"Aduhhh" ringis Elia.
"Kok gak sakit ya" gumam Elia, dia pun membuka matanya dan langsung bertemu dengan manik mata hitam dan tatapan tajam bagai elang.
Elia jatuh dalam pelukan seorang lelaki dewasa yang nyatanya sangat tampan dan mempesona.
Mata Elia pun langsung menelusuri wajah yang ada didepannya, dia pun langsung terpesona melihat wajah orang didepannya.
"Tampannya" gumam Elia tanpa sadar.
"Kagum hemm" ucap orang itu dengan senyum miring.
"Ehh, lebih ganteng Alfaza" setelah sadar dari lamunannya.
Brukkk
"Aduhhh, kok mau nurunin gak bilang-bilang, malah langsung dilepas" ucap Elia kesal sambil berdiri dan mengibas hanfunya yang kotor.
"Siapa Alfaza?" Tanya orang itu, yang tak lain ialah lan grain syah suami dari Haw Elia Yin itu sendiri.
"Zhen tanya sekali lagi siapa Alfaza?" ucap kaisar dengan tegas, dan
"Aduh nih mulut, kok bisa keceplosan sih" batin Elia, dengan menepuk mututnya.
Elia pun memikirkan bagaimana caranya terhindar dari tatapan tajam
sang kaisar.
Plakkk
Tiba-tiba saja Elia memukul wajah kaisar lalu berlari menjauh dari kaisar dengan hanfu yang masih terikat
dipinggangnya, sehingga saat berlari paha mulusnya terlihat banyak orang yang memandang dan menatapnya lapar.
"Tutup mata kalian" ucap kaisar datar.
"Permaisuri tunggu" teriak Yuni, sambil mengejar Elia.
Hosss, hosss, hosss
"Akhirnya lepas juga dari terkaman singa yang mematikan" ucap Elia sambil mengatur napasnya.
"Siapa yang kau sebut singa permaisuri" ucap seseorang didepan Elia.
"Si itu, kaisar, suami kurang ajar" ucap Elia sambil menunjuk kebelakang.
"Kurang ajar kenapa memangnya?" Tanya orang didepannya lagi.
"Masa iya, dia diem saja saat istrinya disakiti, dasar kaisar kurang ajar, tadi saja bukannya bantuin istrinya malah dia banting ketanah" ucap Elia kesal.
"Ohhh" orang itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aaaaaa" teriak Elia kaget saat mendongak, ternyata kaisar yang berada didepannya.
"Emm, emm, emm" kaisar membekap mulut Elia.
"Sialan lu kaisar ga tau diri, gue hampir saja mati" ucap Elia saat kaisar melepaskan bekapannya.
"Apa yang permaisuri katakan" ucap kaisar tak mengerti.
"Kamu tidak berperasaan" ucap Elia didepan muka kaisar sambil menekan ditiap katanya.
Kaisar pun membulatkan matanya dan tersulut emosi.
"Permaisuri, kamu zhen hukum tidak boleh keluar dari kediaman selama satu minggu" ucap kaisar tegas.
"Salam yang mulia kaisar dan permaisuri semoga hidup seribu tahun" ucap selir Vira yang baru saja tiba.
"Ya ya ya, terserah kamu saja kaisar" ucap Elia santai lalu pergi meninggalkan kaisar tanpa salam, dan mengabaikan kehadiran selir Vira.
"Permaisuri anda lancang sekali tak memberi salam pada kaisar" teriak selir Vira.
Elia pun berhenti dan membalikkan badannya "Orangnya diem, kenapa situ yang sewot" ucap Elia santai dan kembali melangkahkan kakinya.
"Yang mulia..."
"Biarkan saja Vira'er" ucap kaisar memotong ucapan Vira.
"Baik yang mulia" ucap selir Vira manis.
"Panggil seperti biasa saja" ucap kaisar.
"Baik Grain'er" ucap Vira malu.
"Kamu kembalilah kekediamanmu, zhen ingin kambali keruang kerja" ucap kaisar sambil mengelus wajah selirnya.
"Baiklah Grain'er, aku permisi" ucap selir Vira dan diangguki kaisar.
Kaisar pun kembali keruang kerjanya saat diperjalanan pikirannya hanya mengingat dan mencerna semua yang telah terjadi, mulai dari perkataan yang tak dimengerti sampai kelakuan yang berubah drastis.
'bagaimana bisa permaisurinya yang dulu penurut dan tak pernah berkata kasar sekarang berubah sangat terbalik' pikir kaisar.
Tak mau memikirkan permaisurinya lebih lama kaisar pun mengecek laporan yang sudah bertumpuk didepannya.
Ditempat lain Elia sedang kesal bahkan terus memaki kaisar tiada henti didalam kamarnya.
Makian demi, makian yang keluar dari mulut Elia pun tak membuatnya puas.
Tiba-tiba saja kaisar muncul didepan Elia.
"Sudah memakinya" ucap kaisar sambil menaikan alisnya.
"Ayam" ucap Elia kaget.
"Sialan dari mana kamu masuk" teriak Elia sambil melempar bantal kearah kaisar.
"Permaisuri apa kau tak cape mengumpati zhen terus?" Tanya kaisar santai.
"Telinga zhen sakit mendengarnya" ucap kaisar sambil menutup telinga dengan jari telunjuknya.
Kaisar mendengar setiap makian tentang dirinya walau jaraknya sangat jauh, karena kaisar mempunyai kekuatan yang tak dimiliki siapa pun, bahkan jika dia ingin berkunjung kemanapun dalam kedipan mata sudah sampai, dan kekuatan itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu salah satunya kaisar.
"Huh" Elia pun duduk ditepi kasur.
"Yang mulia, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Elia, kaisar pun hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Tak jadi, kau pasti menolaknya" ucap Elia lesu.
"Katakanlah permaisuri, permintaanmu akan zhen penuhi" ucap kaisar.
"Yakin?" kaisarpun mengangguk.
"Bisahkan kamu lepaskan aku dari istana ini, aku ingin bebas" ucap Elia.
"Maksudmu?" Tanya kaisar bingung.
"Ceraikan aku, dan kembalikan aku kekediaman keluarga haw" ucap Elia.
"Tidak" ucap kaisar langsung.
"Katamu tadi akan memenuhi permintaanku" ucap Elia sambil menatap kaisar tajam.
"Zhen akan penuhi permintaanmu, tapi tidak yang tadi" ucap kaisar tegas sambil membalas tatapan tajam Elia.
"Tapi kenapa?, bukankah kau tak mengiginkanku, dan ingin terbebas dariku?, maka ceraikan aku, kau akan terbebas dariku" ucap Elia datar.
"Zhen tak akan pernah menceraikanmu" ucap kaisar tegas.
"Kau egois kaisar, kau egois" teriak Elia.
"Apa dirimu belum puas menyakitiku, belum puas menyiksaku, iya?" ucap Elia sambil menagis.
"Kau selalu diam saat selirmu berlaku seenaknya kepadaku, bahkan kau juga diam saat para pelayan memeritaku" ucap Elia meninggi.
"Sebenarnya apa posisi aku disini?, apa posisiku lebih renda dari seorang pelayan?" Tanya Elia sesegukkan, kaisar hanya menggeleng.
Kaisar yang melihat permaisurinya menangis hatinya terenyuh bahkan dirinya merasakan sakit dan sesak yang sama.