Pagi ini, ada rencana besar yang sedang dalam agenda Mark. Setelah mendapati istrinya bersama pria lain, Mark ingin dia mengetahui sendiri siapa orang yang sedang sibuk di kantor ayah mertuanya.
Mark melangkah masuk ke kantor ayah mertuanya dengan aura yang mampu menurunkan suhu ruangan.
Ia datang bukan sekadar untuk memantau bisnis, melainkan untuk memastikan ada "hama" yang selalu mengusik ketenangannya benar-benar ada di sana.
Benar saja, di ruang rapat kecil yang bersekat kaca, Mark melihat sosok itu. Ardi.
Sosok yang selama ini selalu saja membuatnya tak tenang padahal ia teja memiliki cinta dan hati istrinya.
Pria itu tampak sedang sibuk memeriksa beberapa berkas proyek bersama asisten ayah mertuanya.
Ayah mertuanya tentu saja tak ada disini, sedang di rumah sakit dan mengurus ibu mertuanya.
Saat ini, tampilan Ardi terlihat lebih dewasa dengan setelan yang rapi, namun status "duda" yang kini disandangnya membuat Mark merasa pria itu adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Bagi Mark, seorang pria yang pernah memiliki hati Erlita dan kini kembali bebas adalah pemandangan yang memuakkan.
Saat Mark berjalan melewati ruang itu, Ardi mendongak. Mata mereka bertemu. Ardi tampak terkejut sejenak, namun ia tetap bersikap sopan.
Ia mengangguk kecil sebagai tanda hormat pada suami dari wanita yang pernah dicintainya.
"Selamat siang, Pak Mark," sapa Ardi dengan nada tenang.
Mark berhenti melangkah. Ia tidak membalas sapaan itu. Ia tetap diam membisu, berdiri tegak dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana mahalnya.
Namun, tatapan matanya bekerja lebih tajam dari kata-kata. Mark memicingkan mata, menatap Ardi dengan pandangan menghina dan penuh intimidasi—seolah sedang melihat sesuatu yang kotor di bawah sepatunya.
Ardi tampak biasa saja tanpa memiliki perasaan apapun atau pikiran tentang pandangan Mark padanya.
Ia tetap bekerja dengan baik tanpa merasa terganggu. Dan kehadiran Mark tidak lagi menjadi beban tersendiri karena ia telah melupakan rasa cinta pada Erlita yang ketika pernah bertemu, Erlita tampak biasa saja dan tidak menyapanya.
Keheningan yang diciptakan Mark terasa begitu berat hingga asisten di sekitar mereka mulai merasa canggung dan membuang muka.
Mark sengaja tidak bicara sepatah kata pun; baginya, Ardi bahkan tidak layak untuk mendapatkan suaranya.
Mark memiliki pemikiran yang angkuh pada mantan kekasih istrinya itu.
Rahang Mark mengeras saat melihat Ardi masih bekerja di lingkaran keluarga istrinya.
Ia teringat tanda-tanda merah yang ia tinggalkan di tubuh Erlita pagi tadi. Sebuah kepuasan gelap muncul di benaknya—berpikir bahwa sekaya apa pun Ardi atau sedalam apa pun kenangan mereka dulu, saat ini Erlita sedang terkurung di ranjangnya, menanggung tanda kepemilikan penuh darinya.
Setelah hampir satu menit melakukan intimidasi lewat tatapan tanpa suara, Mark mendengus tipis—hampir tak terdengar—lalu berbalik pergi menuju ruangan ayah mertuanya tanpa menoleh lagi.
Di dalam kepalanya, Mark sudah merencanakan sesuatu, Ardi tidak boleh selamanya berada di dekat keluarga istrinya.
Ia akan menggunakan kekuasaannya untuk memutus rantai itu, sehalus atau sekasar apapun caranya.
**
Beberapa hari kemudian, tanda-tanda di leher Erlita mulai memudar meskipun masih menyisakan rona tipis yang ia tutupi dengan syal sutra.
Erlita merasa senang dan bisa mendapatkan kebebasannya, ia ingin menjenguk ibunya dan berharap tidak ada larangan untuknya pergi.
Mark memang akhirnya mengijinkan Erlita keluar rumah, namun dengan satu syarat, ia harus berada di bawah pengawasan Mark sepenuhnya.
Mark mengirim Tom untuk mengawasinya dan ikut kemanapun dia pergi selama Mark tidak menemani.
Dan hari ini, Mark kebetulan memiliki waktu sehingga bisa pergi bersama Erlita. Dan Erlita sudah menyiapkan semuanya sejak pagi. Ia memasak sendiri masakan yang akan dimakan ibunya.
Mark bahkan juga membantunya, meski kadang membuat Erlita jengkel karena Mark sangat ceroboh.
Setelah satu jam bersiap, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Mark menggenggam erat tangan Erlita dan tidak pernah membiarkan istrinya berjalan sendirian.
Di kamar VVIP rumah sakit, suasana tampak tenang. Bu Yesi masih terlelap, sementara Tuan Jamaludin duduk di sofa pojok ruangan.
Erlita sibuk merapikan buah-buahan, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa canggung yang menghimpit.
Selama beberapa hari, ia tidak menjenguk ibunya karena ulah Mark. Dan Ayahnya mungkin saja tahu dengan kekerasan hati menantunya sehingga tak pernah bertanya kenapa baru datang sekarang.
Mark berdiri di dekat jendela bersama Tuan Jamaludin. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun penuh dengan tujuan yang mematikan.
"Yah, apa Ardi masih dipercaya di bagian keuangan?”
“Masih, dia cukup baik dalam hal mengurus keuangan,” jawab Jamaludin sambil memandangi kupu-kupu yang terbang ke atas bunga mawar.
“Aku hanya ingin Ayah berhati-hati," ucap Mark sambil melirik sekilas ke arah pasien yang baru datang di luar kaca ruang rawat.
Jamaludin menoleh pada menantunya.
“Memang ada apa, Mark?”
Mark tersenyum tipis. Ia melirik ke arah ibu mertuanya yang sedang bersama istrinya.
“Ada hal yang harus Ayah pertimbangkan lagi,”
Mark mencoba membuat suasana menjadi tegang agar ayah mertuanya berpikir. Dan Jamaludin memang akhirnya berpikir keras.