Kalau ditanya apa yang ingin Stella lakukan sekarang, jawabannya adalah membawa Evan ke sebuah ruangan untuk bicara dengan pria itu. Menurutnya Evan memang luar biasa tidak peka dengan keadaan, padahal beberapa hari belakang ini sudah jelas mereka jadi topik pembicaraan di Greenleaf. Apalagi setelah apa yang terjadi di ruang meeting kemarin, seharusnya pria itu sdar kalau banyak orang di kantor mereka tidak suka dengan kedekatan mereka.
Hari ini Stella datang ke kantor dengan perasaan yang lebih ringan dari beberapa hari sebelumnya. Sepertinya menangis kemarin malam dan menumpahkan apa yang dirasakannya pada Evan benar-benar membantunya. Mungkin karena itulah dia bisa bersikap biasa saja sekarang setelah semua rumor dan gosip yang membuatnya stress belakangan ini.
"Ada apa, kenapa kamu mengikuti aku sedari tadi?" Tanya Evan setelah mereka ada di pantry kantor.
Bola mata Stella berputar, dia gemas ingin mencubit atasannya itu biar Evan mengaduh kesakitan. Hal yang ingin dia lakukan sejak mereka dipertemuan tim mereka tadi karena lagi-lagi Evan membuat putusan yang akan membuat mereka akan jadi topik pembicaraan lagi.
Ya walaupun anggota tim lainnya setuju. Tapikan sudah seharusnya Evan bisa lebih bijak memutuskan sesuatu yang baik untuk mereka dan juga tim mereka.
"Kenapa kak Evan memilih aku untuk mendampingi kak Evan ke Thailand? Ditim kita banyak senior yang jelas jauh lebih berpengalaman dari aku. Apa yang nanti orang lain pikirkan kalau mereka tau malah aku yang ikut kesana untuk proyek tim ini. Orang-orang mungkin akan berpikiran buruk tentang kak Evan." Akhirnya setelah menahan dirinya sejak diskusi tim tadi, Stella mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak peduli apa yang dibicarakan dengan yang dipikirkan oleh orang lain?" Jawab Evan santai. "Lagipula usul kamu yang ngedampingi aku ke Thailand kan usul Robert ama Dee. Aku hanya menyetujuinya saja."
Stella memejamkan matanya menahan dirinya untuk tidak benar-benar mencubit Evan. Kemudian menghembuskan napasnya pelan sebelum dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke meja pantry. "Aku masih trauma dengan apa yang terjadi kemarin kak." Ucap Stella dengan nada yang sangat pelan, setengah berharap pria itu tidak mendengar apa yang baru dikatakannya.
Tapi berbalik dengan harapan Stella, Evan mendengar apa yang dikatakan Stella. Lihatlah bagaimana cara pria itu menatap Stella sekarang. Dengan tatapan yang langsung tertuju kematanya, Evan berjalan mendekat kearahnya. Tampak santai, namun mampu membuat Stella salah tingkah. Sesampainya Evan di hadapan Stella, Evan pria itu kemudian membungkukkan tubuhnya agar tatapan mereka benar-benar bertemu. Biasanya kalau sudah ditatap begini oleh Evan, Stella akan menghindar karena menurutnya tatapan Evan itu seolah bisa membaca apapun yang ada dipikirannya.
TUKK... Evan memukulkan keningnya ke kening Stella pelan, kemudian dia menegakkan tubuhnya dan berkata. "Berhenti memikirkan hal yang tidak berguna sama sekali. Itu akan membuatmu cepat keriput."
Mata Stella membelalak. "What?!?" Stella panik hingga tanpa sadar memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Bayangkan sejelek apa kamu saat ini dengan dahi yang keriput banyak memikirkan hal yang tidak penting. Lalu mata bengkak kamu yang belum sembuh bekas menangis semalaman karena tidak mau berjuang untuk apa yang kamu mau." Ucap Evan menohok hati Stella.
Dan Stella hanya bisa cemberut dan memasang bibir mengkerucut mendengar apa yang dikatakan Evan karena semua itu adalah kenyataannya. Dia terlalu banyak memikirkan apa kata orang dan terlalu pengecut untuk memperjuangkan apa yang dia mau.
"Daripada kamu stress memikirkan hal yang tidak penting, sebaiknya kamu mempersiapkan kebutuhan kita untuk ke Thailand 3 hari ini." Kata Evan bersiap meninggalkan pantry.
"Kita?" Tanya Stella lagi-lagi kebingungan dengan apa yang dikatakan Evan.
Pria itu mengangguk. Lalu katanya, "Yaps, kita." Jawab Evan dengan nada tegas. "Kamu siapkan perlengkapanku juga karena aku mungkin sibuk sampai sore sedangkan kita sudah harus berangkat malam ini juga kesana."
"But, isn't it uncomfortable for you if i touch your personal belonging?" Stella bertanya karena dia akan merasa risih kalau orang memegang barang pribadinya, apalagi orang itu belum mempunyai hubungan yang jelas dengan dia.
Memasang wajah berpikir sejenak, Evan lalu menyeringai. Kemudian dia menjawab dengan jawaban yang ingin membuat Stella melemparkan gelas ditangannya kekepala pria itu. "Kenapa aku harus risih kamu menyentuh barang pribadiku? Kamu sudah menyentuh yang lebih pribadi dari itu dan aku menyukainya."
Dan kalau sudah begini, Stella hanya bisa pergi meninggalkan Evan yang tertawa kesenangan karena berhasil menggodanya.
>>>0
"Mau langsung istirahat atau makan dulu?" Evan bertanya pada Stella begitu mereka masuk ke kamar hotel tempat mereka menginap untuk 3 malam ini.
"Aku tidak makan sejak siang tadi, jadi aku mau makan dulu." Jawab Stella lalu memutarkan tubuhnya. "Dan kak Evan, kenapa malah ikut ke kamar aku? Bukannya resepsionisnya tadi ngasih 2 kunci?" Protes Stella karena dia lihat Evan tadi mendapatkan 2 kunci saat menyebutkan namanya.
Seolah tidak mendengarkan protes Stella, Evan meletakkan koper besar yang berisi pakaian mereka ke atas ranjang yang memang cukup untuk menampung mereka berdua. "Well kita menggunakan satu koper, jadi pikirku lebih baik kita menggunakan satu kamar juga." Jawab pria itu santai, lalu duduk dengan kaki kanan ditopang di kaki kirinya, sedangkan kedua tangannya diletakkan di ranjang untung menumpu tubuhnya.
"Tidak mungkinkan aku harus selalu datang kesini kalau mau mengganti pakaian atau mandi?" Tambah Evan lagi yang hanya membuat Stella semakin kesal dengan pria itu.
"Ya kak Evan kenapa tadi maksa mindahin barang aku ke koper besar ini. Padahal tadi aku udah buatkan barang-barang kita di koper masing-masing." Keluh Stella cemberut berjalan mendekat ke arah koper dan membukanya.
Kemudian dia mulai mengeluarkan barang-barang itu dari sana untuk disusunnya ke dalam lemari.
"Kak Evan pakai ini ya malam ini. Ini untuk pakaian dalamnya, handuknya dan alat mandinya" Kata Stella sambil mengambilkan semua kebutuhan Evan yang disebutkannya tadi. Nada bicara Stella kali ini sudah kembali ke nada normal sebagaimana dia bicara biasanya.
Hening.
Tidak ada jawaban dari Evan, sehingga Stella menghentikan kegiatannya. Lalu dilihatnya tempat dimana pria itu tadi duduk untuk mencari tau apa yang dilakukannya. Dan yang didapatinya hanyalah Evan yang menatapnya dengan tatapan yang Stella tidak tau apa artinya.
"Kenapa kak Evan tidak menjawabku?" Tanyanya dengan mata yang sedikit disipitkan.
Lagi-lagi Evan tidak menjawabnya, pria itu hanya tersenyum yang jelas membuat Stella bingung. "Kenapa kak Evan juga tersenyum seperti itu?"
"Tidak. Tidak kenapa-napa." Jawab Evan kembali tersenyum kecil. Kemudian dia berdiri setelah mengambil barang-barang yang telah diambilkan Stella untuknya tadi. "I just really glad I have this feeling for you." Kata Evan pelan kemudian berlalu ke kamar mandi hotel.
Sedangkan Stella, dia hanya bisa mematung sambil menatap pintu tempat dimana bayangan Evan hilang dari matanya.
>>>0
"Aaaahhhh...hahaha..." Teriak Stella sambil tertawa lalu berlari ke tepi pantai saat dilihatnya air pantai bergerak kearahnya.
Dia tidak peduli kalau orang berpikir dia aneh karena bertingkah seperti anak-anak yang kesenangan bermain di pantai.
"Kak Evan... Kak Evan... Kakak nggak mau main bareng aku?" Tanyanya dengan sedikit kuat karena jarak Evan memang sedikit jauh dengannya.
Evan yang duduk di hamparan pasir menggelengkan kepalanya yang dibalas Stella dengan bibir bebeknya. "Ih sayang tau kak. Ini indah banget," kata Stella tidak mau menyerah untuk membujuk Evan agar mau bermain dengannya.
Namun lagi-lagi kepala Evan menggeleng, "Ini hampir tengah malam, besok kita ada meeting. Kalau aku ikut kamu bermain, mungkin besok aku tidak bisa bangun cepat karena kelelahan."
Semangat bermain Stella luruh seketika, dia baru ingat kalau dia kesini itu untuk bekerja bukan untuk bermain. Lalu dengan langkah berat dia berjalan mendekat pada Evan dan mendudukkan dirinya di samping pria itu. "Kalau begitu ayo kita kembali ke hotel," ajaknya sebenarnya tidak ikhlas karena dia benar-benar jatuh cinta dengan pantai Koh Samui, salah satu pantai di Thailand yang baru pernah dia kunjungi sekarang.
"Kita disini aja dulu, mana tau kita dapat ide hotel seperti apa yang cocok untuk tempat ini." Evan berkata sambil menatap jauh pada hamparan air yang terlihat tenang dan indah itu.
Stella tentu tidak keberatan, dia malah setuju dengan ide yang dikatakan Evan. Dengan dagu yang bertopang pada lututnya dan tangan yang memeluk kedua kakinya Stella melakukan hal yang sama dengan Evan. Dia menikmati pemandangan indah pantai itu dan suara gemericik air yang menurutnya sangat merdu itu.
"Aku benar-benar jatuh cinta dengan tempat ini." Katanya tanpa sadar dengan suara yang sangat kecil.
Evan tidak membalas, dia hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih kak, sudah mengajakku kesini." Kata Stella benar-benar tulus.
Dia benar-benar senang karena bisa melihat tempat ini karena sudah beberapa kali dia ke Thailand, tapi baru kali ini dia ke Ko Samui Island.
Evan menoleh pada Stella, lalu tersenyum saat didapatinya Stella juga menatapnya. Secara perlahan-lahan senyum Evan itu menghilang, meski begitu tatapannya tetap tertuju pada mata Stella. Stella sendiri, dia hanya bisa membalas tatapan pria itu. Dia tidak mengalihkan tatapannya seperti yang biasa dilakukannya jika Evan sudah menatapnya dalam seperti ini. Jantung Stella semakin berdetak kuat saat wajah Evan perlahan-lahan mendekat kearahnya. Lalu tanpa sadar dia memejamkan matanya saat bibir pria itu menyentuh bibirnya. Tangan Stella sendiri, secara perlahan bergerak ke tengkuk Evan dan dikalungkannya disana.
"Kak Evan, what if I already fallin in love with u?" Bisik Stella ditengah-tengah ciuman mereka.
Tidak ada jawaban dari Evan. Pria itu hanya terus melanjutkan ciumannya pada bibir Stella dengan begitu intens, lembut dan dalam.
>>>0
Ingatkah Evan pernah bilang kalau dia itu pria mempesona? Walau geli dan cringey untuk mengakuinya secara langsung, nyatanya Evan memang begitu. Pria itu benar-benar tau cara untuk membuat orang terpesona baik secara sadar maupun tidak dia sadari.
Seperti sekarang ini Evan mungkin tidak sadar ketika melakukannya, tapi Stella? Dia terpesona dengan bagaimana pria itu memikat klien mereka. Hanya sekali sekali saja Evan menjelaskan bagaimana konsep design bangunan hotel yang akan dia buat, klien mereka langsung setuju dengan ide Evan. Padahal yang Stella tau sangat sulit untuk memuaskan permintaan klien hanya dengan sekali pertemuan saja. Bayangkan saja baru Selasa kemarin mereka tiba disini, lalu kemarin Evan meninjau lapangan dan hari ini pria itu sudah bisa menjelaskan konsep design yang akan dia buat.
"Stella?!?"
Panggilan dari klien mereka mengembalikan Stella dari alam berpikirnya.
"Eh eoh, iya pak Devon. Kenapa?" Tanya Stella gelagapan karena tidak mengikuti pembicaraan yang terjadi antara kedua orang pria itu.
Pria yang dipanggil Stella itu tersenyum, membuatnya semakin tampan di mata Stella. "Tidak... tidak apa-apa." Katanya masih saja tersenyum, "aku hanya merasa kamu familiar." Tambah pria itu yang membuat alis Stella berlipat karena kebingungan.
"Familiar? Bagaimana bisa, kitakan tidak pernah bertemu." Balas Stella yang ditanggapi oleh Devon dengan kekehan.
"Hehehe, aku hanya merasa saja. Mungkin sajakan aku salah," jawab Devon yang diangguki kecil oleh Stella tanda mengerti.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka karena Stella juga tidak tau harus bicara apa dan kesiapa. Mau bicara ke Devon? Rasanya tidak sopan bicara santai dengan klien mereka yang ternyata teman Evan semasa kuliah dulu. Bicara dengan Janeeyeh, sekretaris Devon? Wanita itu sibuk dengan dokumen, jadi Stella segan untuk mengganggunya.
"Sepertinya Evan akan kembali cukup lama." Ucap Devon menarik perhatian Stella untuk melihat Evan yang bicara pada seseorang melalui sambungan teleponnya. "Dia sepertinya tidak berubah, selalu serius menghadapi sesuatu." Lanjut Devon lagi, lalu menyesap kopi pesannya.
"Memangnya pak Evan begitu ya?" Tanpa sadar Stella bertanya karena Evan yang dia kenal selama ini hanyalah pria yang womanizer, namun tegas sebagai pimpinan dan cuek dengan keadaan.
Sadar kalau dia baru saja bertanya hal pribadi atasannya pada klien, membuat Stella menyesal. Seharusnya dia itu tidak melakukan itu karena jelas itu sangat tidak professional. Merasa menyesal Stella akan meminta Devon untuk tidak usaha menjawabnya saja, tapi tidak jadi karena Devon sudah terlebih dahulu menjawabnya.
"Ya, dia seperti itu sejak kami kuliah dulu. Dia itu tipe orang yang memiliki fokus. Sampai dia mencapai tujuannya, dia akan terus berusaha." Jawab Devon sambil tersenyum terlihat menerawang seolah mengingat-ingat sosok Evan yang dia tau. "Kamu tau, aku sangat mengagumi dia. Makanya biarpun sulit, aku tetap meminta dia untuk mengerjakan proyek ini."
"Huh?" Stella menanggapi dengan sangat singkat.
Devon tersenyum kecil lalu bercerita bagaimana dia kuliah di Jepang dengan kemampuan bahasa Jepang yang buruk. Lalu dia yang kesulitan beradaptasi karena tidak lancar berbahasa Jepang dan bagaimana dia bertemu Evan, Arkan, Narendra dan Raka. Kemudian Devon juga bercerita bagaimana suksesnya keempat orang itu sebagai mahasiswa asing di Universitas Tokyo.
Mendengar cerita Devon, mau tidak mau membuat Stella kagum pada atasannya itu. Sekarang dia sadar kalau Evan memang pantas untuk dikagumi dan sukai oleh banyak wanita karena pria itu memang mengagumkan. Evan mempunyai apapun yang wanita inginkan dari seorang laki-laki.
'Elo beruntung jadi kekasih Evan. Kalau Evan, dia buntung jadi kekasihnya Elo.' Cibir hati Stella membuat dia berkecil hati mengingat apa yang terjadi di malam pertama mereka di Koh Samui Island ini.
Malam itu setelah Stella menyatakan perasaannya, Evan meminta Stella untuk menjadi kekasihnya. Otak Stella sebenarnya ingin meminta waktu sesuai dengan permintaan pria itu dulu, tapi hatinya memerintah mulutnya berbeda. Jadilah jawaban 'ya' yang keluar dari mulut Stella malam itu. Dan sekarang, Stella resmi menjadi kekasih seorang Evano Ansel Wirayudha.
"Oh iya, sekarang aku ingat kenapa kamu terlihat familiar."
Seruan kecil Devon disertai tangannya yang saling menepuk, membuat Stella kembali memperhatikan pria itu. Stella melihat Devon dengan sangat serius karena dia penasaran kenapa pria itu bisa merasa familiar dengannya.
"Kamu sangat mirip dengan satu-satunya perempuan di pertemanan Evan dan ketiga temannya, Salsab..."
"Von, sorry pembicaraan kita terpotong gara-gara telepon aku."
Perkataan Devon terputus karena Evan sudah kembali dari luar dan memotong perkataan pria itu.
"Apa kita bisa melanjutkan pembicaraan kita lagi?"
Sejujurnya Stella masih ingin melanjutkan pembicaraan antara dia dan Devon karena dia terlanjur penasaran. Dia ingin tau tentang wanita itu karena Stella tau wanita itu pasti sangat istimewa dan special karena bisa masuk dalam pertemanan Evan dan ketiga temannya. Sayangnya Stella tidak bisa menuntaskan rasa penasarannya karena mereka harus kembali membicarakan proyek mereka.
Besok mereka harus sudah kembali ke Indonesia lagi, jadi mereka harus menyelesaikan pembicaraan tentang kontrak hari ini juga.
>>>0