LIMA

2166 Words
Hanya satu hari saja Stella menginap di rumah sakit karena hari selanjutnya dia sudah minta pulang dan melanjutkan istirahatnya diapartemennya saja. Beruntung dokter dan Evan menyetujuinya permintaannya itu, jadi Stella tidak perlu berlama-lama lagi disana. Buat Stella selama ini rumah sakit bukanlah tempat pemulihan yang cocok untuk orang-orang seperti dia. "Lo yakin kalau nggak ada lagi barang-barang yang tertinggal?" Kinara bertanya sambil memasukkan sebagian barang Stella ke tas kecil milik Stella. "Iya hanya itu kok. Kan gue hanya sehari doang nginap disini." Jawabnya Stella juga membantu Kinara menyusun barangnya. Meski temannya sudah bilang agar Stella tidak usah ikut mengerjakannya, tetap saja dia melakukannya karena dia sangat tidak enakan orangnya. Buat Stella, walaupun mereka dekat itu bukan berarti Stella bisa merepotkan Kinara terus menerus. Temannya itu sudah cukup baik kepadanya selama ini, jadi sebisanya Stella tidak ingin merepotkan Kinara lagi. "Oh iya Stell, semua barang-barang lo ini pasti baru dibeli semuakan?" Ujar Kinara saat dilihatnya ada beberapa barang yang label harganya masih menempel disana. Stella melihat barang yang dimaksud Kinara, lalu mengangguk karena memang itulah kenyataannya. "Iya. Kemarin kak Evan membeli semua itu buat gue karena dia nggak bisa nemuin kunci apartemen gue." Sebenarnya Kinara ingin mengomel ke Stella karena dengan keras kepalanya minta pulang pagi ini juga dari rumah sakit. Padahal Evan sudah janji akan menjemput dan mengantarnya pulang keapartemennya nanti sore. Tapi karena Kinara tau pemikiran temannya itu tentang rumah sakit, dia menahan omelannya itu. "Oh iya Stell, kata pak Evan semua biaya rumah sakit sudah diselesaikan dengan asuransi kantor. Jadi kamu nggak perlu lagi melakukan pembayaran lagi." "Iya udah tau kok." Kata Stella setelah mengangguk mengerti. Lalu Stella menghembuskan napasnya lega. Bukan lega karena biaya perawatannya sudah dibayar, tapi karena dia sudah menyelesaikan semua barang-barangnya yang akan dia bawa pulang. Biaya bukanlah suatu hal yang pernah Stella khawatirkan dalam hidupnya karena dia sendiri besar di keluarga yang berkecukupan. Merasa tidak ada lagi yang tinggal disana, Stella dan Kinara langsung bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Mereka harus segera bergegas karena Kinara hanya ijin sampai makan siang saja tadi dari kantor mereka. Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Kinara dan Stella tidak bicara sama sekali. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Stella mengeluarkan suaranya untuk memulai pembicaraan diantara mereka. "Ra, gue boleh tau nggak apa pendapat lo tentang pak Evan?" Stella tau kalau ini terdengar sangat tiba-tiba, tapi dia memang penasaran akan hal itu. Dia ingin tau apakah yang dipikirkannya sama dengan apa yang dipikirkan oleh Kinara. Kinara tidak langsung menjawabnya, namun Stella tetap sabar menunggu karena dia tau kalau temannya itu akan memberikannya jawaban. "Kalau lo nanya dia sebagai pimpinan menurut gue dia pimpinan yang sangat hebat. Lo pasti pernah dengar cerita bagaimana dia, pak Arkan, pak Narendra dan pak Raka membuat Greenleaf dari perusahaan kecil menjadi perusahaan sebesar itu. Kalau jadi pimpinan tim? Gue kurang tau karena lo tau sendiri gue belum pernah bekerja disatu tim dengan dia." Jawab Kinara akhirnya setelah beberapa saat dia membiarkan Stella menunggu. Tapi jawabannya itu belum semuanya karena dia harus mencari tempat yang cocok untuk bicara dulu sebelum melanjutkannya. Karena lanjutan dari jawabannya inilah sebenarnya yang dia tau pasti sangat diinginkan oleh Stella darinya. "Dan kalau lo nanya pak Evan sebagai pria, gue juga nggak tau karena menurut gue dia tipe orang yang bisa kamu tau hanya karena mengenal dan dekat dengannya." Jelas Kinara sambil melajukan mobilnya lagi. "Lo sendiri Stell apa pendapat lo tentang pak Evan?" Kinara melanjutkan perkataannya dengan pertanyaan. Stella tidak langsung menjawab, dia mengambil waktu untuk berpikir seperti yang dilakukan Kinara tadi. "Gue nggak tau Ra," jawab Stella kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil Kinara dan memejamkan matanya. "Tapi satu hal yang gue rasain saat ini buat kak Evan, gue takut jatuh cinta kedia." Tambah Stella dengan nada yang begitu lirih. >>>O KINARA Stell, kita udah di bawah nih. Lo nggak tidur kan? Kita bawa bayak makanan buat lo. Isi pesan dari Kinara di WA Stella membuatnya segera bangun dari tidurnya dan bersiap menyambut ketiga temannya itu. Dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa bosan dan kesepian yang dia rasakan seharian ini. Karena sekuat apapun volume suara TV dia hidupkan, perasaan itu tidak bisa dihilangkannya begitu saja. "Hi Stell, gimana keadaan lo? Udah baikan kan?" Vita menyapa dan memeluk Stella begitu dia membuka pintu apartemennya untuk ketiga temannya itu. Stella tersenyum dan mengangguk kecil. "Udah dong. Makanya gue tadi pagi minta diantar pulang ama Kinara." Jawabnya kemudian menggeser tubuhnya ke samping agar Vita, Kinara dan Paula bisa masuk. "Kita beli banyak makanan, minuman ama buah kesukaan lo karena kita mau ngerayain kepulangan lo dari rumah sakit." Kata Paula sambil menunjukkan makanan yang mereka beli sebelum datang kesini ke rumah Stella tadi. Stella akan ke dapur untuk mengambilkan tempat makanan yang dibawa teman-temannya, namun dihentikan Paula yang sudah berdiri dari duduknya. "Nggak usah bangun Stell, kita ngelayanin diri kita sendiri. Lo nya juga belum sepenuhnya pulihkan." Kata Paula tersenyum. "Tapi elo emang tau dimana letak barang-barang gue?" "Biar gue yang nunjukin. Ayo La," ajak Kinara meninggalkan Stella dan Vita yang sudah mulai membuka bungkusan makanan yang mereka beli dari resto favorite Stella. Menunggu Paula dan Kinara kembali dari dapur, Stella dan Vita membicarakan banyak hal karena keduanya memang memiliki hobby dan selera yang sama. Sekedar informasi saja sebenarnya Stella itu dekat juga dengan Vita dan Paula. Hanya saja mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Kalau Vita sibuk dengan pacar-pacarnya, Paula sibuk tunangannya. Nah berhubung hanya Kinara dan Stella yang masih bebas, makanya keduanya jadi lebih sering bersama dan mungkin lebih dekat. "Oh iya Stell, lo mau dengar berita hot yang bakal beredar di Greenleaf nggak Stell?" Vita membuka gosip diantara mereka dengan wajah berbinar. "Berita hot apa?" Tanya Stella benar-benar terlihat penasaran. "Emang ada berita apa Vit?" Paula yang baru kembali dari dapur yang bertanya. Wajah Vita semakin berbinar karena semakin banyak orang yang tertarik dengan info yang mungkin hanya dia sendiri dari karyawan Greenleaf yang tau. "Kalian tau, untuk Greenleaf Pritzker tahun ini gosipnya akan dinilai dan dihadiri oleh seluruh pendiri Greenleaf?" Dengan kompak Stella, Kinara dan Paula melihat Vita dengan berbagai reaksi yang berbeda-beda. "Itu artinya kompetisi untuk GLP tahun ini lebih berat karena setau gue keempat orang itu tipe perfeksionis." Ujar Kinara lemas. Dia sudah merasa kalah hanya dengan mendengar berita itu saja. Melihat reaksi teman-temannya itu, jelas Vita kesal karena bukan seperti itu reaksi yang dia inginkan. "Iiihhhh... lo bertiga kok reaksinya malah gitu sih?" Rengek Vita. Paula mencibir, "Emang lo berharap kita bereaksi gimana?" Katanya lalu sibuk menyuapkan makanan kemulutnya. Dengan bibir mengkerucut Vita menyandarkan tubuhnya di sofa Stella. "Ya harusnya lo bertiga kepo kek, kok bisa gitu semua pendiri Greenleaf hadir. Padahal lo pasti pernah dengar kalau pak Raka ama pak Narendra itu biasanya selalu melewatkan acara-acara penting kantor kita. Kalau pak Narendra gue ngerti karena dia memang jauh banget di Paris sana. Lah kalau pak Raka? Hanya Jepang cuy yang bisa ditempuh beberapa jam aja." Vita lalu menegakkan tubuhnya dan menatap ketiga temannya yang kini sudah fokus lagi ke dia, meski tidak seantusias tadi. "Dan itu bukan baru beberapa tahun belakangan ini aja, tapi itu sudah sejak 4 tahun yang lalu." "Mungkin pak Raka sibuk ama Greenleaf Jepang," balas Stella sebenarnya tidak begitu yakin. Kali ini Vita yang mencibir, menganggap Stella terlalu naif karena siapapun tau pasti ada yang salah makanya salah satu pendiri Greenleaf itu tidak pernah datang ke induk perusahaan. "Nggak mungkin karena sibuk gue yakin kalau bapak itu memang bermasalah." Vita ngotot. "Nahlah kok lo yang ngotot? Lagian kenapa bisa dah lo seyakin itu kalau pak Raka emang bermasalah?" Paula tidak habis pikir Vita bisa sengotot itu soal pemikirannya. Menopangkan dagunya, dia melihat teman-temannya dengan ragu dan takut kalau info yang dia dapat ini tidak benar. Sayangnya dia sudah terlanjur nge-gas, jadi dia harus menjelaskan yang dia tau keteman-temannya kan? "Sebenarnya gue nggak yakin ini benar atau nggak, tapi menurut cerita dari seseorang yang bisa gue percaya omongannya karena dia sudah ada di Greenleaf sejak kantor kita berdiri, sebenarnya pak Raka itu merebut tunangan pak Evan. Padahal pak Evan sangat mencintai wanita itu karena wanita itu adalah sahabat masa kecil pak Evan.” Jantung Stella berdebar, dia merasa sesuatu yang tidak nyaman di bagian dadanya. 'Stop it Stell, ini belum tentu benar. Dan kalaupun ini benar, ini hanya masa lalu Evan saja.' Ucap Stella dalam hatinya agar rasa tidak nyaman itu hilang. 'Ya, ini hanya masa lalu kak Evan saja.' Katanya kembali walau jauh dalam hati dia tau ada keraguan disana. >>>O "Apakah kak Evan langsung kesini sepulang dari meninjau lapangan tadi?" Tanya Stella sambil mengamati Evan yang memanaskan makanan untuk mereka di oven milik Stella. Sebenarnya dari penampilan Evan yang tidak segar lagi dan pakaian semi formal yang pria itu kenakan, sudah menjelaskan kalau pria itu langsung keapartemennya tadi. Tapi Stella tetap menanyakannya karena dia butuh bahan pembicaraan saat ini karena dia tidak nyaman dengan diamnya Evan. Ya walau Stella sadar kalau diamnya Evan ini memang kesalahan dia juga. "Hemmm..." Jawab Evan berdehem menjawabnya. Bibir Stella mengkerucut, lalu kepalanya menunduk sebelum dia menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal. Dia benar-benar salah tingkah dengan reaksi pria itu karena dia tidak tau bagaimana caranya menghadapi pria dewasa yang ngambek. Sebenarnya Stella tidak tau apakah Evan itu ngambek atau marah kepadanya, tapi yang jelas dia tau kalau dia melakukan kesalahan yang membuat pria itu tidak senang. Seandainya dia bisa menahan dirinya tadi, maka Stella tidak perlu berhadapan dengan situasi seperti ini. Karena yang pasti Evan tidak akan menemukannya sedang berpesta makanan dan minuman dengan teman-temannya. Meski makanan yang dimakannya bukan dibeli dari sembarang tempat dan minuman yang mereka minum bebas alkohol, tetap saja itu tidak baik untuknya yang masih sakit. Jadi ceritanya ketika Kinara, Vita dan Paula masih diapartemennya, tiba-tiba saja pria itu muncul. Evan merusak rencana yang sudah Stella dan ketiga temannya susun, padahal mereka ingin menginap malam ini diapartemennya. Dia tau kalau dia belum pulih sepenuhnya, tapi dia tidak merasa pusing dan merasa pahit lagi dilidahnya lagi. Itu tandanya dia sudah baikkan sebenarnya? Kemunculan Evan diapartemennya tentu membuat Vita dan Paula terkejut. Awalnya mereka ingin segera mencari penjelasan dari Stella, tapi Kinara menahan kedua teman mereka itu. Karena tidak mungkinkan mereka membicarakan tentang Evan saat pria itu ada disana. Nah sepeninggalan Kinara, Vita dan Paula itulah semuanya mode Evan ‘ngambek’ ini dimulai. "Tidak bisakah kamu sedikit peduli dengan dirimu?" Stella menunduk, tidak berani menatap Evan sama sekali. Tapi dia tetap menjawab apa yang dikatakan pria itu, "Aku peduli, hanya saja aku tidak mungkin kan menyuruh teman-temanku pulang saat mereka sudah tiba-tiba disini." Evan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu tidak perlu menyuruh mereka pulang. Kamu cukup membatasi dirimu karena aku yakin kalau mereka bisa mengerti itu," balas Evan. Kepala Stella semakin tertunduk. Sesekali dia melirik makanan yang masih berserakan di meja tamunya. Well dia memang salah karena sudah makan makanan berat yang menurut Evan tidak sehat dan minum minuman yang bersoda. Padahal dia tau kalau untuk sekarang mungkin tubuhnya belum sanggup memproses itu semua. "Huffttt... sekarang kamu membersihkan diri kamu, biar aku yang membersihkan ini semua." Stella tidak bisa menolak. Dia hanya bisa setuju dan melakukan yang diperintahkan pria itu dengan membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan piyamanya. Disinilah dia sekarang, duduk di meja makannya melihat pria itu menyiapkan makan untuk mereka setelah dia membersihkan ruang tamu milik Stella tadi. "Kak Evan marah ya?" Mengumpulkan keberaniannya, Stella akhirnya berhasil mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Evan tidak menjawab pria itu hanya diam sambil membawa bubur yang dipanaskannya tadi ke meja makan. Lalu ditatapnya Stella dengan agak lama sebelum menjawab, "Tidak, aku tidak marah. Aku hanya kesal karena kamu masih kekanakan." "Tidak. Aku tidak kekanakan." Bantah Stella tidak senang. Evan mempertajam tatapannya. Kemudian dia bilang, "Kalau kamu dewasa, kamu tau menentukan yang terbaik untukmu." Dan kalau sudah begini Stella hanya bisa diam. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena apa yang dikatakan pria itu memang benar kalau dia kadang masih sangat kekanakan. "Kak Evan sendiri, apa kak Evan bisa menentukan yang terbaik untuk kak Evan? Apakah kak Evan pikir aku memang pilihan yang terbaik?" Stella tidak tau apa yang merasuki dia, hingga dia berani menanyakan hal ini. Sepertinya otaknya terlalu konslet hingga galau yang dia rasakan waktu mendengar cerita Vita soal Evan dan Raka tadi muncul lagi. Meletakkan sendoknya, Evan kemudian melipat tangannya di depan dadanya. Kemudian ditatapnya dengan dalam mata Stella. "Sejak dulu, aku selalu tau apa yang aku inginkan." Kata Evan dengan nada serius. "Ketika aku meminta kamu untuk menerima aku yang ingin mendekati kamu, itu berarti kamu adalah pilihan terbaik yang ingin aku perjuangkan saat ini." Seharusnya Stella menghentikan mulutnya, tapi dia tidak bisa. Otaknya tidak bisa lagi mengontrol mulutnya yang terus ingin mengeluarkan apa yang ada diisi hatinya. "Tapi kenapa? Bukankah kak Evan punya masa lalu yang belum bisa kak Evan lepas? Dan kenapa kak Evan begitu yakin ketika memilih aku. Apakah kak Evan bahkan sudah memiliki perasaan untuk aku?" "Ya, aku punya perasaan untukmu." Jawab Evan setelah terjadi keheningan sesaat diantara mereka. "Meski itu masih hanya tertarik, tapi aku yakin itu akan bisa berkembang karena aku sudah memilih." >>>0
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD