Bel istirahat baru saja berbunyi. Faza menjadi orang yang pertama kali berlarian keluar. Bahkan Eza yang tadi masih asyik menyalin catatan langsung ditinggalkannya di dalam. Dia tidak peduli. Sekarang dia harus segera menyelesaikan masalahnya.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan markas tim basket SMA 40. Tepat berada di samping gedung olahraga. Dulu, saat masih kelas sebelas, tempat ini juga menjadi markas favorite-nya dan beberapa teman seangkatan yang menjadi Fourty Squad basket. Tapi, semenjak kenaikan kelas dua belas, club sudah diambil alih oleh para adik kelas. Sehingga jarang sekali Faza menghabiskan waktu di sana.
Faza menggerutu jengkel. Ugh, mana sih mereka? Jam istirahat keburu abis kalau adik-adik sok cakep itu tidak segera memunculkan wajah mereka. Benar-benar menyebalkan. Manusia jaman sekarang memang nggak bisa tepat waktu.
Lalu tak lama setelahnya kawanan Andre dan sebangsanya datang. Merekalah Fourty Squad setelah tahun angkatan Faza diberhentikan.
“Bang Fa tumben nyuruh kita-kita kumpul?” tanya Dino bingung sekaligus curiga.
Faza berkacak pinggang. “Kalian lama banget, sih. Udah ditunggu dari kapan tahun juga.”
“Lagian Bang Fa aneh-aneh aja, sih. Mau ngapain ngumpulin kita? Pertandingan kan masih lama.”
Handy mengangguk-angguk.
“Jadi gini, gue minta bantuan kalian buat tanding lawan SMA 28. Nah, ki—”
Sebelum Faza menyelesaikan kalimatnya, kawanan Andre langsung pasang wajah ngeri. Membuat Faza mendumel jengkel. Dasar adik-adik kelasnya ini penakut sekali. Cuma mendengar nama SMA 28 saja langsung ketakutan. Pantas saja belakangan SMA 40 namanya mulai lengser.
“Ehm... kayaknya kita nggak sanggup, deh.” Andre cengengesan sambil menggaruk-garuk rambut.
“What? Emang kenapa? Masak nggak bisa? Santai aja, kan ada gue kaptennya.”
“Masalahnya bukan itu, Bang. Pokoknya kita nggak mau ah. Serem kalau lawan mereka. Hih.”
Faza menganga lebar. Apalagi saat kawanan Andre langsung kabur begitu saja meninggalkan dia sendirian di gedung olahraga. Faza mendesis jengkel dan segera berbalik menuju kelasnya kembali. Pokoknya dia harus segera memikirkan cara untuk memenangkan tantangan Raymond itu. Huh, jangan sampai Divia pacaran dengan manusia sombong semacam Raymond.
Faza menghembuskan nafas pasrah. Perlahan mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik chat pada grup basketnya dulu—yang di dalamnya terdapat Adry, Raden, Fariz, dan Okky. Semoga saja mereka semua bisa membantunya.
***
Eza masih asyik menggoda cewek-cewek sekelasnya yang sibuk melaksanakan tugas piket ketika dengan kurang ajarnya Faza menyeret kadal itu menjauh. Eza menjerit-jerit tak terima diperlakukan seenaknya. Tapi Faza pura-pura tak mendengar dan semakin menyeretnya masuk ke dalam gudang olahraga.
“Lo hari ini aneh deh, Fa. Tumben lo diem aja.” Eza menatap Faza heran.
Faza diam saja. Sibuk menekan-nekan screen ponselnya. Hanya butuh beberapa detik sampai akhirnya Adry dan Raden—teman sekelasnya—datang menghampiri mereka. Sontak saja melihat kedatangan musuh bebuyutannya membuat Eza langsung pasang wajah penuh peperangan. Begitu juga dengan Adry yang sudah mengeluarkan tatapan mata tajam.
Raden dan Faza sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Hufh, mungkin selama beberapa menit ke depan mereka harus menahan keduanya agar tidak menyerang satu sama lain.
“Tinggal nunggu Fariz sama Okky hehehe...” Faza menatap jamnya sekilas dan tersenyum cengengesan ke arah Adry. Sialnya yang ditatap malah sibuk menatap ke arah lain dengan kobaran membara. Begitu Faza mengikuti pandangan itu barulah dia sadar Adry dan Eza lagi-lagi menebar gendang peperangan mereka.
Ya ampun bahkan ini belum beberapa menit!
“Fa, tumben lo ngumpulin kita-kita?” Okky muncul bersama dengan Fariz. Keduanya anak IPS, jadi harus menunggu mereka lompat dulu dari gedung sebelah.
Biasanya memang memakan waktu agak lama karena bangunan antara IPA dan IPS agak jauh. Ibaratnya sebuah kota, IPA adalah pusat penduduk yang padat dan ramai. Sedangkan IPS adalah pinggiran yang meskipun kecil dan sepi tapi tak kalah riuh karena manusia di dalamnya adalah manusia jenis pasar yang tak bisa diam. Faza dan Eza sering kali dijuluki anak-anak IPS yang nyasar ke IPA karena sikap mereka yang sangat jauh dengan anak IPA sewajarnya. Bahkan sebagian guru juga bingung kenapa keduanya bisa masuk IPA. Kalau Eza sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Meski kelakuan berandal ulung begitu, tapi dia memang jenius. Nah, yang sering dipertanyakan itu Faza.
“Nah, udah lengkap sekarang kita.” Faza tersenyum sambil membuka pintu markas club basketnya dulu. “Ayo kita masuk dulu bentar.”
Mereka semua berpandangan bingung. Pada akhirnya menyerah dan mengikuti kemauan Faza. Eza juga tak mengerti sama sekali dengan tingkah Faza. Tak biasanya dia mengomando latihan basket begini.
Hening cukup lama sampai akhirnya Faza menjelaskan maksudnya mengumpulkan mereka semua. Dia menjelaskan sedatail-detailnya tentang pertemuannya dengan Raymond pagi tadi. Semua dia ceritakan secara lengkap. Kecuali bagian Divia tentu saja. Mana mungkin dia menceritakan alasan kuatnya mengalahkan SMA 28. Bisa-bisa si tengil ini menggodanya habis-habisan.
“Apa-apaan sih, lo?! Gue nggak mau!” Okky mengajukan protes pertamanya. “Kalian enak anak IPA. Sedangkan gue, anak IPS yang terancam masa depannya. Bentar lagi UNAS dan gue nggak mau buang waktu gue buat pertandingan itu.”
Fariz mengangguk menyetujui. “Gue setuju. Maaf banget, Fa. Kayaknya lebih baik kita fokus ujian aja, deh. Lagipula tantangan Raymond itu nggak penting banget. Buat apa lo peduliin? Paling dia cuma mau pamer aja nanti. Lagian dia anak futsal ngapain sih sok nantang anak basket gini?”
Faza menggeram jengkel. Amarahnya mendadak naik. “Tapi pertandingan itu penting banget buat gue! Please, gue mohon bantu gue—”
“Maaf Fa, gue nggak bisa.” Okky bangkit dan menghembuskan nafas perlahan. Lalu setelahnya mengirim senyum maaf dan menyingkir dari ruangan. Fariz juga melakukan hal yang sama.
Lagi-lagi Faza mendesis frustasi. Sekarang di ruangan hanya tersisa mereka berempat saja. Faza menatap Adry dan Raden dengan mata menyalang. “Kalian mau pergi juga?! Boleh! Sana pergi!” sungutnya marah.
Eza sendiri langsung diam. Serem Faza kalau sudah marah.
Raden terkekeh. “Gue nggak bakal pergi, Fa. Santai aja. Gue sih ayuk kalau mau lawan mereka. Gue mah nggak takut.”
Mendengar kalimat itu dari mulut Raden membuat Faza mendadak bahagia. Matanya langsung berbinar-binar riang. Eza sampai jijik melihatnya begitu. “Lo serius, Den?!”
Raden mengangguk, “Serius banget. Ya kan, Dry?” tanyanya sambil menyenggol lengan Adry. Sementara yang disenggol menatap Raden malas. Sama sekali tak berminat. “Adry juga mau bantuin lo tuh.”
Adry tampak bergumam ‘siapa bilang’ tanpa suara. Tapi hal itu tak direspon oleh Raden. Faza juga sudah terlanjur bahagia mendengar jawaban dari Raden. Oh, untuk hari ini Faza berjanji tidak akan membenci Adry. Meskipun selamanya Adry akan menjadi musuhnya dalam merebut Melodi. Tapi entah kenapa hari ini dia merasa tidak begitu peduli dengan hal itu.
“Thanks, Dry.” Faza tersenyum tulus.
Mau tak mau dijawab Adry dengan senyuman terpaksa. “Iya, sama-sama, Fa.”
Eza yang berdiri tak jauh di belakang langsung menarik Raden mundur dan menyumpah-nyumpahi sikap Adry barusan. Mulai dari mengatainya sok baik, sok muka dua, dan blablabla. Raden malas meladeni Jaja Suhardja yang sekarang sibuk meracuni otaknya untuk menjelek-jelekkan Adry yang notabene sahabat dekatnya di kelas.
“Udah, Ja, hari ini nggak usah bawa dendam, deh. Simpen aja dulu. Nggak baik tahu.”
Eza mencibir ke arah Raden yang hanya ditanggapi dengan tawa. Malas sekali bersama dengan club basket yang panas ini. Semakin panas gara-gara ada Adry di dalamnya. Lebih baik dia menunggu di luar saja daripada harus berlama-lama menatap musuh sok kerennya itu.
Baru ketika Eza memutuskan melangkah keluar, Faza menarik kerahnya ke belakang. Seperti biasa memperlakukannya seperti seekor peliharaan. Eza sampai menggerutu dan mengirimkan serapahnya pada Faza yang tak pernah memperlakukan dia dengan baik sebagai sahabat sekaligus sepupunya.
“Apaan, sih?! Lo kelarin dulu sana cipika-cipiki sama your rival. Kalian ngobrol-ngibrol dulu aja. Sambil ngeteh, ngopi, sama makan camilan. Gue nunggu di luar sebelum ruang basket ini meleduk gara-gara kena api.”
Eza masih berceloteh tanpa tahu malu. Faza pura-pura cengengesan sambil menarik Eza menyingkir dan membisikkan sesuatu dengan serius.
“Eh, dia rival lo juga!” Faza menegaskan setiap kalimatnya. “Rival kita berdua! Bukan gue doang!”
Eza mengangguk-angguk. Yeah, Adry memang rival mereka bersama. Musuhnya dalam anggar sekaligus musuh Faza dalam mendapatkan hati Melodi. Jadi, mereka sama-sama impas dan punya dendam kesumat sama Adry. Jika dilogika dua lawan satu pasti menang yang berdua, kan? Atau Faza sedang merencanakan serangan untuk mengalahkan Adry atau apa?
Eza terdiam sambil tersenyum miring. “Jadi, lo ada ide?” bisiknya sambil mengalungkan lengan di leher Faza agar duo Adry-Raden tidak mendengar aksi kurang ajar mereka yang menggosip tepat di depan korban.
“Ide apa?” Faza semakin melirihkan suaranya.
“Ide ngalahin Adry kan?”
Dan sebelum Eza mendapat jawaban, Faza sudah mengirimkan serangannya tepat di atas kepala si tengil yang kelewat bodoh atau apa.
Ugh, menyebalkan. Faza benar-benar ingin memutilasi kepala sok ganteng itu. Padahal sudah jelas-jelas mereka membicarakan cara melawan SMA 28. Bukannya memikirkan cara untuk membalas dendam pada anggota satu tim. Dasar gila, Faza merutuk dalam hati.
“Stop it!” Faza menatap Eza dengan tatapan membunuh. “Di sini nggak bakal ada yang dendam-dendaman! Tolong jangan salah fokus! Kita mau lawan SMA 28! Bukannya ngelawan Adry, please!”
Tiba-tiba suara dehaman Adry terdengar. Faza langsung memukul bibirnya yang terkadang kehilangan kontrol dalam setiap ucapannya. Sialan, pasti Adry sudah mendengar pembicaraan mereka tadi.
“Adry?! Kenapa ada nama gue?” Adry menatap Faza dan Eza bergantian. Penuh interogasi.
Faza seperti biasa. Pura-pura tertawa sambil cengengesan tidak jelas. Sementara Eza masih dengan wajah sinisnya yang tiada tara dan membuat Adry jengkel setengah mati.
“Oh, enggak kok, Dry. Santai aja. Kita cuma lagi mikirin cara ampuh melawan mereka. Kan udah ada lo yang hebat. Hehehe...” Faza masih pura-pura tertawa bahagia.
“Well, selamat bertanding kalian semua. Semoga kalian nggak nangis dikalahin Raymond nanti.” Kemudian tawa Eza meledak.
“What?” Faza menoleh dengan rupa menyelidik. “Lo ikut masuk tim kita! Enak aja lo nonton doang!”
Kali ini giliran Eza yang melotot kaget. “Gue anak futsal, Fa! Bukan anak basket!”
“Lah, si Raymond juga anak futsal, kan? Ya udah kalian seimbang! Gitu aja repot!”
“Eh, sialan! Jangan bawa-bawa gue dong lo!” Eza menuding-nuding Faza tak terima. Huh, Faza yang ditantang kenapa dia juga yang kena, sih? Fa selalu saja membuat hidupnya sial.
“Stop! Nggak ada penolakan di sini!”
Raden tersenyum ceria. “Jadi, udah ditentukan, ya? Eh, tapi kayaknya masih kurang anggota nih.”
Faza terdiam sambil berpikir. Hmm, sepertinya dia harus menarik seseorang ke sini.
“Aha!” Faza menjentikkan jari. “Bisa diatur. Celita siap membantu!”
Raden dan Adry mengernyit bingung. Keduanya berpandangan sambil mengedikkan bahu. Siapa memang Celita?
***
Sudah hampir setengah jam Divia dan Finza menemani Azel dan Mauren berburu buku di perpustakaan. Entah ini hanya feeling saja atau memang tempat ini sangat membosankan. Apalagi bagi Finza.
Oh, perpustakaan sama sekali bukan hal yang dia sukai. Hampir saja Divia dan Finza terkantuk-kantuk gara-gara menunggu mereka berdua.
“Div, beli milkshake bentar, yuk!” Finza, untuk yang kesekian kalinya mengeluh kebosanan.
Divia menatap Finza yang sudah lesu dibalik bacaan novel keluaran terbaru milik Sophie Kinsella. Novel itu dibiarkannya terkatung-katung dengan halaman menjeblak terbuka tanpa dibaca sama sekali. Baru sekitar lima halaman. Dan Finza sudah mati kebosanan. Tampak tak berminat sekaligus mengantuk. Huh, mengajak Finza ke dalam perpus memang bukan ide yang baik.
Divia melirik Azel dan Mauren yang masih berlomba mengerjakan soal Kimia. Kedua manusia itu tidak peka sama sekali. Mereka malah kini asyik mengomentari sebuah soal yang menurut mereka unik dan lucu.
Padahal, ketika Divia melirik soal itu, sepertinya tidak lucu sama sekali. Hanya sebuah soal yang rumit dengan unsur-unsur kimia menyebalkan.
“Ren, coba lo kerjain yang ini. Kayaknya ada yang salah, deh.”
“Yang mana, Cel?” Mauren tertawa sekilas sambil mencoret-coret buku milik Azel. Lalu tampangnya berubah serius. “Oh, ini kayaknya lo ada yang kelewatan. Coba tabel periodik lo tadi dibuka lagi.”
“Hm, masak sih? Gue udah hafal semua unsurnya. Kayaknya udah bener—”
Divia berdeham-deham sekilas. Lama-lama kesal juga menjadi lalat begini. Belum lagi Finza yang menyebalkan dan terus-menerus mengeluh minta jajan. Dan si duo kutu buku itu tidak peka sama sekali.
“Udah selesei pacarannya?” Divia menatap Mauren dan Azel secara bergantian sambil memasang wajah garang.
Sontak membuat Azel langsung mendongak dengan mata melebar penuh. Begitu juga Mauren yang sama-sama terkejut. Lalu mereka serempak menutup buku bersamaan. Seperti gerakan slow motion dalam Drama Asia.
“Sampai kapan lo berdua mau ngomentarin soal yang udah jelas ada kunci jawabannya di halaman paling belakang?! Kalau bingung, udah tinggal dibuka aja! Ngapain lo berdua ngerepotin diri nyari susah-susah?! Buka aja, dong!”
Azel menghembuskan nafas panjang. “Ya kalau kita buka kunci jawabannya bukan belajar namanya, Div.”
Divia masih menggerutu. Finza melakukan hal yang sama. Tingkah mereka yang menjengkelkan kadang membuat Azel naik darah. Dan sebelum semburan kemarahannya meluap, Faza muncul dari balik pintu perpus. Dengan wajah kucel dan nafas ngos-ngosan.
“Cel, gue nyari lo dimana-mana! Ternyata lagi ngumpet di sini!” Faza menarik tangan Azel memaksanya bangkit. “Ayo ikut gue! Ada hal penting yang mau gue omongin!”
Azel menatap Faza bingung. Matanya berputar seolah mencari jawaban. Tapi tidak ada yang merespon. Bahkan Faza sudah dengan seenak jidatnya menarik Azel menjauh.
“Fa, lo mau kemana?!” Divia berseru kencang.
Faza menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. “Lo bakal aman sama gue, Div! Lo tenang aja!” jawabnya sebelum berlari menjauh.
Divia mematung di tempatnya berdiri. Tadi, Faza bilang apa? Sungguh, dia tidak mengerti sama sekali. Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan Faza?
“Fa ngomong apaan?” Finza melirik Divia bingung.
Divia hanya mengedikkan bahu. Mauren juga demikian.
***
Untung saja setelah dipaksa-paksa, Azel mau memenuhi permintaan Faza. Tentunya setelah melalui serangkaian ceramahan panjang tentang betapa pentingnya belajar daripada bermain-main. Dan itu dilakukan Azel di ruang tim basket. Bahkan Adry yang biasa sepemikiran dengannya mulai terkantuk-kantuk gara-gara ceramahan tidak penting yang keluar dari mulut si kecil satu itu.
Ah, tapi sebodo amat dengan ceramahan sok bener Celita satu itu! Lebih baik sekarang Faza memikirkan cara selanjutnya. Hmm, dia harus segera pulang dan membuat strategi dengan si tengil semalaman penuh.
“Mana tadi Divi sama Incha?” Azel memainkan ponselnya. Tampak membalas chat dari Mauren. “Aren udah balik, Fa. Katanya udah dijemput Om Rio.”
Faza menoleh sekilas. Tiba-tiba melupakan angan-angan kemenangannya atas Raymond. “Aren beneran dianter-jemput Om Rio hari ini?”
Azel mengangguk-angguk. “Lo tahu sendirilah, Fa. Om Rio kan sejak dulu protektif banget sama Aren. Makanya dia bete banget sama Jaja. Gue aja sadar tatapan Om Rio langsung sangar tiap ada Jaja di sekitar kita.”
“Yeah, emang serem si Om satu itu kalau udah ngamuk.” Faza mengangguk menyetujui. “Untung si tengil udah balik dari tadi. Kalau dia ketemu sama Om Rio lagi, abis deh tuh anak jadi perkedel.”
Azel hanya tertawa. Dia juga dengar tadi sepanjang latihan Eza terus mengeluh tentang Rio yang pagi-pagi sudah muncul di perempatan lampu merah. Tentunya dengan raut wajah horor yang jauh lebih menyeramkan daripada sundel bolong siang hari. Ditambah Thalita yang sok princess dan mengoceh tentang kulit mulusnya yang bisa rusak gara-gara sinar panas matahari. Dan sepanjang hari Eza mengalami bad mood tingkat akut gara-gara dua manusia itu. Tentu tambah si nenek sihir si biang masalah.
Sampai akhirnya suara cempreng Finza memenuhi koridor sepi yang dilalui Azel dan Faza. Seakan tidak cukup, makian dan kegarangan Divia mendominasi suaranya. Membuat suasana koridor yang tadinya sepi senyap dan tenang menjadi riuh seperti arena tawuran.
Lagi-lagi Faza menggelengkan kepala menanggapi sikap blangsak Divia dan Finza yang sering kelewatan. Begitu juga Azel yang sudah menepuk jidat frustasi.
“Ya ampun, bisa nggak sih kalian berdua bersikap selayaknya cewek?”
Azel seperti biasa, menjadi manusia yang jujur, apa adanya, sekaligus terang-terangan. Tentunya dengan kalimat pedas yang sedikit menohok hati.
“Yah, Cel, kan gue udah nggak sabar berburu diskon meriah di Plaza. Ada dress yang pengen banget gue beli.”
Finza menarik lengan Azel dan bersikap seperti boss. Mau tak mau Azel mengikuti langkahnya di belakang. Raut wajahnya tampak setengah hati menuruti si sepupu yang manja itu.
Sepeninggal mereka, Divia dan Faza masih belum beranjak. Divia masih sibuk mengomentari tingkah Finza. Sedangkan Faza hanya berdecak tak karuan.
“Ihh... Acel tumben mau-mau aja diperbudak Incha? Biasanya dia udah ceramah nggak jelas kalau disuruh-suruh gitu.”
Faza tertawa sekilas. “Namanya juga Incha, Div. Kalau bukan Jaja yang kena, ya udah pasti Acel gantinya.”
Divia ikutan tertawa. Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika mereka beranjak menuju parkiran. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dan kebetulan langit mendung sekali sore ini.
Hish, kenapa tiba-tiba jadi horor begini, sih?
Faza bergidik ngeri. Buru-buru mengeluarkan motor dari parkiran. Di sana hanya tinggal beberapa motor saja yang tersisa. Huh, semakin mengerikan tempat ini di sore hari. Lebih baik segera pulang dan makan di Champ.
“Fa, lo bawa jas hujan?” Divia berseru dari belakang. “Gerimis, Fa.”
Faza mendongak dan benar saja setetes air hujan mengalir membasahi pipinya. Cepat dibukanya jok motor dan tidak menemukan apapun selain payung mini.
Payung mini?
Oh, ini sebuah bencana! Mamanya ini kadang kenapa bisa salah memasukkan, sih? Perasaan Faza bilang jas hujan, kenapa sekarang malah ada payung begini.
“Div, cuma ada payung.” Faza melemparkannya begitu saja. Membuat Divia mengomel panjang lebar gara-gara aksi anarkis Faza yang seenaknya. “Hih, jangan ngomel aja dong! Pake buruan!”
“Terus lo gimana?” Divia menatap Faza sembari menggigit bibir. Merasa sangat tidak enak.
“Gue nggak apa-apa kehujanan. Lo aja yang pake payungnya.”
Divia terdiam membeku. Meski cuaca dingin dan angin bertiup kencang sore itu, tetapi perasaannya menghangat. Suara Faza hari ini terasa beda. Begitu juga sikap dan seluruh perhatiannya. Divia bisa merasakan kehangatan menguar dari sosoknya. Dengan suara berat yang mengalir bagaikan listrik. Diiringi senyuman sok jahilnya yang selalu membuat Divia meleleh dibalik sikap galaknya.
“Beneran?”
“Apa sih yang enggak buat lo, Div?”
Faza menjawab diiringi dengan kerlingan matanya. Lagi-lagi membuat jantung Divia berdentum-dentum sekali lagi. Uh, rasanya seperti dilempar-lempar ke antariksa dan terjatuh di atas empuknya parasut.
Hanya beberapa saat itu semua berlangsung sampai tiba-tiba motor milik Adry melesat melewati mereka dan mencuri fokus perhatian Faza sepenuhnya. Dari balik jas hujan Adry dan Melodi berboncengan mesra. Membuat semua romantisme antara dirinya dan Faza hancur lebur begitu saja.
Divia meremas roknya jengkel. Apalagi saat keduanya mengucap salam basa-basi pada dia dan Faza. Adry sih biasa saja. Tapi Melodi itu lho yang sok imut banget. Ugh, Divia benar-benar gondok setengah mati dengan sikap sok princess yang sering dikeluarkan Melodi dan Thalita yang menjijikkan itu. Dan tentunya Faza lagi-lagi seperti orang bodoh. Sisi cool-nya yang tadi muncul blasss tertiup angin tanpa sisa sama sekali. Terima kasih untuk Melodi yang selalu bisa menghancurkan suasana.
“Sampai kapan lo mau bengongin Melodi kayak gitu?!” Divia menyedekapkan tangan keki. “Sampai SMA 40 ini kena banjir bandang gara-gara ujan deres?”
Suara Divia yang bak petir itu seakan menggelegar di langit. Faza langsung bergidik ngeri. Melihat tampang galak Divia selalu saja membuat nyalinya menciut. Buru-buru dia menyalakan motor dan melajukannya menembus kepadatan jalan raya. Sampai tak terasa semakin lama hujan semakin deras.
“Fa, ujannya deres banget. Lo nggak apa-apa?” Divia menjerit kencang. Berusaha mengalahkan suara deru hujan yang menjadi-jadi.
“Gue nggak apa-apa, Div. Eh, tapi jalannya mulai banjir.” Faza menjerit kaget. Kali ini menambah kecepatan motor.
Divia mulai kelimpungan. Hujan yang semakin deras ditambah angin kencang nyaris membuat payung mereka terbang ke langit. Bahkan payung mini itu tak membantu sama sekali. Toh, nyatanya dia tetap basah kuyup meski bertahan dibalik perlindungan si payung. Percuma saja. Tak ada gunanya payung itu.
Tiba-tiba motor yang dinaiki mereka berhenti ketika memasuki jalanan pintas. Divia mengedip kebingungan. Faza hanya terdiam sambil menggigil merasakan tubuhnya yang dingin. Dan ketika Divia melompat turun, raut muka Faza sudah memutih. Bibirnya bergentar dan pipinya terasa dingin.
“Bentar, Div. Gue nggak bisa lihat jalan. Mata gue kabur.” Faza memeluk dirinya sendiri. Merasakan pusing yang tiba-tiba menjalar dan dingin yang merontokinya secara perlahan.
“Fa, lo kenapa?” Divia menyentuh kening Faza yang berubah panas.
“Tuh, kan. Gue udah bilang tadi. Lo bisa sakit kehujanan, Fa. Kenapa sih lo selalu ngeyel sama apa yang gue bilang?!”
“Sorry, Div, gue—”
“Lo duduk aja dulu di halte. Gue mau ke minimarket depan. Kayaknya ada coklat panas.” Divia menunjuk minimarket yang berada di seberang jalan.
“Udahlah, nggak usah. Gue baik-baik aja, Div. Paling nanti kalau udah reda, badan gue juga enakan.”
“Hush, diem aja, deh! Lo tunggu sini! Mumpung jalannya lagi sepi banget. Gue mau nyeberang dulu ke sebelah. Beli popmie sama kopi panas.”
Divia masih terus memaksakan diri. Faza segera beranjak turun untuk menahannya. Tapi, namanya juga Divia. Si keras kepala dan si galak yang suka menang sendiri. Sekarang cewek itu sudah berlarian menyeberangi jalan menggunakan payung mininya.
“Divi!” Faza berseru kencang.
Divia tidak menoleh sama sekali. Masih terus berlari menembus hujan. Faza melangkah pelan-pelan berusaha menyusul Divia yang kini sudah berlarian ke tengah. Hingga akhirnya mereka hanya berjarak beberapa langkah dan refleks Faza menarik lengan Divia. Sontak cewek itu berjengit kaget dan berbalik. Nyaris menubruk tubuh dingin Faza.
Dan entah ada sihir dari mana, jarak sedekat itu membuat Faza tiba-tiba bergerak mengecup pelan bibir Divia yang ada di depannya.
Hanya sekilas. Beberapa detik saja. Tapi, berhasil dengan sukses membuat Divia mematung dan menjatuhkan payung di tangannya. Hingga mereka basah kuyup terguyur air hujan. Dan sampai detik ini Divia masih tak bergerak. Statis. Tubuhnya seperti jelly dan pikirannya beterbangan.
Faza menyentuh lengan Divia yang gemetaran. Raut wajahnya penuh rasa bersalah. “Div, gue nggak sengaja. Maafin gue. Gue cuma, tiba-tiba aja—pengen.”
Suara klakson mobil membuyarkan mereka. Faza segera menarik Divia menjauh. Membiarkan payung yang tadi dipakainya terhempas ke tepian oleh angin. Bahkan sekarang nyaris terlindas mobil.
Kemudian hening yang panjang kembali menusuk di antara mereka. Di ujung pintu mini market, Divia masih mematung. Masih terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi itu. Tak pernah dia menyangka Faza akan menjadi ciuman pertamanya. Ini benar-benar jauh di luar dugaannya.
Divia hanya bisa menatap Faza dengan senyuman canggung. Begitu juga sebaliknya. Apa yang terjadi di antara mereka seakan membuat suasana tiba-tiba terasa aneh dan mengganjal.
Divia memaksakan senyuman. Sambil memegangi pintu kaca dia menggigit bibir. Berusaha merasakan sisa-sisa aroma Faza yang menempel manis di bibirnya. “Lo—mau pesen apa?”
Faza menggaruk kepala bingung. Tiba-tiba terjebak suasana yang terjadi. “Oh, terserah lo aja. Gue mau—ehm, yang penting panas aja, sih.”
“Oke.” Divia kembali tersenyum.
“Divi!” Sebelum benar-benar masuk ke dalam, lagi-lagi Faza berteriak. Kali ini membuat langkah Divia langsung terhenti seperti robot. Kepala cewek itu berputar cepat. Tampak menunggu sesuatu. “Yang tadi itu—lupain aja, Div. Gue nggak sengaja.”
Divia membelalakkan mata. Tapi kemudian tersenyum lagi dan lagi.
“Oh, oke, tenang aja. Gue bakal lupain,” lanjutnya sebelum benar-benar masuk ke dalam mini market.
Tentu saja Divia berbohong. Mana mungkin dia melupakan ciuman pertamanya dan Faza.
***