5. Cantik

1189 Words
"Kamu nggak bisa, dong, salahin aku gitu aja. Ini semua aku lakuin buat kamu sama Revan juga!" bentak seorang pria paruh baya kepada Widi— Ibunya Revan. "Cara berpikir kamu terlalu sempit, Widi."      "Tapi bukan gitu caranya, Mas. Kamu bisa pakai cara lain, tidak perlu berhutang sebanyak itu. Kita belum tahu hal apa yang terjadi ke dalam, semisal suatu saat Mas tidak bekerja lagi bagaimana caranya melunasi semua hutang itu, Mas? Pikirin ! " sahut wanita yang dipanggil Revan 'Mama' tersebut.      "Ucapan kamu tadi seakan-akan kamu doain aku nggak kerja lagi. Itu mau kamu?"      "Bukan itu maksud aku, Mas—"      "Udahlah, kamu tau sendiri, 'kan? Perusahaan aku lagi bangkrut, tentu saja aku perlu suntikan dana. Dari mana lagi aku mencari dana selain dengan cara berhutang? Kamu cukup urusin Revan, biar aku yang pikirin semuanya!"      Suasana gaduh terdengar ketika Revan melewati kamar orangtuanya. Hal yang biasanya tidak ingin didengar Revan, dengan tak sengaja ia dengar kali ini.      Revan berbeda dengan Risa, jika Risa adalah anak korban dari broken home . Revan justru sebaliknya. Keluarganya masih utuh, hanya kondisi ekonomi mereka sedang memburuk. Selalu saja terjadi kabar antara kedua orang tua Revan. Ngomong-ngomong, Revan terbilang anak yang lebih dekat dengan Sang Mama dibandingkan dengan Papanya.      Dulu, di saat Revan dan teman-teman keluar malam. Ia sempat memergoki papanya yang sedang gembira ria bermain kartu dengan beberapa pria seumuran papanya di sebuah klub malam. Banyak tumpukan uang ratusan ribu tampak tersusun rapi di tengah-tengah mereka. Sejak saat itu, Revan menjadi kurang peduli terhadap Papa nya. Hingga sekarang, Revan merahasiakan hal itu dari Mamanya. Jelas saja, Mamanya akan sangat sakit hati jika berhubungan dengan suaminya adalah seorang penjudi.      Sejauh ini, Revan hanya diam mendengar orangtuanya yang berdebat masalah ekonomi. Hanya berdebat, bukan masalah bagi Revan. Terkecuali sampai Papa bermain kasar, Revan tidak segan akan mengusir pria penjudi itu keluar dari rumah, sekalipun Mama melarangnya. Lagi pula, rumah itu sendiri adalah rumah bekas peninggalan eyangnya, Ibu dari Mamanya Revan. Sama sekali tidak ada hak untuk Papa nya di sana.      Hal ini juga dirahasiakan Revan kepada Risa. Meski Risa sahabatnya, karena jika Revan menceritakan semuanya, pasti akan menambah cewek itu. Karena mau bagaimana pun, Revan tahu bahwa se-manja-manjanya Risa, cewek yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi terhadapnya.      "Cewek manja?" gumam Revan sambil membaringkan badannya di kasur, tidak lama setelah itu dia pun tertidur. - - "Revan. Bangun, Sayang. Ini sudah jam berapa ?!" seru wanita paruh baya sambil menepuk-nepuk pipi putranya.      Widi— Mama Revan menghela nafas pelan. Ia sudah berusaha keras membangunkan putranya, tapi usahanya lagi-lagi nihil karena nyatanya hingga saat ini Revan masih tertidur dengan mulut menganga. Mau tak mau, wanita itu segera berjalan ke arah kamar mandi dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa gayung berisi udara dan—      Byurr!      Wanita paruh baya itu memercikan beberapa kali tetapi tetap saja Revan tidak mau bangun. Akhirnya, tanpa pikir panjang segayung air itu ia siramkan ke tubuh Revan, membuat Revan serta kasurnya basah kuyup.      "ASTAGFIRULLAH, KEBAKARAN?!?!"      Widi merotasikan bola mata. "Kebanjiran, Van."      Revan mengucek matanya, refleks terbangun. Ia menunduk untuk melihat dirinya yang kini basah kuyup. Kemudian, matanya menyorotiot ke arah gayung yng te gan di pegang Widi. "Astaga, Mama jahat banget siram Revan kayak tadi. Dingin, Ma."      "Heh? Kamu itu paling susah dibangunin. Udah sana mandi! Niat sekolah, nggak ?!"      "Ih, yaampun galak banget." Revan memanyunkan bibir, sok imut. “Niat lah, Ma. Ya udah, Revan mandi dulu,” putusnya sambil mengambil handuk yang ia letakkan tak jauh dari kasur.      Sementara itu di tempat lain, Risa sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sedang duduk di teras rumah sambil mengerjakan tugas Kimia yang lupa dia kerjakan kemarin.      Mata pelajaran favoritnya adalah Kimia serta Matematika. Jadi, ia rela bangun pagi-pagi untuk mengerjakan soal Kimia ini. Tidak masalah bagi Risa selama dia tidak mengerjakannya di sekolah. Bisa-bisa kena marah dan kelas satu kelas nanti.      "Alhamdulillah, udah kelar juga ni tugas," gumam Risa      "Ris, hari ini mau berangkat sama Revan nggak ganteng?" tanya Revan setemgah berteriak di balik pagar rumah Risa yang masih ucapkan.      “Jadi dong,” sahut Risa.      "Lo ngerjain kimia ya? Gue nyontek dong."      "Enak aja!"      Revan kembali melakukan hal nekat memanjat pagar rumah Risa.      "Jadi lo gak mau kasih contekan ke gue? Ya udah, berarti hari ini kita satu kelas party bersihin wc sekolah," sahut Revan santai ketika ia sudah tiba di depan Risa.      "Bangke lo, ya. Ya udah, nih, mumpung gue baik. Jangan dikasih sama yang lain tapi ya."      Revan tersenyum puas, segera mengeluarkan buku Kimia dari dalam tas dan mulai semua yang dikerjakan Risa.      "Cepetan, coeg! Lo mau kita terlambat?" Risa menggerutu melihat Revan yang menulis terlalu santai.      "Sabar keles! Ini gue udah usaha banget nih."      "Usaha lo bilang? Jelas-jelas lo cuma nyalin hasil kerja gue."      "Yaa maksud gue usaha nulisnya, haha."      "Dasar k*****t! Udah, cepetan. Ntar kalo telat, nama baik gue jadi tercemar di ruang guru."      "Dasar cewek, banyak pencitraannya."      "Yaiyalah, pencitraan itu perlu."      "Serah lo, deh. Udah selesai nih gue, yukk cabut," sahut Revan sambil memasukkan kembali buku Kimia ke dalam tasnya.      "Mamaaaa ... Risa berangkat dulu bareng Revan ya!" teriak Risa dari depan pintu kepada Mamanya yang berada di dalam rumah itu.      "Iya, hati-hati!" sahut Linda.      Mereka pun akhirnya berangkat dari rumah Risa menuju sekolah. Gerbang sekolah hampir saja ditutup oleh Pak Rojali,      Gerbang sekolah biasanya ditutup lima belas menit sebelum bel jam pelajaran dimulai. Hal itu diberlakukan agar menerapkan sikap disiplin bagi siswa untuk datang ke sekolah pagi-pagi. Jadi, Revan dan Risa tidak terlambat sama sekali.      "Hahaha, baru kali ini, Ris, gue liat lo ngerayu orang sampe segitunya," Revan terbahak ketika sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelas bersama Risa.      "Gila lo, ya. Mimpi apa coba malem tadi gue sampe-sampe ngerayu bapak-bapak tua kaya Pak Rojali hari ini." Risa mendengus sebal.      Revan berusaha meredakan tawanya, "Udah lah, mungkin rejeki Pak Rojali pagi-pagi udah dirayu sama cewek cantik."       Risa langsung menatap Revan dengan wajah ceria dan mata yang memicing, "Cie, jadi menurut lo gue cantik,      "Hah? Kuping lo b***k, kali!" sahut Revan seolah tidak mengakui apa yang baru saja ia ucapkan. Memang begitu, kadamg ada saatnya isi hati tidak sejalan dengan apa yang mulut katakan. "Lo itu jelek, Ris!"      Risa menatap Revan dengan tatapan tajam, tidak terima dengan perkataan Revan.      "Heh? Apa lo bilang? Lo mau gue sikut? Sini kalo berani," kata Risa sambil menggulung lengan baju seragamnya.      Kayaknya cewek manja ini bakalan ngoceh lagi, mending gue kabur ntar kena sikutannya yang mematikan itu. Batin Revan      Fyi, dulu pada saat mereka masih sekolah dasar. Risa pernah menyikut Revan hingga Revan tidak bisa hadir ke sekolah selama empat hari. Itu semua hanya gara-gara Revan sengaja memasukkan penjara bekas permen karet di kursi Risa.      Sefeminim-feminimnya seorang cewek, pasti di satu sisi dia juga mempunyai sikap tomboi pada waktunya.      " Bleee! " Revan menjulurkan lidah pada sahabatnya itu kemudian lari meninggalkan Risa, mencoba menghindarinya      "Dasar bocah sableng! Awas lo ya." teriak Risa sambil mengejar Revan yang meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD