Bab 4. Penghakiman Ayah Ibu

1038 Words
Tepat jam makan siang, Liora memutuskan keluar kamar dikarenakan cacing pada perutnya telah berdemo. Dia baru sadar jika sejak kemarin dia belum makan sama sekali. Pasalnya, sepulang kantor dia bergegas menemui sang kekasih tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, bahkan mengabari orang tuanya hanya melalui pesan singkat. Tubuhnya juga terlihat lebih segar karena telah beristirahat selama beberapa jam. Tidak sepucat tadi pagi. Kedatangannya di meja makan disambut tatapan tajam dari sang ibu. Jujur, dia merasa risih, tetapi berusaha mengabaikan. Sebisa mungkin bersikap biasa agar kedua orang tuanya tidak curiga. "Mau kemana lagi kamu?" tanya Adelyn seraya memindai penampilan putrinya yang tampak berbeda, tepatnya riasan sang putri yang terlihat lebih menor dari biasanya. "Kerjalah, nyari duit biar cepet kaya," ucap Liora sembari mendaratkan bobot tubuh ke sebuah kursi. Matanya pun melirik sang ibu yang masih memasang wajah tak bersahabat. "Ibu lama-lama mirip ibu tiri. Lihat, Yah! Wajah ibu kek tetangga sebelah yang tukang nyiyir," lanjutnya berkomentar. Sementara Antony langsung melipat dalam bibirnya menahan tawa. Sejak pagi, sang istri memang terlihat uring-uringan. Wajahnya selalu masam disertai bibir manyun sepanjang lima centi. Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Dia berusaha menetralisir amarah yang sejak pagi menguasai dirinya. Rasa khawatir berlebih disertai sikap abai putrinya yang membuatnya seperti ini. Adelyn memang terkenal galak dan tegas, tetapi dia juga seorang ibu yang akan cemas bila anaknya tak pulang semalaman tanpa memberi kabar, terlebih Liora putri satu-satunya. "Jawab ibu! Semalam kamu kemana? Kenapa hape-mu gak aktif?" tanya Adelyn disertai mimik wajah serius. Antony pun segera menghentikan makan siangnya. Dia merasa ini waktu yang tepat untuk mengintrogasi sang putri. Liora mengurungkan niat untuk menyendok nasi. Kegugupan melanda hebat saat mendapati tatapan intimidasi dari kedua orang tuanya. Suasana meja makan siang itu berubah tegang layaknya ruang sidang yang siap memvonis terdakwa. "Aku di rumah sakit," jawabnya lirih. "Bohong!" sambar Adelyn diiringi mata melotot. Liora terperanjat mendengar bentakan itu, bahkan sampai harus mengusap pelan dadanya. "Sejak kapan kamu pandai berbohong?" Wanita itu tak mengalihkan pandangan sedetik pun dari putrinya. Matanya memicing berusaha memperjelas sebuah tanda pada leher Liora. "Aku gak bohong, Bu! Semalaman suntuk aku menunggui ibu-ibu keserempet motor di rumah sakit.'' Liora berusaha mengelak dengan suara lemahnya. "Putri kita gak mungkin bohong, Bu. Tadi ibu dengar sendiri, 'kan? Lio mengatakan alasan yang sama pada Marco," sahut Antony yang membela putrinya. "Aku punya firasat buruk, Yah. Firasat seorang ibu gak pernah salah. Aku yakin telah terjadi sesuatu sama anak ini." "Gak terjadi apa-apa, Bu ... aku cuma nolong ibu-ibu keserempet motor," jawab Liora dengan gusar. "Memang apa yang kamu lakukan di rumah sakit? Jual diri? Jual tubuh? Itu—" "Stop, Bu!" Antony memotong cepat ucapan sang istri. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" Rahang tegas pria berusia setengah abad itu tampak mengetat. Gurat kemarahan tergambar jelas di wajahnya. Mungkin dia bisa menolerir sikap Adelyn yang sejak tadi tidak bersahabat hingga menjadikan dirinya sebagai pelampiasan kemarahan. Akan tetapi, tidak untuk hal ini. Dia tidak terima putri kesayangannya dituduh seperti itu. "Bela aja terus anak ini! Kamu pikir aku anak ABG yang gak paham sama tanda yang bertebaran di leher anakmu itu." Seketika Antony mengalihkan pandangan pada leher sang putri. Netranya menatap lekat area itu. Istrinya benar di sana tertera tanda berbentuk abstrak pada leher putrinya pada bagian samping. Untuk memperjelas, Antony segera membuka kerah baju yang menutupi area tersebut. Betapa terkejutnya ia saat mendapati jika tanda tersebut tidak hanya satu, melainkan ada beberapa yang mengelilingi hingga area belakang. "Itu bekas cupangan, Yah!" sambung Adelyn memperjelas. Liora hanya bisa menunduk dalam. Bagaimana bisa tanda sialan itu diketahui ibunya? Padahal dia sudah menutupinya dengan beberapa lapis riasan. Dia semakin tak berkutik saat mengetahui tatapan tajam sang ayah. "Kau bisa jelaskan, Lio?" tanya Antony dengan suara beratnya. Nada bicara Antony memang terdengar rendah. Namun, terselip sebuah penekanan yang mewajibkan dirinya untuk menjawab. Liora meremas jari-jemarinya. Sungguh, dia ingin menghindar, tetapi tatapan itu melemahkan niatnya. "Jawab, Liora Aghata!" Liora memejamkan mata mendengar bentakan sang ayah. Tubuhnya bergetar hebat. Antony yang biasanya terlihat penuh kelembutan, kini tak ubahnya seperti singa garang yang mencari mangsa. "A-aku—" Gadis itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menarik nafas berulang kali, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Sepertinya memang dia harus jujur. "A-aku diperkosa." Antony mengepalkan kedua tangan hingga otot-otot biru keunguan tercetak dengan jelas. Adelyn tampak memejamkan mata. Pengakuan putrinya bagaikan sambaran petir di siang bolong. Mulutnya terkatup rapat tak tahu harus memberi tanggapan. "Siapa pelakunya?" tanya Antony lagi. "Aku gak kenal." Suara gebrakan meja berhasil membuatnya terjingkat. Ini yang dia takutkan. Amukan sang ayah. Nyatanya, niatan untuk menyembunyikan segalanya hanya sebatas angan. Masih hitungan jam niatan itu terpatahkan oleh sebuah kenyataan. Takdir telah menuntun orang tuanya untuk mengetahui rahasia yang berusaha ia simpan rapat. "Bagaimana bisa, Lio? Kenapa kamu mau berhubungan badan sama pria yang tidak kamu kenal? Cukup saat kecil saja kamu nakal, besar jangan!" ucap Adelyn diiringi tatapan penuh kekecewaan, "Ibu gak pernah ngajarin kamu jadi murahan." Ucapan terakhir sang ibu semakin menambah denyut nyeri pada ulu hatinya. Air mata meluncur bebas membasahi pipi mulusnya. Ingin rasanya dia menjelaskan semuanya, tetapi kenapa mulutnya terasa berat untuk terbuka. "Gak usah nangis! Air matamu gak guna." Adelyn berlalu begitu saja membawa serta kemarahannya. Liora benar-benar membuatnya kecewa. Putri semata wayangnya telah menodai kepercayaannya. "Ayah, ini bukan kemauanku. Aku dipaksa. Aku diculik." Antony bergeming tak memberi tanggapan apapun. Mulutnya tertutup rapat, tetapi tatapannya menajam lurus ke depan. "Apa kamu punya musuh?" Liora menggeleng cepat. "Maka itu hanya alasan. Kau beralasan dipaksa dan diculik, tapi kau juga menikmatinya, 'kan?" Hening. Tak ada jawaban dari bibir gadis itu. "Ayah kecewa, Lio! Kurang apa Marco padamu sampai kamu tega sama dia? Apa kamu gak berpikir? Bagaimana kecewanya dia saat mengetahui kamu berkhianat di belakangnya? Ayah gak pernah ngajarin kamu jadi pengkhianat." Setelah mengucapkan sederet kalimat itu, Antony pergi meninggalkan putrinya sendirian. Liora menangkup wajah menggunakan kedua tangan. Air mata mengalir deras. Dia menangis sesegukan, suaranya terdengar kencang di tengah kesendirian. Dia adalah korban. Mental dan hatinya terguncang. Dia butuh dukungan bukan hinaan atau cacian seperti ini. Perih yang dirasa hingga membuat dadanya sesak. Kenapa tidak ada simpati sedikit pun dari orang tuanya? Seharusnya mereka lebih mengenal dirinya, bukankah Liora darah dagingnya? Semua pertanyaan itu hanya bisa ia gaungkan dalam hati. Mulutnya tertutup rapat, tetapi pikiran dan hatinya tengah berperang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD