7. Dua Pangeran​ Berkuda​ Putih

1109 Words
"Gilaaaa .. kumis tipisnyaaaaa yaampuuuunnn ...," teriak Nadya keluar melihat ke arah dua cowok dengan lencana kelas XII yang baru saja dari kursi kantin di samping tempat yang mereka duduki.      Biasa aja, kali. Di Korea banyak kok yang lebih ganteng dari dia, ”kata Rara.      "Udah, mending lo diem aja deh, Ra. Gue mau manggil dia nih, dengerin ya," sahut Nadya yang memanggil kakak kelas itu. "Kak, gabung aja sama kita yuk!"      "Njir, malu-maluin sumpahhh!" rutuk Diva yang sangat menjaga pencitraannya itu.      Nathan menoleh kearah sumber suara dengan tatapan heran, diiringi dengan Aldi yang juga ikut menoleh ke arah mereka.      "Duduk di sini aja, Kak,      " Halo ? Lo cewek masa ngajakin cowok? Nad, kamu gila ," sahut Arina saudara kembarnya yang sok-sokan menggunakan bahasa inggris padahal ia tahu kata itu juga dari balik bungkusan permen yang lalu di translate -nya pake aplikasi terjemahan.      Iya apa-apaan sih lo, Nad, pamor gue gimana nih, ”tambah Diva.      Aldi dan Nathan kemudian berpindah tempat duduk ke tempat mereka, cowok mah kalo ditawar di mana bisa nolak.      "Hai," sapa Aldi.      Hai juga, Kakak ganteng, sahut Nadya dengan centilnya.      "Haha biasa aja, Nad. Btw, lo kenapa cuma diem, Ris?" tanya Aldi pada Risa— mereka memang sudah kenal dari masa pendaftaran sekolah dulu, di saat Risa meminta pendaftaran pendaftaran kepada Aldi yang saat itu guru itu sebagai panitia pendaftaran siswa baru. Ya, Aldi adalah mantan waketos yang sekarang menjadi ketua ekskul basket.      Aldi melirik Nathan, lalu berdehem. "Apa jangan-jangan lo salting gara-gara ada Nathan di sini? Kemaren -kemaren kan lo nanyain siapa nama dia," tambah Aldi lagi sambil memajukan dagunya ke arah Nathan.      "Apa?" jawab Risa singkat dengan nada pura-pura tidak mengakui bahwa kemarin ia menanyakan siapa nama cowok itu.      "Cewek ini nanyain nama gue? Yang bener aja lo di?" Nathan melontarkan pertanyaannya pada ceesnya, Aldi.      Iya, liat aja tuh pipinya jadi blushing gitu, ketahuan banget saltingnya, ”goda Aldi.      "Cieee ... ternyata Risa diam-diam ngebet kakak kelas ya, sekarang," mengejek kekeh Salsa mengejek Risa yang masih bergeming karena memang terlihat dia terlihat salah tingkah.      "Diem lo, ya. Mau gue sikut?" ancam Risa.      "Sini kalo berani, lo jual gue beli, haha." timpal Salsa sambil melahap nasi goreng menunggu.      Risa semakin salah tingkah, bukan hanya itu yang terjadi, tapi juga karena Risa pernah dua kali ditolong oleh Nathan karena kecerobohannya. Tidak hanya Aldi tapi juga teman-teman, membuat Risa terlihat bodoh di hadapan Nathan.      "Bi, torabikanya dua, ya," ucap Nathan memecah keributan antara Aldi,      Siap, Den, sahut Bibi kantin.      “Gak usah salting gitu kali, Ris, nathan respon kok orangnya,” goda Aldi lagi.      “Apaan sih lo, Kak, gue nanyain nama dia kemarin cuma karena gue mau berterimakasih sama dia karena kemarin dia nolongin gue, udah itu aja. Lo jangan ngada-ngada deh,” ketus Risa dengan meninggikan nada bicaranya.      Bibi pelayan di kantin itu kemudian mengantarkan dua gelas kopi yang tadi dipesan Nathan. "Ini den kopinya," ucap Bibi kantin.      "Iya, makasih, Bi," sahut Nathan. Cowok itu kemudian beralih menatap Risa. "Lo mau kasih kasih? Ya udah kalo gitu, kembali kasih." Nathan menjawab pernyataan dari Risa tadi.      "Eh-"      Gue kok jadi gugup gini ya, eh gimana nih gue pengen balik ke kelas tapi ntar ketauan banget kan kalo gue beneran salting disini. tapi kalo tetap disini gue juga gabisa ngomong apa-apa. Ya ampun lagian Nathan kalo dilihat dari deket gini ganteng juga ya, baik manis juga, pahlawan banget dah bagi gue— batin Risa yang menghidangkannya sambil tersenyum sipu.      Nathan jelas menyadari Risa yang dari tadi menatapnya sambil senyam senyum sendiri, Aldi dan teman-teman Risa pun hanya terkekeh heran melihat kelebihan.      "Ehhmm ..." tegur Nadya mengisyaratkan Risa untuk larangan lamunannya tapi Risa tetap saja senyum tidak jelas.      Salsa menggelengkan kepala, "RIS!"      "Eh, apa?" tanya Risa kebingungan.      "Lo yang kenapa, Ris, dari tadi ngeliatin kak Nathan banget. Jangan-jangan lo suka sama sama kak Nathan ya?" tanya Nadya dengan mata memicing.      "Idih, siapa yang ngeliatin dia?" sahut Risa tidak terima.      Aldi dan Nathan pun hanya terkekeh geli melihat tingkah laku Risa yang lumayan aneh kali ini. " Mungkin gak sih ni cewek naksir gue, " batin Nathan namun tidak melewatkannya.      Kring ... kring ...      Bel tanda waktu istirahat telah berakhir pun berbunyi.      "Njir, makanan gue belom abis nih pencet utama bel aja tuh guru piket, gaada toleransinya sama sekali," cerocos Diva sambil mencoba menghabiskan baso yang ada di tahan.      "Lo nya aja yang kelamaan,      Suka suka gue, sirik aja deh, sahut Diva.      "Kita duluan, ya, ntar kapan-kapan kalo ada waktu kita makan bareng lagi," pamit Aldi sambil membetulkan letak kacamata yang dipakainya.      "Oke, Ka k, makasih," sahut Nadya      Nathan dan Aldi beranjak dari tempat mereka duduki, sebelum mereka melangkahkan kaki, Nathan dan Aldi sempat melontarkan senyuman pada Risa secara bersamaan, jelas membuat Risa menggarami.      "Cie disenyumin sama dua pangeran berkuda putih," kekeh Diva.      "Perasaan tadi mereka jalan kaki deh, kuda putih darimana? Mata lo rabun kali, Div," sahut Arina yang akhirnya mendapatkan kembali tatapan sinis oleh kelima kelima.      Mending lo gak usah ngomong deh, Rin, gak jelas parah!      “Udah diem, gausah diladenin. Dia emang lemot, otaknya belum di servis dari awal masa pembelian,” tambah Nadya.      Arina pun memanyunkan bibirnya. Jelas saja, toh dari tadi sampai sekarang cuma dia yang disalahin. Lalu kan Arina cuma mau ikutan ngobrol, apa salahnya coba? Dan satu lagi, apa ? Nadya bilang otak Arina belom diservis dari awal masa pembelian? Heh, dia kira Arina itu motor matic nya Risa yang sama sekali nggak pernah diservis? Arina beegumam kecil.      "Lo ngomong apa barusan?" ketus Risa tidak terima dengan perkataan Arina barusan, pendengaran Risa masih normal loh ya, bukan rondengan.      "Lo denger? Ssttt .. jangan bilang sama Risa ya, ntar gue ditaboknya lagi, m" sahut Arina cengengesan.      Ekspresi Arina yang terlalu lemot itu akhirnya berubah jadi pucat pasi, ketika menyadari bahwa barusan adalah Risa. Kotoran! Dasar ogeb!      "Eh? Eung — nggak papa, Ris. Lo salah denger kali."      "Gue duluan ya guys, kebelet," ucap Arina seolah menghindari tatapan tajam dari teman-teman.      "Jadi gimana perasaan lo pas dikasih senyum sama kak Aldi dan Nathan?" Diva kembali melontarkan pertanyaannya layaknya seorang jurnalis, mewawancarai Risa.      Risa menyahut dengan muka datarnya "Biasa aja".      "Ayolah, Ris, ceritain. Gue yakin ini bakal jadi berita terhangat di sekolah minggu ini," cengir Diva.      Heh? Risa baru nyadar kalo yang dari tadi ngomong sama Risa adalah Diva, admin ig kelas yang sama sekali gamau bagi password ke anggota kelas. Untung tadi Risa belum sempat ngomong yang macem-macem.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD