizza malah terlupakan sejak suara cempreng kembarannya terdengar di tengah jalan. Apalagi suara itu mengejeknya habis-habisan. "Apa lo bilang, Ja? Ihh... sombong banget sih, lo! Gue emang nggak pernah dapet rangking. Tapi gue mau berusaha. Gue sering belajar. Nggak kayak lo!" Eza yang mendapat serangan mendadak dari Finza langsung berlarian menghindar. Langkahnya nyaris goyang karena tubuh tinggi papanya berada di tengah jalan. Eza segera stop begitu sadar Erro menatapnya dengan sinis tajam. "Kalian bisa nggak sih sehari aja nggak berantem?" sinis Erro sambil melepas topi golf di kepalanya. Finza memanyunkan bibir. "Salahin Jaja, Pa. Dia aja yang cari gara-gara." "Memang kenapa lagi?" tanya Erro bingung. Sebelah tangannya sibuk mengeluarkan perlengkapan golf dari tas. Lalu senyumnya malah terbit. "Ohiya... Mama harus dengar cerita di arena golf tadi. Jadi waktu latihan, Rio malah kepleset padahal bolanya aja belum dilempar." Dan Echa langsung tertawa mendengarnya. Topik tentang Mario Fabrian selalu membuat siapa saja tertawa dibuatnya. Finza langsung cemberut sewaktu ceritanya bahkan tidak didengar sama sekali oleh Erro ataupun Echa. Keduanya malah asyik menertawakan sahabat mereka Om Rio. Malah sekarang mereka mulai sayang-sayangan. Drama sok romantis andalan kedua orang tuanya. Finza mendesis malas. Eza terkikik di sampingnya. Tak terima Finza langsung melayangkan aksi cubit ganas pada Eza—yang membuat kembarannya menjerit-jerit bahkan hingga berlari mencari perlindungan ke kamar Fien. "Gue nggak bakal maafin lo, Ja!" Finza berteriak sambil berlarian menerobos kamar Fien. Fien yang tengah berkutat dengan buku Biologi berjengit kaget melihat aksi kakak-kakak kembarnya. Eza sudah berlari menaiki ranjang. Begitu juga dengan Finza. "Bang, minggir dong gue mau belajar! Lo juga, Kak!" Tak ada yang menggubris teriakan kemarahan Fien. Si kembar masih terus berlarian memberantaki kamar Fien. Suara dering telpon yang nyaring memekik tiba-tiba. Sontak gerakan Eza terhenti. Dia melirik ponselnya di ujung meja dan segera menyambarnya. Saat itu juga kelopak mata Eza melebar. "Eh, nenek sihir! Lo nggak lagi bohongin gue, kan?" Mendengar kata nenek sihir membuat Finza langsung menoleh. Tumben sekali Mauren mau menelpon Jaja Suhardja. Sepanjang sejarah baru kali ini Mauren menelpon Eza. Biasanya Mauren paling malas kalau harus berhubungan dengan manusia sok-sokan itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Mauren sudi menelpon Eza. Finza menatap Eza penasaran. "Ada apa, Ja?" Eza menutup ponselnya sembari berlarian keluar menyambar kunci motor. "Divi keserempet di deket Plaza." "Ya ampun." Finza berjengit kaget. Tab di tangannya nyaris jatuh. Bibirnya gemetaran saking shock-nya. "Tapi Divi baik-baik aja, kan?" Eza mengedikkan bahu. "Gue nggak tahu. Makanya gue mau kesana cek keadaan Divi." "Gue ikut." Finza merengek. "Lo nggak usah ikut, Cha. Gue mau bawa motor. Jalanan macet soalnya. Lagian ini udah malem banget." Finza menghembuskan nafas panjang. "Tapi nanti lo harus kabarin gue gimana keadaan Divi." "Iya, nanti gue kabarin lo. Sekarang biar gue, Fa, sama Acel yang urus keadaan Divi." Finza mengangguk-angguk patuh. Beginilah aslinya sifat Eza. Meskipun bengal, nakal, dan manja. Ada saat dimana dia bersikap layaknya kakak sekaligus orang dewasa yang melindungi lainnya. Saat seperti inilah sisi malaikat Erro bersarang di dirinya. Finza tahu, sebrengsek apapun kembarannya, Eza mampu mengatasi segala masalah yang terjadi. Walau nantinya dia akan kembali dengan kebengalannya. Tapi, Eza tetaplah orang yang bisa diandalkan. Eza berlari menyambar helm dan menggas motor. Sebelah tangannya masih sibuk mengetik chat lewat ponsel. Ah, sial! Daritadi Faza tidak membalas bahkan membaca chat darinya pun tidak. Sementara chat yang dikirimnya untuk Azel malah pending sejak tadi. Eza menggeram marah. Ditelponnya nomor Faza berkali-kali. Tapi tak juga diangkat oleh Faza. Mau tak mau Eza membelah padatnya keramaian malam Jakarta seorang diri. *** Malam semakin larut ketika Mauren melirik jam di ponselnya. Hampir pukul sembilan malam dan dia masih berada di ruang UGD bersama seorang cowok seusianya—si penabrak—dan juga Divia. Padahal seharusnya dia sudah berada di rumah sejak tadi dan belajar untuk tes Fisika besok pagi. "Gue bener-bener minta maaf sama kalian," untuk yang kesekian kalinya cowok itu mengucapkan permohonan maaf padanya dan Divia. Divia tersenyum tipis. "Lo santai aja. Lagipula kata Om Rio gue baik-baik aja. Cuma lecet sama keseleo doang." Cowok itu menghembuskan nafas lega. "Oh iya kita belum kenalan. Nama gue Raymond. Dari SMA 28. Salam kenal kalian." "Gue Divia. Dari SMA 40." Divia tersenyum tipis. "Temen gue ini Mauren. Satu sekolah sama gue." Mauren langsung memasang seulas senyum pada Raymond yang dibalas dengan senyuman lebar. "Oh... SMA 40, ya? By the way, kalau nggak salah, kapten tim futsal kalian namanya Arnafenza bukan?" "Yup betul. Lo kenal sama Eza?" tanya Divia penasaran. "Kalau dibilang kenal sih, nggak juga. Cuma sekolah gue sering tanding lawan sekolah lo. Jadinya gue tahu si kapten jagoan Fourty Squad kalian itu." Divia terkekeh sejenak. "Eza nggak sekeren itu. Ya kan, Ren?" tanyanya meminta pendapat Mauren. Mauren mengedikkan bahu. Tampak tidak tertarik dengan obrolan mereka. Lagipula dia tidak suka bergaul dengan orang baru. Apalagi sok asyik membahas hal yang dibencinya. Sorry saja, tapi dia paling anti membahas hal berbau Arnafenza. Beberapa detik selanjutnya Divia dan Raymond sudah terlibat obrolan seru tentang sekolah mereka. Mauren kurang suka bergabung apalagi ikut mengobrol. Jujur saja, dia selalu risih bercanda tawa dengan orang yang baru dikenalnya. Dia juga tidak seramah Divia apalagi Finza yang terkenal kecentilannya. Dia lebih senang menyendiri dengan bukunya. Sudah itu saja. Dan sekarang dia hanya ingin pulang ke rumah dan belajar. Mauren menghembuskan nafas pasrah sembari berjalan pelan keluar. "Sayang, kamu sama Divi mau pulang bareng Papi? Mungkin dua sampai tiga jam lagi Papi selesai." Rio muncul dengan setelan jas putih kebesarannya dan sebelah tangan sibuk mengetik pesan. "Nah kan, Mami pasti langsung ngomel kalau tahu kamu di UGD. Dikiranya kamu yang keserempet." Mauren menghembuskan nafas panjang. "Nggak usah, Pi. Aren mau pulang dulu aja naik taksi." "Beneran nggak apa-apa?" "Iya, Pi. Lagipula kasihan Divi kalau kelamaan disini." Mauren baru saja berbalik. Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba karena dia menubruk tubuh jangkung seseorang. Mauren mendengus saat menyadari sosok di depannya adalah si tengil. "Divi baik-baik aja, kan?" tanya Eza panik. "Hmm... baik." Mauren mendengus kecil sembari melangkah cuek. Eza tak begitu mempedulikan tingkah Mauren. Dia sudah berlarian menerobos salah satu gorden di ruang UGD. Nyaris saja tubuh jangkungnya menubruk seseorang. Eza mendesis dan baru sadar bahwa Azel yang berdiri di sampingnya. "Akhirnya lo datang juga," dengus Eza keki. "Gue baru baca line dari lo," jawab Azel dengan rupa bersalah. "Sorry, gue baru ada les tambahan. Yah, lo tahu sendiri aktifitas akselerasi." "Ya... Ya... Ya... Gue tahu lo serba sibuk." Azel tak mempedulikan raut bete yang dimunculkan wajah Eza. Sekarang perhatiannya tertuju fokus pada Divia. Untung saja keadaan Divia tidak seburuk bayangannya. Cewek itu hanya mengalami luka ringan di bagian lutut, betis, dan juga kaki. Mungkin cuma lecet kecil saja. Salah satu kakinya yang keseleo diperban bagian pergelangan mata kaki. Dan menurut Rio, selama dua minggu Divia harus memakai tongkat untuk berjalan. Hanya itu saja sih penjelasan dari Rio tadi. "Ah, syukurlah lo baik-baik aja, Div." Azel menghembuskan nafas panjang. "Gue panik banget loh waktu ditelpon nenek sihir tadi." Eza menambahkan. Sontak langsung menimbulkan guyonan dari Divia dan suasana ruang UGD menjadi gaduh. "Ahem... Ada yang ditelpon nenek sihir," tawa Divia menggoda. "Bagus deh, kalau kalian ada kemajuan dikit." Tepat saat itu Eza berpandangan dengan Mauren yang baru saja masuk. Keduanya sama-sama menampilkan raut wajah mau muntah saat mata mereka menatap satu sama lain. Ugh, sampai mati pun Mauren tidak sudi menelpon si tengil itu kalau tidak ada hal mendadak begini. Lagipula tadi Mauren menelpon semuanya satu per satu. Hanya si tengil saja yang kebetulan mengangkat telpon. Sudah hanya seperti itu faktanya. Tidak ada kurang ataupun lebih. "Well, kalau tahu dari nenek sihir pasti nggak gue angkat. Tadi kebetulan aja tangan gue gatel." Mauren mendesis. "Lo pikir gue sudi nelpon lo?!" Azel menggeram tidak tahan melihat sepupu dan sahabatnya malah bertengkar di saat Divia masih dalam keadaan sakit. "Please, jangan berantem di sini. Okay? Lo berdua jadilah teletubies buat sebentar aja. Jangan jadi Tom and Jerry terus-terusan." Mauren berdeham sekali. Begitu juga dengan Eza. Keduanya langsung pasang wajah innocent. Eza memilih asyik memainkan ponsel dan mengirimkan chat pada pacar kesayangannya yang cantik seperti barbie, Thalita. Mauren pura-pura menatap buku di tangannya. Tak lama setelah keheningan yang terjadi, seseorang menyibak tirai. Tangannya penuh oleh kaleng minuman dan cemilan. Eza mendongak pertama kali dan dia langsung sadar dengan rupa tak asing di hadapannya. "Loh, lo kapten futsal SMA 28 ya?" tanya Eza sok yakin. Raymond yang tengah kerepotan membawa belanjaan mendongak. Senyumnya terukir sinis waktu bersitatap dengan Eza. "Ah, Arnafenza kan? Gue inget sama lo." Eza terkekeh dengan rupa sombong. "Well, gue juga inget sama lo, Raymond." Azel secara bergantian menatap kedua manusia di hadapannya. Dia sadar ada kobar membara dari balik mata mereka. Aura permusuhan yang kental langsung menguar di antara keduanya. Tanpa sadar Azel sudah berdeham-deham untuk menenangkan mereka. "Udah malem, nih. Gue mau pulang bareng Papa." Azel tersenyum tipis. "Lain kali lo hati-hati ya, Div." Divia meringis. "Iya, Cel. Maafin gue ya, bikin lo panik." Azel tersenyum sekilas. Dia mengangkat sebelah tangan dan berbalik pergi. Melangkah pelan-pelan menuju ruang kerja ayahnya yang terletak beberapa lantai dari sini. Di belakangnya Eza mengikuti. Seketika suasana hening sampai Raymond memecah keheningan. "Div, gue antar lo pulang boleh, kan?" Divia mengerjap kaget. Dia menoleh dengan kening berkerut. "Oh... nggak usah. Gue bisa pulang sama Mauren." Raymond setengah memaksa. "Gue cuma mau minta maaf sama kedua orang tua lo. Boleh?" Divia menggigit bibir sekilas. Bola matanya berputar cepat ke arah Mauren meminta pendapat. Tapi yang dimintai pendapat malah mengedikkan bahu tak mengerti. Divia semakin bingung. Apalagi Raymond semakin memaksa dan itu membuatnya tidak enak. "Oke deh. Tapi beneran gue nggak ngerepotin?" Raymond menggeleng. "Enggak, kok. Gue malah nggak enak kalau nggak minta maaf sama orang tua lo." Divia mengangguk-angguk. Dia menoleh pada Mauren. "Ren, gue bareng Ray nggak apa-apa?" Mauren tersenyum mengiyakan. "Lo tenang aja. Gue bisa cari taksi di luar" Divia membalas senyum Mauren dengan senyuman tipis. Aneh. Bahkan sekarang Divia baru sadar sejak tadi tidak ada Faza yang datang menjenguknya. Tapi, bersama Raymond, dia bisa melupakan Faza dan tertawa bersama. Hmm, aneh bukan? *** Mauren melambaikan tangan pada Divia yang sudah melesat jauh bersama Raymond. Untung saja luka yang dialami Divia ringan-ringan saja sehingga dia bisa naik motor dengan mudah. Mauren juga cukup percaya pada Raymonnd meski baru pertama kali ini ketemu. Menurutnya Raymond tipe cowok yang jujur dan baik. Beda sekali dengan si tengil. Dan omong-omong soal si tengil, sekarang bocah itu sudah menaiki ninja bold-nya. Cih. Mauren mengumpat dalam hati. Sok keren banget sih, batinnya tak karuan. Motor berwarna hitam-putih itu berhenti tepat di depannya. Mauren mendesis kesal. Buru-buru melangkah menjauh. Dan Eza dengan gerakan cepat menggas motornya sehingga dia bisa menghalangi langkah Mauren. Eza melepas kaca helm-nya. "Gue lagi baik hati. Naik, gih. Gue antar pulang." "Gue bisa pulang sendiri pake taksi." Mauren berusaha menghindar. Demi Planet Neptunus dia paling malas berada di dekat orang ini. Bisa-bisa dia muntah saking mualnya melihat muka sok ganteng itu. "Well, jam segini nggak bakal ada taksi lewat di rumah sakit. Kalaupun ada, gue yakin di tengah jalan nanti..." Eza menatap Mauren dengan muka horor. "Sopir taksi yang lo tumpangi berubah jadi pocong." Mauren menatap Eza dengan pandangan sinis. Membayangkan saja membuat bulu kuduknya meremang. Sialan. Dia memang penakut. Tapi tidak usah ditakut-takuti begitu. Bikin merinding saja. Huh. Mauren melirik ponselnya. Hampir jam sebelas malam. Gila saja nanti kalau benar-benar ada sopir jadi-jadian seperti itu. "Ya udah sih kalau nggak mau. Tapi... siap-siap aja barangkali ada sopir taksi yang begitu. Hiiy serem. Gue balik dulu, ya." Eza bersiap menstarter motor. Tepat hitungan ketiga Mauren sudah mencengkram spion motornya dengan kencang. Senyuman nakal terukir di bibir Eza. Well, si nenek sihir ternyata penakut sekali. "Gue mau nebeng lo!" putus Mauren cepat. "Oh, nggak gratis. Besok siang french kiss sama gue di UKS." Mauren melotot tajam. Raut wajahnya segarang iblis. Meski begitu pipinya merona merah. Eza tertawa puas merasa berhasil mengerjai nenek sihir satu itu. "Canda, Ren. Canda. Gue juga nggak nafsu sama lo. Lo bukan tipe gue." Eza masih tertawa saking puasnya. "Buruan gih naik. Oh... jangan kaget ya kalau di tengah jalan gue berubah jadi pocong juga." Refleks Mauren memukul pundak Eza sekencang-kencangnya membuat Eza meringis kesakitan. Tak mau kalah Eza menggas motor dengan kecepatan maksimal membuat Mauren menjerit dan mencengkram kaos bolanya kuat-kuat. Eza masih terus tertawa. Well, mengerjai nenek sihir selalu menjadi kesenangan tersendiri untuknya. *** Motor ninja pixel milik Raymond berhenti tepat di pelataran rumah Divia. Secepat kilat Raymond beranjak turun dan membantu Divia. Tanpa meminta persetujuan, Raymond sudah meraih tubuh kecil Divia dan menggendongnya menuruni motor ninja yang super tinggi itu. Lalu menurunkannya tepat di beranda rumah. Divia menggeram marah. "Lo nggak bisa gendong gue seenaknya." Raymond terkekeh sekilas. "Gue nggak butuh persetujuan dari lo. Asal lo aman di tangan gue, semua fine-fine aja, kan?" Divia memutar bola matanya. Perkataan Raymond ada benarnya juga, sih. Tapi dia tetap tidak suka ada orang yang memperlakukannya sewenang-wenang. Apalagi Divia belum memberi Raymond izin untuk menggendongnya. "Lain kali lo harus bilang dulu kalau mau gendong gue. Gue nggak suka orang berlaku seenaknya sama gue. Apalagi kita baru aja kenal.," kata Divia tegas. "Gue minta maaf, Div. Iya, deh. Lain kali gue minta izin dulu sama lo." Raymond menunduk menatap kolam ikan di samping rumah. "Oh iya, mulai besok gue antar-jemput lo, ya?" Divia tersentak kaget. Nyaris saja menjatuhkan tongkat di tangannya. "Kamu pasti bercanda, kan? Hell, kita baru aja kenal, Ray." Raymond terkekeh sekilas. Sebelah matanya mengedip ganteng. "Nah, justru biar kita saling kenal." Divia menggeleng-geleng. "Nggak! Nggak bisa! Apaan, sih? Lagipula gue bisa berangkat sendiri." "Div, please. Gue cuma pengen nebus kesalahan gue aja. Yah, minimal selama kaki lo sakit aja deh, gue antar jemput lo. Boleh, ya? Yayaya?" Divia mendesis malas. Dalam hati merutuki cowok di depannya ini. Apa-apaan, sih? Kenal saja baru seumur jagung sudah sok-sokan mau mengantar-jemputnya setiap hari. Meskipun mereka sudah cukup akrab sejak obrolan di rumah sakit tadi, tetap saja mereka masih terlalu asing untuk pergi bersama. "Kalau alasannya karena kita baru kenal, makanya ayo kenalan. Gue ini orang baik-baik. Suer, deh." Divia menghembuskan nafas jengkel. Astaga. Bocah di depannya pemaksa sekali, sih. Rasanya terlalu to the point kalau bilang begitu. Seperti mengajak pacaran saja. Menggelikan, batin Divia. Oh, harusnya Divia sadar kenapa Raymond ini terlalu percaya diri? Sudah tentu karena dia satu jenis dengan si tengil! Seharusnya sejak tadi dia curiga karena keduanya sudah saling mengenal! Mungkin mereka memang satu populasi! "Ya ampuun, Divi! Kamu nggak sopan sekali, sih?" Fianella berteriak-teriak dari ujung pintu. Divia menepuk jidatnya frustasi. Merasa sangat tertekan dengan situasi. Seharusnya mama tidak melihat kejadian ini. Ah, gawat. Sudah pasti Divia langsung dimarahi karena tidak mempersilahkan Raymond masuk ke dalam. "Halo, Tante. Saya Raymond." Raymond berjalan mendekat dan meraih tangan Fianella. Dengan gaya anak idaman, dikecupnya punggung tangan si nyonya rumah. Divia berdecak. Bahkan sebagai anak dia tidak pernah berlaku seromantis itu dengan mamanya. Serius. "Oh, Raymond ya? Ah, ganteng sekali. Salam kenal, ya. Tante mamanya Divi." Raymond memasang cengiran lebar, sederet giginya yang dipasangi kawat berkilauan indah membuatnya tampak semakin ganteng. Fianella sampai terpesona melihat kegantengan anak itu. Mungkin tidak hanya Fianella, tapi semua cewek yang melihat senyum itu pasti tersihir. Semua. Tapi tidak bagi Divia. Sejak tadi yang dilakukannya hanya mengibas rambut saking malasnya menanggapi tingkah Raymond. "Ahem... "Fathur terbatuk-batuk melihat istrinya yang tidak mengedip sama sekali sejak melihat Raymod. "Saya papanya Divi." Raymond tersentak kaget mendengar suara seberat baritone itu. Buru-buru dilepasnya tangan Fianella dan memasang senyum menawan yang sama. "Halo, Om. Saya Raymond." Fathur menatap Raymond dengan wajah menginterogasi. "Jadi kamu yang bawa motor ugal-ugalan dan nyerempet anak saya?" "Oh itu, anu..." Raymond cengengesan lagi. Matanya berputar-putar memikirkan sesuatu. "Ray minta maaf, Om. Suer deh, Ray nggak sengaja nabrak Divi. Kalau tahu Divi secantik ini pasti Ray naik motornya pelan-pelan, kok." Fianella tertawa-tawa senang. Muka Divia sudah memanas saking malunya. Dia terbatuk-batuk dan segera melangkah bersama tongkatnya, meninggalkan kedua orang tuanya hanya dengan si tengil versi dua. Ah, dia malas menanggapi mereka. Entah apalagi yang Raymond ceritakan pada orang tuanya. Mungkin dia sudah mengarang-ngarang hal aneh. Serius perasaan Divia jadi tidak enak. Padahal tadi Raymond seru sekali waktu bercanda di rumah sakit. Tapi sekarang boro-boro. Semenjak cowok itu dengan entengnya tebar pesona bahkan menggendongnya turun membuat Divia merasa terancam. Jangan. Pokoknya jangan sampai hatinya terancam. Dan mungkin tercuri untuk kedua kalinya. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD