Hari pun kembali pagi tapi Elia sudah berkutat dengan bahan-bahan yang akan dia jadikan sebagai crem dan masker untuk wajahnya agar semakin cerah dan glowing.
"Dayang yuni" panggil Elia.
"Hamba permaisuri" saut Yuni cepat.
"Apakah aku ada acara kegiatan setiap harinya?" Tanya Elia, karena sudah bosan didalam kamar.
"Tidak ada permaisuri" jawab Yuni.
"Terus pekerjaanku sebagai permaisuri apa?" Tanya Elia penasaran.
Karena pasalnya setiap ibu negarakan punya jadwal acara yang sangat padat, masa iya dirinya tak punya kerjaan sama sekali.
"Ampun permaisuri, semua pekerjaan anda telah digantikan oleh selir agung, atas perintan yang mulia kaisar langsung" jawab Yuni takut.
"What?, bosen dong aku lama-lama disini terus, tapi tak apa deh enak nyantai" gumam Elia sambil merentangkan tangannya lalu merebahkan dirnya diatas matras.
"Apa yang permaisuri katakan?" Tanya Yuni yang tak mengerti ucapan Elia.
"Tidak apa"
"Yuni siapkan aku baju, aku ingin berjalan-jalan" perintah Elia.
Setelah membereskan crem dan masker yang telah dia buat, Elia pun mengganti baju.
"Yuni bagaimana cara memakainya?" Tanya Elia saat melihat baju yang begitu asing buat dia, apa lagi lapisannya yang banyak.
Yuni pun dengan sabar menbantu Elia berpakaian, beda lagi dengan sang empu yang sedang mengomel gak jelas karena cara memakainya terlalu ribet.
"Sekarang kamu temenin aku keliling istana ini, atau temenin aku kepasar" ucap Elia setelah selesai berpakaian.
"Tapi permaisuri anda tak boleh keluar dari istana ini, tanpa izin dari yang mulia kaisar" ucap Yuni takut.
"Yaudah makanya ayok temenin aku keliling istana aja" ucap Elia cepat sambil berjalan meninggalkan Yuni didalam kediamannya.
"Baik permaisuri" Yuni dengan cepat menyusul Elia.
Elia pun berjalan-jalan mengitari istana, bahkan sampai terkagum melihat keindahan istana itu.
Bahkan dayangnya izin pun dia hanya berdehem saja, tanpa mengalihkan pandangan sedikiypun dari sekitarnya.
"Eh, lihat permaisuri sudah sembuh" ucap dayang 1.
"Iya kita bisa manfaatin dia lagi" ucap dayang 2.
Mereka berdua pun mendekati Elia dengan cepat dan senang lalu menghalangi jalan Elia.
"Salam yang mulia permaisuri" ucap dayang 1 dan 2 ramah.
"Syukurlah anda sudah pulih permaisuri" ucap dayang 2, Elia pun kembali mengangguk.
"Apakah hamba boleh minta tolong?, tangan hamba sedang sakit" ucap dayang 1 sambil memegangi tangannya sambil pura-pura sakit.
"Iya hamba juga permaisuri" ucap dayang 2.
Elia pun menoleh melihat gelagat aneh dari kedua dayang yang berada didepannya dan terlintas beberapa memori dari ingatannya kalau kedua dayang itu yang selalu memanfaatkan kebaikan Elia dulu dengan selalu menyuruh-nyuruh Elia dengan berbagai alasan agar Elia selalu menurutinya.
"Apa yang yang kalian inginkan" ucap elia ramah.
Kedua dayang itu pun tersenyum lebar "bisahkan anda membantu kami membersihkan ruangan disana" ucap dayang 1 sambil menunjuk salah satu ruangan dan diangguki oleh dayang 2.
"Membersihkan?, itukan kamar para dayang?, kenapa harus saya yang membersihkan biarkan dayang lain yang bersihkan" ucap Elia.
"Tapi yang mulia permaisuri dayang yang lain sedang sibuk semua" ucap dayang 2.
"Ya, kalau begitu kalian bersihkan sendiri" ucap Elia lalu meninggalakan mereka berdua.
Kedua dayang pun tercengang dengan ucapan Elia, dulu permaisuri yang penurut sekarang jadi pembangkang batin mereka, dari penolakan Elia membuat kedua pelayan itu marah.
"Hey, permaisuri yang gak tau diri, kamu itu gak cocok jadi permaisuri cocoknya jadi pelayan seperti kami" teriak dayang 2 marah.
"yang cocok jadi permaisuri itu selir vira" teriak dayang 2 lagi.
Saat mendengar nama Vira, Elia pun menjadi marah, karena Vira orang yang sangat Amelia benci dulu.
Karena vira selalu menggoda tunangannya dan hampir saja merusak hubungannya dengan sang tunangan, tapi untung saja tunangannya dulu setia jadi tak termakan rayuan Vira.
"apa lu bilang tadi?" Tanya Elia marah pada dayang 2.
"Permaisuri gak tau diri, lebih cocok kamu jadi pelayan, dan selir Vira jadi permaisuri" ucap dayang 2 tegas, dia tau permaisurinya itu pasti akan nangis dan pergi.
Plakkk
Plakkk
Bugggh
"Sekali lagi kamu nyebut nama selir itu didepanku, aku akan membunuhmu" marah Elia langsung pergi.
Kedua dayang pun tercengang atas tidakan kasar permaisurinya itu, bahkan sekarang tubuh mereka gemetar dan ketakutan.
"Sialan, kenapa sih nama Vira selalu dimana-mana gak zaman modern, zaman kuno, nama Vira dimana-mana" ucap Elia kesal sambil menghentakkan kedua kakinya.
"Wowww" ucap Elia terkagum melihat banyak pohon buah didepannya, yang membuat moodnya kembali ceria.
"Dayang Yuni apakah aku bisa memetik buah apel itu?" Tunjuk Elia pada pohon apel yang mempunyai buah sangat lebat.
"Dayang Yuni, ehhh kok gak ada sih" ucap Elia sambil menengok tapi tak mendapati Yuni dibelakangnya.
"Berarti saat aku marah-marah tak jelas tadi dayang Yuni udah tidak ada dibelakang dong, syukurlah bisa-bisa dibilang gila aku nanti kalau diliat orang" gumam Elia.
"Yaudahlah, aku bisa ambil sendiri, lagian kalau ada si Yuni itu, dia pasti akan ngelarang" ucap Elia sambil berjalan kearah pohon apel.
Setiap jalan bersama Yuni apapun yang ingin Elia lakukan pasti dilarang, gak boleh ini lah, gak boleh itu lah, ayolah Elia itu orangnya gak bisa diem, apa lagi dilarang, pasti akan dia lakukan.
"Wow, tinggi banget" gumam Elia saat tiba didepan pohon apel.
"Gimana cara naiknya ya" gumam Elia lagi sambil berpikir.
Setelah mendapatkan ide Elia pun langsung melepas sepatunya, menggulung hanfu sampai sepaha lalu mengikatnya pada pinggang, dan mulai memanjat.
"Huh, aku pikir akan susah manjat pohon ini, tapi begutu mudah" ucap Elia setelah sampai diatas pohon.
"Wow, kalau dilihat dari atas sini, istana tambah semakin bagus" ucap Elia terpukau.
"Hello apel, dalam beberapa hari kedepan kamu akan aku habiskan" ucap Elia senang sambil menggapai salah satu apel.
Elia adalah orang yang sangat suka apel bahkan dia bisa menghabiskan apel 3 kg dalam waktu sehari.
"Permaisuri, permaisuri, anda dimana" teriak Yuni saat kembali tak menemukan atasannya itu.
Padahal orang yang dicarinya sedang enak-enakan diatas pohon dengan angin yang sepoi-sepoi, yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Yang mulia permaisuri dimana anda, yang mulia kaisar tengah mencarimu" teriak Yuni.
Ya, kaisar datang berkunjung kekediaman permaisuri tapi tak ada orang didalamnya, Yuni pun tau dari seorang prajurit kalau kaisar mencari permaisuri.
"Huh enak juga ya disini, mau apa tinggal bilang langsung diambilin, tapi gak enak melakukan apapun selalu gak boleh" gumam Elia.
"Gimana kabar Riano disana ya?, aduh tunanganku sekaligus calon suamiku, orang yang sangat aku cintai semoga kamu bisa bahagia tanpaku" gumam Elia sendu sambil melihat kelangit dan melamunkan sang kekasih yang tak mungkin bisa bertemu kembali.
"PERMAISURI" teriak Yuni saat telah menemukan majikannya itu, Elia yang terkaget pun tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dia hanya menutup mata membiarkan tubuhnya jatuh.
Ahhhh
Brukkk
"Aduhhh" ringis Elia.