Episode 14 Talks

2235 Words
Hari menjelang malam ketika akhirnya motor yang dinaiki Faza menepi memasuki halaman rumah keluarga Zanuar. Dengan baju sangat basah Faza melangkah menuruni motor. Perlahan-lahan dia masuk ke dalam beranda rumah dan menekan-nekan bel. Dari kejauhan terparkir motor Eza di sana. Faza masih terus menekan bel. Sampai akhirnya sosok Sharyn membuka pintu rumah. Faza langsung memasang senyum tiga jari dan mencium tangan tantenya penuh semangat. Sharyn sampai bingung sendiri dengan tingkah keponakannya yang masih tampak segar meskipun sudah diguyur hujan. “Loh, Fa, kamu habis ngapain tadi? Baju kamu basah itu.” Sharyn berdecak sambil melangkah mengikuti Faza yang berjalan masuk menuju ruang tamu. “Kamu pinjem baju Acel dulu sana.” Faza tertawa lebar. Sebelah tangannya melambai-lambai pada Sharyn sambil memasang cengiran. “Eh, Tan, Jaja dimana? Dia udah lama di sini?” “Iya, Jaja kesininya  bareng Acel tadi. Tuh, sekarang laigi main game sama Iel di ruang tengah.” Faza mengangguk-angguk masih dengan cengirannya yang membuat Sharyn bingung. Setelahnya Faza berlarian menuju  ruang tengah tanpa mempedulikan Sharyn. Ello yang kebetulan tengah menikmati koran paginya yang belum terbaca langsung melirik Faza. Tatapannya berubah sinis saat sadar Faza melangkahinya tanpa mengucap salam sama sekali. Ello bahkan sudah berdeham-deham untuk menarik perhatian Faza. Tapi lagaknya Faza tak menyadari dan malah bertindak tidak sopan menghalangi layar tv di depannya. “Ja, lo harus ikut gue!” Faza menarik-narik tangan Eza yang masih sibuk dengan PSP-nya sembari bergelung di atas sofa. “Weitsss! Apaan, sih?! Minggir lo Fa!” Eza tak mempedulikan Faza dan malah semakin membrutal memainkan PSP. “Gue menang, Yel! Gue menang!” “Ye, nggak bisa gitu, Bang! Curang lo! Curang! Gue berhasil di menit kedua lebih empat detik.” “Enak aja! Gue lebih dulu! Gue di menit pertama lebih lima puluh sembilan.” “Ah nggak adil!” Avriel berteriak sambil melemparkan bantal sofa-nya ke depan. Sialnya, bukannya mendarat mulus di wajah Eza, tetapi malah mengenai Azel yang tengah serius dengan buku tebalnya. Otomatis hal itu membuat kegarangan Azel muncul keluar. “Hehehe... Sorry, Bang!” Avriel tertawa sambil berlarian meninggalkan ruang tengah dengan segepok stick goreng. Eza menjerit begitu sadar toples stick goreng yang dibawanya dari rumah dirampas oleh Avriel. Ya ampun, makanan favorite buatan mamanya. Sekarang stick itu sudah dibawa lari maling. Baru saja Eza berpikir akan mengejarnya ketika Faza berteriak tepat di wajahnya dan menarik-nariknya menjauh. “Bentar Ja, please! Bentar aja, ikut gue! Gue butuh konsultasi sama yang ahli!” kali ini Faza menarik-narik Eza menuju lantai atas. Dan seperti mata-mata, otomatis membuat Ello dan Azel ikut mendongak ke atas. Mengikuti arah perhentian dua biang onar itu. Saking asyiknya mereka menguntit sampai tiba-tiba kepala mereka terantuk satu sama lain. “Aww!” Azel memekik. “Pa, lihat-lihat, dong! Kepala Acel sakit, nih!” gerutunya sambil berdecak. “Loh, kok kamu yang marah sih, Cel?! Harusnya kan Papa yang marah sama kamu!” Ello menutup korannya dan menggelengkan kepala “Sana kamu kejar mereka sebelum mereka bikin hancur kamar kamu lagi.” Azel mengedip. Oh, benar juga! Setelahnya dia berlari menyusul ke atas. *** Faza masih terus menarik Eza hingga keduanya sampai di depan pintu kamar Azel. Eza yang sejak tadi berteriak tak terima karena lagi-lagi diperlakukan seperti hewan peliharaan tak digubrisnya lagi. Sekarang Faza malah seenak jidat membuka kamar Azel dan menarik Eza ke dalamnya. Lalu menguncinya rapat-rapat. Hanya butuh beberapa detik sampai suara teriakan tak terima Azel pecah begitu saja. “Woy, lo berdua! Apa-apaan, nih?!” Azel menggedor-gedor pintu nyaring. “Kok dikunci segala, sih! Eh, buka dong!” Eza menepuk jidat frustasi. Matanya melirik pintu takut-takut. Sepertinya sebentar lagi si kecil itu akan mengamuk seperti serigala di hutan. Oh, ini semua gara-gara sikap tidak tahu malu Faza. “Dih, Fa, Acel udah ngamuk tuh!” “Lo berdua sebenernya ngapain, sih?” Azel kembali menggedor pintu. “Eh, Fa, baju lo basah plus kotor, jangan pernah sentuh barang gue di dalem sana! Ngerti?!” Faza menggaruk rambutnya. Mendekatkan mulut ke arah pintu. “Ah, berisik! Santai aja kali, Cel! Gue nggak bakal megang apapun. Kecuali—” Tiba-tiba Eza berteriak sambil menunjuk-nunjuk bagian bawah lantai. Di sana terdapat genangan bekas air hujan yang mengucur bebas dari celana Faza. Sekelilingnya pun terdapat jejak-jejak sepatu Faza yang kecoklatan oleh lumpur. Eza menahan nafas. “Kita dalam masalah, Fa! Om El bakal marah-marah lihat ini!” teriaknya masih sambil menunjuk genangan air hujan yang menetes di kamar Azel. Faza berdecak. “Ssstt... Ada yang lebih penting!” serunya sambil menyeret Eza semakin dalam memasuki kamar Azel. Begitu sibuknya dia sampai tidak sadar bekas injakannya kini sudah memenuhi setiap bagian kamar Azel. “Sebenernya apaan sih, Fa? Sumpah gue nggak ngerti!” Eza menyenderkan tubuhnya di samping meja belajar Azel. Kepalanya mendadak pening saat melihat bekas sepatu Faza melekat di setiap sudut kamar si kecil tanpa tahu malu. “Buruan ngomong dan tinggalkan kamar ini secepatnya.” Faza menarik Eza mendekat. Suaranya melirih seketika. “Ja, akhirnya gue dapat—first kiss!” Mulanya Eza tampak tak berminat. Tapi saat mendengar kata ‘first kiss’, Eza langsung menahan nafas. Seakan tak cukup bola matanya pun melotot. Seperti nyaris menggelinding ke luar. Oh, Godness! Faza! Berciuman?! Rasanya Eza hampir pingsan mendengarnya! “You kidding, me!” Eza berteriak kencang. Setelahnya dia menutup mulut rapat-rapat. Berusaha mengatur ritme suaranya agar lebih tenang. “Gue nggak nyangka, Fa. Ehm—Terus Melodi nggak nampar lo gitu?” Faza mendelik. “Melodi?! Siapa bilang gue ciuman sama Melodi?!” “Loh, bukan, ya? Terus siapa? Kalau bukan Melodi—” Eza memasang wajah berpikir keras. Detik selanjutnya dia tersenyum. Senyum biasanya yang amat sangat tengil dan sangat dibenci Mauren. “Tapi bagus, deh. Siapa tahu aja gue yang berhasil dapat ciumannya Melodi. Biar si Adry tahu rasa.” “Lo ngomong apa?! Eh, gue nggak dapat ciuman Melodi, bukan berarti lo boleh dapet ciumannya ya! Enak aja! Melodi terlarang buat lo! Jaga jarak sama Melodi! Lo ngerti nggak?” Eza menghembuskan nafas panjang dan melempar diri di atas ranjang Azel. Faza melakukan hal yang sama. Gaya mereka seperti ciwik-ciwik yang tengah terlibat pillow talk malam-malam. “Yeah, canda, Fa! Gue tahu Melodi black list gue. Keep calm, dong!” Eza mulai menidurkan diri di atas ranjang empuk Azel. “Jadi, siapa yang lo cium? Jangan bilang tembok. Please, gue nggak siap dengerin kengenesan lo.” “Sialan. Maksud lo apa gue ciuman sama tembok? Gue nggak ciuman sama tembok. Gue ciuman sama manusia. Gue ciuman sama Divi!” Eza nyaris terjungkal dari tidurannya jika saja dia tak segera berpegangan pada rak buku kesayangan Azel. Dari hampir belasan tahun hidupnya, baru kali ini Eza merasa ingin tuli. Sungguh, dia tak menyangka dengan pernyataan Faza barusan. Sebenarnya dari dulu Faza dan Divia memang lengket. Tapi, lengket dalam artian, Faza seperti anak buah Divia—yang setiap harinya diperbudak semena-mena oleh Divi kecil. Dan kegilaan ini entah mengapa mendadak sampai ke hubungan yang serius. Oke, bagi Eza ciuman bukan sesuatu yang serius. Tapi bagi Faza, oh ini pasti sangat serius! Dan kali ini Faza menarik-narik tangan Eza dengan mimik muka berbinar. “Ja, lo harus tahu first kiss itu sesuatu yang hebat. Gue nggak nyangka ciuman rasanya enak banget. Rasanya kayak ada yang meledak di hati gue. Tapi bukan ledakan nyeremin, sih. Kayak ledakan kembang api yang bikin lo bahagia nggak terkira. Gila, gimana cara gue mendeskripsikan ini?” “Fa, lo berlebihan banget. Ciuman nggak senyenengin itu. Malah kadang menjijikkan. Ewwh. Lagian lo kampungan banget, sih.” Faza tak menjawab. Eza langsung tertawa meremehkan. “Ups—sorry, gue lupa lo kan baru pertama kali ini ciuman. Jadinya ya gitu, deh.” “Eh, ngil, dengerin ya! Its fine, gue emang berlebihan dalam mendeskripsikan first kiss. Tapi, apa yang gue rasa saat itu beneran. Gue nggak mengada-ada sama sekali. Kayak tiba-tiba gue happy. Meskipun yah gue berharapnya bukan Divi sih yang tadi ada di hadapan gue. Maksud gue Mel—ehm... Lo tahu sendirilah siapa yang gue suka.” “Lah, terus kenapa lo cium Divi-nya?” Faza langsung memasang wajah berpikir. Benar juga. “Gue nggak ngerti. Tapi ini semacam magic gitu deh, Ja. Tiba-tiba ada sesuatu yang bikin gue tanpa sadar cium dia. Di tengah hujan deres, di bawah perlindungan payung. Dan gue arghhh—” Faza meraih bantal donald duck milik Azel dant memeuknya erat-erat. “Gue nggak ngerti kenapa gue jadi gila kayak gini.” “Yeah, harusnya lo sadar lo emang dari dulu gila, Fa.” Eza kembali diam. “Sebenernya, kalau boleh jujur, gue nggak pernah ngerasain ciuman yang kayak gitu. Ciuman biasa aja. Bahkan kadang nggak menarik.” Faza menyedekapkan tangan. Matanya menatap Eza penuh selidik. “Lo bilang begitu karena lo nggak cium mereka pake perasaan. Lo cium mereka karena mereka cuma mainan lo aja. Buat seneng-seneng lo semata. Coba deh, sekali-kali lo cium orang yang berbeda dan pake perasaan. Gue yakin lo bakal rasain yang meledak-ledak kayak gini.” Kalau tadi Eza masih mau mendengarkan, sekarang dia malah kesal. Tunggu, sebenarnya siapa tadi yang meminta konsultasi dengan para ahli? Kenapa mendadak Faza jadi malah sok menggurui begini, sih? Menyebalkan sekali! Bukannya harusnya dia yang menceramahi Faza! Kok malah jadi terbalik begini, sih! Bikin kesal saja! “By the way, Ja, astaga ranjangnya si kecil basah semua! Ya ampuuun.” Lalu detik selanjutnya suara teriakan Faza terdengar koor bersama dengan jerit frustasinya. *** Faza dan Eza masih menggerutu gara-gara kegarangan Azel kembali menelan korban jiwa. Seakan tak cukup, amarah Om tembok memperkeruh suasana. Seharusnya Eza sadar kalau Om-nya yang satu ini paling benci dengan hal-hal kotor. Semua ini gara-gara Faza yang tak punya malu. Gara-gara itu semua mereka dihukum Om tembok membersihkan dari ujung tangga bawah sampai mengganti seprei kamar Azel yang sudah tak berbentuk gara-gara genangan air yang dibawa Faza tadi. Sharyn hanya tertawa melihat wajah kusut para keponakannya. Disurungkannya dua cangkir teh hangat beserta brownies panggang untuk mereka. Dan tentu si biang kerok Eza tak pernah membiarkan makanan enak menunggu untuk dimangsa. Selagi masih panas makanan itu harus langsung ditelan. Kalau tidak rasa enaknya akan terkikis sedikit demi sedikit. Eza paling tidak suka hal itu terjadi. “Lain kali ganti baju dulu baru main-main ke atas.” Ello menggelengkan kepala. Faza memasang cengiran lebar. “Ya deh, Om. Fa minta maaf, ya. Abis tadi genting banget situasinya.” Azel mengangkat wajah dan tersenyum miring. “Situasi ngomongin ciuman pertama maksud kalian?” Faza nyaris saja menyemburkan teh panas di mulutnya ke rupa ganteng Azel. Untungnya tidak jadi gara-gara Eza langsung memberi kode untuk membekap mulut si kecil bersamaan. Lalu hanya terdengar deham-deham tidak jelas dari Ello. Beserta tatapan datarnya yang mengintimidasi mereka semua. Dan seperti biasa Faza hanya menanggapi dengan tawa tak jelas yang kadang membuat para pendengarnya jengkel. “Fa udah gede masih aja selalu bikin Tante gemes.” Sharyn menjawil pipi Faza dan tertawa. Maklum, dirinya selalu suka melihat Faza yang sudah tertawa dan menampilkan gigi rapihnya. “Tante jadi inget deh jaman kamu sama Jaja suka main tembak-tembakan pake pistol.” Ello berdeham-deham. “Oh, Om juga inget banget. Tapi yang paling Om inget pas Jaja dimarahin Om Rio gara-gara nakalin Aren.” Sontak Azel dan Faza terkikik. Avriel yang sibuk sendiri dengan game PS di ruang tengah mendengar dan ikut tertawa. Eza langsung memasang wajah datar ganteng ala-ala Erro yang biasanya muncul di tengah bad mood melanda. “Ya elah Om, yang jelek nggak usah diinget kali.” “Omong-omong, Ja.” Ello menyeruput tehnya sekilas dan kembali memasang wajah serius. “Kayaknya kamu masih ada masalah sama Om Rio, ya? Soalnya dari kemarin di rumah sakit  Om Rio terus ngomongin kamu.” Azel tertawa. “Bentar, deh. Ini ngomonginnya yang bagus-bagus apa gimana, Pa?” “Kayaknya Papa nggak perlu jelasin deh, Cel.” Sharyn menyambung dan terkikik membuat Ello mengangguk-angguk sambil tersenyum miring. Lagi-lagi Eza kembali memasang wajah bad mood. Yeah, Eza tidak akan pernah lupa kejadian menyebalkan tadi pagi saat di lampu merah. Ugh, Eza akan mengutuk si Om sampai hidupnya tak pernah tenang. Lihat saja nanti. “Ehm, ya gitu. Om El tahu sendirilah si Om sukanya suudzon sama Jaja. Padahal ya sumpah Jaja nggak pernah ngapa-ngapain Aren. Si Aren aja yang kadang nyebelin pengen Jaja tapok. Lagian Aren duluan yang sukanya mulai nyindir-nyindir Jaja. Makanya Jaja suka naik darah sama Aren.” “Hush... Kamu nih Ja sukanya nyalahin Aren.” Sharyn mengingatkan. “Yang salah itu kamu.”   “Kok Jaja sih, Tan? Semuanya aja sana belain Aren!” “Lebih baik kamu segera minta maaf sama Om Rio sebelum semua orang di Jakarta Medical kena imbasnya dan berbuntut ceramahan cara mendidik anak.” Lagi-lagi suara tawa Azel dan Faza terdengar. Eza menyumpahi dalam hati. Dia memainkan brownies-nya tanpa minat. “Terus Jaja harus minta maaf gimana? Jaja udah minta maaf dari kemarin tapi dikacangin sama si Om.” Ello tersenyum miring. “Om punya rahasianya. Sini Om bisikin sesuatu." Faza dan Azel mengernyit bingung sekaligus penasaran saat Ello dan Eza tengah berbisik-bisik ria. "Ngomongin apa, sih?" Azel menyipit tajam. Faza mengedikkan bahu masa bodoh. "Tahu deh." Kali ini tatapan Azel beralih pada Faza yang masih mengunyah brownies  sambil tersenyum ceria. Azel terdiam. Jika tadi dia penasaran dengan pembicaraan Ello dan Eza, sekarang dia malah tertarik dengan yang satu ini. "By the way, emang lo ciuman sama siapa, Fa? Gue yakin bukan Melodi. Pasti orang lain." Dan saat itulah Faza menyemburkan seluruh  brownies  di mulutnya. Oh, tebakannya selalu tepat sasaran! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD