Erlita mengecek isi tasnya. Ia jarang memegang uang tunai dalam jumlah besar karena segala kebutuhannya selalu dipenuhi secara langsung oleh asisten Mark.
Ia tak pernah mengurus apapun karena suaminya selalu menyelesaikan dengan baik urusan rumah dan keuangan.
Erlita berdiri mematung di tengah lorong yang ramai, merasa kecil dan tidak berdaya.
Di saat itulah, seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja biru yang lengannya digulung menghampirinya.
"Erlita? Kamu Erlita, kan?"
Erlita menoleh pada sumber suara yang memanggilnya, matanya yang berkaca-kaca menatap pria itu dengan bingung.
Wajahnya tampak ia kenal, tapi ingatannya terlalu tumpul karena rasa cemas.
Pria itu berbinar menatapnya, penuh dengan rasa kagum bercampur senang.
"Erlita, kamu lupa? Aku Yugo, teman SMA-mu. Kamu sedang apa di sini? Kamu kelihatan pucat sekali," tanya pria bernama Yugo itu.
Yugo, pria berusia 25 tahun itu seorang arsitek yang sedang mengurus berkas kesehatan proyeknya di rumah sakit itu.
“Yugo? Ya ampun, maaf, aku sedang pusing memikirkan … I-ibu... Ibuku masuk IGD, dan aku harus ke administrasi tapi..."
Erlita menggantung kalimatnya, merasa malu harus mengakui ia tidak memegang akses keuangan sendiri.
"Butuh bantuan? Ayo, aku temani ke bagian administrasi. Kalau ada yang macet, mungkin aku bisa bantu bicara," tawar Yugo dengan tulus, melihat betapa bingungnya wanita di depannya.
Erlita, yang merasa seperti orang tenggelam, hanya bisa mengangguk pelan.
Ia tidak sadar betapa "berbahaya" posisinya saat ini, berdiri berdampingan dengan pria lain, sementara di ujung lorong, sosok pria dengan aura gelap baru saja melangkah masuk.
Pria itu tentu saja Mark yang sedang memastikan apakah istrinya benar-benar berada di rumah sakit atau tidak.
Dan kini … Mark berdiri di sana. Matanya langsung menangkap sosok istrinya yang tampil sederhana namun tetap begitu memikat, sedang menatap pria asing dengan tatapan memohon.
Bagi Mark tatapan itu begitu menjijikkan dan ia sama sekali tidak ingin istrinya bertemu pria lain yang akan mengubah pola pikirnya dalam mencintainya.
Mark memang mendapatkan hati Erlita dengan cara yang salah.
Itulah sebabnya ia tak mau istrinya bertemu orang asing apalagi pria lain yang akan membuat semuanya berbeda.
Erlita, wanita yang lugu dan berhasil ia taklukan dulu dengan cara yang curang dan merebut semuanya dari kekasihnya.
Tapi kini Erlita telah mengabdikan dirinya padanya. Mencintainya dengan sepenuh hati.
Tapi itu tidak cukup, ia butuh lebih dan istrinya tak boleh bertemu orang lain yang akan mengubah cara pandangnya terhadap cinta sejati.
**
Darah Mark mendidih. Ia tidak peduli siapa pria itu. Baginya, pemandangan itu adalah bukti bahwa istrinya memang sedang mencari "perlindungan" dari pria lain di belakangnya.
Mark berdiri di balik pilar besar, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Erlita dari kejauhan.
Rahangnya mengeras saat melihat istrinya itu tampak begitu akrab berbicara dengan seorang pria asing di depan meja administrasi.
Dalam hati, Mark bertanya-tanya dengan penuh amarah. ‘Di mana ayah mertuaku? Kenapa dia membiarkan Erlita mengurus ini sendirian hingga harus dibantu pria lain?’
Mark sengaja menahan diri. Ia tidak ingin membuat keributan di depan umum, namun kecemburuannya sudah berada di titik didih.
Ia ingin melihat sejauh mana "permainan" istrinya ini akan berjalan.
Tiba-tiba, seorang perawat mendekati pria yang bersama Erlita.
"Pak Yugo? Ini resep dan obatnya sudah siap di apotik, silakan diambil."
Pria itu menoleh pada Erlita. "Erlita, aku ambil obat sebentar ya, setelah itu aku bantu urus pembayaran ibumu."
Erlita hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya masih sangat pucat. Begitu pria itu melangkah menjauh, sebuah bayangan besar menyelimuti tubuh Erlita.
Tiba-tiba aroma parfum woody yang sangat ia kenal—aroma yang biasanya menenangkan namun kini terasa mencekam—menusuk indra penciumannya.
Erlita menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak. "Mas, Mas Mark?"
Mark tidak menyahut. Ia bahkan tidak menatap mata Erlita. Wajahnya sedingin es, kaku tanpa ekspresi.
Tanpa sepatah kata pun, Mark maju ke depan loket administrasi. Ia mengeluarkan kartu hitamnya dan memberikannya kepada petugas dengan gerakan yang tenang namun tegas.
"Bayar seluruh uang muka dan pastikan pasien mendapatkan kamar VVIP terbaik," ucap Mark singkat.
Suaranya rendah, namun penuh ketegasan yang membuat petugas administrasi itu gugup.
Erlita mematung. Tangannya yang dingin saling bertaut. "Mas, a-aku bisa jelaskan... Tadi Ibu tiba-tiba pingsan dan aku—"
Mark masih diam. Setelah menandatangani slip pembayaran, ia mengambil kembali kartunya.
Ia berbalik, melewati Erlita begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, seolah istrinya itu hanyalah udara kosong.
Keheningan Mark jauh lebih menakutkan daripada bentakan. Mark melangkah menuju ruang tunggu dengan langkah berat, meninggalkan Erlita yang berdiri gemetar di koridor rumah sakit.
Dan Erlita, dia menyadari bahwa masalah besar akan menantinya saat mereka sampai di rumah nanti.
Jantungnya berdegup kencang, ia gugup tapi juga gelisah. Kesalahan ada padanya tapi dia benar-benar gugup saat tahu ibunya masuk rumah sakit.
**
Mark melangkah menuju ruang tunggu IGD dengan langkah tegap yang menggema di koridor.
Di sana, ayah Erlita duduk dengan bahu merosot, tampak jauh lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.
Kesedihan di wajah orang tua itu sempat membuat amarah Mark tertahan sejenak, namun bayangan Erlita bersama pria lain tadi kembali memanaskan darahnya.
Ayah mertuanya mendongak, terkejut melihat menantunya sudah ada di sana.
"Mark? Kamu sudah sampai? Maaf, ayah tidak sempat mengabari kamu, semua terjadi begitu cepat..."
Mark mengangguk singkat, sikapnya tetap formal namun terasa dingin. "Aku sudah mengurus semua administrasinya, Yah. Ibu akan dipindahkan ke paviliun VVIP sebentar lagi. Segala keperluan medis sudah aku tanggung."
"Terima kasih, Mark. Ayah benar-benar bingung tadi," ucap sang ayah dengan tulus.
Mark tidak tersenyum. Ia menoleh ke arah Erlita yang berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya, wajah istrinya itu masih pucat pasi.