Suasana begitu tegang. Erlita tahu Mark suaminya sedang tak ingin berbicara banyak.
Tapi ia harus menunggui ibunya, dokter belum keluar memberikan hasilnya. Mark melirik Erlita lalu berdehem, Erlita mendongak, ia tersadar dari lamunannya.
"Ayah, aku harus membawa Erlita pulang sekarang," ujar Mark dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"Ada hal penting yang harus kami selesaikan di rumah. Di sini sudah ada suster dan asistenku yang akan menyusul untuk menjaga Ayah dan Ibu."
Ayah mertuanya tampak ragu. "Tapi, Mark... Erlita pasti ingin melihat Ibunya dulu sampai masuk ke kamar—"
"Erlita sudah lelah, Yah," potong Mark cepat, suaranya rendah namun tajam.
Matanya melirik Erlita dengan tatapan yang seolah merantai wanita itu di tempat. "Dia butuh istirahat. Aku tidak ingin dia jatuh sakit juga."
Erlita ingin membantah. Ia ingin memohon untuk tetap disana sampai ibunya sadar. Namun, saat melihat tatapan Mark yang gelap dan rahangnya yang terkatup rapat, kata-katanya tertelan kembali di kerongkongan.
Ia tahu, jika ia melawan di depan ayahnya, keadaan akan menjadi jauh lebih buruk.
"Yah... Erlita pulang dulu ya," bisik Erlita lirih sambil menyalami tangan ayahnya.
Matanya yang indah tampak berkaca-kaca, memancarkan pesona kesedihan yang justru semakin memicu sisi posesif Mark.
Mark tidak menunggu lama. Ia langsung menggenggam pergelangan tangan Erlita—tidak cukup keras untuk menyakiti, namun cukup kuat untuk menunjukkan bahwa wanita itu tidak punya pilihan lain.
"Kami permisi, Yah," pamit Mark.
Ia menuntun, atau lebih tepatnya menyeret lembut Erlita menjauh dari koridor itu.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Mark tetap membisu. Keheningan itu terasa lebih mencekam daripada suara sirine ambulans yang bersahutan.
Ia bahkan tidak melepaskan genggamannya sampai mereka tiba di depan pintu mobil.
**
Suasana di dalam mobil tadi terasa begitu mencekam, seolah oksigen di sana telah habis terbakar oleh kemarahan Mark yang tak terucap.
Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam rumah, Mark tidak memberikan ruang bagi Erlita untuk sekadar menarik napas.
"Masuk ke kamar. Jangan berani mendekati Abian atau melalukan apapun di rumah ini," perintah Mark dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.
Kalimat itu adalah titah mutlak yang tak bisa dibantah.
Erlita hanya bisa menunduk, melangkah cepat menuju kamar mereka dengan jantung yang berdegup kencang.
Begitu pintu tertutup dan terkunci, Mark langsung membuka kancing kemejanya dengan gerakan kasar, melempar kain mahal itu ke sembarang arah.
Matanya yang gelap menatap Erlita seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat.
Tanpa peringatan, Mark mendekat dan mulai melucuti pakaian Erlita.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Erlita dengan suara bergetar, mencoba menahan tangan suaminya.
Mark tidak menjawab. Kebisuannya jauh lebih menyiksa daripada makian. Ia justru mendorong tubuh Erlita masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan dingin.
Dalam satu gerakan cepat, Mark menyalakan shower. Air dingin seketika mengguyur tubuh mereka berdua, membasahi kain yang masih tersisa dan kulit mereka yang mulai bersentuhan.
Di bawah kucuran air, wajah Mark tampak semakin mengeras. Mark tidak peduli pada rasa dingin, yang ia rasakan hanyalah api cemburu yang membakar d**a karena melihat istrinya bersama pria lain tadi.
Ia mencengkeram pinggang Erlita, memutar tubuh wanita itu dan menekannya ke dinding porselen yang dingin.
“Ah, Mas, pelan, Mas,”
Mark mulai menggauli istrinya dengan kasar, seolah ingin menghapus setiap jejak dunia luar dari tubuh Erlita.
Erlita menangis, air matanya menyatu dengan kucuran air shower. Rasa sakit dan sesak di dadanya tumpah, namun Mark seolah tuli.
Pria itu terus menindih tubuh rapuh istrinya, melakukan gerakan-gerakan eksotis yang intim namun penuh dengan d******i amarah.
Setiap hujaman yang ia berikan terasa begitu keras dan menuntut, seolah ia sedang menanamkan tanda kepemilikan yang tak akan bisa dihapus oleh siapapun
Dalam diamnya yang mematikan, Mark sedang berteriak bahwa Erlita adalah miliknya, dan hanya miliknya seorang.
“Mas, ahh … kamu kenapa sih, aku … mpphh …”
Erlita tak kuasa menangis dan tak mengerti tapi ia tahu suaminya cemburu melihatnya bersama pria lain, bersama teman SMA nya dulu.
**
Di bawah guyuran air shower yang menderu, Mark seolah kehilangan sisi kemanusiaannya.
Mark tidak membiarkan satu inci pun kulit istrinya luput dari pengawasannya. Matanya yang gelap menatap lekat-lekat bahu mungil Erlita yang bergetar.
Dengan kasar, ia menarik dagu Erlita, memaksa wanita itu menatap matanya yang dipenuhi kabut obsesi.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu saat bersama pria itu?" bisik Mark, suaranya serak dan berbahaya, menjadi kata-kata pertama yang meluncur sejak mereka pulang.
Tanpa menunggu jawaban, Mark membenamkan wajahnya di lekuk leher Erlita.
Bukannya kecupan lembut yang mendarat, melainkan hisapan kuat dan gigitan kecil yang menuntut.
Mark sengaja melakukannya. Ia ingin menandai tubuh istrinya. Ia ingin setiap orang yang berani memandang istrinya tahu bahwa wanita ini telah dimilikinya secara utuh.
Erlita merintih, tangannya mencengkeram lengan kekar Mark, mencoba mendorongnya namun sia-sia.
Mark justru semakin menjadi-jadi. Ia berpindah ke area d**a bagian atas, meninggalkan bercak-bercak kemerahan yang kontras di atas kulit putih bersih istrinya.
Mark meninggalkan jejak-jejak keunguan yang nyata di tempat-tempat yang paling sulit disembunyikan—tepat di sepanjang garis leher hingga tulang selangka.
Setiap tanda yang ia buat adalah bentuk hukuman sekaligus benteng yang ia bangun.
Dengan tanda-tanda mencolok itu, Erlita tidak akan punya pilihan selain mengurung diri di dalam rumah.
Mark ingin istrinya merasa malu, ingin harga diri wanita itu runtuh sehingga ia tak akan berani menatap dunia, apalagi menatap pria lain.