You Deserve This World

2003 Words
Bu Dersa: Rhea, bisa tolong ke rumah sy buat cek Dextra nggak? Sy lg seminar di Bandung. Dextra teleponnya g aktif. Sy khawatir. Sekalian ingetin makan. Rhea baru saja mau pulang ke rumah tepat ketika menerima pesan dari Bu Dersa. Dextra baik-baik saja. Sedang terkapar di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia tertidur setidaknya sudah setengah jam lamanya setelah selesai mandi dan bersih-bersih diri. Uang Rhea saja sampai lupa belum diganti. Rhea tidak marah. Dia bisa paham kalau Dextra memang kelelahan. Tampilannya saja sudah tidak mirip manusia. Lagi pula uangnya pasti kembali ketika Dextra sudah sadar nanti. Rhea hanya sedih saja karena sepertinya harus pulang dengan jalan kaki lagi. Tapi setelah membaca pesan Bu Dersa, Rhea mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia teringat kalau Dextra tampaknya belum makan. Mungkin tak ada salahnya buat Rhea untuk mencoba berbaik hati sambil menanti uangnya kembali. Kasihan juga Bu Dersa kalau anak semata wayangnya ini sampai masuk berita karena tewas mengenaskan di rumahnya sendiri akibat lupa makan. Rhea akhirnya menuju area dapur. Berniat untuk memasak makanan buat Dextra. Rhea sama sekali tidak pandai memasak. Dia cuma bisa membuat beberapa masakan sederhana seperti nasi goreng, telur dadar, dan tentunya mi instan. Rhea mengecek isi kulkas Dextra. Lengkap rupanya. Ada sayur, buah, s**u, ikan, ayam, udang, bahkan daging sapi A5 yang biasanya dipakai orang untuk memasak steak. Semua ini adalah bukti bahwa Bu Dersa tak ingin anaknya mati kelaparan. Dextra saja yang malas memasak dan lupa makan kalau sudah terlalu serius tentang sesuatu. Pilihan Rhea jatuh pada sawi hijau, udang, ayam, dan telur. Tak lupa, Rhea mengambil nasi dari magic com serta bumbu-bumbu penyedap seperti bawang putih, bawang merah, merica, lada, saus, kecap manis, kecap asin, garam, dan tentunya bumbu andalan kita semua, MSG alias micin. Iya, Rhea mau masak nasi goreng. Rhea mencuci dan memotong semua bahan yang dia punya. Setelahnya memanaskan wajan yang telah diolesi mentega di atas kompor dengan nyala api penuh. Cukup repot sebenarnya, karena Rhea cuma pakai satu tangan untuk melakukan semuanya. Begitu kompor panas, Rhea memasukkan bawang putih dan bawang merah lalu menumisnya sampai harum dan berubah warna jadi kecokelatan. Dia lalu memecahkan cangkang telur dan menggoreng isinya sambil dihancurkan sampai jadi telur orak-arik atau bahasa hits-nya scramble egg. Bukan cuma telur, Rhea juga menambahkan potongan ayam berbentuk dadu dan udang yang telah dia cuci bersih. Sawi hijau menjadi bahan yang selanjutnya Rhea masak. Rhea pernah baca kalau sawi itu begitu dimasak akan mengeluarkan air. Itulah mengapa kalau masak nasi goreng atau mi goreng, sawi sebaiknya dimasukkan sebelum nasi. Tujuannya adalah menjaga nasi agar teksturnya tidak berubah lembek karena menyerap air dari sawi. Potongan-potongan sawi itu berubah alum. Rhea memasukkan nasi dan menambahkan bumbu sesuai instingnya. Rhea mengaduk-aduk semua yang ada di atas wajan itu sampai bumbu tercampur merata. Tak lama kemudian, nasi goreng matang. Sebagai koki yang baik, Rhea mencoba terlebih dahulu hasil dari masakannya. Tak terlalu buruk ternyata. Biarpun tak seenak nasi goreng bikinan abang-abang yang memang kerjaannya jualan nasi goreng, setidaknya nasi goreng milik Rhea layak untuk dimakan manusia. "Dex! Bangun!" Rhea menepuk-nepuk pelan bahu Dextra. Tapi Dextra tidur seperti orang mati, jangankan tepukan pelan seperti itu, kalaupun ada gempa bumi sekarang juga mungkin dia tidak akan tau. Namun mau bagaimanapun, Dextra harus bangun dan makan supaya Rhea bisa pulang dengan tenang. Karenanya, Rhea mencoba membangunkan Dextra lebih keras lagi dari sebelumnya. Bukan lagi menepuk, tapi memukul. Sudah seperti preman saja Rhea. "Heh, Dextra! Bangun!" Setelah cukup lama, Dextra akhirnya tersadar. Kalau sedang bermimpi, mungkin dia sedang mimpi naik kapal yang digoncang ombak tinggi dan badai kencang. Dextra terduduk. Matanya setengah terbuka tapi nyawanya belum sadar sepenuhnya. "Apa sih?" tanyanya beberapa lama kemudian. Nadanya sewot tapi malah kedengaran lucu karena dia setengah tersadar. "Makan dulu! Abis itu lanjut tidur!" ujar Rhea. Dextra mengucek matanya. Jangankan untuk makan, untuk duduk dan membuka mata lebar-lebar saja Dextra tak punya tenaga rasanya. Satu-satunya tenaga yang dia punya hanyalah tenaga untuk tidur. Rhea meletakkan nasi goreng buatannya di atas meja ruang tamu, tepat di depan Dextra yang sekarang sudah mulai sadar mengenai apa yang terjadi. "Lo masak buat gue?" tanya Dextra. "Iya. Bu Dersa nge-chat, katanya lo enggak bisa dihubungi. Khawatir banget tuh! Telepon gih nanti! Jangan jadi anak durhaka yang bikin orang tua khawatir!" ujar Rhea. Padahal dirinya sendiri tak punya hubungan yang baik dengan orang tuanya. Dextra lalu tertawa kecil. "Kalau lo gimana? Khawatir nggak sama gue?" "Jangan harap! Satu-satunya yang bikin gue khawatir sekarang tuh cuma duit lima ratus ribu gue yang belum balik!" seru Rhea. "Eh, iya juga! Gue lupa belum balikin duit lo. Bentar, gue ambilin." Dextra hendak beranjak. "Udah! Nanti aja! Makan dulu! Biar gue foto terus kasih ke Bu Dersa buat bukti. Siapa tau gua dapat bonus gaji karena udah menyelamatkan anaknya dari kelaparan!" ujar Rhea. Dextra geleng-geleng kepala. "Iya, iya! Se-bahagianya lo aja!" Dextra akhirnya mencicipi nasi goreng buatan Rhea. "Gimana? Enak?" tanya Rhea. Dextra langsung mengerutkan dahi seolah masakan Rhea benar-benar buruk dan menyiksa lidahnya. "Beneran se-enggak enak itu?" tanya Rhea. Dextra kemudian mengambilkan satu suap nasi goreng untuk Rhea dan menyuapkannya. "Cobain deh!" Rhea menerima suapan itu. Dia ingin memastikan apakah nasi gorengnya memang berubah rasa jadi tidak enak atau bagaimana. Pasalnya tadi ketika dia coba tepat setelah matang, rasanya baik-baik saja meskipun tidak benar-benar spesial. Dextra tertawa. "Enak kok! Bercanda gue!" Rhea mendengus sebal. Padahal dia sempat khawatir kalau masakannya benar-benar tidak enak. Sudah ancang-ancang mau membuang nasi goreng itu malah. "Ih! Apaan sih lo!" ujar Rhea. Dextra masih tergelak. Rhea berharap laki-laki itu tersedak nasi goreng dan tak bisa tertawa lagi selamanya. Eh, tapi kalau nasi goreng itu benar-benar menyumbat tenggorokan Dextra sampai mati, yang ada Rhea dihantui seumur hidup oleh hantu Dextra. Wujud hidupnya saja sudah mereportkan, bagaimana kalau sisa arwahnya? Ngeri juga. "Bercanda gue! Sekalian, sih, tapi," kata Dextra. "Sekalian apa?" tanya Rhea, sudah sewot setengah mati. Dextra pura-pura berpikir. "Hm ... sekalian apa ya? Menurut lo, tindakan gue barusan sekalian apa?" Rhea tampak benar-benar geram seperti gunung berapi yang hampir meledak. Meskipun digoda Dextra begini sudah jadi makanan sehari-hari. Nyatanya, Rhea tak pernah terbiasa. "Sekalian modus mau nyuapin elo!" *** Akhirnya Rhea baru pulang setelah Maghrib. Tadi rencananya Dextra mau berbaik hati mengantarkan Rhea pulang. Akan tetapi dosen pembimbing skripsinya tiba-tiba mengadakan sesi konsultasi untuk sidang Dextra nanti. Itulah alasan kenapa Rhea pulang sendiri. Rhea sama sekali tak keberatan pulang sendirian. Lagi pula dia sudah besar, bukan anak kecil yang perlu ditemani kemana-mana lagi. Sebelum pulang, Rhea mampir dulu ke toko buku dekat indekos-nya. Rencananya mau lihat-lihat saja. Sekalian healing, katanya. Rhea paling suka bau khas yang keluar dari buku. Menurut Rhea, bau itu menyenangkan dan menenangkan. Baunya tidak terlalu menyengat, juga tidak terlalu lama. Seperti ditakar dengan tepat. Saking sukanya dengan bau buku, Rhea bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam kalau ada parfum yang wanginya persis seperti bau buku-buku itu. Jual ginjal kalau perlu. Ada alasan kenapa Rhea amat suka pada benda bernama buku. Selain karena dia memang tertarik pada sastra, ada alasan yang lainnya. Bagi Rhea, buku adalah teman yang paling baik. Buku mampu mendengar dan berbicara dengan baik meskipun masuk golongan benda mati. Aneh? Dengar dulu! Buku berbicara dengan apa yang tertulis di dalamnya. Memberikan Rhea informasi dan opini tentang banyak hal tapi sama sekali tak pernah memaksa untuk dipercaya. Lalu bagaimana dengan mendengar? Buku mendengar dengan apa yang Rhea tulis di dalamnya. Buku-buku itu menerima opini Rhea dengan tangan terbuka. Tidak menghakimi dan menyimpan untuk dirinya sendiri. Buku adalah teman yang menemani Rhea dalam rentang waktu-waktu sulit. Mampu mendengarkan dan berbicara pada Rhea dengan cara yang paling efektif. Bisa jadi manusia tak lebih baik dari buku. Meskipun manusia adalah makhluk hidup yang bisa diajak komunikasi secara langsung, nyatanya manusia lah yang paling berkemungkinan untuk berkhianat. Makanya Rhea cukup lama memutuskan untuk berdiri sendiri dan tak punya teman dalam wujud manusia. Meski demikian Rhea tak pernah merasa kesepian. Buku-buku itulah yang setia menemaninya. Tanpa banyak bertanya dan tanpa ada pengkhianatan. Iya, Rhea cukup muak pada manusia dan pengkhianatannya. Bukan karena dia korban. Sama sekali bukan. Malah mungkin bisa dikatakan kalau Rhea adalah pelakunya. Untuk waktu yang cukup lama, Rhea berhenti berteman dengan manusia. Dia bersumpah pada dirinya sendiri untuk menutup hati dan tak memberikan kesempatan buat siapapun yang ingin jadi temannya. Tujuan dari tindakannya itu adalah untuk mengamankan dirinya sendiri. Mengamankan diri agar tak mengkhianati orang lain lagi. Iya, hidup Rhea tak cuma tentang pelangi dan warna-warni. Dia juga punya celah kelamnya sendiri. Celah yang mungkin tak bisa orang lain pahami. Namun seseorang bernama Panji Sagasta Mahadierja akhirnya mematahkan sumpah seorang Rheanina Kataleyya. Rasanya tak butuh waktu lama bagi Rhea untuk jatuh dalam pesona Sagas dan memutuskan untuk kembali menjalin pertemanan dengan manusia. Meski demikian, masih banyak ketakutan di benak Rhea. Dia takut kalau pada akhirnya, dia akan mengkhianati Sagas seperti dia mengkhianati seseorang di masa lalunya. Rhea tidak ingin itu terjadi, tapi ... bisakah Rhea? "Rhe!" seseorang memanggil Rhea. Suaranya amat familiar, membuat Rhea menoleh seketika. "Sagas?" Laki-laki berjaket hitam dengan kaos garis-garis hitam putih di bagian dalamnya itu sedang tersenyum lebar. Seperti biasa, tatapan matanya seteduh pohon beringin. Langkahnya setenang dedaunan kering yang jatuh ke bumi karena gravitasi. "Ngapain lo di sini?" tanya Rhea. "Aku mau beli cat lukis," kata Sagas, "Eh, malah ketemu kamu di sini." Rhea mengangguk. "Ya udah, yuk! Gue temenin!" Sagas dan Rhea kemudian berjalan beriringan menuju area yang memajang berbagai macam cat lukis aneka warna. Rhea tak tau apa bedanya antara cat satu dan cat lainnya. Sebaliknya, Sagas lah yang paham betul mengenai cat dan warna-warna itu. Rhea jadi bertanya-tanya, mungkinkah cat dan lukisan juga menjelma jadi teman buat Sagas? Sama seperti buku-buku untuk Rhea. "Gas," panggil Rhea. "Iya?" "Menurut lo, teman itu apa sih?" tanya Rhea. "Hm ... rumit. Kamu tau sendiri aku bahkan nggak pernah keluar dari rumah selama belasan tahun. Aku yakin, kamu tau kalau pengalaman bertemanku nggak sebanyak itu. Tapi kalau menurutku, teman itu apa saja yang membuat kita merasa nyaman." Sagas tak lupa mengakhiri jawabannya dengan senyuman. Jawaban Sagas terdengar amat tulus. Dia tak membuat-buat jawaban untuk membuat Rhea terkesan. "Nyaman?" "Iya, nyaman. Misalnya kalau buat aku, hal-hal yang bisa buat aku nyaman itu nggak terlalu banyak. Cuma lukisan, cat, tanaman, dan kamu. Menurut aku semua itu adalah teman aku, Rhe." "Kalau suatu hari gue udah nggak nyaman lagi sama elo, gimana?" tanya Rhea. "Kamu boleh nggak berteman lagi sama aku, Rhe. Aku sendiri juga nggak janji bakal nyaman terus sama kamu. Aku nggak janji aku akan selalu ada di samping kamu. Aku juga nggak janji kalau aku bisa terus buat kamu nyaman di samping aku. Jadi kamu juga begitu. Kita bisa saling melepaskan diri kalau udah nggak nyaman lagi. Tapi aku mohon kalau hari itu datang, kamu ngomong baik-baik ke aku," jelas Sagas. "Lo nggak sedih emangnya kalau gue nggak jadi teman lo lagi?" tanya Rhea. "Sedih. Pasti sedih. Tapi menurut aku, kamu berhak bahagia. Dengan atau tanpa aku, Rhe." Rhea merasa matanya berair. Dia seolah baru saja melihat sosok malaikat dalam diri Sagas. Bagaimana bisa seseorang yang besar di lingkungan super terisolasi itu bisa tumbuh jadi manusia selembut ini? "Terus kalau gue berkhianat?" tanya Rhea. "Berkhianat?" Sagas kurang mengerti apa maksud Rhea. "Iya, berkhianat. Misalnya gue ngehancurin lukisan lo," kata Rhea. "Aku marah," sahut Sagas, "Aku pasti kecewa. Aku pasti memutuskan untuk nggak berteman sama kamu lagi karena aku nggak nyaman. Tapi aku yakin kamu pasti punya alasan kenapa kamu melakukan itu." "Bukannya itu terlalu positive thinking, ya, Gas? Bisa aja gue melakukan itu karena pengin jahat aja sama elo." Sagas tersenyum sekali lagi. "Karena aku kenal kamu, Rhe. Nyaman itu juga ada alasannya. Kalaupun kamu jahat, pasti juga ada alasannya, kan? Memang bukan porsinya aku buat paham alasan-alasan itu. Tapi seenggaknya kalau kamu tiba-tiba berubah jadi jahat, aku bakal mencoba berpikir kalau kamu pasti punya alasan kenapa kamu berubah." Mungkin perbincangan ini tak terlalu panjang. Tapi dari perbincangan ini lah Rhea sadar betapa berharganya seorang Sagasta. Dari sinilah dia sadar bahwa seorang Sagas mungkin terlalu beharga untuk dirinya, atau bahkan untuk dunia. He deserve the world. But the world doesn't deserve him.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD