****
"Yang Mulia Ratu... Panglima Lie Tang Shi sudah memasuki gerbang istana," lapor dayang dengan hati-hati ketika melihat ratunya membaca buku filsafat kuno di pavilliun kesayangannya.
Melirik sejenak, gadis itu hanya terdiam. Ia menutupi rasa takut dengan pura-pura membaca, bagaimana ia tidak takut, mendengar namanya disebut saja ia sudah gemetar tak karuan.
"Yang Mulia adakah tugas untuk hamba?" tanya sang Dayang ketika laporannya sama sekali tidak dianggap oleh Wang Qi Qi.
"Lakukan penyambutan seperti biasa, siapkan jamuan yang istimewa untuk panglima negeri Peng Lan. Ia baru pulang berperang, tawarkan minuman yang ia suka dan tawarkan pula hiburan yang sangat bagus," saran Wang Qi Qi tanpa mengalihkan tatapannya dari buku.
"Baik Yang Mulia." Sang dayang menganggukkan kepala lalu membungkuk dan pergi.
Setelah sang Dayang pergi, Wang Qi Qi menegakkan kepala. Ia menutup bukunya dengan kasar, sesaat ia memperhatikan jemarinya yang mendadak bergetar hebat.
Rasa takut bertahun-tahun menghantuinya, ia merasa takut ketika nama Lie Tang Shi disebutkan di hadapannya. Pria itu-, pria itu adalah pria tampan dengan separuh jiwa siluman di dalam tubuhnya.
Menelan ludah Wang Qi Qi beranjak berdiri dari duduknya. Ia menyeret langkah kaki dengan penuh enggan, mau tak mau sebagai ratu di negeri Peng Lan ia harus memberi pujian dan penghormatan pada Lie Tang Shi.
Gadis berbusana anggun itu melangkah menuju halaman aula istana dengan diikuti belasan dayang di belakangnya.
Ketika negeri Peng Lan bahagia atas kemenangan Panglima Lie Tang Shi, hanya Maharani Wang Qi Qi saja yang terlihat muram seperti hari-hari sebelumnya.
Suara genderang penyambutan terdengar ditabuh bertalu-talu. Dengan langkah kuda hitam yang gagah, Lie Tang Shi menunggangi kudanya menuju ke halaman aula istana.
Pria tampan itu tersenyum penuh misteri ketika melihat Wang Qi Qi sudah berdiri di sana guna menyambut kedatangannya.
Suara riuh terhenti ketika Lie Tang Shi turun dari kuda dan maju melangkah menghampiri ratu negeri Peng Lan sekaligus Nona-nya.
Tatapan tajam menembus jantung Wang Qi Qi, meskipun sudah bertahun-tahun menjalani perjanjian rahasia gadis itu tetap saja merasa salah tingkah dan gemetar ketika dihadapkan pada pria bernama Lie Tang Shi.
Tersenyum tipis, pria itu membungkuk hormat pada junjungannya. "Hormat hamba untuk Yang Mulia Ratu, dengan berkat Yang Mulia hamba bisa membawa pulau Wangyu kembali ke negeri Peng Lan."
Bibir Wang Qi Qi bergetar, matanya nyaris berkunang-kunang jika berdekatan dengan panglimanya itu. Rasa tidak nyaman mendadak menyebar ke seluruh tubuh, ia tidak bisa berlama-lama di sini apalagi berhadapan dengannya.
"Berkatku menyertaimu, Panglima. Beristirahatlah dan nikmati segala jamuan yang sudah aku siapkan untukmu," ujar Wang Qi Qi berusaha kukuh dengan jemari gemetar yang sengaja ia sembunyikan di balik jubah mewahnya.
Pria itu menebar senyum misterius, ia kembali membungkuk ketika Wang Qi Qi berbalik arah dan meninggalkannya. Tidak sekali atau pun dua kali, gadis itu tak pernah ramah pada Lie Tang Shi.
Meskipun begitu Lie Tang Shi seolah tak punya hati, selama ia untung ia akan selalu menempel tak peduli bagaimana inangnya bersikap padanya. Ia sadar, ia hanyalah pelayan. Pelayan yang hanya akan meminta upah di saat-saat tertentu saja.
****
Wang Qi Qi menghela napas, ia mengamati peta wilayah negeri Peng Lan. Jujur dengan bantuan Lie Tang Shi, wilayahnya kini bertambah luas. Kendati demikian, banyak juga pemberontakan yang terjadi di negerinya.
"Yang Mulia Maharani Wang Qi Qi, wilayah kita semakin luas dan itu berarti kita akan semakin intensif dalam menjaga wilayah kita. Namun hamba mendapat laporan dari mata-mata yang berjaga di wilayah gerbang timur bahwa ada pergerakan mencurigakan di gunung Yang Dong. Hamba takut itu adalah segerombolan pemberontak dari negeri Sam Koh," jelas Perdana Menteri Pertahanan seraya menunjuk ke arah peta bagian Gunung Yang Dong.
"Pemberontak dari Negeri Sam Koh?" ulang Wang Qi Qi dengan dahi sedikit berkerut.
"Ya Yang Mulia, negeri tetangga kita dekat sekali dengan hutan Boksu. Hutan Boksu adalah perbatasan gerbang timur Peng Lan, bisa dibayangkan jika mereka bersembunyi di gunung Yang Dong dan beraktifitas di hutan Boksu untuk mematai-matai kita. Di saat negeri kita lengah, mereka akan mudah menyerang di bagian timur karena bagian timur kita hanya berupa hutan dan gunung, wilayah yang jarang sekali penduduknya dan jarang sekali kita perhatikan," terang perdana menteri panjang lebar.
Wang Qi Qi terdiam, ia sangat awam soal kemiliteran. Ia tidak memiliki ilmu yang cukup dalam soal berperang, sepenuhnya ia hanya mengandalkan Lie Tang Shi.
Ah...pria itu lagi.
Seandainya pria itu membiarkan ia mati maka ia tidak akan bersusah payah memeras otak untuk memikirkan masa depan Peng Lan.
Seakan mengerti isi otak Wang Qi Qi, Lie Tang Shi yang turut hadir dalam rapat pribadi tersebut segera menyela, "Jika memang ada pergerakan, akulah yang akan bertanggungjawab. Mohon Perdana Menteri tidak membebani pikiran Yang Mulia Ratu."
Tatapan Wang Qi Qi beralih cepat ke arah Lie Tang Shi. Pria itu dengan mudahnya menukas ucapan Perdana Menteri Shu, ia memang pandai berperang tapi tidak seharusnya sesombong itu.
Melihat Wang Qi Qi menatapnya tak suka, Lie Tang Shi mengerutkan dahi dan balas menatap wajah cantik ratunya. Dengan wajah pura-pura polos dan tak berdosa ia bergumam santai," Yang Mulia Wang Qi Qi, apakah hamba membuat kesalahan?"
Wang Qi Qi segera memalingkan wajah, ia menggenggam jemarinya erat-erat. Ia geram tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, kenapa ia hidup seperti ini? Hidup bergantung pada pelayan semacam Lie Tang Shi.
"Tidak, kau benar Panglima. Sudah jadi kewajibanmu untuk turut menjaga keutuhan Negeri Peng Lan." Akhirnya hanya itu yang mampu Qi Qi ucapkan.
Lie Tang Shi mengulum senyum samar, ia tahu gadis di sampingnya mungkin tengah mengutukinya dalam hati. Tak apa, baginya Wang Qi Qi takkan bisa hidup tanpa uluran tangannya jadi untuk apa selalu menurut padanya. Sekali-kali berbuat muak, bolehkan?
"Baiklah, kita lanjutkan esok hari saja. Malam sudah larut, aku harus membiarkan Panglima Lie Tang Shi beristirahat. Ia baru saja pulang, ia harus merayakan kemenangannya. Bukankah begitu Panglima?" ujar Wang Qi Qi seraya melirik sejenak ke arah Lie Tang Shi.
Sang panglima tak menjawab, sadar jika nonanya mulai bermain api tak ada salahnya jika ia mengiyakan saja. Dengan kemurahan hati yang ia tunjukkan, Lie Tang Shi membungkukkan badan seraya tersenyum manis. "Terimakasih atas kemurahan Maharani Wang Qi Qi pada hamba. Hamba tidak akan melupakan kebaikan Yang Mulia."
Muak dengan tingkah manis Lie Tang Shi, Wang Qi Qi segera berbalik badan dan meninggalkan ruang rapat. Dengan diikuti belasan dayang di belakangnya, ia menuju ke kediaman Lily Naga. Kediaman itu adalah kediamannya, kediaman yang sudah ia huni sejak masih kanak-kanak.
Setiap perjalanannya ia tidak pernah melupakan segala bentuk kekurangajaran Lie Tang Shi kepadanya. Ia geram tapi tak bisa marah pada siapapun. Semua kekesalan dan kemarahan hanya tertumpuk sia-sia dalam dadanya. Wang Qi Qi menghela napas, otaknya terasa begitu berat dan tubuhnya terasa begitu hina. Ia ingin segera sampai di Lily Naga, merebahkan diri dan melupakan semuanya.
***
"Tinggalkan aku sendiri, kalian boleh beristirahat di kamar kalian masing-masing," instruksi Wang Qi Qi di ambang pintu kediamannya.
"Tapi Yang Mulia, kami diperintahkan Panglima Lie Tang Shi untuk terus menjaga Anda sampai pagi hari," ucap sang dayang diikuti anggukan dayang lainnya.
Wajah cantik Wang Qi Qi berubah masam, apa-apaan ini? Kenapa pria itu semakin posesif kepadanya? Ia bahkan melebih-lebihkan tugas dayang. Apa ia tidak tahu bahwa dayang juga butuh waktu istirahat? Merasa dibuat kesal Wang Qi Qi mencebik kasar, "Perlukah aku menegaskan siapa yang menjadi pimpinan di Negeri Peng Lan?"
Para dayang segera sadar akan kesalahannya, mereka segera membungkuk dalam-dalam pada Wang Qi Qi. "Maafkan kami Yang Mulia Ratu. Kami akan segera pergi."
Tanpa menunggu jawaban Wang Qi Qi mereka segera menghormat dan undur diri satu per satu. Setelah kediamannya sepi, Wang Qi Qi segera menutup pintu kediaman dan menguncinya. Ia berbalik dan .....
Deg.
"Kau lama sekali."
Wajah Wang Qi Qi memucat, ia tertegun dan kakinya rasanya terpasung berat di lantai. Lie Tang Shi menoleh padanya, pria itu sudah duduk manis di sisi ranjangnya yang berseprei merah muda dengan sorot mata tajam.
Gadis bersurai legam itu sekali lagi tak bisa mengumpat, sudah jadi kebiasaan Lie Tang Shi jika ia datang dan pergi sesuka hatinya.
Melihat Wang Qi Qi belum juga beranjak dari posisinya, Lie Tang Shi mengerutkan kening. Ia mengulurkan tangan ke arah nonanya, secara ajaib tubuh Wang Qi Qi tertarik mendekat kepadanya. Tanpa bisa menolak, beberapa detik kemudian Wang Qi Qi sudah berada dalam dekapan Lie Tang Shi.
"Kau sangat kurang ajar!" desis Wang Qi Qi tak suka, gadis itu melayangkan tamparan di pipi tampan Lie Tang Shi.
Seperti pelayan pada umumnya, Lie Tang Shi tidak mempermasalahkan jika nonanya menamparkan sekali atau bahkan ribuan kali. Baginya, tangan kecil itu tidak akan mampu melukainya meskipun ia terus berusaha keras.
Lie Tang Shi membiarkan saja ketika Qi Qi menghempaskan tubuhnya dan beranjak berdiri. Senyum terkembang di wajah iblisnya, ia bisa merasakan jika nonanya berusaha bersikap berani hanya untuk menutupi ketakutannya yang sangatlah besar.
"Katakan tugas apalagi yang akan kau berikan pada pelayanmu ini, Nona Wang Qi Qi?" tandasnya seakan menganggap semuanya begitu enteng.
Wang Qi Qi berjalan menjauh, tangannya gemetar namun ia segera menyembunyikannya. Bibirnya yang ranum dan tipis sangatlah menggoda, namun begitu ia tidak pernah menggunakannya untuk memberi titah tiada guna.
" Ayo katakan saja, pelayanmu yang rendah ini pasti akan segera mengabulkannya. Semakin banyak kau meminta maka aku akan semakin senang melakukannya," desak Lie Tang Shi lantas beranjak berdiri dan mendekati Wang Qi Qi.
Merasakan aura dingin Lie Tang Shi yang mendekat, Wang Qi Qi berbalik dan setengah berteriak, "Jangan mendekat!"
Langkah Lie Tang Shi terhenti, mereka beradu tatap cukup lama hingga akhirnya Wang Qi Qi memalingkan wajahnya dan menghela napas. "Tidak ada tugas untukmu, sekarang pergilah dan jangan ganggu tidurku."
Lie Tang Shi menaikkan sebelah alisnya, ia tersenyum miring. Pria tampan itu tahu niat apa yang terkandung dalam instruksi yang Wang Qi Qi berikan padanya. Dengan kekuatannya ia kembali menarik tubuh sintal Wang Qi Qi dalam dekapannya.
Dalam hitungan detik mereka sudah melekat satu sama lain. Senyuman misterius itu terpancar jelas di wajah Lie Tang Shi, senyuman yang membuat Wang Qi Qi hampir bergidik ngeri. "Terserah dirimu kau ingin membuatku seperti apa. Meskipun kau meminimalkan tugasku, itu tidak akan mempengaruhi bayaranku di akhir bulan purnama." Pria itu berbisik di telinga Wang Qi Qi dengan nada sangat lembut.
Wajah Wang Qi Qi semakin memucat, keringat tipis melapisi dahinya yang putih. Apalagi senyum pria itu semakin menghunjam jauh ke dalam jantungnya, ia seakan ingin runtuh dan mati.
"Jangan lupa pertemuan intim kita tiga hari lagi. Jangan kabur atau berusaha bersembunyi dariku."
Lie Tang Shi menghempaskan tubuh Wang Qi Qi hingga mundur beberapa langkah dan membentur sisi ranjang. Pria dingin dan tak punya hati itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya, semua yang ia lakukan membuat Wang Qi Qi tidak bisa melupakan.
Cara apalagi kali ini? Ia tidak ingin bertemu dengannya dengan cara seperti ini.
Perjanjian gila itu,~
Kepala Wang Qi Qi berdenyut, ia merasa sedang diperas habis-habisan. Ia tidak menginginkan perjanjian itu tapi Lie Tang Shi memanipulasi dirinya. Ia memanfaatkan ketidaksadaran Wang Qi Qi untuk memenuhi tujuannya.
Sekarang siapakah yang jadi pelayan dan tuan? Wang Qi Qi terlihat seperti putri namun kenyataan di balik semua itu ia hanyalah boneka yang sering dimainkan Lie Tang Shi.
Mata merah namun tak bisa menangis itu bangkit dari keterpurukannya, hatinya sudah berniat untuk melawan. Lie Tang Shi takkan membiarkan ia mati jadi .....
Ia akan berusaha bunuh diri kali ini. Ia sungguh ingin mati, mungkin bertemu dengan malaikat maut lebih menyenangkan daripada bertemu dengan Lie Tang Shi.
Wang Qi Qi putus asa, tidak menunggu tiga hari lagi ia pastikan bahwa ia akan berangkat mati.
****
Yuk yang belum tap love, mari tap love yuk. Caranya gimana, Thor? Kamu tinggal ketuk layar ponsel kamu dan tekan tanda love atau hati di kanan bawah.
Yuk budayakan tap love untuk mengapresiasi karya penulis.
SELAMAT MEMBACA.