"Jangan tanyak padaku bagaimana rasanya cemburu karena aku sungguh tak sanggup untuk menggambarkannya apalagi sampai ingin memberitahumu"
"Sabar ya senja, bentar lagi kita sampai kok"Akbar masih fokus untuk menyetir mobilnya tetapi tatapan matanya berulang kali menatap kearah gadis itu yang merintih kesakitan.
Rasa sakit yang amat sangat sakit yang kerap dirasakan oleh penderita leukimia stadium tiga dan hanya akbarlah tempat seluruh harapan dan canda tawa senja untuk tetap hidup.
Mungkin tanpa lelaki itu,senja akan lebih memilih mengalah pada penyakitnya dan berhenti untuk menghirup udara dimuka bumi ini.
Seketika setelah senja merintih kesakitan tiba-tiba suaranya hening seketika,ia terlihat sangat lemas untuk berkata apa-apa dan itu membuat Akbar mau tak mau harus menyetir mobil dengan kecepatan diatas normal untuk bisa smalai kerumah sakit tepat waktu.
"Tolong senja! Loe harus kuat karena gue gak mau kehilangan loe"teriaknya berusaha membuat senja untuk tetap tersadar.
Untung saja usahanya sedikit berhasil membuat gadis itupun masih tetap membuka matanya sampai tiba dirumah sakit dan Segera mendapatkan penanganan medis.
Dan seperti biasanya,Akbar akan selalu berdiri didepan pintu ruangan kamar senja sampai dokter membiarkannya masuk karena Akbar telah berkomitmen pada dirinya untuk selalu ada disisi senja terutama saat gadis itu harus dirawat dirumah sakit atau tengah menjalani kemoterapi.
MENTARI
Gimana keadaan senja?
Sebuah pesan dari mentari masuk kehadphone Akbar,lantas dengan segera lelaki itu membalas pesannya.
AKBAR
Belum tau,lagi diperiksa dokter dan gue harap dia baik-baik aja.
MENTARI
Loe udah bilang ke orang tua nya?
AKBAR
Iya,nanti bakal gue bilang kok..sorry ya dah ninggalin loe dan gue pikir pasti loe juga udah paham kan situasi tadi.
MENTARI
gue paham kok,udah ya gue mau pergi sama Vito nanti gue datang menjenguk.
AKBAR
Ri,kalau sivito nyakitin lor tinggal loe bilang sama gue,oh iya hari ini loe cantik jadi kalau mau jalan gak usah pake dandan lagi.
MENTARI
Loe gak pernah bosan ya memuji gue.
Akbar hanya membaca pesan yang baru saja dikirim oleh mentari dan kali ini ia enggan untuk menjawabnya.
Ia seperti enggan menggubris ucapan mentari ketika ia sadar kalau sahabatnya itu mulai baper akan perlakuan atau perkataannya.
Ia lalu membuka kontak Tante Ani dan menghubungi nomor tersebut.
"Selamat siang Tante,ini Akbar"
"Siang Akbar,kenapa bar?"tanya Tante mulai panik.
"Kondisi senja mulai drop lagi Tan,ini kami lagi dirumah sakit sari anggun"
"Ya ampun,yaudah Tante lagsung kesana ya "
"Iya tan"ucap singkat Akbar dan Langsung mematikan panggilan tersebut dan mencoba menenangkan dirinya dikursi depan yang sengaja ditaruh disekitar ruangan pasien sambil menerka-nerka informasi apa yang akan diungkapkan oleh para dokter nanti mengenai kondisi senja.
***
"Ri,ini kita mau jalan kemana?"tanya Vito namun matanya masih tetap fokus untuk menyetir mobil.
Akan tetapi sepertinya mentari tak menghiraukan pertanyaan yang diajukan Vito kepadanya,ia masih saja termenun memikirkan Akbar yang hanya membaca pesannya tanpa berniat untuk sekedar mengetik saja.
"Sayang,kamu mikirin apa sih?kita mau kemana ini?"tanya Vito lagi seraya sedikit menyentuh bahu mentari dan hal tu membuat mentar sontak kaget.
"Eh iya..kita beli oleh-oleh buat senja terus kita kerumah sakit,boleh kan?"
"Iya boleh kok,emangnya senja yang sahabat kamu itu sakit?kamu jangan kebanyakan mikirin senja ya nanti malah kamu yang ikutan sakit"
Mentari hanya bisa tersenyum saja karena menyadari kalau Vito sama sekali tidak curiga terhadapnya dan ia sangat bersyukur telah mendapatkan sosok perhatian seperti Vito meskipun tak sedikit pun dirinya menyimpan perasaan suka terhadap cowok yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
Vito memanglah cowok yang sangat baik dan selalu memberikan kebebasan padanya,bahkan diantara kanan kekasih mentari hanya Vitolah yang tak pernah mengekang atau melarang mentari untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama Akbar karena ia tahu kalau Vito bukanlah tipe posesif hanya saja hatinya masih tetap bertahan menunggu cinta Akbar yang tak kunjung hadir.
"Oh ya,Akbar juga disana kan?"tanya Vito
"Iya,benarkan gak apa-apa kalau ngedate kita kerumah sakit?"
"Iya gak apa-apa kok sayang,lagian sahabat itu jauh lebih penting kali ri".
Ucap Vito sembari menyakitkan mobilnya.
"Yuk kita keluar"ia langsung keluar dari pintu dan berlari untuk membukakan pintu buat kekasihnya itu,keduanya berjalan dengan kesan yang masih canggung tidak saat mentari berjalan bersama Akbar atau mantannya yang lain.
"Benaran gak mau gandeng aku,nanti aku diambil cewek lain loh"akhirnya Vito mulai mengalah pada kecanggungan itu dan memberikan sinyal kode kepada mentari,namanya juga cewek tentu saja mentari hanya bisa tersenyum dan menunggu Vito lah yang menggandeng tangannya.
"Oke baiklah,aku deh yang gandeng kamu biar gak diambil sama cowok lain"ia langsung dengan cepat meraih jemari mentari dan tersenyum puas kepada gadis keduanya cukup lama menghabiskan waktu hanya untuk sekedar membelikan oleh-oleh atau buah untuk menjenguk senja.
Setelah tak berapa lama usai membeli,keduanya berjalan menyusuri lantai-lantai mall dan berhenti disebuah toko boneka yang mengingatkan mentari kepada suatu moment bersejarah yang menyadarkannya kalau disaat itulah ia mulai mengenal perasaan cemburu untuk pertama kalinya.
"Vito,ayo lihat-lihat kedalam"ia tarik tangan kekasihnya itu dan berjalan pelan menatap setiap boneka yang ada di toko itu sesekali menunjukan pada Vito kalau toko ini adalah toko favoritnya waktu masih dibangku kelas 3 SMP.
Flashback.
Seorang lelaki berseragam SMP tampak kesal karena harus menemani kedua peri cantiknya untuk berbelanja ke mall tetapi ia sama sekali tak mampu untuk menilai keinginan dua gadis itu apalagi kalau sudah senja yang meminta padanya maka tidak ada keberanian baginya untuk menolak.
Hingga langkah kaki ketiga remaja SMP itu terhenti pada sebuah toko boneka cantik yang berhiaskan warna pink sekujur dindingnya.
"Ayo kita kesini mentari"ujar senja yang dibalas anggukan oleh mentari.
"Iya,bonekanya imut-imut kan senja?"
Kedua gadis itu hanya saling memandang dan tersenyum saja lalu berlari memasuki toko itu.
"Tunggu aku!"jerit Akbar yang menyusul kedua gadis itu.
"Akbar boneka ini cantikkan kalau pake topi?"tanya senja yang lebih duluan mengambil alih pandangan Akbar dibandingkan mentari sehingga mentari harus bersabar untuk menunggu pembicaraan kedua sahabatnya itu.
"Kalau nanti aku gak punya rambut mungkin aku bisa pakai topi kayak dia biar kelihatan cantik"raut wajahnya perlahan memelas,hal itu benar-benar sebuah cambukan bagi Akbar,ia sama sekali enggan melihat senja bersedih dan dengan segala akalnya ia berusaha membuat senja kembali tersenyum.
Ia membuka dasi biru panjangnya dan memasangkan sebuah bandana dikepala senja.
"Gak harus pakai topi,kalau pakai bandana juga kamu bakal terlihat cantik apalagi bandananya terbuat dari dasi aku"
Rayunya pada senja.
Blakk...ucapan Akbar pada senja dan tatapan mata keduanya seketika mengisahkan irisan Luka pada mentari yang saat itu mulai merasakan jatuh cinta dimasa pubertasnya,ia benar-benar ingin menangis tapi terlalu malu untuk meneteskan air mata itu didepan umum seperti ini sehingga ia lebih memilih mengurungkan niatnya dan berjalan menegur mereka untuk mengajak pulang.
"ayo kita pulang,mamamku tadi nelpon"ucapnya perlahan pergi meninggalkan toko itu dan semenjak itupula ia kerap mendatangi toko itu untuk memastikan stok boneka panda yang dahulu ingin diperlihatkannya pada Akbar masih tetap ada dipajang disana.
FLASHBACK END.
"Ri,ada gak Boneka yang ingin kamu beli?"tanya Vito menawarkan tetapi mentari hanya menggelengkan kepalanya.
"Hmmm...ok,"
"Ya udah,yuk kita langsung aja kerumah sakit"ajak mentari,ia langsung meraih tangan Vito dan menariknya menjauhi toko itu tanpa sepatah katapun.
Selayaknya sebuah hubungan kaku yang tidak seharusnya hadir dikehidupan pasangan itu tanpa didasari oleh perasaan cinta sama sekali,itulah yang kerap sekali terlintas dipikiran Vito tetapi ia masih tetap kukuh untuk meraih hati kekasihnya itu dengan segala usaha dan upayanya.
******
"Akbar,gimana keadaan senja?"tanya seorang wanita elit yang sangat panik dan tergesa-gesa.
"Astaga,apa Tante harus memberitahu ini kepada papanya senja"wanita itu mulai merogoh handphone nya dari dalam tas tetapi mendadak Akbar melarang perbuatan Tante Ani.
"Gak usah tan, takutnya om Retno gak fokus kerja disingapore lagipula kondisi senja udah baikan kok,Tan" Tante Ani menghela nafas,ia sepertinya lega setelah mengetahui keadaan senja sudah membaik.
"Tante berterima kasih banget sama kamu,kamu udah mau jagain senja dan mau jadi satu-satunya sahabat senja"Tante Ani memperlihatkan senyuman bangganya pada Akbar lalu berjalan menghampiri tubuh lemah senja,baru beberapa detik ia duduk dikursi tiba-tiba ia teringat akan keberadaan mentari.
"Akbar,mentarinya mana?"
"Nanti mentari nyusul kesini kok Tan,soalnya lagi beli buah buat senja"
"Astaga,harusnya kalian gak usah repot-repot"ujar Tante Ani seraya tertawa kecil yang dibalas senyuman oleh Akbar.
"Mama…"lirih pelan senja yang perlahan membuka matanya
"Iya sayang,mama disini"Tante Ani sedikit senang melihat putrinya telah sadar,ia menggenggam erat jemari senja.
"Aku udah sembuh kok,jangan khawatir"
"Iya sayang,mama percaya kamu udah sembuh kok"ia mengecup kening senja,ia tahu senja berusaha untuk terlihat baik-baik saja didepannya bahkan didepan suaminya,hanya kepada akbarlah ia memperlihatkan rasa sakitnya.
Ia melihat putrinya memandangi Akbar yang tengah berdiri bersandar pada dinding sedemikian juga dengan Akbar, sehingga mau tak mau Tante Ani harus menunggu diluar agar tidak menggangu perbincangan panjang diantara keduanya.
"Ya sudah,mama ke bagian administrasi dulu ya"ia bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Akbar yang kebetulan satu arah menuju pintu keluar.
"Tolong jaga senja ya,nanti kalau ada apa-apa hubungi Tante"Akbar hanya mengangguk saja lalu wanita itu berjalan meninggalkan ruangan yang kini dihuni oleh Akbar dan senja.
"Jadi udah baikan sekarang?"tanyanya sembari menghampiri senja yang ikut tersenyum hangat.
"Lumayan,tapi seragam kamu jadi kotor berlumuran darah"ia memperlihatkan wajah merasa bersalah nya,Akbar hanya tersenyum saja serya mengelus rambut senja yang mulai menipis.
"Jauh lebih berharga nyawa loe dibandingkan hanya sebuah seragam kali senja"
"Makasih ya udah anggap aku berharga dihidupmu,tapi mentari juga harus jadi prioritas kamu jangan aku saja Akbar"ujarnya seraya menyingkirkan tangan Akbar dari rambutnya.
"Dengar senja!kalian berdua itu adalah sahabatku yang bakal selalu kujaga cuman bedanya dia udah punya pacarkan jadi biarlah pacarnya yang menjaga"ucap Akbar spontan.
"Sedangkan aku?ucapan kamu kok menyakitkan sih"tiba-tiba senja sedikit kesal akan ucapan Akbar yang memandangnya rendah padahal sebenarnya makna ucapan Akbar bukan seperti itu.
"Bukan gitu senja, maksud gue saat ini akulah yang bakal menjaga loe"
"Aku penyakitan makanya gak punya pacar dan sebentar lagi wajahku terlihat jelek karena gak punya rambut"ia mulai bangkit dari tidurnya sampia selang dihidungnya sedikit berserakan.
"Loe apa-apaan sih senja,nanti selangnya lepas loh"Akbar terlihat kesal akan sikap senja,ia langsung berusaha memperbaiki posisi selang dihidung senja tetapi langsung ditepis oleh senja.
"Aku bisa perbaiki sendiri,lagian aku sekarang mulai ragu kamu berteman denganku cuman kasihan kan"ia perlahan mulai meneteskan air mata.
"Gak kok senja,loe itu mutiara yang paling berharga dihidup gue" ujarnya terang-terangan,Akbar memang bukanlah orang yang suka menyembunyikan kebohongan dari senja,ia terlalu takut gadis itu sangat marah padanya dan bahkan ia rela bolos sekolah hanya untuk menemani gadis itu.
"Hey Senja dengar gue!loe masih ingatkan tentang apa yang pernah kubilang sama loe kalau hidup gue gak ada artinya tanpa loe,loe percaya itu kan?"senja hanya mengangguk saja lalu memeluk tubuh Akbar.
"Maafin aku udah berburuk sangka sama kamu"pelukan senja begitu erat seakan mengisyaratkan kalau ia benar-benar takut kehilangan Akbar yang selalu hadir disisinya,ia terlalu buta untuk melihat perasaan mentari yang sangat hancur memandangi mereka dari balik jendela.
Mentari hanya bisa menahan air matanya untuk keluar dan memaksakan diri untuk masuk kedalam ruangan sebab ia enggan bertingkah kalau diriny tengah patah hati dihadapan Vito.
Mungkin saja itu jauh lebih menyakiti hati Vito dan malah berdampak kehancuran bagi hubungan mereka.
"Ada yang lagi pelukan ya"celoteh mentari berusaha untuk tampak bahagia sembari menggenggam jemari Vito.
Akbar langsung melepaskan pelukan senja dan keduanya hanya bisa tersenyum malu saja melihat kehadiran mentari dan Vito.
"Kami gak ganggu kalian kan?"Vito ikut meledek juga.
"Gak lah,sorry gue gak sadar kalau kalian berdua datang"ia merapikan selang dihidung senja dan berjalan duduk di sofa yang berada disebelah ranjang senjang dan membiarkan mentari untuk duduk dikursi itu.
"Loe udah baikan,ja?"tanyanya, senja hanya mengangguk saja dan mendadak memeluk mentari.
"Kenapa senja?"
"Gue bahagia punya sahabat kayak kamu dan Akbar"keduanya saling tertawa kecil,seketika perasaan kesal dan cemburu itu hilang sesaat.
"Hmmm...buahnya boleh dimakan gak,ri?"tanya Akbar yang mulai terkesan jahil pada sahabatnya itu,tetapi tangannya yang berjalan kearah bingkisan buah-buahan untung saja buru-buru dipukul oleh mentari.
"Ini buat senja,jadi dia duluan yang harus makan"
"Kalau senja sih ngasih,ya kan vit?"Vito dan senja hanya bisa tertawa kecil saja melihat tangan Akbar yang langsung menyambar buah apel kesukaannya dan itu sedikit membuat mentari kesal pada lelaki kesayangan itu.
"Jahil banget loe,bar"ucap Vito seraya dengan gaya khas kalemnya.
"Maafkan aku pak ketua OSIS"ledeknya,namun Vito bukanlah tipe pemarah dan ia hanya membalas tawa kecil pada Akbar yang memang sudah lama ia ketahui kalau manusia itu adalah makhluk paling jahil di muka bumi itu sekaligus sumber kebahagiaan kekasihnya.
"Tapi ketua osis ganteng dong makanya mentari bisa naksir samanya"sambung senja, perkataan polosnya itu membuat mentari tertegun.
Ia paham kalau bukan hanya Akbar saja yang tidak peka akan tetapi sahabatnya senja pun jauh lebih tidak peka terhadapnya.
"Malahan gue yang harusnya bersyukur bisa jadi bagian penting dari dunia mentari"
"Apaan sih vit,ucapan loe barusan buat pipi gue memerah"ujar menteri dengan penuh percaya diri begitu juga demikian dengan Vito yang mendadak mengelus rambut hitam panjang mentari yang sepertinya membuat Akbar kesal.
"Hmm.."ia berdehem keras sambil memegang tenggorokannya yang tidak gatal,"senja,udah waktunya loe istirahat dan minum obat"
"Akbar!"tegur senja yang mulai merasa perkataan Akbar tidak sopan berbeda dengan mentari yang menatap tajam kearah Akbar,ia merasa kalau saat ini Akbar terlihat begitu kesal tetapi mana mungkin sosok Akbar bisa kesal hanya karena melihat dirinya bermesraan bersama Vito.
"Sorry ya tapi maksud gue lebih baik kalian pulang soalnya senja mau istirahat lagipula besok juga kalian sekolah"ia membukakan pintu ruangan tersebut sembari memberi isyarat untuk kedua tamu itu segera meninggalkan ruangan ini.
"Loe sendiri juga besok sekolah kan?"mentari enggan mengalah,ia seakan memberi peluang berdebat pada Akbar lain halnya Vito yang berulangkali membujuk dan menarik lengan mentari untuk segera pergi.
"Tenang aja,besok gue datang kok kesekolah"ia memandang mentari penuh keyakinan,gadis itu hanya bisa menghela nafas dan menerima tarikan tangan Vito untuk pergi dari ruangan itu.
"Cepat sembuh ya senja"ucapnya sebelum akhirnya langkah kakinya menjauh meninggalkan ambang pintu ruangan tersebut.