Jeffrey Elvano

842 Words
"Ibu Amanda akan pergi check-up kesehatannya ke Singapore, lusa. Dia menyuruh saya untuk menyampaikan pesan kepada Anda untuk bertemu siang ini." Jeffrey Elvano, pemegang saham terbesar di perusahaan JE Corp yang merangkap sebagai CEO, memutar kursi kebesarannya sehingga ia menatap lurus Ardi, sekretaris yang sudah mengabdi padanya sejak pertama ia masuk di dunia bisnis. Jeffrey mengangkat sebelah alisnya. "Apa aku tidak salah dengar? Dia meminta bertemu? Setelah beberapa waktu lalu dia bahkan mengusirku saat aku berkunjung ke rumahnya?" gumam lelaki berusia 30 tahun tersebut dengan nada datar. "Baiklah. Kosongkan semua jadwalku siang ini. Ibuku pasti rindu, makanya dia repot-repot menyuruhmu untuk menyampaikan pesannya padaku." Jeffrey berkata tenang, tetapi setiap kata yang ia lontarkan memiliki makna ganda yang dapat Ardi baca. Ardi menatap atasannya dengan tatapan prihatin. Lantas ia pamit undur diri setelah berbincang beberapa hal yang perlu ia bahas dengan Jeffrey. Kini, Jeffrey kembali sendiri di ruangan megahnya yang didominasi dengan warna abu-abu. Permata kelamnya meredup, menatap layar laptop yang menampilkan sebuah foto keluarga kecil yang terlihat bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu sudah tidak ada ---atau mungkin memang tidak pernah ada? Jeffrey mendesah lelah. Menyugar rambut cokelatnya ke belakang. Bahagia? Mungkin selamanya kata itu hanya akan jadi kata kiasan tanpa makna untuknya. *** Kini Jeffrey duduk di hadapan pria paruh baya yang memiliki darah asing, Ifanov Vledinir. Secangkir kopi panas mengepul di hadapan keduanya yang tengah bercengkrama. "Saya tidak tahu apakah Pak Jeffrey akan tertarik atau tidak dengan Lana. Dia tidak sama seperti kebanyakan gadis lainnya," Ifanov menatap rekannya dengan sorot jenaka. Jeffrey terkekeh ringan seraya menyeruput kopi miliknya. "Tidak sama? Hm. Saya suka tantangan," kekeh Jeffrey membuat lesung pipitnya terlihat jelas. "Yah, saya berharap Anda bisa menjaga dan membuatnya berubah. Saya ingin mempercayakan puteri saya pada Anda," tutur Ifanov seraya menerawang kosong. Melihatnya, membuat Jeffrey tersenyum maklum. Jeffrey mengangguk kecil dengan tatapan kelamnya. "Terimakasih karena telah mempercayakan puteri Anda untuk menjadi pendamping saya. Sejujurnya saya merasa berhutang budi karena awalnya meminta Anda untuk mencarikan calon istri untuk saya." Terdengar helaan napas pelan dari Ifanov. Helaan napas yang bermakna lega dan bersyukur. "Tidak perlu berterimakasih. Kita melakukan timbal-balik yang bagus, bukan? Anda memiliki calon istri, dan saya yang akan lega jika puteri saya menikah dengan Anda." "Baiklah. Mari kita bahas kelanjutan pertunangan dan pernikahan ini setelah Lana mulai siap." Jeffrey menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sedangkan kedua tangannya bertumpu di depan perut. "Saya harap, Anda bisa sembuh. Percaya saja bahwa prediksi Dokter terkadang salah," lanjut Jeffrey, menatap lunak tetapi berwibawa. "Yah, saya harap juga begitu. Bagaimana pun, istri dan anak saya pasti sedih." Jeffrey sempat tercenung, berpikir jika ia ada di posisi itu, akankah ada seseorang yang akan mengkhawatirkan atau mungkin bersedih saat ia tiada? Rasanya tak mungkin. Ya, tak ada yang merasa memiliki atau dimilikinya. "Maaf, Tuan, Ibu Amanda sudah datang." Kedatangan Ardi menginterupsi percakapan Jeffrey dan Ifanov yang memang terhenti tadi. "Baik, tunggu sebentar," balas Jeffrey, kemudian beralih ke Ifanov saat Ardi undur diri. "Baiklah, kalau begitu saya pamit. Dan semoga pertemuan nanti malam berjalan lancar." Ifanov berdiri dengan sopan, dan Jeffrey yang tentunya juga menjunjung tinggi etika mengantarkan Ifanov sampai pintu. Sekarang, Jeffrey harus berhadapan dengan wanita cantik yang berdiri tatkala Jeffrey muncul. "Masuklah!" ujar Jeffrey, berusaha memasang wajah datarnya seperti biasa. Amanda, wanita itu, berjalan masuk mengikuti langkah Jeffrey dan kemudian mendaratkan b****g di sofa yang berhadapan langsung dengan Jeffrey. Ada atmosfer tak biasa yang tiba-tiba saja terasa begitu tatapan Amanda terasa angkuh, menyisir sekeliling ruangan besar Jeffrey dengan bola mata cokelatnya. "Ibu sudah makan?" tanya Jeffrey. "Tidak perlu basa-basi. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan beberapa hal," gumam Amanda tajam. "Bu---" "Bisa tinggalkan Vanila dan biarkan dia hidup bahagia dengan Gara!" Jeffrey menghela napas pelan, kemudian memejamkan matanya letih. "Kenapa harus aku yang mengalah!?" ujarnya tak terima. "Vanila lebih dulu bersamaku sebelum dengan Gara!" "Tapi sekarang Vanila mencintai Gara." "Lalu?" Jeffrey berdecih sinis. "Apa yang Gara miliki untuk membahagiakan Vanila, hm?" "JEFFREY!" murka Amanda. Dan Jeffrey? Dengan entengnya ia tersenyum. Senyum yang amat menyakitkan. "Untuk pertama kalinya aku mendengar Ibu memanggil namaku, dan itu terjadi dalam situasi ini," gumam Jeffrey pedih. "Anda tahu apa yang saya benci dari Anda, Bapak Jeffrey Elvano?" desis Amanda, mengabaikan raut kecewa Jeffrey, "Anda sangat angkuh, sama seperti ayah Anda. Anda menganggap harta bisa membuat semua orang bahagia. Begitu bukan?" Jeffrey bergeming, mengusap kasar wajahnya, kemudian kembali menatap ibunya putus asa. "Jika Ibu berpikir begitu tentangku maka, silakan! Ibu tidak salah. Tujuan hidupku memang harta," dan awalnya itu untuk membahagiakanmu, lanjut Jeffrey dalam hati. Jeffrey berdiri, memasang raut datar yang sebenarnya hanya tameng atas dirinya yang rapuh. Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar, meninggalkan ruangan besar itu beserta wanita yang ada di dalamnya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu saat Amanda kembali memanggil. "Lupakan Vanila. Biarkan dia bahagia bersama Gara." Jeffrey tersenyum kecut, melanjutkan langkahnya semakin mantap. Memang, kebahagiaan saudara tirinya selalu di atas segala-galanya bagi ibunya. Bahkan Amanda seolah melupakan fakta bahwa di sini, Jeffrey lah yang selayaknya mendapatkan pembelaan atas apapun, bukan Gara atau pun Agnes adik tirinya. Dan Jeffrey? Tetap saja diam-diam ia selalu jadi orang yang kalah dan mengalah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD