RISA menggerutu sendiri dengan sumpah serapahnya, "Tu cowok siapa, sih? Mau bawa adek gue ke mana coba? Kalo bener ini penculikan, gue gak segan-segan minta Mama buat masukin tu cowok ke penjara."
Seketika, cowok yang diikutinya itu menoleh ke belakang. Sepertinya ia menyadari bahwa sejak tadi ada yang sedang mengikutinya.
Tepat ketika cowok itu mengarahkan pandangan matanya ke arah Risa. Risa dibuat terkejut. Ternyata... cowok yang diikutinya dari tadi adalah Nathan. Heh? Apa mungkin Nathan seorang penculik? Apa jangan-jangan dia seorang p*****l yang suka anak kecil seperti yang sedang marak di berita televisi? Lagi-lagi Risa parno dengan kenyataan yang dia lihat.
"Dasar penguntit! Ngapain lo dari tadi ngikutin gue?" celetuk Nathan.
"Seharusnya gue yang nanya sama lo, ngapain lo bawa adek gue? Lo mau nyulik dia? Atau jangan-jangan lo p*****l?"
Nathan menaikkan sebelah alisnya sesaat kemudian tersadar. "Oh, jadiini adek lo? Nih, gue balikin," sahut Nathan sambil melepaskan tangan Deby yang dari tadi digandengnya.
"Lain kali jaga adek lo baik-baik. Kalo aja tadi gue gak bantuin adek lo yang kesasar buat nyari kakaknya, pasti sekarang adek lo udah lebih sulit ditemuin. Dan ternyata kakaknya adalah lo? Haha, dasar cewek. Ternyata selain manja gak bisa benerin motor, lo juga ceroboh. Oh, iya. Gue cuma mau ingetin, lain kali jangan sembarangan nuduh orang."
Risa langsung kicep dan refleks menepuk mulutnya seraya membatin— bodoh banget ya gue, nuduh Nathan p*****l lah apa lah, ternyata dia yang nyelametin adek gue. Malu-maluin banget, deh!
Setelah itu, tanpa sepatah kata Nathan berjalan meninggalkan Risa dan adiknya.
"Nathan! Gue minta maaf udah nuduh lo! Dan makasih karena lo udah balikin adek gue."
Kemudian cowok itu menoleh lagi ke arah Risa, tapi hanya mengerutkan kedua keningnya, lalu terus berjalan tanpa memerdulikan permintaan maaf dari Risa. sementara Risa, ia hanya bisa menggigit bibirnya, karena sangat merasa bersalah pada Nathan.
"Kak, ayo pulang."
"Loh, kok pulang? Gak jadi main?"
"Udah, Kak. Ditemenin sama Kakak yang tadi."
Risa sedikit terkejut, walau berikutnya malah berusaha bersikap biasa saja. "Ooh gitu, yaudah."
----
Revan, si bocah sableng yang membuat Risa lengah kehilangan adiknya itu kini telah bermain ria di kamar Risa. Tanpa tau apa yang telah terjadi pada adik sahabatnya itu.
"Udah pulang lo, Ris?" sapa Revan ketika melihat Risa membuka pintu kamar dengan muka masam.
"Eh eleeeh..! Dasar bocah sableng. Gara-gara balesin chat dari lo yang gak penting itu, gue kehilangan adek gue di mall!" rutuk Risa.
"Loh kok gue yang disalahin? Terus gimana adek lo sekarang? Udah ketemu? Kalo belum kita ke kantor polisi sekarang, takutnya Deby menjadi korban penculikan," sahut Revan, panik.
"Mana sempat, keburu telat! Deby udah ketemu. Diselametin sama Nathan. Untung ada dia, coba kalo nggak ada, gue udah gak tau mesti gimana."
Revan langsung menoleh dengan wajah tak terbaca. "Nathan lagi?"
"Iya Nathan, cowok yang pagi tadi bantuin gue dan barusan dia bantuin gue lagi, baik banget dah tu anak."
Revan merotasikan bola mata, berdecih pelan. "Cih, jangan langsung menilai orang 'baik' cuma karena luarnya. Siapa tau dia punya maksud lain."
"Maksud lo apaan? Dia emang baik kok, gak kayak elo!"
"Serah lu dah, gue cuma ngingetin," sahut Revan yang kembali dengan fokus memainkan play station.
"Emang terserah gue." Risa menggerutu.
Risa mulai membaringkan badannya di kasur tanpa memperdulikan Revan yang sedang asik bermain ps dikamarnya. Berduaan di kamar? Jangan salah paham. Risa dan Revan bersahabat sejak kecil begitu juga dengan Linda dan Widi orangtua mereka, sepertinya persahabatan kedua orang tua mereka menurun ke anaknya.
Selain itu, rumah mereka juga satu komplek, jadi bagi mereka, rumah Risa adalah rumah Revan begitu juga sebaliknya, rumah Revan sudah dianggap sebagai rumah Risa sendiri. Jadi Risa sama sekali tidak merasa takut dengan adanya Revan di kamarnya selama pintu kamar terbuka, serta ada cctv yang selalu memantau.
Risa kembali merenungkan kejadian yang di alaminya hari ini, bagaimana mungkin dia bisa menolong Risa dua kali dihari yang sama. Sayup-sayup bayangan wajah Nathan mulai terlihat di langit-langit kamar. Risa tersenyum, seketika bayangan itu menjadi samar karena Risa tidak dapat lagi menahan rasa ngantuknya. Dia tertidur pulas.
"Sumpek juga gue lama-lama di sini, mending gua balik sekarang," gumam Revan sambil menoleh ke arah tempat tidur Risa. "Oh, udah tidur tuh anak, pantesan dari tadi gak kedengeran suara ngocehnya."
Revan mendekati kasur tempat tidur Risa dan mencoba membenarkan posisi tidur Risa yang sembarangan serta memakaikan selimut untuk Risa.
Cakep juga nih anak kalo lagi tidur— batin Revan sesekali dia ingin mencubit pipi sahabatnya itu. Namun seketika ia tersadar— Njir! gue lupa kalo dia pasang cctv dikamar. Bisa habis kena omelan gue besok kalo gue nyubit pipinya waktu tidur, gajadi deh. Pikir Revan lagi.
Jelas saja. Secantik-cantiknya seorang Thalia Karisa, dia juga seorang cewek yang lumayan galak bagi Revan. meski dia sahabatnya, tetap saja sering beradu cek-cok. Namun sejauh ini, mereka tidak pernah bertengkar lebih dari tiga hari, hebat.
Revan meninggalkan keluar dari kamar Risa, rupanya Linda, Mamanya Risa baru saja pulang dari kesibukannya.
"Eh, ada Revan. Loh? Risa nya mana?" sapa Linda seraya menanyakan keberadaan putrinya.
"Udah tidur tante, Revan tadi numpang main ps di kamar Risa, hehe," sahut Revan sambil terkekeh.
"Duh, kebiasaan si Risa main tidur aja."
"Gapapa juga kok tante, mungkin si Risa kecapean. Ya udah, Revan pamit pulang dulu."
"Iya, bilangin sama Mama kamu. Besok tante mau ke rumah."
"Oke, Tante," sahut Revan.
Revan berjalan kaki menuju rumahnya yang hanya terhalang tiga buah rumah dari rumah Risa. Seperti biasanya, suasana komplek perumahan itu cukup sepi bila malam tiba.
Semua lampu dimatikan, hanya ada beberapa rumah yang lampunya masih menyala. Begitu pula dengan rumah Revan, ia rasa orang tuanya sudah tertidur.
Pagar rumah Revan sudah terkunci, menandakan kali ini ia sudah terlalu larut malam pulang dari rumah Risa. Ia memandang ke arah gelang jam yang dia pakaikan di tangan kirinya. Saat itu, jam menunjukkan pukul 10.14 pm.
Dengan nekat, Revan memanjat pagar rumah yang tingginya kurang lebih tiga meter itu. Sudah jadi kebiasaan bagi Revan. Ia cukup handal melakukan hal nekat itu.
Kemudian ia membuka pintu depan yang sudah terkunci oleh Mamanya dengan kunci cadangan yang selalu saja ia bawa ke mana pun ia pergi.