ENAM

1872 Words
"Kamu perbaiki ini, ini dan ini." Kata Evan sambil menunjuk bagian-bagian yang dia maksud pada design Stella. Stella sendiri, dia memperhatikan bagian mana yang dimaksud oleh Evan. Kemudian dia mencari dimana kesalahannya makanya dia harus menggantinya dan kalau dia tidak menemukannya, dia langsung menanyakannya pada Evan. "Kenapa aku harus mengganti ini kak, bukankah titik-titiknya ini sudah cocok." "Seperti yang kamu dengar kemarin, rumah ini akan digunakan sebagai rumah peristirahatan. Jadi menurut aku ada baiknya kamu membuat halaman belakang lebih luas dari halaman depan karena pusat dari pemandangan disana." "Ah," kata Stella mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Evan. "Dan kalau menurut aku, lebih baik kamu juga merombak bagian teras belakangnya itu. Buat dia jadi lebih besar dari yang kamu buat sekarang ini dan buat dia menjadi bagian dari bangunan." Kepala Stella menengadah, otomatis membuat tatapannya dengan Evan bertemu karena memang pria itu berdiri di sampingnya ketika menjelaskan pendapatnya tentang design yang telah dikerjakan oleh Stella sebelum dia masuk rumah sakit beberapa hari yang lalu. "Tapi bukankah lebih baik kalau dibuat sedikit menjorok karena aku dengar ibu dari pak Kevin menyukai bunga." "Huh bagaimana kamu tau kalau ibu Linda suka bunga?" Stella menyengir kemudian dia menjawab, "Waktu kak Evan meminta aku mengerjakan ini, aku langsung mencari tau tentang ibu Linda dan pak Hartono karena aku ingin membuat tempat peristirahatan yang bisa membuat mereka merasa nyaman layaknya rumah." Cukup cheesy memang jawaban Stella ini, tapi serius itu lah yang dia pikirkan ketika dia mengerjakan semua proyeknya. Buat Stella, tidak ada gunanya sebuah bangunan terlihat megah, mewah ataupun besar kalau orang tidak nyaman tinggal disana. Karena jawabannya yang cheesy, Stella merasa malu sendiri. Malu karena sekarang Evan menatapnya dengan tatapan yang sebenarnya dia tidak mengerti apa artinya. Dia hanya menebak-nebak mungkin saja kalau pria itu terkejut dengan cara berpikirnya yang melankolis. Untuk menghilangkan rasa malunya itu, Stella kemudian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dengan wajah yang meringis malu dan mata yang menatap Evan dia kemudian bilang, "Hehehe... lucu ya kak kalau aku bilang gitu, padahal bukan aku yang mau tinggal disitu." Menegakkan tubuhnya, Evan kemudian tersenyum dan mengusap rambut Stella. "No. It's not funny." Katanya tersenyum kembali, "aku hanya teringat kata-kata seseorang dulu. Dan perkataannya itu sama persis seperti kamu ketika dia ditanya tentang prinsipnya membangun sebuah bangunan." Jelas Evan dengan mata yang terlihat memandang jauh pada kaca ruangan kantornya. Dari pandangan pria itu, Stella bisa melihat kesedihan disana membuat Stella penasaran siapa yang dimaksud oleh atasannya tersebut. Karena Evan tidak mungkin bereaksi seperti ini kalau memang orang yang dia maksud tidak berarti. Iya kan? Pikiran Stella akan berkelana lagi tadinya, namun berhenti karena Evan sudah mengajaknya turun untuk makan siang. "Stell, sebaiknya kita makan dulu sebelum melanjutkan ini semua." Kata Evan dari meja kerjanya yang tak jauh dari posisi Stella saat ini. Stella bergeming, dia berniat untuk menolak ajakan makan saiang bersama dari Evan. "Stell." Evan memanggil ulang nama Stella. "Mmm..." Stella ragu. "Mmm... bagaimana kalau kak Evan makan duluan. Nanti aku akan makan siang sendiri," katanya sebenarnya tidak ingin melewatkan makan siangnya juga. Tentu Evan tidak menuruti apa mau Stella, pria itu malah menatapnya dengan satu alis yang terangkat. "No. Kita makan bersama dan ini final." Katanya kemudian. Memasang wajahnya sedikit cemberut Stella kemudian menggeleng, "Nggak ah. Nggak mau kak. Aku nggak mau ada rumor aneh-aneh tentang kita semakin tersebar di kantor." Kembali Evan terdiam, dihembuskannya napasnya berat. "Look Stell, aku tidak pernah peduli dengan apa yang orang pikirkan tentang aku atau kamu karena kita lah menjalani semua ini." Ucap Evan seolah tau apa yang membuat Stella selalu ingin menjaga jarak dengannya ketika mereka di kantor. "Kamu itu baru sembuh beberapa hari yang lalu. Apa kamu pikir aku membiarkan kamu terlambat makan?" Kata Evan lagi, kali ini dengan wajah yang lebih serius dan tegas. Stella menunduk. Dia tidak mau berbalas tatap dengan Evan karena memang dia yang sepertinya mempunyai pemikiran bodoh disini. Oh baiklah mungkin bukan bodoh juga karena nyatanya dia memang tidak mau Evan punya citra jelek karena dekat dengan dia. Memang, untuk sebagian orang yang ada di Greenleaf setiap laki-laki yang dekat dengan Stella adalah pria bodoh karena yang dipinya Stella hanyalah wajahnya yang cantik saja. >>>0 "Ternyata pak Evan sama saja dengan cowok-cowok lainnya." Suara dari luar bilik toilet menahan Stella untuk keluar dari bilik tempat dia buang air kecil tadi. Bukan untuk menguping pembicaraan orang diluar itu, dia hanya tidak suka dengan suasana yang awkward. Karena sudah pasti orang-orang itu akan salah tingkah atau diam seketika kalau mereka tau ada orang lain selain mereka disana. Apalagi kalau orang yang menggosip itu tau kalau orang yang mereka bicarakanlah yang ada dibilik toilet. Lagipula Stella merasa pembicaraan ini akan menyangkut dirinya karena dia tidak sepolos itu untuk  tidak tau kalau tadi dia jadi bahan gossip di kantor sejak selesai jam siang tadi. Karena untuk pertama kalinya Evan mau makan siang dengan bawahannya di Greenlea. Apalagi bawahannya itu adalah seorang wanita. Intinya Stella adalah satu-satunya wanita di kantor mereka yang berhasil membuat Evan mau makan siang berdua dengannya. "Sama dengan cowok-cowok lainnya? Memangnya kenapa?" Suara lain menyahut suara yang pertama tadi. "Ya sama-sama bodoh karena terperangkap ama si Stella. Bayangin aja tadi gue ngelihat dia makan siang bareng Stella berdua aja. Lo taukan kalau pak Evan nggak pernah gitu walaupun sama anggota timnya?" Jawab suara pertama pertama yang semakin membuat Stella tidak bisa keluar. "Padahal selama ini gue menganggap pak Arkan dan pak Evan berbeda karena terlihat tidak pernah tertarik dengan kecantikan si Stella." "Hahaha... iya juga sih. Si Stella kan hanya modal tampang doang, otaknya nggak ada. Gue heran kenapa dia bisa masuk ke Greenleaf." Balas teman pemilik suara pertama tadi. "Menurut gue sih itu karena keberuntungan saja. Ya logika aja deh, 2 tahun loh dia disini tapi dia terus dioper-oper. Itu artinya kan doi nggak becus kerjanya dan nggak ada perkembangannya sama sekali." Orang yang satunya membalas pembicaraan temannya. "Jadi kalau dia dapat proyek pribadi pas udah di tim pak Evan, gue yakin si Stella udah make badannya untuk ngedapat proyek itu." Kepala Stella menunduk dalam, sedangkan tangannya mengepal erat untuk menghilangkan rasa sesak dan sakit didadanya. Meski begitu dia tetap berusaha mempertahankan senyum diwajahnya karena dia tau kalau tidak begitu airmatanya akan langsung jatuh dari matanya. Bukankah selama ini dia sudah tau orang berpikir seperti itu tentang dia? Lalu kenapa dia harus menangis sekarang? Cukup dengan senyum dan seolah tidak tau apa-apa, maka dia akan baik-baik saja. 'Ya, gue bakal baik-baik aja.' Ucap Stella dalam hatinya. Dan ketika Stella mendengar suara yang menjauh serta suara deritan pintu yang tertutup, barulah dia keluar dari bilik toilet tempatnya bersembunyi tadi. "Lo bakal baik-baik saja Stell... semuanya akan baik-baik saja." Sambil melihat bayangan dirinya pada cermin toilet, Stella menyemangati dirinya. Stella tau kalau dengan melakukan ini dia tidak bisa menghilangkan rasa sakit dihatinya akan kata-kata menyakitkan dari orang-orang tadi, tapi setidaknya dia butuh dukungan positif saat ini. Dan memberi dukungan pada bayangannya melalui cermin adalah salah satu cara yang bisa dilakukannya. Apa yang perlu Stella lakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik untuk proyeknya agar dia bisa membuktikan kalau dia juga mampu melakukan pekerjaanya dengan baik. Dia ingin membuat Evan tidak menyesal karena telah memilihnya untuk mengerjakan proyek kecil yang tentu sangat berpengaruh pada reputasi Evan dan Greenleaf karena ternyata yang meminta tolong pada Evan saat itu adalah salah satu klien besar Greenleaf. >>>0 Ketika Stella berjalan menuju ruang fotocopy kantornya, Stella sadar kalau dia diperhatikan orang yang dia lewati. Hanya saja dia berpura-pura tidak menyadari tatapan dan bisik-bisik orang itu karena dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula Stella sudah terbiasa mengalami hal seperti ini, jadi Stella sudah cukup ahli untuk bisa tetap tersenyum meskipun ada rasa yang tidak enak didadanya. "Ikut denganku." Terlalu larut dengan pikirannya membuat Stella tidak menyadari keberadaan Evan yang ternyata sudah berada didekatnya. Kemudian tanpa menyakiti Stella, pria itu menariknya ke lift yang kebetulan sedang dalam keadaan kosong. "Eh... oh... kak Evan, ada apa?" Tanya Stella terkejut bercampur was-was. Dia tidak ingin ada orang melihat adegannya dengan Evan ini karena kalau sampai itu terjadi, rumor antara mereka akan semakin membesar. Seandainya rumor itu hanya mempengaruhinya, Stella tidak akan apa-apa. Dia tau harus bagaimana ketika menghadapi masalah seperti ini karena memang dia sudah terbiasa dengan gossip ataupun cibiran orang lain. Tapi rumor itu jelas mempengaruhi nama Evan dan Stella tidak mau itu karena yang dia tau selama ini Evan tidak pernah dicibir oleh siapapun di Greenleaf. Evan memiliki citra yang baik , hingga sulit buat orang-orang di kantor mereka untuk menemukan bahan cibiran untuk atasan Greenleaf itu. Mungkin inilah pertama kalinya Evan jadi pembicaraan negative di Greenleaf dan penyebabnya adalah Stella. Evan tidak menjawab pertanyaan Stella, dia hanya diam sambil memasang wajah tenangnya. Sedangkan tangannya dia gunakan untuk mencekal pergelangan tangan Stella. Pria itu seolah berjaga-jaga agar Stella tidak lari dan mencari alasan untuk meninggalkannya. Sampai akhirnya lift membawa mereka di lantai dimana ruang kerjanya berada, Evan menarik Stella lagi untuk masuk keruangannya. "Kenapa kamu menghindariku?" Begitu mereka sampai di ruangan Evan, pria itu mendudukkan Stella di sofa yang ada ruangannya. Kemudian dia merendahkan tubuhnya dengan menekuk kakinya dan meletakkan satu lututnya di lantai. Sedangkan kedua tangannya diletakkannya di kedua sisi sofa seperti sedang memagari Stella agar tidak bisa pergi. Untuk sesaat Stella diam, dibalasnya tatapan Evan. Kemudian dia tersenyum lebar. Katanya, "Aku tidak menghindari kak Evan kok." Sayangnya Evan tidak menerima jawaban itu, terlihat dari bagaimana cara pria itu bereaksi. "Bagian mana dari tingkah laku kamu hari ini yang kamu sebut tidak menghindar? Tiba-tiba-tiba saja kamu mengangkat semua barangmu dari ruanganku, padahal sudah aku bilang kalau sampai 6 bulan ini kamu mengerjakan semua pekerjaan kamu disini." Kali ini Evan bicara dalam posisi berdiri dan kedua tangannya dia masukkan ke kantong celananya. "Lalu apa tadi itu? Ketika aku memanggilmu melalui intercom, kamu tidak datang. Dan ketika aku memanggilmu kamu langsung buru-buru pergi." Stella menundukkan kepalanya sebentar, kemudian dia tegakkan lagi setelah dia memasang senyum diwajahnya. Tangannya dia kepal dengan kuat sebelum berkata, "Sebaiknya mulai sekarang kita menjaga jarak kak kalau di kantor karena sebenarnya image aku itu tidak bagus disini." Lagi-lagi Evan tidak langsung menjawab pertanyaan Stella. Pria itu tampak memikikan apa yang baru saja Stella minta kepadanya. "Katakan 5 alasan kenapa aku harus menuruti perkataanmu," balas Evan akhirnya. Kepala Stella menengadah, dia tidak menyangka akan mendapat balasan seperti itu dari pria dihadapannya ini. Seharusnya Stella tidak perlu memberikan alasan agar pria itu menjauhinya karena dia sudah bilang kalau image dia itu buruk. Apakah atasannya ini tidak takut kalau image-nya ikut buruk karena dekat dengannya. "Stella look at me." Mungkin karena Stella tidak kunjung menjawab, akhirnya Evan yang mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Dan Stella hanya bisa melakukan apa yang diminta pria itu, dia menengadah agar dia bisa melihat pria yang sedang dekat dengannya itu. Begitu tatapan mereka bertemu, Evan membungkuk kembali mengurung Stella dengan kedua tangannya. Dengan lembut diciumnya bibir Stella, kemudian dia tersenyum kecil. Masih dengan posisi yang tadi Evan berkata, "Maaf aku tidak bisa menuruti apa maumu karena aku sudah menentukan apa yang menjadi mauku. Dan kalau sudah begitu aku akan menjadi orang yang keras kepala dan tidak peduli apapun. Jadi kalau kamu mengkhawatirkan aku soal apa yang mungkin orang lain pikirkan karena pilihan aku ini, kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak pernah peduli dengan hal-hal yang tidak penting." >>>0
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD