TUJUH

2464 Words
Berhubung malam ini adalah malam minggu, Stella dan Evan kencan berdua. Mereka berniat menghabiskan malam ini di luar dengan jalan-jalan, makan dan menonton layaknya pasangan kebanyakan. Dan setelah mereka tadi jalan-jalan dan membelikan tiket film yang akan mereka tonton, Evan dan Stella kemudian makan di resto yang ada di mall itu. Mereka makan disana sambil menunggu film yang akan mereka tonton diputar. "Kak Evan itu lulusan Universitas Tokyo?" Stella bertanya dengan nada yang tidak percaya. "Hmmm... aku lulusan sana." Evan menjawab dengan tangan mengaduk makanan yang baru diantarkan oleh pelayan ke meja dia dan Stella. "Memangnya kenapa?" Lanjut Evan bertanya. Sambil tersenyum tipis dipaksakan Stella menggelengkan kepalanya kecil. Kemudian dia berkata dengan lirih, "Nggak papa kok. Aku hanya ada kenalan yang tinggal di Jepang." "Ooohhh..." Hanya itu yang dikatakan oleh Evan. Entah karena menyadari perubahan mood Stella atau memang karena sudah kelaparan, Evan tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya mengangguk kecil, lalu mulai menyantap makanan yang tadi sudah dicampurnya dengan sambal dan lada. Biasanya kalau Evan sudah makan dia hanya mengambil peran sebagai pendengar saja, sesekali dia akan merespon jika memang dibutuhkan. "Oh iya kak aku dengar PGL tahun ini berbeda ya dengan PGL yang sebelumnya?" "Eum... sebenarnya tidak terlalu berbeda juga. Hanya sistem dan cara penilaiannya saja yang berbeda." Evan menjelaskan. "Apa kamu berniat ikut?" Pertanyaan pria itu tidak membuat Stella tersinggung karena dia tau kalau Evan tidak berniat meledeknya dengan pertanyaan itu. Karena siapa pun orang di perusahaan mereka tau kalau Stella tidak akan pernah bisa memenangkan penghargaan arsitek terbaik di Greenleaf. Jangankan menang, untuk masuk seleksi pun mungkin dia tidak bisa karena dia sadar diri kalau dia tidak sehebat itu. "Hehehe... aku tidak sehebat itu kak. Jadi aku tidak mungkin berani untuk ikut serta." Jawab Stella sambil terkekeh. Alis kanan Evan sedikit menukik, dia tampak ingin serius menanggapi jawaban dari Stella tadi. Makanya dia sudah meletakkan sumpit ditangannya tadi. "Stell, kamu pernah bertanyakan kapan aku mulai tertarik sama kamu?" Kali ini tidak hanya Evan, Stella pun menghentikan makannya untuk bisa mendengar apa yang akan dikatakan pria itu dengan lebih serius. "Aku sudah tertarik ke kamu sejak pertama kali aku melihat kamu. Waktu itu kamu sedang mengikuti tes wawancara di Greenleaf." Stella tersenyum tipis karena perkataan Evan mengingatkannya pada kejadian 2 tahun lalu, salah satu kejadian paling membahagiakan dalam hidupnya karena akhirnya dia bisa bekerja disalah satu di perusahaan yang sudah diincarnya sejak kuliah. "Pasti kakak berpikir kalau aku sangat cool dan percaya diri saat itu." Sahut Stella tersenyum lebar walau sebenarnya dia tidak yakin karena seingatnya Evan tidak jadi tim pewawancara waktu itu. Seingat Stella hanya ada HRD saja yang ada disana dan dia tidak melihat Evan ketika dia melakukan wawancara. "Tidak, aku tidak berpikir kamu begitu. Kamu itu tipe orang yang mudah gugup dan suka berpikir negatif." Jawab Evan yang langsung membuat Stella membelalak. Dia terkejut karena tidak menyangka Evan sudah melihat sisi jeleknya itu di pertama kali pria itu bertemu dengannya, Lalu kenapa pria itu bisa tertarik kepadanya? Bukankah itu aneh? "Kenapa kakak bisa berpikir begitu? Dan kalau memang kakak sudah tau aku mudah gugup dan suka berpikir negatif, kenapa kakak bisa tertarik ke aku?" Tanyanya kali ini sudah kembali menyuapkan makanan pesanannya ke dalam mulutnya. "Kamu ingat, sebelum kamu masuk ruang wawancara kamu ke toilet dulu?" Tanya Evan sambil tersenyum menatap Stella. "Saat itu aku juga sedang di toilet dan aku melihat kamu berjongkok sambil menggumamkan kamu yang pasti kalah karena pelamar lain lebih bagus. Setelah itu kamu melompat-lompat kecil di sudut toilet luar untuk menyemangati dirimu sendiri untuk melakukan yang terbaik." Stella memejamkan matanya, dia malu mengingat apa yang sudah dia lakukan saat itu. Padahal dia sudah berpenampilan sempurna ketika wawancara itu, tapi dia malah melakukan hal kekanakan seperti yang dikatakan Evan. Kalau dia tau ada orang disana, apalagi orang itu adalah calon pimpinannya, Stella pasti tidak akan melakukannya. "Kamu tau, saat itu kamu memang terlihat aneh. Tapi aku bisa melihat semangatmu disana dan aku menyukai itu." Jantung Stella berdetak pelan, dia tidak menyangka kalau Evan mengatakan sesantai itu soal perasaannya. Karena sejujurnya Stella berpikir alasan Evan tertarik padanya sama dengan alasan pria lainnya, yaitu wajahnya. "Tapi bagaimana kalau aku bahkan tidak lulus seleksi? Apakah kak Evan tidak akan malu?" Tanya Stella kembali topik mereka semula. Evan tersenyum lembut, diletakkan tangannya di kepala Stella dan diusapnya rambut wanita itu dengan ibu jarinya. Lalu katanya, "Kamu taukan kalau tidak semua usaha akan langsung membuahkan hasil. Yang penting adalah semangat untuk berusaha," Ucapan Evan terputus. Kemudian dia melanjutkannya lagi dengan berkata, "kalau yang kamu khawatirkan soal aku malu atau tidak kalau seandainya kamu gagal, kamu tidak perlu khawatir karena aku adalah tipe pasangan yang mendukung apapun yang dilakukan pasangannya selama itu baik." Stella tertunduk, dia merasakan desiran aneh itu lagi. Desiran didadanya setiap kali dia merasakan kelembutan dan perhatian dari Evan. 'Tidak apa-apakan kalau begini? Aku akan baik-baik sajakan kalau memiliki perasaan ini?' Ucap Stella dalam hatinya menyadari kalau dia sudah memiliki perasaan untuk pria yang sebnarnya sudah masuk terlalu jauh dalam kehidupannya itu. >>>0 "Stell lo dipanggil ke ruang meeting oleh pak Evan." Kemunculan Vita di depan meja kerjanya membuat Stella terkejut setengah mati karena saat itu dia sedang dalam keadaan sangat fokus merapikan design-nya. Malam ini rancangannya itu akan ditunjukkan pada Reno, klien mereka. Jadi Stella perlu mengecek ulang semuanya. Dia ingin semuanya sudah sempurna sebelum jam kantor mereka selesai hari ini. "Huh, dipanggil ke ruang meeting? Bukannya disana lagi pertemuan buat ngebahas soal GPL ya?" Tanya Stella kelihatan kebingungan. Seingatnya sedang ada pertemuan untuk membicarakan tentang PGL saat ini di ruangan itu, jadi kenapa dia diminta kesana? Untuk saat ini dia sudah memutuskan untuk tidak mengikuti penghargaan arsitek terbaik di Greenleaf itu. Jadi aneh rasanya kalau dia sampai dipanggil kesana "Setau gue sih gitu. Tapi gue nggak tau deh kenapa lo dipanggil kesana? Gue hanya diminta buat manggil lo doang kesana." Jelas Vita yang dimengerti oleh Stella. Buat Stella sangat wajar kalau Vita tidak tau apa yang terjadi di ruang meeting karena meskipun Vita bekerja sebagai asisten Evan, temannya itu tidak selalu ikut Evan pertemuan. Evan biasanya hanya membawa Vita kalau pria itu akan menghadiri pertemuan yang sangat penting saja. "Padahal gue nggak ngedaftar loh buat PGL." Kata Stella sambil berjalan beriringan dengan Vita menuju lift karena lantai kerja Vita sama dengan lain ruang meeting kantor mereka. "Hah really? Lo takut ya pak Evan nggak bakal setuju kalau lo ikutan PGL-nya" Stella tersenyum, dia menyandarkan tubuhnya di dinding lift. "Nggak kok. Pak Evan setuju apapun keputusan gue, mau gue ikut maupun nggak. Yang penting katanya kalau memang gue mau ikut, gue harus berusaha dan menikmati apa yang gue lakukan." "Aeeewww so cheesy." Vita pura-pura merinding untuk meledek Stella yang sudah mengkerucutkan bibirnya. "Lo ah, gue serius lo malah ledekin." Vita tertawa, "Ya habis gue nggak nyangka pak Evan bisa bilang gitu ama cewek." Ucap Vita lagi kali ini dengan nada yang lebih serius. "Kalau lo tau gimana pak Evan kalau lagi kencan sama cewek-ceweknya yang terdahulu, mungkin lo bakal ngerasa perbedaannya." Tambah teman Stella itu sambil tersenyum. Sejujurnya Stella ingin bertanya kenapa Vita berpikiran begitu, namun dia hentikan karena dia tidak mau terlalu berharap. Selain itu mereka juga sudah tiba di lantai yang mereka tuju, jadi mereka harus berpisah untuk saat ini. "Ya udah Stell, gue balik ke meja gue dulu ya." Kata Vita sambil melambaikan tangannya. Stella mengangguk dan melambaikan tangannyajuga. Kemudian dia berjalan ke ruang meeting saat dilihatnya Vita sudah meninggalkannya. Tok...tok...tok... Pertama Stella mengetuk pintu ruangan itu, kemudian dia membukanya dan masuk kedalamnya meski tanpa ada jawaban dan ijin dari dalam. "Maaf pak, kata Vita bapak memanggil saya." Stella mencoba bicara dengan tenang dan santai meski begitu dia masuk tadi, dia merasakan suasana yang tidak enak dalam ruangan itu. Bukan Evan yang menjawab Stella, tapi Arkan. Pria itu meminta Stella untuk mengambil duduk di tempat kosong yang kebetulan bersebelahan dengan posisi Evan. Walaupun rasanya tidak ingin karena Stella merasa canggung. "Nah karena Stella sudah ada disini, kita bisa melanjutkan kembali pembicaraan kita mengenai PGL tadi." Suara Arkan diabaikan oleh Stella, dia lebih tertarik untuk melirik diam-diam dan memperhatikan wajah Evan. Meski pria itu terlihat tenang, Stella tau kalau Evan sedang menahan dirinya untuk tidak meledak. Bilanglah kalau Stella sok tau atau apa, tapi dekat dengan pria itu beberapa waktu belakangan ini membuat Stella sedikit banyak tau tentang kepribadian Evan. "Jess sumpah ya, lo benar udah ngelewatin batas kali ini." Suara keras Kinara berhasil menarik perhatian Stella dari Evan ketemannya itu. Dia sedikit terkejut melihat Kinara lepas control karena selama ini yang dia tau Kinara adalah orang yang paling tenang diantara teman-temannya yang lain. "Apa? Emang gue salah?" Jessica, salah satu arsitek yang sudah 4 tahun bekerja di Greenleaf menjawab. "Gue hanya ngusulin kok tadi dan kebetulan mayoritas peserta PGL tahun ini setuju proyek yang saat ini dikerjakan oleh Stella yang jadi hadiahnya." Tatapan Stella berpindah pada Jessica. Meski kurang jelas dengan permasalahan yang terjadi, dia sedikit mulai mengerti kenapa Kinara bisa semarah itu. Berusaha untuk setenang mungkin Stella mendengar semua apa yang dikatakan Jessica. "Lagipula apa salahnya sih proyek Stella dijadikan hadiah? Toh menurut gue dia belom pantas buat menangani proyek itu. Bukankah terlalu beresiko memberi proyek salah satu klien penting kita ke orang yang belum berpengalaman." Ucap Jessica yang disetujui oleh beberapa oleh peserta PGL di ruangan itu. Dan Stella hanya bisa diam, menahan air matanya dengan menggigit kulit bibir bagian dalamnya. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja karena dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak mudah menangis lagi. Dia tidak akan membiarkan orang menilainya lemah hanya karena sebuah masalah. "Apa karena Stella dekat dengan..." Sreekkk, Stella berdiri cepat dari duduknya hingga kursi dibelakangnya bergeser dengan suara yang cukup kuat. Tapi dia tidak peduli karena dia tidak mau Jessica sampai membawa nama Evan disini. "Baiklah, saya melepaskan proyek itu. Kalian boleh menggunakannya sebagai sebagai hadiah di PGL tahun ini." Kata Stella. "Tapi Stell..." Kinara coba menahan Stella. Namun terhenti saat dilihatnya bagaimana Stella tersenyum kepadanya. "Kalau hanya itu yang mau dibicarakan dengan saya, saya permisi dulu." Kata Stella lalu bersiap beranjak dari tempat itu, tapi tertahan karena Evan menghentikannya dengan mencekal tangannya. "Apa kamu benar-benar akan melepaskannya begitu saja?" Tanya pria itu sambil menatap Stella. Stella tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Ya, aku melepaskannya." Katanya lalu pergi meninggalkan tempat itu secepat yang dia bisa.  >>>0 “Kak Evan udah selesai ya mandinya?” Tanya Stella saat dilihatnya Evan berjalan ke arah meja makan. “Hemmm… sudah, bagaimana denganmu? Udah masaknya?” Evan balik bertanya sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk yang dia sampirkan dilehernya. Sambil tersenyum Stella mengangkat piring tempat tempe goreng hasil masakannya. “Udah kok, aku kan masaknya yang sederhana doang.” Evan mengangguk kecil, kemudian bergerak menuju dapur untuk memindahkan makanan yang telah dimasak oleh Stella ke meja makan. “Sebaiknya kamu mandi, biar aku yang menghidangkan dan membersihkan ini semua.” Katanya mengambil alih mangkuk berisi ca kangkung masakan Stella. “Kak Evan yakin?” Bukannya Stella meragukan keahlian pria itu untuk melakukan semua yang dia katakan barusan. Hanya saja Evan baru mandi, apakah dia tidak apa-apa kalau harus kotor lagi karena mencuci semua barang-barang bekas memasaknya? “It’s okay. I can handle it without dirtying myself.” Jawab Evan seolah tau apa yang dikhawatirkan oleh Stella. “Ya udah kalau begitu,” ucap Stella kemudian berjalan meninggalkan dapur. Dia akan mandi sesuai dengan permintaan atasannya itu. “Oh iya, untuk pakaian ganti kamu sudah aku letakkan di kamar. Kamu mandinya disana saja.” Kata Evan lagi sebelum Stella benar-benar meninggalkan dapur. Stella mengangguk, “Terima kasih kak,” katanya lalu melanjutkan langkahnya ke kamar Evan. Sesuai perintah pria itu dia akan mandi di kamar mandi pribadi Evan ang sudah pernah dia pakai sebelumnya. Menutup pintu kamar mandi dengan punggungnya, tubuh Stella kemudian melorot. sampai dia terduduk di lantai. Dia menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya, kemudian mulai menangis untuk melepaskan rasa sakit yang dia rasakan. Ternyata dia tidak sekuat yang dia pikirkan selama ini, nyatanya dia tetap merasakan sakit ketika orang mengambil sesuatu yang berharga darinya. Stella pikir dengan dia menahan semuanya dalam hati dan memendamnya seperti yang biasanya dia lakukan selama ini dia akan baik-baik saja. Tapi tidak, dia tidak baik-baik saja. Hatinya benar-benar merasa sakit karena apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati tiba-tiba direbut begitu saja. Stella menangis tersedu, dia tidak peduli lagi kalau seandainya ada orang yang melihat atau mendengarnya. Hatinya sakit dan Stella ingin membuang rasa sakit itu dengan mengeluarkan air matanya sepuasnya dia. >>>0  “Oh kak Evan… Kakak belum makan?” Tanya Stella dengan suara sengaunya saat dia keluar dari kamar mandi dan menemui Evan duduk di sofa yang ada dikamarnya sambil membaca tab-nya. “Belum, aku belum makan. Orang yang seharusnya menemaniku makan sngat lama mandinya. Aku pikir prang itu juga tidak selera makan makanya makanan itu aku simpan saja.” Jawab Evan kemudian berjalan mendekat ke Stella. Dari jarak yang sedekat itu, Evan menatap Stella. Pria itu seolah mengamatinya dan memperhatikannya untuk melihat apa yang salah padanya. Stella sendiri tidak bodoh, dia yakin kalau Evan tau kalau dia menangis di kamar mandi tadi. Tidak hanya karena dia lama keluar dari situ, tapi karena wajahnya yang mudah berubah kalau dia menangis. Seharusnya kalau Evan tau dia menangis, bukankah lebih baik kalau pria itu pura-pura tidak tau saja? Jadi Stella pun tau harus bersikap seperti apa karena sudah pasti dia juga akan berpura-pura kalau tidak menangis tadi. Sayangnya Evan bukanlah seseorang yang bisa di tebak Stella cara berpikirnya. Setelah mendekatkan dan berdiri dihadapan Stella dan menatapnya dengan seksama, pria itu kemudian membawa Stella untuk berbaring diranjangnya. Setelah itu, Evan membawa tubuh Stella kepelukannya. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya pria itu sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Stella. Stella pikir setelah dia menangis lama di kamar mandi Evan tadi airmatanya tidak akan jatuh lagi. Tapi lagi-lagi dia salah, Evan adalah seseorang yang benar-benar tidak bisa diprediksi oleh Stella. Pria itu mampu membuatnya menangis saat di berpikir untuk tidak menangis lagi. Membalas pelukan Evan di pinggang  pria itu, airmata Stella jatuh lagi. “Aku… aku… aku tidak baik-baik saja.” Katanya dengan suara terisak. “Aku sudah berusaha beberapa minggu ini…” Kembali Stella berkata. “Tapi tiba-tiba saja mereka menginginkannya dan ingin mengambilnya dari aku.” Dia terus meracau, dia ungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan pada Evan. Lalu Stella menangis lagi, dia benar-benar seperti mengadu pada Evan rasa sakit hati yang dia rasakan saat ini. Saat Stella merasa tidak punya airmata lagi untuk dijatuhkan, matanya terlalu berat untuk dibuka dan dirinya terlalu lelah untuk tetap bangun, samar-samar dia mendengar suara Evan. Suara itu tidak begitu jelas didengar olehnya, bahkan saking tidak jelasnya dia berpikir kalau itu hanyalah bagian dari mimpinya saja. “Selamat tidur, mimpi indah. Aku akan memastikan untuk mengembalikan apa yang seharusnya kamu miliki.” Kata suara itu ditutup dengan kecupan dipipinya. >>>0
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD