Bab 2. Malam Petaka

1003 Words
Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, Alendra telah membuat keputusan. Nasi sudah menjadi bubur, rencana terlanjur berjalan dan obat sudah bereaksi. Bila dibiarkan akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. "Maafkan aku, Nona. Aku menginginkanmu! Reaksi obat ini sangat menyiksa." Tak menghiraukan lagi ratapan tangis Liora, pria itu menarik paksa tubuh mungil itu, lalu mendekapnya dengan erat. Dia langsung meraup bibir merah itu, memainkannya dengan rakus seperti seseorang yang tengah menemukan mainan baru. Liora sekuat tenaga mengeliat melepaskan diri. Berbeda dengan Alen yang begitu menikmati, gadis itu justru merasa kesakitan saat mendapat gigitan kuat pada bibirnya. Dia justru tersiksa dengan keadaan ini. Air mata lolos semakin deras membasahi pipi. Bayangan kedua orang tuanya tiba-tiba terlintas dalam ingatan. Dia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya mereka saat mengetahui peristiwa ini. "Maafkan aku ... aku mohon bantu aku untuk lepas dari pengaruh obat ini. Hanya tubuhmu, aku butuh tubuhmu," ucap Alendra dengan tatapan sayu. "Tolong, jangan, Tuan ...." Penampilan gadis itu tampak sangat memprihatinkan. Wajah bersimbah air mata dengan baju tersingkap pada beberapa bagian terutama bagian d**a. "Aku akan tanggung jawab. Pegang janjiku!" Alendra kembali membungkam bibir gadis itu. Hasrat terlajur naik, dia tidak bisa mengendalikan diri. Alen menggiring tubuh gadis itu menuju ranjang mewahnya. Dirasa pergerakannya terlalu lambat, dia pun menggendong tubuh mungil itu seperti koala, kemudian membantingnya ke kasur empuk itu. Liora berusaha bangkit, tetapi Alen berhasil menahan gerakannya. "Ampun, Tuan ... tolong jangan seperti ini!" ucapnya disela tangis yang menyayat hati. Alendra tak menghiraukan ucapan itu. Dia justru sibuk melucuti semua pakaian yang melekat pada tubuh Liora, kemudian beralih melepas pakaiannya sendiri. Liora berusaha menutupi bagian-bagian sensitifnya menggunakan kedua tangan. Dia sangat malu, ini kali pertama tubuh polosnya dilihat oleh seorang pria. "Tubuhmu sangat indah," puji Alen. Netranya menatap lapar tubuh itu bak daging segar yang sangat menggiurkan. Tanpa basa-basi, Alen segera memulai aksinya dimulai dari menjamah hingga mencumbu. Tak ada sejengkal pun dari tubuh itu yang terlewat dari sapuan bibirnya. Sehingga malam penuh gairah dan keringat pun tercipta dalam ruangan megah itu. Tak jarang pula desahan dan rintihan mengalun mengiringi kegiatan mereka. *** Suara isak tangis terdengar nyaring di kesunyian pagi. Setelah menyelesaikan kegiatannya, Alendra tertidur lelap karena kelelahan. Berbeda dengan dirinya yang tidak bisa tidur semalam suntuk. Tubuhnya mematung tak berani melakukan pergerakan sekecil apa pun, takut jika membangunkan pria yang ada di sisinya. Alen mendekap erat tubuhnya dari belakang, menjadikan dirinya sebagai guling hidup. Tenaganya terkuras habis untuk memberontak semalam, seluruh persendian serasa ingin lepas dari tempatnya. Dia juga membenci reaksi tubuhnya yang seolah haus akan sentuhan padahal sebelumnya dia belum pernah melakukan hubungan terlarang seperti ini, meski dengan kekasihnya sekalipun. "ALENDRA, APA-APAAN INI?!" Teriakan kencang seseorang mengejutkan keduanya. Alen terpaksa membuka mata berusaha mengumpulkan serpihan kesadaran. Liora segera bangkit seraya mendekap erat selimut tebal agar tidak memperlihatkan tubuh polosnya. Dilihatnya, seorang wanita berambut pirang dengan penampilan glamor tampak mematung di ambang pintu. Raut keterkejutan tergambar jelas di wajah cantiknya. Tatapan marah wanita itu sangat mengintimidasinya. "Siapa dia, Alen?" teriaknya. Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia sangat terkejut mendapati kondisi kamar yang berantakan dan beberapa baju berserakan di lantai. Berbagai sangkaan buruk seketika merasuk dalam benaknya. Dengan langkah tergesa, dia menghampiri ranjang, lalu menarik kuat rambut Liora dan menyeretnya hingga tubuh gadis itu terjatuh ke lantai. "w************n! Berani-beraninya kau menggoda suamiku," geram wanita itu. "Ampun, Nona ... tolong, lepaskan! Kau menyakitiku." Liora mendesis menahan sakit yang luar biasa pada area kepala, matanya memerah menahan tangis. Di tengah kesakitannya dia juga didera rasa terkejut yang luar biasa, pria yang telah menghabiskan malam dengannya ternyata suami orang. "Apa yang kau lakukan, Viona?" Alendra segera turun tanpa lupa memakai celana pendeknya. Dia turut membantu melepas genggaman tangan sang istri pada rambut gadis itu. "Memberi pelajaran jalang yang menggodamu, apalagi?" "Lepas, Vio! Dia bukan wanita seperti itu," sanggah Alen setelah berhasil melepas jambakan istrinya. "Oh, kau membela w************n ini? Pelet apa yang sudah dia beri sampai kau tergila-gila padanya?" Viona memiringkan senyum merasa tidak percaya. "Aku tidak membela, tapi itu kenyataannya!" Pertengkaran antara pasangan suami istri itu pun tak dapat terelakkan. Keduanya saling membentak dan mencaci satu sama lain. Liora beringsut mundur. Tubuhnya sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit diiringi tangis yang semakin pecah. "Tuan, tolong biarkan saya pergi. Saya tidak ingin terlibat dalam masalah kalian." Suara sengaunya menyela pertikaian itu. "Tetap di sini! Urusan kita belum selesai," titah Lean tegas. "Biarkan dia pergi! Kenapa kau melarangnya, Alen?" Viona yang tidak terima segera menyambar ucapan sang suami. "Vio, dia bukan w************n justru aku yang merusaknya. Dia hanya korban dari rencanaku." Mengabaikan pertanyaan sang istri, Alendra berusaha memberi penjelasan pada sang istri. "Rencana apa?" "Menjebakmu." Viona menatap lekat wajah sang suami. Dia merasa sangsi dengan pengakuan itu. Namun, berusaha mempercayai. "Untuk apa kau ingin menjebakku?" "Aku ingin menghabiskan malam denganmu. Aku sengaja minum obat perangsang. Tapi ternyata anak buahku salah orang hanya karena postur tubuh dan pakaianmu sama dengan pakaian yang dikenakan wanita itu. Aku ingin keturunan. Aku ingin anak." "Usiaku hampir kepala empat. Mama menuntut keturunan dariku," sambungnya dengan wajah frustasi. Viona seketika terbungkam, tak pernah menyangka jika sang suami akan bertindak nekad hanya demi seorang anak. Bersamaan dengan itu, dia juga merutuki sifat menyebalkan ibu mertuanya yang selalu menuntut hal yang sangat dia hindari. Dia menggeleng keras akal sehatnya menolak semua penjelasan itu. Baginya peristiwa ini tetaplah sebuah kesalahan. Alendra telah berselingkuh dengan wanita lain, lalu menghabiskan malam di ranjang mereka. Sungguh, dia tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan. Amarah yang sempat mereda, kembali memuncak kala tanpa sengaja mendapati bekas kemerahan pada beberapa bagian tubuh wanita itu. Viona berniat meluncurkan serangannya kembali. Namun, berhasil dihadang oleh Alen. "Minggir, Alen!" "Tidak!" Tubuh kekar itu menutupi sempurna tubuh mungil Liora. "Kau tidak bisa menyalahkannya. Dia tidak salah, tapi aku yang salah." "Kau, huh!" Viona mengepalkan kedua tangannya. Dia kehabisan kata-kata. Dia tak ingin terlalu lama berada di dalam ruangan menyesakkan itu. Lantas memilih pergi membawa sisa amarah yang masih membara. Sebelum pergi, Viona melirik sinis wanita yang meringkuk di sisi ranjang. Dia menatap penuh kebencian, kemarahannya selalu meluap setiap kali menatap wajah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD