SEMBILAN

2290 Words
"Ra, ngerasa nggak sih kalau ulang tahun Greenleaf kali ini sedikit berbeda dari yang lain?" Tanya Stella pada Kinara ketika dia dan Kinara makan siang bersama. Kinara mengangguk karena dia juga merasakan hal yang sama. "Iya. Gue juga ngerasa gitu." Jawabnya lalu melanjutkan suapannya, "berasa lebih heboh nggak sih?" Lanjut Kinara lagi seolah mencari pembenaran dari komentarnya. "Iya lebih heboh." Jawab Stella menyetujui. "Apa mungkin karena rumor yang beredar kalau pak Raka ama pak Narendra mulai sekarang menetap disini kali ya?" Ucap Kinara membuat mata Stella membelalak kecil. Stella terkejut dengan apa yang baru temannya itu katakan karena sepertinya dia banyak ketinggalan berita. "Pak Raka? Pak Narendra?" Tanya Stella terdengar ambigu, tapi dia yakin Kinara tau apa maksud dari pertanyaannya. "Oh iya ya, lo baru masuk hari ini setelah seminggu ini nggak disini karena sibuk di Thailand dengan pak Evan. Jadi lo nggak tau kalau pak Narendra ama Raka udah disini." Stella memutarkan matanya gemas dengan cara bicara Kinara, "Lo tau nggak sih, cara lo ngomong tadi soal gue ama kak Evan kayak kita ngelakuin hal negatif aja pas di Thailand." Ujar Stella dengan wajah merengut. Kinara terkekeh, dia benar-benar geli dengan rengutan Stella. "Ya habis lo bilang hanya bakal 3 hari doang disana, tapi malah molor sampai seminggu lebih. Emang ngapain aja lo disana ama pak Evan?" Tanya Kinara lalu melap mulutnya karena baru menyelesaikan makan siangnya. "Ya ngerjain proyeklah," jawab Stella cepat dan dengan nada yang sedikit lebih kuat. "Ya kali mau operasi kelamin," tambahnya dengan joke yang berhasil membuat Kinara tertawa. "Tapi kenapa bisa semolor itu?" Stella menopangkan dagunya, lalu bercerita pada Kinara kenapa akhirnya dia dan Evan pulangnya terlambat. "Pak Devon, klien utama kita ngenalin temannya ke kak Evan. Nah kebetulan orang itu juga ingin menggunakan jasa perusahaan kita." Kepala Kinara mengangguk kecil, lalu dia menopangkan dagunya pula seperti yang dilakukan Stella. "Oh iya Stell, lo serius soal isi chat yang lo itu?" Tanya Kinara dengan tatapan yang memandang jauh pada jendela kantin mereka. Stella tidak langsung menjawab. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Kinara, sebelum kemudian dia menghembuskannya kuat sambil tersenyum tipis. "Yes I'm," jawab Stella dengan nada yang pelan. "We are official now." Kinara menghembuskan napasnya kecil, lalu menatap Stella. "Apa lo bakal baik-baik aja?" Tanya Kinara jelas menunjukkan kepeduliannya. "I mean, you must take your time. I don't want you get hurt again." Lagi-lagi Stella tersenyum kecil, senyum yang seolah meminta pengertian dari Kinara. "Sejujurnya gue nggak tau apakah gue bakal baik-baik aja, tapi yang jelas kak Evan berhasil ngebuat gue ingin mencobanya lagi." "Hufffttt..." Kinara menghembuskan napasnya kuat, kemudian dia tersenyum dan berkata, "kalau lo memang berpikir begitu, gue hanya bisa ngedukung lo doang karena yang tau kebahagiaan lo ya lo sendiri." Mendengar itu Stella kembali tersenyum kecil hambar karena sesungguhnya dia tidak yakin dia dengan dirinya dan keputusannya. Awalnya dia sudah mengalihkan tatapannya dari Kinara, namun kembali lagi saat dia rasa temannya itu akan bicara lagi. Dan benar saja, begitu tatapan mereka bertemu, Kinara mengatakan sesuatu yang membuat Stella tidak tau harus menjawab seperti apa. "Tapi kalau boleh gue berpesan, gue minta lo jangan menyerahkan seluruh hati lo pada hubungan ini. Jadi ketika firasat lo tentang pak Evan benar, lo tidak terluka lagi seperti dulu." Stella tercenung sebentar, kemudian memaksakan senyumnya meski itu hanya senyum kecil. Lalu katanya, "Gue tau sakitnya ditinggalkan dan tidak diinginkan lagi Ra, meski begitu gue nggak mau setengah-setengah dengan perasaan gue." >>>0 “Ayo turun,” ajak Evan pada Stella saat mereka tiba di hotel milik keluarga Arkan, tempat dimana perayaan ulang tahun perusahaan mereka diselenggarakan. Wajah Stella berubah memelas, dipandanginya Evan agar mau menuruti maunya. “Bisakah aku tidak hadir kali ini? Aku benar-benar tidak ingin ada disana.” Evan menatap Stella sejenak, lalu pria itu mengecup bibir Stella sekilas. Kemudian dia berkata, “Tidak. Kamu harus hadir bersamaku disana.” “Tapi kak…” Stella masih berusaha membujuk Evan. “Nope. Sekali tidak, tetap tidak.” Tolak pria itu bahkan sebelum Stella menyelesaikan alasannya tidak ingin ada di pesta itu. Sebenarnya alasannya tidak ingin ke pesta ini sudah Stella katakan tadi. Saat Evan memintanya untuk menjadi pasangan pria itu ke pesta kantor mereka ini. “Kamu yang bilang ikhlas memberikan proyek kamu sebagai hadiah di PGL. Jadi seharusnya kamu bisa santai menghadapi pengumuman pemenang proyek itu.” Wajah Stella merengut. Benar kata Evan kalau dia yang bilang akan mengikhlaskan proyek itu, tapi tetap saja dia tidak bisa melihat siapa pemilik selanjutnya proyeknya itu. “Udah yuk turun,” sekali lagi Evan mengajak Stella. Tapi kali ini ajakan pria itu sedikit berbeda dari yang sebelumnya karena Evan langsung keluar dari mobilnya. Dan kalau sudah begini Stella tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain patuh dan mengikuti permintaan Evan. Dengan berat hati dia kemudian turun dari mobil Evan dan merangkul tangan kekasihnya itu. Kemudian mereka berjalan masuk ke ballroom hotel tempat acara diselenggarakan. “Pak Evan, bisa bicara sebentar? Saya ingin membicarakan soal rundown acara, sekalian kita mau buka acara ini pak.” Ratna, salah satu pekerja Greenleaf yang didapuk menjadi MC acara menghentikan Stella dan Evan yang baru masuk ke ruangan itu. “Apakah Arkan dan yang lainnya sudah datang?” Tanya Evan. Ratna menggeleng, “Hanya pak Arkan sama pak Narendra aja pak yang datang. Kalau pak Raka katanya tidak bisa hadir karena harus melakukan sesuatu.” “Oh, ok.” Ucap Evan seperti bergumam. Setelah itu dia menoleh pada Stella. “Mau ikut atau mau menunggu disini?” Berpikir sejenak, Stella kemudian menjawab. “Mmm… nunggu disini aja. Nanti aku bisa bareng Kinara, Vita atau Paula.” Jawab Stella yang langsung diangguki oleh Evan. Sepeninggalan Evan, Stella langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari ketiga temannya. Sayangnya dia  tidak menemukan satupun dari teman-temannya itu, padahal Stella yakin kalau ketiganya pasti hadir. Selain karena ada kewajiban dari kantor untuk datang, ketiga temannya itu punya kepentingan masing-masing di acara ulang tahun kantor mereka ini. “Pada seluruh hadirin yang berbahagia, mohon perhatiannya karena acara akan segera dibuka.” Kata Ratna berbicara dari podium. Keriuhan di ruangan itu segera mereda karena sekarang semua perhatian tertuju pada podium. Termasuk Stella, dia segera melupakan niatnya untuk mencari ketiga temannya karena dia lebih tertarik untuk menyaksikan Evan. Pada perayan sebelumnya Stella tidak pernah memperhatikan Evan ketika memberi kata sambutan. Bukan karena tidak mau, tapi ditahun pertama Stella bekerja di Greenleaf, ulang tahun perusahannya itu sudah lewat. Lalu di tahun kedua, Evan yang tidak bisa datang, jadi digantikan oleh Arkan. “Mbak Stella?” Ketika Stella menyaksikan Evan berbicara, seseorang menyapanya. “Ummm maaf, ibu siapa ya?” Tanya Stella karena dia tidak mengingat pasangan yang menyapanya itu. Wanita paruh baya itu tersenyum, tidat terlihat tersinggung dengan apa yang dikatakan Stella. “Saya Linda dan ini suami saya, Hartono.” Kata wanita itu meperkenalkan diri. Mendengar nama itu, Stella langsung tersenyum lebar. Karena dia langsung tau siapa pasangan yang ada dihadapannya ini. "Ah...  Bu Linda, pak Hartono." Ucapnya lalu menjabat tangan pasangan paruh baya itu. "Ibu dan bapak, ada apa memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu." Tanya Stella ramah. Kepara Linda menggeleng. Dia kemudian berkata, "Nggak ada kok mbak, saya hanya mau berterima kasih atas design mbak Stella. Kami sangat menyukainya.” Kening Stella mengerut tidak mengerti. “Um maaf bu, sepertinya ibu salah karena saya tidak mengerjakannya.” Jelas Stella kebingungan. Sama seperti Stella, pasangan itu juga terlihat bingung. “Tapi kata nak Evan bilang kalau mbak Stella yang bertanggung jawab untuk pembangunan rumah peristirahatan kami. Dan kami sangat sangat menyukainya, makanya kami secara khusus datang malam ini untuk menemui mbak Stella dan berterima kasih.” Kini si suami yang menjelaskan pada Stella. Kerutan di kening Stella semakin terlihat, dia tidak mengerti kenapa perusahaan mereka belum memberitau klien mereka ini kalau rumah mereka dijadikan sebagai proyek hadiah untuk pemenang PGL. Dan Stella akan menjelaskan itu saat dia mendengar tepuk tangan riuh untuk mengiringi kenaikan Jessica ke atas podium. ‘Ohhh jadi Jessica pemenangnya,’ ucap Stella dalam hati. Jujur dia sedikit cemburu pada Jessica karena apapun katanya Stella belum bisa sepenuhnya mengiklaskan proyek yang sempat dikerjakannya itu. Tapi dia sudah menyerahkan, jadi yang perlu dia lakukan sekarang adalah belajar ikhlas. “Bu Linda, pak Hartono, begini.” Kata Stella membuka penjelasannya. “Jadi orang yang akan mengerjakan rumah peristirahan bapak dan ibu bukan…” Stella akan melanjutkan penjelasannya lagi, namun lagi-lagi terhenti saat Ratna bertanya hadiah apa yang diinginkan Jessica sebagai hadiahnya. Dia pikir biarlah pasangan ini tau sendiri dari mulut Jessica sendiri. Makanya dia diam dan menunggu Jessica mengatakan apa maunya agar tidak terjadi kesalah pahaman disini. “Aku ingin menggantikan Stella di tim pak Evan dan aku mau menjadi pendamping utama pak Evan untuk mengerjakan proyek yang di Thailand.” >>>0 Setelah Jessica mengatakan apa yang diinginkannya sebagai hadiahnya karena telah memenangkan PGL tahun ini, Stella seperti orang linglung. Pikiran maupun hatinya sibuk untuk menentukan apa yang harus dia rasakan sekarang karena disaat dia mendapat, dia juga harus kehilangan. Bahkan saking sibuknya dia berpikir, Stella sampai tidak sadar kalau pesta sudah selesai dan mereka sudah di apartemen Evan sekarang. "Mau bersih-bersihnya duluan atau belakangan?" Tanya Evan begitu mereka masuk ke dalam apartemen pria itu. "Eh... eoh? Bersih-bersih untuk apa? Inikan masih di ..." Stella bertanya terkejut sambil terlihat kebingungan karena berpikir kalau mereka masih dipesta. Evan menghembuskan napasnya kuat, ditariknya Stella ke sofa ruang tamunya. Kemudian pria itu membuat Stella duduk dipangkuannya dengan posisi menyamping. Sedangkan tangannya dia gunakan untuk memegang kedua pinggang Stella agar tidak berpindah karena dia bisa melihat gelagat itu dari Stella. "Kak, lepaskan aku. Biar aku duduk disana." Pinta Stella dengan sedikit mendorong Evan dengan kedua tangannya yang terletak di bahu Evan. Tapi Evan tidak menurutinya, dia malah semakin menarik Stella kearahnya agar jarak tubuh mereka semakin dekat. "Tidak. Aku tidak akan melakukan itu karena aku yakin kamu akan kembali melamun begitu aku melepaskanmu." Evan berbicara sambil menatap mata Stella, sedangkan ibu jarinya yang kanan dia gunakan untuk mengusap lembut pinggang Stella. Kepala Stella menunduk, dia ingin menghindari tatapan Evan karena dia takut kekasih sekaligus atasannya itu kecewa kepadanya. Padahal dia sampai menangis saat proyek milliknya direbut, tapi dia malah tidak bahagia saat Evan mengembalikannya. Bukankah itu berarti dia tidak tau terima kasih namanya? "Hei..." Panggil Evan pelan dengan tangan kanan yang berpindah dari pinggang ke dagu Stella. Jari tangan itu menjepit pelan dagu Stella, agar Stella tidak bisa mengalihkan tatapannya lagi. "Ada apa? Bukakah seharusnya kamu bahagia karena proyekmu sudah kembali?" Stella tidak menjawab, dia hanya menatap mata Evan yang baru disadarinya sangat indah karena memiliki bola mata hitam yang sangat jernih. Melakukan itu beberapa saat, barulah Stella kemudian menjawab Evan dengan pertanyaan juga. "Apa yang sudah kakak lakukan sehingga Jessica mau menukar hadiahnya?" "Kenapa? Apakah menurutmu hadiah yang dia minta itu masih terlalu kecil dibandingkan proyek milikmu?" Tanya Evan dengan wajah bingung dan pura-pura terkejut yang Stella tau sengaja dibuat pria itu untuk menggodanya. Mata Stella terpejam, dia gemas dengan tingkah Evan yang memilih untuk mempermainkannya saat dia sedang serius seperti ini. Dia sedang gelisah dan tidak enak hati saat ini karena membayangkan dia tidak akan di tim Evan lagi. Baiklah mungkin pria itu tidak biasa saja kalau Stella keluar dari timnya, tapi tidak bisakah atasan sekaligus kekasihnya ini membaca suasana hatinya? "Udah ah, aku mau tidur aja. Sepertinya hanya aku aja yang pengen tetap di tim kak Evan. Kalau kak Evan sepertinya biasa aja kalau aku nggak di tim kak Evan lagi." Rajuk Stella bersiap bangkit dari pangkuan Evan. Stella tidak peduli lagi kalau Evan akan berpikir kalau dia serakah, tapi kenyataannya dia memang tidak mau dipindahkan dari timnya Evan. Dia memang menginginkan proyek pertamanya itu, tapi dia juga tidak mau diganti dengan Jessica. Stella akan meninggalkan Evan dan masuk ke kamar pria itu untuk bersih-bersih dan tidur karena rencananya malam ini dia menginap disana. Tapi langkahnya terhenti karena Evan kembali menariknya dan menjatuhkannya dipangkuannya lagi. Kali ini bukan ke pangkuan pria itu, tapi sofa empuk yang sebenarnya cukup untuk menampung tubuh mereka berdua. Dan begitu Stella berbaring disana, Evan langsung memerangkap Stella di bawah tubuhnya. Kalau mau jujur, sebenarnya Stella salah tingkah dan dengan perlakuan Evan ini. Tapi dia tidak sedang ingin kalah dengan pria itu, makanya dia berusaha sekuat tenaga agar terlihat biasa saja. Dia tidak akan membiarkan pria itu mempermainkannya saat suasana hatinya buruk seperti sekarang. Apalagi penyebabnya suasana buruk hatinya ini adalah pria yang sedang tersenyum di atas tubuhnya ini. Senyum menggoda Evan yang selalu berhasil membuat Stella merasa seperti orang bodoh. "Siapa bilang aku akan biasa saja kalau kamu pindah tim saat hubungan kita masih hot-hotnya." Ucap pria itu jelas bercanda, makanya Stella memutarkan bola matanya malas. "Ya ini buktinya? Kak Evan malah santai dan asik mempermainkan aku setelah Jessica tadi mengumumkan apa hadiah yang mau." Jawab Stella kesal pada Evan yang menurutnya pura-pura bodoh saat ini. "Hahahaha... jadi itu yang membuat kamu seperti orang linglung dari tadi." Kata Evan setelah tertawa geli atas jawaban Stella. Tapi setelah itu dia memasang wajah serius lalu mencium bibir Stella. Awalnya Stella berontak karena dia mau berbicara sampai selesai dengan serius, tapi apalah dayanya dia saat Evan tau cara menaklukkannya. Makanya dia sudah terbuai dengan ciuman kekasihnya itu hanya dalam hitungan beberapa detik saja. Ciuman yang perlahan bergerak dari bibir menuju ceruk lehernya, lalu kedadanya. Mudah buat Evan menyentuh daerah itu dengan bibirnya karena memang Stella menggunakan gaun hitam yang sedikit terbuka tadi. Saat Stella hampir terlena dengan sentuhan dari bibir pria itu, Evan yang menarik dirinya dari sentuhan itu. Ditatapnya mata Stella yang sudah berkabut gairah, "Seharusnya kamu tidak perlu memikirkan hal itu karena hadiah PGL hanya ada 3 saja dan tidak pernah berganti. Hak mengganti anggota itu hanya ada ditangan pimpinan tim saja." Jelas Evan sambil tersenyum. "Jadi..." "You will be with me until you ask me to let you go." >>>0
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD