"Ini untukmu!" Alendra melempar sebuah cek bernilai 500 juta ke hadapan Liora.
Mereka berada di ruang tamu mansion. Alendra duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh. Tepat di belakangnya ada dua pengawal yang berjaga, sedangkan Liora duduk seorang diri pada kursi yang ada di seberangnya. Viona, entah kemana perginya wanita itu setelah pertengkaran hebat tadi pagi.
"Untuk apa ini?"
Kedua tangannya mengepal erat, tatapan nyalang ia tujukan pada pria di depannya.
"Ganti rugi atas hilangnya keperawananmu."
Memuncak sudah amarah yang sejak tadi berusaha keras ditahan Liora. Sejak beberapa menit yang lalu, dia berusaha bernegosiasi agar diizinkan keluar dari tempat terkutuk ini, tetapi Alen selalu menahannya. Kini, dia mengetahui maksud terselubung pria itu.
"Ambil kembali benda itu! Aku gak butuh! Aku ini korban bukan w************n," ucapnya dengan ketus.
Dia bangkit dari posisinya tanpa menyentuh atau pun melirik lembaran bernilai fantastis itu. Hatinya teramat sakit atas hinaan ini. Dia memang gadis biasa, tetapi bukan berarti bisa diperlakukan seenaknya. Dia bukan pula wanita mata duitan.
"Anda tenang saja, saya tidak akan melaporkan kejadian ini pada polisi. Saya menganggap semua ini hanyalah mimpi buruk. Satu permintaan saya, jangan pernah ganggu hidup saya lagi! Ini pertemuan pertama dan terakhir untuk kita. Permisi!"
Tanpa menunggu persetujuan, Liora melangkah keluar dari ruangan luas itu. Tepat di depan teras sebuah mobil mewah telah menunggunya, mobil yang akan membawanya keluar dari hutan belantara atas titah Tuan Alendra.
Alen tersenyum tipis, ini pertama kalinya ada seorang wanita yang berani menolak pemberiannya, terlebih setelah melewati malam bersama. Tatapannya menajam memerhatikan punggung gadis yang kian menjauh hingga berada di luar pintu utama.
Dengan sigap sopir membukakan pintu. Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil. Sebuah suara mengejutkannya.
"Semalam aku pelepasan berkali-kali, bisa jadi di dalam rahimmu telah tumbuh darah dagingku."
Liora mengetatkan rahang menahan geram. Tanpa berbalik dia pun berkata, "Jika memang iya, maka aku tidak akan membiarkannya hidup."
Dia segera memasuki mobil, tak ingin berlama-lama berada di tempat ini sebelum sang tuan rumah berubah pikiran. Tak menunggu lama, mobil yang dia tumpangi tampak melaju meninggalkan pekarangan luas itu.
"Permisi, Tuan. Saya menemukan ini." Salah seorang anak buah memberikan sebuah gelang emas putih tertera nama ''Liora Aghata'' kepada Alendra. Seuntai seringai terlukis di bibir tebalnya saat menerima benda itu.
"Kita akan bertemu kembali."
***
Dua jam berkendara, mobil yang ditumpangi Liora tiba di pelataran sebuah rumah sederhana berlantai satu. Liora memaku di tempat saat melihat mobil milik sang kekasih terparkir di depan rumah. Kecemasan tergambar jelas pada wajah pucatnya.
"Silahkan, Nona."
Suara sopir menyentak lamunan wanita itu. Dilihatnya pintu samping telah terbuka lebar. Dia menghela nafas panjang, mau tak mau harus segera keluar dari mobil mewah itu.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Si sopir mengangguk, lalu kembali ke tempat kemudi. Tak butuh waktu lama, mobil berwarna hitam mengkilap hilang dari pandangan.
"Lio, kamu kemana saja? Aku menunggumu berjam-jam kemarin." Suara seorang pria dari arah belakang mengejutkannya.
Liora gelagapan. Dia bingung untuk memberi jawaban. Apa pria ini akan percaya jika dia mengatakan yang sebenarnya? Namun, sejurus kemudian dia menggeleng kuat. Marco tidak boleh mengetahui apa yang menimpanya semalam.
"Hei, kenapa diam? Kamu kemana saja, Lio? Aku gak marah ... aku cuma khawatir. Pas mau pulang aku gak sengaja nemuin ini tepat di pintu masuk." Marco menunjukkan clucth bag wanita berwarna putih. "Setelah aku cek ternyata ini benar milikmu."
"Aku tidak bisa menghubungimu karena hape-mu ada di dalam." Pria itu melanjutkan ucapannya.
Akan tetapi, Liora tetap setia dengan kebungkamannya. Lidahnya semakin kelu untuk menjawab. Tatapannya nanar memandang pria itu. Pria yang menganggap dirinya sebagai wanita paling berharga. Akan tetapi, apa balasan atas ketulusannya. Dia justru mengkhianati. Akankah Marco mau menerima barang bekas, pikir gadis itu. Baru membayangkan hatinya merasakan nyeri yang luar biasa.
"Kata ibumu semalam kamu gak pulang. Kamu kemana? Jawab aku! Jangan diam saja!" Marco terus mencecar sembari memegang kedua bahu Liora.
"A-aku ...." Dia mengedarkan pandangan ke sembarang arah karena tak sanggup menatap wajah itu.
"Aku di rumah sakit." Ucapan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.
"Kamu gak apa-apa, 'kan? Mana yang sakit? katakan padaku!" Kekhawatiran tergambar jelas di wajah Marco. Dia memindai tubuh sang kekasih, bahkan memutar untuk memastikan jika tidak ada lecet sedikit pun pada tubuh itu.
"Aku gak apa-apa." Liora segera menghempaskan kedua tangan itu. Dia takut Marco mengetahui bekas kemerahan yang ada pada tubuhnya.
"Kemarin, ada ibu-ibu keserempet motor. Aku inisiatif menolongnya karena kasihan. Anaknya ada di luar kota dan baru datang tadi pagi. Makanya aku baru pulang," sambungnya panjang lebar disertai wajah masam.
Marco menyipitkan mata, entah kenapa dia merasa ragu mendengar jawaban itu. Jawaban Liora terasa janggal di hati. Namun, dia berusaha mempercayainya.
"Syukurlah, kalau kamu gak apa-apa. Masuk, gih! Ibu mengkhawatirkanmu," kata Marco diiringi senyum manisnya. Tak lupa pula, dia menyerahkan dompet tersebut kepada pemiliknya.
"Aku kerja dulu. Nanti sore kalau ada waktu aku datang lagi."
Liora hanya mengangguk pelan. Sungguh, tidak ada niatan sama sekali untuk membohongi kekasihnya. Akan tetapi, dia harus melakukan itu.
Sekumpulan kristal bening berkumpul di pelupuk mata mengiringi kepergian pria itu. Matanya memburam. Namun, dia berhasil menahannya. Ribuan kata maaf hanya mampu terucap dalam hati.
"Heh, Anak Nakal! Dari mana kamu? Semalaman gak pulang. Gak ngasih kabar. Bikin orang tua khawatir aja," gertak seorang wanita berusia 40 tahun dari ambang pintu.
Liora kembali menghela nafas panjang kala mendapati pertanyaan yang sama. Sang ibu tengah berkacak pinggang menyambut kedatangannya. Haruskah kali ini ia jujur pada ibunya? Akan tetapi, bagaimana jika Adelyn marah besar. Dia juga belum siap menerima amukan ayahnya.
Bukannya menjawab, gadis itu justru melenggang masuk begitu saja melewati sang ibu.
"Liora!" panggil Adelyn dengan nada tinggi. Dia semakin geram kala sang putri mengacuhkan dirinya.
Seolah tuli, Liora justru memasuki kamar dan langsung mengunci pintu. Dia ingin mengistirahatkan tubuh dan hati yang lelah. Dia juga ingin mendinginkan pikiran sebelum menghadapi kecerewetan ibunya.
"Sudahlah, Bu! Biarkan dia istirahat dulu. Wajahnya kuyu begitu kayak kurang tidur," sahut sang ayah sembari membolak-balikkan koran bacaan paginya.
"Senggaknya kasih penjelasan dulu sepatah dua patah kata. Bukan malah nyelonong gitu aja," sahut Adelyn tidak terima.
"Nanti, kalau dia keluar kamar 'kan bisa?"
Perdebatan pasangan paruh baya itu terdengar hingga ke telinga Liora. Dia merebahkan tubuh di kasur sambil memeluk guling. Air mata kembali menetes, memikirkan bagaimana ia akan mengatakan pada orang tuanya.