Tanda Merah Sepanjang Leher

805 Words
Mark masih saja menekan tubuhnya yang kecil. Erlita tahu ia salah tapi setidaknya suaminya harus tahu kalau saat itu dia tengah kebingungan. “Mas, kamu terlalu, ahhh ….” Mark terus mengecupnya, terus menerus membuat napas Erlita sedikit sesak. Tubuh suaminya yang kekar hampir menutupi seluruh tubuhnya yang polos. "Sekarang, tidak akan ada yang mau melihatmu," desis Mark di telinga Erlita sambil terus memberikan kecupan kasar yang meninggalkan rasa panas dan perih. Tangan Mark yang lebar meraba setiap lekuk tubuh polos istrinya dengan d******i yang menghimpit. Hujaman demi hujaman yang ia berikan terasa semakin intens, sinkron dengan napasnya yang memburu. Di tengah tangis lirih Erlita, Mark justru merasa senang. Baginya, rasa sakit dan tanda yang ia tinggalkan adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa jiwa dan raga Erlita tetap terpenjara dalam genggamannya. Ia memang melakukan ini agar Erlita tahu bahwa ia tidak pernah main-main jika melarang sesuatu. ** Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang menembus celah gorden, kamarnya terasa hangat dengan suhu yang tidak terlalu dingin. Meski tampak cerah dan juga hangat, namun bagi Erlita, hari itu terasa lebih gelap dari malam sebelumnya. Tubuhnya terasa remuk, setiap sendinya seolah dipaksa bekerja melampaui batas. Saat ia mencoba bangkit, rasa perih di kulit leher dan dadanya langsung menyapa, mengingatkan pada setiap sentuhan kasar Mark semalam. Erlita melangkah perlahan menuju cermin besar di sudut kamar. Begitu ia menurunkan kerah jubah mandinya, ia tersentak. Napasnya tertahan di tenggorokan. “Ya ampun, mengerikan, suamiku benar-benar keterlaluan,” keluhnya kesal. Di pantulan cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Leher jenjang yang biasanya bersih itu kini dipenuhi bercak ungu kemerahan yang tumpang tindih. Tanda itu menyebar dari bawah telinga, turun ke tulang selangka, hingga memenuhi bagian atas dadanya. Mark tidak menyisakan ruang kosong, suaminya benar-benar egois. Hanya karena ia kedapatan mengobrol dengan pria lain ia dianggap selingkuh dan berpaling dari pria itu. Mark sengaja menghancurkan keindahan kulitnya dengan tanda merah yang brutal. "Astaga, ya ampun gimana ini nutupinnya ..." bisik Erlita lirih. Air matanya kembali jatuh. Ia menyentuh salah satu tanda yang paling gelap di dekat urat lehernya. Rasanya masih panas. Mark benar-benar melakukannya dengan sengaja. Pria itu tahu persis bahwa hari ini Erlita berencana kembali ke rumah sakit untuk menemui ibunya. Tapi dengan tanda sebanyak ini, mustahil bagi Erlita untuk keluar rumah tanpa mengundang tatapan penuh tanya dan hinaan dari orang-orang. Bahkan syal paling tebal pun mungkin tak akan mampu menutupi semuanya hingga ke rahang. Ia sangat kesal, benci sekaligus marah. Suaminya hanya ingin dia dirumah saja tanpa melakukan apapun, padahal ibunya sedang dalam keadaan kritis. Erlita meraih ponselnya, hendak menghubungi ayahnya untuk menanyakan kabar sang ibu, namun pintu kamar terbuka. Mark masuk dengan setelan jas yang sudah rapi, tampak segar dan berwibawa, seolah badai yang ia ciptakan semalam tidak pernah terjadi. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Erlita, menatap pantulan istrinya yang hancur di cermin. Tangannya yang besar mendarat di bahu Erlita, mengusap pelan kulit yang memar itu dengan ibu jarinya. "Kenapa menangis?" tanya Mark dengan nada datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Erlita hanya diam tanpa menatap Mark, ia kesal sangat kesal dan ingin pergi jauh jika memungkinkan. “Aku harus pergi, tapi …” "Bukankah kamu bilang ingin istirahat di rumah?" "Mas... aku harus menjenguk Ibu," suara Erlita bergetar. "Tapi bagaimana aku bisa pergi dengan kondisi seperti ini? Semua orang akan melihatnya." Mark menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang dingin. Ia menunduk, membisikkan kata-kata yang mengunci kebebasan Erlita. "Memang itu tujuannya, Sayang. Tetaplah di sini, di kamarmu. Aku sudah mengirimkan perawat terbaik untuk Ibumu, jadi tidak perlu repot-repot keluar dan bertemu dengan 'pria-pria baik hati' yang suka menolong mu itu." Mark mencium puncak kepala Erlita, lalu berbalik pergi dan mengunci pintu dari luar, meninggalkan Erlita dalam kesunyian yang mencekam bersama bayangannya sendiri di cermin. Erlita hanya bisa diam, tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia bukannya tak mau melawan tapi Mark berkuasa segalanya. Suara Abian terdengar tertawa cekikikan, ia tengah bermain bersama Mbok Imah. Untungnya Abian tidak rewel. Ia membuka jendela kamar dan melihat suaminya masuk ke mobil. Pria itu tak pernah gagal membuatnya tak berdaya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ayahnya yang menelpon dan mengatakan kalau keadaan ibunya kini sudah mulai membaik dan baru saja makan. "Er, ada Nak Ardi datang, dia membawa makanan kesukaan ibumu. Anak itu benar-benar sangat tahu makanan yang sering ibumu makan di restoran Siang Malam," ucap Ayahnya di sela pembicaraan Erlita merasa sedih. Ardi ... Pria itu telah menjadi duda semenjak pernikahannya gagal dalam jarak beberapa bulan setelah ia melahirkan Abian. Tak berapa lama, hujan turun dengan deras, ia menatap di kejauhan. Angin semerbak masuk memalui pintu balkon kamar. Ia mematikan AC kamar dan membuka pintu balkon lebar-lebar agar bisa merasakan nikmatnya udara luar. Ia duduk bersimpuh dan mengusap air matanya. Teringat dalam ingatannya bagaimana Mark suaminya itu selalu cemburu ketika ia bertemu pria lain bahkan walau ketika ia berbicara pada Tom sekalipun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD