"Lio, lu sakit apa? Gadis kek lu bisa sakit juga, ya," sapa Inka—teman satu divisi, diiringi senyum yang terlihat menyebalkan ketika melihat kedatangan sahabatnya.
Setelah berdebat dengan orang tuanya tempo hari, Liora memutuskan untuk izin dengan alasan sakit. Keadaanya sangat kacau, dia tidak ingin masalah pribadinya berimbas pada pekerjaan.
"Gue manusia bukan robot! Robot saja perlu reparasi kalo konslet," sahut Liora ketus.
Ucapan itu sontak disambut gelak tawa oleh Inka. Meski, habis sakit wanita ini sudah kembali ke setelan pabriknya.
Liora memerhatikan area sekitar. Lobby kantor terlihat lebih ramai dari biasanya seperti akan ada acara. Dia mendapati banyak karyawan berbaris memanjang pada sisi kanan dan kiri karpet merah.
Demi memutus rasa penasaran, dia segera bertanya pada sahabatnya.
"Ada apa sih ini?"
"Perusahaan bakal kedatangan pimpinan baru."
Liora memandang dengan kening berkerut. Dia teringat desas-desus yang sempat beredar jika perusahaan tempatnya bekerja akan diakuisisi oleh pihak lain.
“Eh, perusahaan ini beneran bangkrut?” Liora menyahut spontan yang langsung dibungkam oleh tangan Inka.
Gadis itu tampak melotot, kemudian memerhatikan sekitar. Beruntung tidak ada yang menyadari ucapan Liora.
Liora segera melepas bungkaman tangan itu. “Apaan sih tangan lu? Lipstik gue belepotan!”
Dia melirik sebal sang sahabat seraya merogoh cermin kecil yang selalu tersedia di dalam tas. Tangannya bergerak merapikan sedikit riasan bibir. Setelah itu, bergegas menuju tempat finger print yang berada di meja resepsionis untuk absensi harian.
Setelahnya, dia berencana menuju lift yang akan membawanya menuju lantai lima dimana divisinya berada. Namun, baru beberapa langkah harus berhenti karena lengannya dicekal sang sahabat.
"Eh, lu mau kemana?"
"Mau ke ruangan-lah, kemana lagi?"
"Nanti aja! Lu gak penasaran sama pimpinan baru kita?" Inka merapatkan tubuh pada sahabatnya, lalu berbisik, "Rugi tau! Denger-denger dia masih muda, ganteng lagi. Ditambah lagi, dia itu CEO perusahaan terbesar di negara ini."
Inka tampak mengedarkan pandangan ke area sekitar untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Dia tidak ingin terkena masalah karena berani bergosip mengenai kehidupan pribadi petinggi perusahaan.
Pasalnya, salah satu aturan perusahaan 'semua karyawan dilarang membicarakan atau bergosip mengenai kehidupan pribadi para petinggi perusahaan karena dianggap kurang sopan. Bila sampai ada yang berani melanggar akan dikenakan sangsi berat'.
Apapun itu, Liora tidak tertarik dengan iming-iming pria tampan dari sahabatnya. Dia sudah punya Marco, tidak tertarik lagi dengan pria mana pun.
Mengingat sang kekasih, mendadak hatinya serasa tercubit. Sejak pagi itu, dia tidak menerima kabar apa pun darinya hingga hari ini. Berulang kali dihubungi, ponsel pria itu juga tidak aktif, bahkan pesan-pesan yang dikirim masih centang satu.
Liora segera merogoh ponsel yang berada di dalam tas dan mengeceknya. Nihil, dia tidak mendapati serentetan notifikasi dari Marco seperti biasanya.
"Li, malah bengong."
Lamunannya membuyar saat mendapat senggolan keras dari Inka.
"Iye-iye yang punya ayang. Kagak dapat kabar sehari aja ngelamun mantengin hape."
"Apaan sih?" Liora segera memasukkan kembali gawai ke dalam tas.
Dia benar-benar tidak berminat untuk ikut penyambutan. Suasana hatinya memburuk setelah teringat Marco.
"Eh, Lio, mau kemana? Lima menit lagi pimpinan tiba lho. Kita mesti nyambut dia!" Inka kembali menahan lengan sahabatnya.
"Gue hafal ya selera lu, In. Semua cowok yang kelihatan bening di mata lu, selalu lu bilang tampan. Bahkan si Yogi—OB baru itu juga lu bilang tampan."
Bibir gadis itu seketika mengerucut mendengar balasan sahabatnya. Kata-katanya terlalu pedas untuk didengar. Untung, telinganya sudah kebal dengan mulut bon cabe wanita itu.
"Lupakan ucapan gue tadi! Ini bukan perihal pria tampan. Semua karyawan wajib hadir termasuk para OB."
Liora menghela nafas kasar. Dia segera meletakkan tas di meja resepsionis dengan terpaksa ikut membaur pada barisan itu.
Benar saja, tak perlu menunggu lama sebuah mobil hitam mengkilap terparkir sempurna di depan lobby. Gadis itu tampak memicing seperti mengenali mobil tersebut.
Seorang sopir dengan sigap membukakan pintu untuk sang tuan. Sepasang sepatu pantofel tampak menapak, seorang pria dengan setelan formal keluar dari mobil dengan gagah. Aura kharismatik terpancar sempurna disertai kewibawaan. Kaca mata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya semakin menambah kadar ketampanan.
Semua mata tertuju pada satu titik, terutama tatapan kaum hawa. Kebanyakan dari mereka menatap penuh kekaguman dan memuja. Banyak dari para karyawati yang tampak membenahi penampilan padahal penampilan mereka masih terlihat rapi. Ada pula yang sekedar menyisir rambut menggunakan jari-jari tangan.
Akan tetapi, semua itu tidak berlaku untuk Liora. Gadis itu justru sangat terkejut mengetahui sosok yang dilihatnya. Tubuhnya mematung. Berulang kali menyadarkan diri jika dia sedang bermimpi bertemu sosok tersebut di tempatnya bekerja.
Pria itu berjalan melewati barisan para karyawan, meneliti satu per satu wajah mereka. Sebuah seringai terkembang sempurna kala melihat seorang gadis. Tatapan mereka saling beradu. Dia berhenti tepat di hadapan Liora seraya melepas kaca mata hitamnya.
"Takdir mempertemukan kita kembali," batin Alendra.
Seuntai senyum manis ia hadiahkan untuk wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya. Dia meneliti penampilan wanita itu sejenak, lalu melanjutkan kembali langkahnya hingga tubuhnya menghilang sempurna di balik kotak besi.
Liora masih terpaku, sulit memercayai apa yang baru saja dilihat. Keresahan tiba-tiba melanda hebat, takut teman-temannya curiga. Namun, dia segera mengenyahkan prasangka itu. Pada sisi kanan dan kirinya banyak karyawati lebih cantik dari dirinya.
"Tidak mungkin dia berhenti hanya karena melihatku. Ya, tidak mungkin! Dia mata keranjang, bisa saja dia melihat wanita lain, bukan aku." Pikirannya berkecamuk hingga tidak menyadari jika satu per satu karyawan telah meninggalkan tempat tersebut.
"Liora Agatha, lu masih mau berdiri di sini sampai kapan?"
Suara cempreng sahabatnya berhasil membuyarkan lamunan. Dia segera mengubah mimik wajah seperti semula.
"Gu-gue duluan."
Tanpa menunggu jawaban, Liora segera menyambar tasnya, lalu berjalan mendahului Inka memasuki lift.
"Eh, Lio, tunggu!" Inka segera berlari menyusul sahabatnya sebelum pintu lift tertutup sempurna.
Selama menuju ruangan, Inka tak berhenti berceloteh mengagumi ketampanan sang pimpinan, bahkan kekagumannya semakin menjadi saat sang pimpinan berhenti di hadapan mereka.
"Gue gak nyangka dia berhenti di depan kita. Uh, he’s so hot! Senyumnya manis banget ngelebihi gula, madu aja lewat. Ah, pokok gak ada yang bandingin ketampanannya di dunia ini."
Hanya itu yang mampu tertangkap di telinga Liora. Selebihnya, ia tidak terlalu mendengarkan karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tuhan ... aku selalu meminta agar dijauhkan dengannya. Tapi, kenapa sekarang justru satu atap? Semoga setelah ini tidak ada hal buruk lagi."