Tania terus ke sana kemari untuk mencatat pesanan para pelanggannya. Ini hari Minggu, wajar jika kafe tempatnya bekerja sangat ramai, tak jauh berbeda dengan hari kemarin. Sampai saat ini gadis itu pun belum membalas pesan singkat yang ibunya kirim, bingung harus bagaimana menjawabnya.
Merindukannya? Benarkah? Mungkin benar adanya jika ibu ataupun kakaknya merindukannya, tapi ayahnya? Ia sungguh tidak yakin. Ke mana saja pria yang seharusnya menjadi panutannya selama ini.
Sejak hari di mana ayahnya mengusirnya, hanya setiap setahun sekali pria itu menemuinya. Itu pun penuh keterpaksaan, karena pria itu tak mungkin melewatkan sungkeman kepada kedua orangtuanya di hari raya.
Masih membekas dalam benak Tania kala ayahnya dengan tega menamparnya. Mungkin luka yang ditimbulkan di bibirnya telah mengering bahkan tak terlihat bekasnya seperti sediakala. Namun rasa sakit itu terus menggerogoti jiwanya. Entah kesalahan apa yang sudah ia lakukan. Namun, sejak lahir pria itu tak mau menatapnya. Pembunuh? Julukan yang ayahnya sematkan itu semakin menohok batinnya. Rasanya begitu sakit. Mengapa ayahnya itu tidak sekalian saja menghilangkan nyawanya agar ayahnya itu bisa hidup bahagia dan dirinya tak lagi dirungrung dengan perasaan bersalah yang berkecambuk dalam pikirannya?
Terlampau banyak moment yang pria itu lewatkan bersamanya. Tak ada peluk dan cium dari ayah setiap ia akan berangkat sekolah, tak ada dongeng yang dibacakan sebelum ia tidur, tak ada pria yang menjadi superhero dan cinta pertamanya, tak ada yang menenangkannya di saat ia sakit, tak ada yang menyeka air matanya di saat ia terluka, dan masih banyak lagi. Semua gadis itu lewati hanya seorang diri.
Tania seolah hidup bagaikan seorang anak yatim piatu. Setiap semester hanya sang nenek atau kakeknyalah yang mengambil rapotnya. Ibunya? Wanita itu mendapat larangan keras untuk sekadar menemuinya.
Pernah suatu ketika kala ibu dan kakaknya datang mengunjunginya, tiba-tiba ayahnya datang dengan tatapan kejamnya, menggiring paksa ibu dan kakaknya itu pergi tanpa memedulikan teriakan larangan kakek dan neneknya. Sampai pada akhirnya, Tania mengikuti akselerasi hingga ia hanya mengikuti masa SMA selama dua tahun saja. Dalam benaknya gadis itu ingin segera pergi jauh meninggalkan semua lukanya. Dan kali ini Tuhan berbaik hati mengabulkan doanya. Ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Amerika.
Ayden mungkin selalu bersikap acuh pada putrinya. Namun, ia tak pernah meninggalkan tanggung jawabnya untuk membiayai hidup putrinya. Di saat ia tahu putrinya memutuskan untuk kuliah di Amerika, ia langsung membelikan satu unit apartment untuk tempat tinggal putrinya. Hal itu bukan sebagai bentuk kepeduliannya, melainkan untuk menjaga image-nya sebagai seorang pengusaha yang kesuksesannya patut diperhitungkan di kalangan Indonesia maupun luar negeri.
Meski secara materi Tania tak kekurangan apa pun, ia malah memutuskan untuk menjadi pelayan paruh waktu mengisi kekosongan jadwal kuliahnya. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu, hanya saja ia tidak ingin bergantung pada uang yang ayahnya beri. Ia tidak ingin kalau suatu saat ayahnya itu mengungkit-ngungkit atas apa yang ayahnya beri.
"Ta, pelanggan di meja nomor sembilan itu hanya ingin dilayani olehmu," ujar Olive, salah satu pelayan di kafe itu.
"Tak bisakah kau saja yang melayaninya?" tanya Tania sambil merenggangkan otot lehernya. Baru saja ia duduk untuk beristirahat sejenak. Namun gelengan yang Olive berikan membuatnya hanya mendengus pasrah.
"Ada apa?" tanya seorang wanita paruh baya mendekati dua gadis itu. Ia adalah Beatrice, pemilik kafe. Walau statusnya sebagai bos. Namun, wanita paruh baya itu begitu bersahabat, baik, dan lembut. Sosok panutan bagi seluruh karyawannya.
Bagi Tania, wanita paruh baya itu sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, karena dari wanita itulah ia bisa mendapatkan hangat dan lembutnya kasih sayang seorang ibu yang sudah lama tak ia rasakan. Tak jarang pada wanita itu pula ia mencurahkan keluh kesahnya.
"Siapa lagi kalau bukan pelanggan yang tergila-gila pada kecantikan gadis yang satu ini. Mungkin sebaiknya kau memakai masker agar tak ada lagi pria yang meneteskan air liurnya saat melihatmu," cibir Olive.
"Idemu boleh juga, nanti akan kucoba," balas Tania sambil berlalu, berniat menemui pelanggan yang dimaksud.
***
"Ada yang bisa saya bantu?" Suara lembut dan ramah yang berasal dari mulut Tania sungguh membuat hati siapa saja merasa tenang.
Tania terus memerhatikan seorang pelanggan yang berpakaian serba hitam dilengkapi sebuah kacamata dan sebuah topi yang menghalangi wajahnya. Dalam batinnya ia berharap semoga orang itu bukan orang suruhan ayahnya, karena ia belum juga membalas pesan singkat ibunya.
Pria itu berdeham pelan. Sesekali pria itu membuka buku menu, seperti sedang mempertimbangkan menu apa yang akan ia pesan. Lama sekali pria itu hanya berkutat dengan buku menu itu hingga membuat Tania jengkel.
Tania berdeham. Jujur saja, kakinya terasa sedikit pegal harus berdiri dengan memegang sebuah note dan pulpen, menunggu apa yang akan pelanggan nomor sembilan itu pesan. "Apa masih lama?" Tak kunjung mendapatkan respon, Tania pun menghela napas kasar. Sepertinya pria itu hanya ingin mempermainkannya saja "Kalau begitu sepertinya saya tinggal dulu. Anda bisa lihat kalau pelanggan di sini sangat ramai." Baru saja ia kaki jenjangnya ingin melangkah, tiba-tiba saja pria itu mencekal pergelangan tangannya.
"Bagaimana jika yang kuinginkan adalah dirimu?" Bariton pria itu membuat Tania terbelalak seketika.
Tania menggeram merasa dilecehkan. "Maaf, saya bukanlah makanan ataupun minuman yang bisa Anda pesan."
Pria itu menarik sebelah sudut bibirnya ke atas, memperlihatkan seringai yang membuat Tania bergidik ngeri. Tania sungguh lelah dengan model pria semacam itu. Gadis itu bukan tidak mengerti dengan maksud menginginkannya.
Pria itu melepaskan topinya dan menaruhnya di atas meja, lalu membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Hai," sapa pria itu sambil mendongakkan kepalanya.
Tania menautkan kedua alisnya. Ia sungguh tidak menyangka siapa pria itu sebenarnya. "Damian! Sedang apa kau di sini?" tanyanya terdengar seperti orang bodoh yang linglung dengan mata yang mengerjap lucu.
Damian sedikit terkekeh. "Tentu saja sedang menemui Cinderella yang meninggalkanku di pesta semalam," jawabnya.
Tania mencoba mencerna maksud dari teman kuliahnya ini. "Cinderella? Siapa?" tanyanya tak mengerti.
"Tentu saja dirimu. Memangnya siapa lagi gadis yang berdansa denganku di pesta semalam," kekeh Damian. "Duduklah, aku ingin bertanya padamu. Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Apa karena kau takut sihir yang ibu peri beri itu menghilang hingga kau akan terlihat seperti gadis lusuh?" candanya.
Tania melayangkan note yang sedang dipegangnya ke lengan kekar Damian. "Tidak lucu, Damian," keluhnya. "Baiklah jika tidak ada yang ingin kau pesan sebaiknya kau pergi dari sini, karena masih banyak pelanggan yang ingin menempati kursi ini," usirnya dengan begitu dingin.
"Damn it! Apa baru saja kau mengusir pelanggan tertampan sepertiku?" Damian meremas dadanya, kepalanya menunduk lesu dan ia sedikit menyeka sudut matanya seperti tengah meneteskan air mata.
Tania memutar kedua bola matanya jengah melihat drama king tak bermutu di depannya.
Tania mengembuskan napas kasar. "Baiklah jika kau masih ingin diam di sini, sebaiknya aku pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," ujarnya sambil mencoba melangkah pergi. Namun lagi-lagi ia harus membatalkan niatnya itu, karena cekalan tangan Damian.
Damian berdecak. "Ok, ok, aku bercanda. Sekarang aku akan memesan makanan dan minuman di sini, tapi maukah kau menemaniku makan?"
"Aku tidak bisa, Damian. Aku harus bekerja," tolak Tania.
"Aku akan berbicara dengan manajernya atau ... apa aku perlu membeli kafe ini agar aku bisa mengobrol denganmu?" tanya Damian nampak berpikir-pikir.
"Dasar si kaya dan segala kekuasaannya," gumam Tania membuat Damian justru terkekeh bangga.
Damian menaikkan sebelah alisnya disertai seringai menggoda dari bibirnya. "So?"
Tania menggeleng. "Tidak. Aku ini seorang pekerja profesional. Akan kupastikan sebelum kau membelinya aku yang akan terlebih dahulu membelinya."
Damian terkekeh sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Tania memang sungguh menggemaskan. "Dasar si kaya dan segala kekuasaannya," ucapnya menirukan apa yang sudah gadis itu katakan. "Ah ... aku tahu. Hanya seorang pelangganlah yang boleh duduk di sini, bukan? Kalau begitu jadilah pelanggan di sini dan pesanlah makanan. Biar aku yang traktir," lanjutnya sambil menjentikkan jarinya.
Mau tak mau Tania mengangguk pasrah. Bagaimanapun pelanggan adalah raja yang harus ia layani. Lagi pula, perkataannya tadi hanyalah sebuah bualan. Nyatanya ia tak mampu untuk membeli kafe milik Beatrice. Uangnya jauh dari kata cukup. Mungkin ia harus menjual apartment-nya terlebih dahulu untuk menambah uangnya. Namun sebelum apartment-nya itu laku terjual, sudah bisa dipastikan Damian berhasil membeli kafe itu.
"Baiklah, lalu apa yang ingin kau pesan?" tanya Tania bersiap untuk mencatat.
"Samakan saja dengan pesananmu," jawab Damian singkat.
***
Beberapa menit berlalu, Damian, pria itu sudah berulang kali melayangkan sebuah gurauan kepada Tania. Namun gadis itu hanya berkutat dengan makanan yang dihidangkan di depannya. Sesekali ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Boleh aku bertanya apa alasanmu semalam mengajakku menari, sedangkan diriku tak sengaja melihatmu menolak ajakan Julian? Kutahu aku memang lebih tampa—"
"Aku hanya mengetesmu," ucap Tania memotong perkataan Damian, membuat pria itu mengernyit.
"Maksudnya?" tanya Damian penasaran.
"Teman-temanku hanya ingin mengetahui sejauh mana seorang pria setia kepada pasangannya dan kaulah yang menjadi objekku. Dan tak jauh dari ekspektasiku, nyatanya pria itu sama saja. Kau meninggalkan Irisa dan menerima ajakanku," jawab Tania sekenanya. Terserah setelah ini pria itu akan marah padanya. Ia tidak peduli, ia hanya mencoba untuk jujur dan tak mengecewakan pria itu lebih jauh lagi.
"Dan itu berarti hasilnya aku gagal?" tanya Damian. Tania menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Alih-alih marah, pria itu malah terkekeh. Namun gadis itu hanya diam tak mau menanggapi. "Jika wanitanya secantik dirimu, hanya pria bodohlah yang akan menolakmu. Kau dan Irisa berbanding terbalik. Dari segi mana pun kau jauh lebih baik darinya. Tentu saja aku lebih memilihmu," terangnya.
Tania menyeringai. "Jadi jika aku berwajah seperti si buruk rupa kau akan menolakku?"
"Bu—bukan begitu," jawab Damian dengan gugup. Ia berhenti sejenak untuk mengembuskan napas kasar, lalu berkata, "Kau tahu, cinta itu buta. Tak ada yang bisa mencegah ke mana hati akan berlabuh. Seseorang yang jatuh cinta takkan berpikir bagaimana rupa dan sikap seseorang yang dicintainya. Ia akan menerimanya dengan lapang dada."
Otak Tania mulai mencerna perkataan Damian. Pria itu benar, bahkan seseorang rela melakukan apa saja termasuk tindakan terbodoh sekalipun demi orang yang dicintainya. Pria itu juga benar bahwa rupa bukanlah sebuah poin teratas yang diagungkan dalam meraih cinta. Sama seperti yang dilakukan dia yang sudah buta hati dan matanya.
"So, apa yang terlintas di pikiranmu saat kau menerima ajakanku? Cinta atau nafsu?" tanya Tania. Gadis itu menghentikan kegiatan makannya. Kedua tangannya bersidekap di atas meja. Manik netra coklatnya memandang lekat netra biru Damian, mencari sebuah kejujuran yang tak bisa netra biru itu sembunyikan. Mulut pria di depannya terbuka setelah pria itu terlihat menahan napas. Belum sempat pria itu menjawab gadis itu sudah memotongnya. "Nafsu. Karena tidak mungkin kau jatuh cinta dalam sekejap, benar 'kan?" tanyanya lalu kembali pada aktivitas makannya.
Damian seakan tergagap. Ia sendiri bingung untuk mengungkap isi hatinya. Nafsu. Kata itu memang tak sepenuhnya salah. Tubuh Irisa mungkin lebih sexy ditambah wajahnya yang di-make up dengan sempurna. Namun, kecantikan dan make up natural, serta sikap dingin tak tersentuh Tania jauh lebih menggodanya. Bukan hanya itu saja, hatinya sudah sejak lama menginginkan Tania. Namun ia tak mau menelan kekecewaan menjadi pria malang yang gadis itu patahkan hatinya.
Tak ada dalam kamusnya seorang Damian ditolak, dan di saat semalam Tania mengajaknya berdansa, sayapnya terasa mengepak lebar bersiap terbang ke angkasa. Ia sungguh menantikan saat-saat seperti itu. Entah karena cinta atau nafsu yang jelas hatinya sangat-sangat menginginkannya.
"Kau benar, tapi mungkin perlahan rasa itu akan berubah. Seperti kata-katamu semalam," ujar Damian dengan raut serius. "Kutahu ini terlalu cepat, bahkan semalam baru saja aku putus, tapi ...," jedanya sejenak. Pria itu menarik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "maukah kau menjadi kekasihku?"
Tania membisu. Berubah? Mengubah nafsu menjadi cinta rasanya sungguh mustahil baginya. Melihat apa yang Damian lakukan ia justru yakin bahwa pria itu sesungguhnya tak benar-benar mencintai Irisa. Bahkan belum genap dua puluh empat jam pria itu sudah berpaling pada gadis lain. Ia pun tak yakin pria itu akan setia setelah ia menerimanya. Seperti yang pria itu katakan bahwa perasaannya didasari berlandaskan nafsu.
Tania yakin bahwa apa pun yang dilandasi nafsu takkan berakhir dengan indah. Tidak. Gadis itu tidak mau melihat kekecewaan yang diakibatkan sesuatu yang disebut cinta. Tidak, ia tidak akan pernah mau luka itu terulang lagi.
"Maaf aku tidak bisa," jawab Tania dengan lirih.
"Kenapa? Apa karena aku gagal dalam tes itu?" tanya Damian sarat akan kekecewaan. Tangannya terulur untuk menyentuh kedua tangan Tania. Namun, gadis itu buru-buru menariknya. "Aku berjanji, aku akan berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Kumohon beri aku kesempatan," bujuknya penuh keyakinan.
Tania menggelengkan kepalanya yang masih menunduk, kemudian ia sedikit mendongak menatap Damian. "Itu salah satunya. Sudahlah Damian lagi pula aku tidak mencintaimu. Kuyakin ini tidak akan berhasil apalagi kita memiliki aqidah yang berbeda."
"Aqidah?" Damian tak mengerti kata yang dilontarkan Tania.
"Agama kita berbeda dan dalam agamaku tidak ada kata yang namanya pacaran. Itu seperti kau sedang meminum alkohol. Rasanya memabukkan dan menyenangkan. Namun hanya berlangsung sementara dan efeknya merusak kesehatan serta pikiranmu. Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku tak mau semakin banyak dosa yang kutabur," ujar Tania.
"Bagaimana jika aku mengubah keyakinanku sepertimu? Jika kau tidak mau menjadi kekasihku, lalu maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku?" tanya Damian. Apakah pria itu baru saja melamar seorang gadis? Sungguh caranya tidaklah romantis.
"Itu tak semudah yang kau katakan, Damian. Keyakinan bukan sesuatu yang pantas dipermainkan. Janganlah terlalu cepat mengambil keputusan dan janganlah mengagungkan nafsu di atas segalanya, jika suatu saat kau tak ingin menyesal," balas Tania. Ia tahu saat ini Damian sedang dibutakan nafsu dan jika nafsu itu telah hilang, pria itu pasti berpaling dan mencari kesenangan lain.
"Kalau begitu bantu aku untuk memantapkan hatiku," mohon Damian.
"Jika kau bersungguh-sungguh kau bisa menemui orang yang tepat untuk belajar akan Islam. Maaf, sepertinya aku harus pergi dan terima kasih atas traktirannya." Tatapan gadis itu terlihat sendu, bahkan manik matanya terlihat seakan berkabut. Tania beranjak dari tempat duduknya. Sebelum ia pergi, ia melayangkan sebuah senyuman pada pria yang sedang menatapnya penuh kecewa. "Kuyakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang tepat untukmu, Damian."
Damian masih duduk sambil memandangi punggung Tania yang semakin menjauh dari pandangannya. Dalam batinnya ia menertawakan dirinya sendiri yang telah merasakan hatinya dipatahkan oleh gadis dengan julukan hearthbreaker itu. Namun hatinya pun menghangat dan puas kala mengetahui alasan gadis itu selalu menolak semua pria yang mendekatinya selama ini. Walau pada kenyataannya tanpa pria itu sadari ada alasan lain yang disembunyikan gadis itu.
***
Tania hanya duduk termenung di pantry. Beruntung Beatrice mengizinkannya untuk beristirahat. Namun baru saja sepuluh menit ia memejamkan matanya, lagi-lagi Olive mengagetkannya.
"Demi Tuhan, tidak bisakah kau membiarkanku bersantai sedikit, Olive," gerutu Tania. Namun teman satu kerjanya ini tidak membalasnya. Justru menampakan wajah ketakutan yang sulit dijelaskan.
Tanpa bicara Olive langsung menarik tangan Tania. Tania menatap bingung ke mana semua pelanggan pergi. Setahunya sepuluh menit yang lalu kafe itu masih nampak ramai. Lalu pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang duduk.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan, Damian?" tanya Tania sambil menarik kacamata yang bertengger di hidung pria itu.
Netra coklat itu terbelalak kala bukan Damianlah yang Tania lihat, melainkan orang lain.
"Kita pergi, Nona," ujar pria itu dengan seringai iblisnya sambil menancapkan sebuah cairan di lengan Tania, lalu ia membopongnya seperti sedang membawa karung beras.
Tania memberontak dalam gendongan pria tak dikenal itu. Namun efek cairan itu membuat perlahan tubuhnya melemas dan pandangannya mengabur, hingga sebuah kegelapan menghampirinya.
Pria itu memasukkan Tania ke dalam sebuah mobil, sementara Beatrice, Olive dan pegawai yang lain tak mampu berbuat apa-apa. Pria itu telah mengancam mereka bahkan mengusir semua pelanggan yang ada. Mereka hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu melindungi Tania.