"Aku memanglah prioritas utamamu tetapi aku takkan bisa jadi sosok yang melekat di hatimu yang benar-benar kau cintai setulus hati"
***
"Senja,minum dong obatnya udah malam ini"Akbar masih terus membujuk seraya memegang beberapa pil obat ditangannya.Tetapi sepertinya gadis itu enggan menuruti perintah Akbar kali ini,ia kesal karena sikap Akbar tadi siang kepada mentari dan Vito.
"Loe masih marah sama gue gara-gara kejadian tadi siang?"
"Baru nyadar?"ia enggan memandangi wajah Akbar yang hanya menghela nafas saja, kemudian ia berjalan membuka pintu yang mengarah kebalkon.
"Yuk lihat bintang biar adem"ajaknya,tetapi senja masih tetap pada pendiriannya dan malahan menutup kedua mata dan telinganya.
Akbar hanya bisa tertawa kecil saja lalu berjalan keluar balkon seraya bersuara keras-keras agar bisa didengar oleh senja.
"Wah bintangnya cantik banget,apalagi pemandangan lalu lintas malam serasa lihat panorama loh.."teriaknya yang semakin membuat senja tak mengalah dari amarahnya lalu berjalan kearah balkon.
"Mana bintangnya?"tanyanya yang tak berhenti menatap kearah langit.
"Lihat tangan gur"ia menunjuk kearah langit yang gelap tanpa sebuah bintang sedikitpun dan betaoa polosnya senja malah mengikuti arah jari telunjuk akbar,lalu jari telunjuk itu perlahan memutar dan berjalan mendekat kearah senja yang berhenti tepat didepan wajah senja.
"Kamulah bintang-bintangnya,indah untuk dijadikan panorama dan sulit untuk dihapus dalam memori gue"
Seketika sebuah senyuman terlukis diwajah senja yang memang diinginkan oleh Akbar.
Akbar memang selalu saja membuat gadis itu bahagia dan ia sama sekali tak merasa keberatan jikalau gadis itu salah tingkah ataupun mulai bawa perasaan selama hal itu membuat senja bahagia dan tetap kuat melawan penyakitnya.
"Jadi bisa kan minum obat?"
Senja hanya mengiyakan saja lalu ia menelan obat yang ada ditangan Akbar dan kembali menatap langit tanpa bintang tersebut.
"Coba aja gue pake jaket pasti udah gue pinjamin ke loe,senja"
"Gak perlu kali,aku udah biasa sama cuaca dingin"ia masih tetap fokus menatap langit berawan hitam tersebut. Dan bulan sabit yang perlahan ditutupi oleh sang awan.
"Akbar,Kalau nanti kamu punya kekasih,kamu bakal ninggalin aku?"ia mendongak kearah Akbar sejenak lalu kembali menatap cahaya rembulan.
"Dia yang bakal gue tinggalin kalau sempat ngelarang gue buat ketemu sama loe"
"Itu namanya aku yang jadi tokoh antagonis didalam cerita percintaan kamu"
"Apa bedanya sama sekarang,loe itu selalu jadi tokoh antagonis setiap kali loe nyerah sama penyakit loe"
"Kenapa gitu,bar?"
Akbar memalingkan wajahnya kearah senja dan menggenggam jemari tangan gadis itu.
"Karena kehilangan loe sama aja membunuh karakter baik didalam diri gue,setiap kali loe berperilaku kayak tadi malah bikin gue tersiksa dan gusar"
"Aku mau tidur,tolong suruh mama yang memanin aku dan mendingan kamu pulang aja deh" senja langsung berjalan keranjangnya dan menutup matanya dengan selimut tebal.
Ia tahu kalau semakin lama ia berbicara dengan Akbar maka semakin besar pula harapannya untuk memiliki Akbar yang jelas-jelas ia paham kalau cinta Akbar bukan buat dirinya.
Ia hanyalah prioritas utama Akbar tetapi bukan sosok yang melekat di hati akbar dan kini ia harus menatap suara pintu ditutup pelan oleh Akbar yang begitu teramat menuruti permintaannya.
Ia memang bisa meminta apapun dari Akbar tetapi tidak untu menjadi wanita yang dicintai oleh Akbar yang sampai sekarang sama sekali tidak diketahuinya mengenai sosok wanita yang telah mencuri hati akbar lebih duluan dibandingkan dirinya yang kalah telak.
Disepanjang malam ini,tak hentinya air mata mengalir deras membanjiri kedua matanya sedemikian pula dengan mentari diujung sana.
Ia sedari tadi menangis hebat didalam kamarnya yang berhiaskan foto masa kecilnya bersama Akbar sebelum kehadiran senja.
Rasa cemburunya hari ini benar-benar tak tertahankan,ia keluarkan seluruh isi hatinya tanpa ampun sampai panggilan telepon dan pesan masuk dari Vito pun tak dihiraukannya.
Pria itu sungguh sangat hebat bisa memainkan dan menghancurkan kedua hati gadis cantik itu sekaligus dalam sehari bahkan sampai membuat air mata yang seharusnya tak keluar mendadak tumpah tak terbendung.
***
Pagi ini seperti biasa Akbar membereskan perlengkapan sekolahnya dan berjalan turun keruang makan untuk menyantap masakan mamanya sembari tak pernah lepas menggenggam sebuah handphone seperti ada seseorang yang tengah dichattingnya.
"Bar,sarapan dulu dong masa main handphone melulu"
Akbar hanya mengangguk saja tetapi kedua matanya masih fokus menatap layar handphone sembari menggerakkan jemarinya selayaknya orang yang sedang mengetik.
"Akbar.."panggil Dewi dengan nada lembutnya.
"Ehh..iya ma,maaf ma"
"Ya ampun,siapa sih orang yang kamu chat pagi-pagi gini?"tiba-tiba sang papa datang menghampiri mereka sembari meminum segelas s**u yang sengaja dibuatkan oleh istri tercinta.
"Mungkin juga mentari atau gak sicewek penyakitan itu"sahut Dimas yang sedari tadi sudah ada dimeja makan.
"Namanya senja"Akbar terlihat kesal,ia langsung mengambil paksa roti bantal berlapis coklat kesukaannya dan berjalan pergi menyalami kedua orangtuanya terkecuali Dimas.
"Ma,pa.akbar pergi duluan ya"
"Kok buru-buru sih Akbar,sarapan dulu dong kan kasihan mama kamu udah capek-capek buat sarapan"
"Udah keburu kenyang pa, assalamualaikum"ia langsung berlalu meninggalkan Dimas yang hanya tersenyum licik menatapnya.
Mereka memanglah saudara beradik tetapi sedikitpun tak pernah ada rasa keakraban diantara keduanya,Akbar dengan seluruh dunianya dan Dimas yang mempunyai dunia sendiri yang bahkan tidak diketahui oleh orang tuanya.
Sejak kecil Dimas tak pernah berhenti menjahili adiknya itu namun kejahilan itu telah berpindah tangan kepada senja ketika pertama kali Akbar membawa senja kerumahnya dan bahkan sampai sekarang pun perilakunya tak pernah berhenti meskipun dirinya sudah duduk dibangku kuliah dan hal itulah yang sangat tidak disukai Akbar,ia sangat kesal jikalau Dimas mulai menjahili senja dan tak segan-segan menghantamnya.
Dengan penuh kekesalan,Akbar mengendarai mobilnya menuju sekolah.
Ia tak lagi memperdulikan handphonenya berdering yang mana tercantum nama mentari yang tengah menghubunginya.
Sampai akhirnya ia mulai menyadari panggilan itu saat sampai parkiran sekolah.
"Mampus gue,pasti mentari marah banget gara-gara gue lupa jemput dia"teriak Akbar membatin yang sedikit pucat.
Ia lalu memberanikan diri menghubungi mentari yang langsung dijawab oleh gadis itu.
"Akbar!!!loe kok gak jemput gue sih"
"Gue lupa RI,maaf ya soalnya sidimas tadi ngajak berantam"ia perlahan keluar dari mobil dan berjalan kearah koridor sekolah.
"Asal loe tahu ya gue bisa telat masuk sekolah, Untung aja ada Vito"
"Lah memang seharusnya cowok loe yang antar jemput kali bukan gue"ketus Akbar,diujung sana mentari hanya mengerutkan wajahnya saja,sejak kapan juga akbar terlihat kesal kalau dirinya menyebut nama Vito didepan cowok itu.
"Kok loe jadi kesal gitu?"
"Gue gak kesal kok,udah dulu ya gue tunggu loe dikelas"ia mematikan panggilan tersebut dan berjalan santai keruangan kelas seraya menyembunyikan raut wajah cemburunya.
"Bro,jangan lupa nanti latihan futsal ya"ujar Leo yang kebetulan adalah teman sebangkunya Akbar.
"Wah sorry bro,gue nanti harus kerumah sakit jadi izin deh gue"ia menghempaskan tubuhnya kekursi kesayangannya.
"Kenapa? sahabat kesayangan loe yang namanya senja itu sakit lagi?"
"Hmmm…"ia mengeluarkan peralatan tulisnya dan mulai menarik buku tugas milik leo, "gue nyalin tugas loe ya "
"Ambillah,lagian baru pertama kalinya juga loe gak siap tugas,tapi ya bar kenapa sih loe bela-belain banget buat si senja itu?"
Tanyanya yang begitu amat penasaran,sebab setahu leo kalau sahabatnya itu paling cuek dengan cewek apalagi sekedar bersalam sapa terkecuali mentari yang kerap sekali selalu dijahilinya.
"Menurut gue senja spesial,loe gak bakal pernah tahu gimana rasanya bertanggung jawab penuh terhadap seseorang yang sangat membutuhkan loe"ia menepuk bahu Leo dan kembali melanjutkan tulisannya.Leo hanya menatap heran saja pada argumen Akbar.
"Gimana kalau pelatih gantiin loe?"
"Ya gak apa-apa,kali aja bukan rejeki gue"
"Sumpah deh bar!gue gak habis pikir sama jalan pikiran loe"tukas leo yang akhirnya lebih memilih melanjutkan permainan gamenya,tetapi keheningan itu segera terhenti saat mentari memasuki kelas dibarengi oleh suara kekesalannya yang memanggil nama Akbar.
"Akbar!!!"ia mendatangi meja Akbar dan menutup semua buku yang ada dimeja itu.
"Loe kok matiin telepon gue,loe marah sama gue?"tanya mentari,Akbar hanya tersenyum tipis saja lalu berdiri tepat dihadapan mentari.
"Kalau jahil itu memang mungkin,tapi kalau marah kayaknya gue gak bakal pernah bisa marah sama loe,ri"
"Terus kenapa loe matiin telepon gue?"
"Karena gue mau ngerjain tugas kali ri"
"Oh maaf bar"gadis itu langsung berbalik pergi dari meja Akbar namun lengannya segera digenggam oleh Akbar.
"Loe gak nanyak kenapa gue gak bisa marah sama loe?"
"Ah.."mentari sedikit bingung dan menatap kearah leo, tetapi leo hanya mengangkat bahunya saja seakan memberi isyarat kalau ia juga tak ingin ikut campur akan pembicaraan kedua teman kelasnya itu meskipun sebenarnya ia menguping pembicaraan mereka.
"Memangnya kenapa?"
Akbar mendekatkan wajahnya beberapa sentimeter kewajah mentari yang membuat gadis itu menjadi sangat grogi dan jantungnya berdetak kencang dan seketika pula Akbar langsung mencubit kedua pipi mentari seraya tersenyum bahagia sampai memperlihatkan kedua lesung pipinya yang amat manis.
"Karena loe itu lucu dan imut"
"Akbar,lepasin deh"ucap mentari yang langsung menyingkirkan tangan Akbar dari pipinya, tentu saja ia sedikit kecewa sebab bukan jawaban itulah yang ditunggunya.
"Gue tau kok kalau gue emang imut,dah lah gue mau kebangku gue"ia pergi dengan sedikit kecewa,Akbar sebenarnya tahu kalau gadis itu tengah kecewa namun ia masih sedikit risih untuk mengakui kalau mentari telah menganggapnya lebih dari seorang sahabat dan karena itu pula lah Akbar yang sedari dulu memaksa mentari untuk menerima cinta Vito walaupun pada ujungnya dia juga yang merasa cemburu.
Ditengah pelajaran matematika yang diajarkan pak Angga yang super galak,hampir berkali-kali Akbar mengusap kedua matanya yang mengantuk apalagi mendengarkan pak Angga yang tengah berbicara dipapan tulis semakin membuatnya ingin memejamkan mata dan sialnya kelakuan Akbar sedari tadi telah diperhatikan oleh pak Angga.
Lelaki tua itu langsung melemparkan spidol tepat diwajah Akbar yang sontak kaget dan berdiri dari kursinya.
"Aw…"jeritnya kesakitan seraya mengusap kepalanya yang terkena lemparan spidol.
"Akbar,kenapa kami tidur dijam pelajaran saya?"
"Maaf pak,saya kurang tidur tadi malam"
"Dengar ya Akbar,Saya tahu kamu itu murid terpintar disekolah ini tetapi sikap kamu itu sangat buruk untuk dinilai dan dilihat sama kawan-kawanmu"pak Angga tampak marah.
"Sekarang kamu berdiri diluar sampai jam pelajaran saya berakhir"ia mengarahkan jari telunjuk nya kearah pintu seakan mempersilahkan Akbar untuk keluar,remaja lelaki itu berjalan kesal dari ambang pintu.
Ia terlihat malu karena harus dikeluarkan dari kelasnya sendiri dan mungkin hal ini akan merusak citranya yang selama ini dibangunnya hanya karena satu buah kesalahan.
Selama jam pelajaran belum berakhir,ia hanya terduduk santai dikursi panjang yang berada dekat pintu kelas,tetapi semakin lama rasa bosan menyelimuti hatinya hingga akhirnya ia memutuskan pergi menuju lantai bawah dengan tangga.
Ia berjalan seolah-olah memang tak ada yang harus ditakutinya ketika berkeliaran didalam lingkungan sekolah dan sesekali memberikan senyuman paksa kepada para gadis yang melihatnya.
"Aw…"sebuah tabrakan kecil dari kedua remaja tersebut membuat sebuah toples kaca milik gadis itu pecah dan menyerakkan isinya.
"Maaf,gue gak sengaja"Akbar buru-buru mengutip kertas origami yang berbentuk kupu-kupu itu dilantai.
"Ini origami loe,maaf ya nanti gue ganti deh toplesnya"gadis itu hanya menatap tajam kearah Akbar dan perlahan air mas menetes dikedua matanya.
"Hey,kok loe nangis sih?"tanyanya bingung,tapi gadis itu enggan menjawab dan memilih pergi meninggalkan Akbar yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Aneh tuh cewek"ia melanjutkan langkahnya kearah lapangan basket.
Disana ia bertemu dengan Samuel yang juga asyik bermain basket sendirian.
"Gue tebak pasti loe dihukum lagi?"Akbar mencoba menerka-nerka tetapi Sam hanya tertawa licik saja dan melanjutkan permainan nya.
"Gak usah loe tebak semua orang juga tahu,loe sendiri dihukum atau gimana?"
"Dihukum,gue ketiduran dikelas pas pelajaran pak Angga"
"Nasib loe lah itu,yuk main"ajak Sam,Akbar pun segera membuka seragam putihnya yang dibaluti kaos polos polos bewarna abu-abu dan berusaha meraih bola dari tangan Sam dan memainkannya dengan penuh keprofesionalan sampai bola basket itu masuk ke ring basket.
"Kapan sih gue bisa ngalahin loe main basket"Sam sedikit kesal dan menghempaskan tubuhnya dilantai lapangan basket dengan keringat bercucuran yang semakin membuatnya terlihat tampan begitu juga sebaliknya dengan Akbar.
"Kapan-kapan deh,Sam"tawanya geli,Sam langsung menghela nafas saja kekesalannya.
"Santai dong Sam"
"Bar,loe gue cariin rupanya disini"ujar seorang gadis cantik berpita pink yang datang menghampiri kedua lelaki itu sembari membawa sebotol Aqua dingin
"Eh RI,gue gak kemana-mana kok"ucap Akbar,"gue masih ada mengelilingi hidup loe"sambungnya seraya tertawa kecil.
"Basi gombalan loe,ini minuman buat kalian"ia memberikan botol minum itu ke Akbar yang langsung diminum oleh Akbar tanpa menunggu aba-aba.
"Makasih ya ri,loe memang gadis yang gue sayangi"
"Itu ungkapan sayang loe aebagai teman atau gebetan?"tanya Sam mendadak membuat Akbar batuk-batuk.
"Loe gak apa-apa bar?"tanya mentari.
"Gak apa-apa,oh iya cowok loe mana RI?"
"Lagi sibuk diruang OSIS kayaknya,oh iya bar nanti loe kemana?"mentari sepertinya ingin memberikan kode pada Akbar ,tetapi kodenya tersebut terlalu sulit untuk ditebak cowok gak peka kayak Akbar.
"Loe kayak gak tau aja sih,gue kerumah sakit lah nemanin senja"
Wajah mentari yang ceria mendadak diterpa badai,tak ada lagi senyum manis nya yang terlintas hanya serpihan kekecewaan.
"Emang ada apa sih?"akhirnya ada Sam lah yang berbau mempertanyakan pertanyaan gadis itu,ya tentu Sam yang menyadari ekspresi mentari sebab memang telah lama ia memendam rasa untuk mentari hanya saja tak bisa terungkapkan atau hanya sekedar meminta bantuan Akbar.
"Gue bukannya egois ya bar,tapi loe kan ingat setiap tanggal 17 Februari kita bakal menghabiskan waktu berdua aja sambil buat surat rahasia didalam balon"Akbar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal,ia sebenarnya tidak lupa hanya saja situasinya kini telah berbeda.
"Kayaknya gak bisa deh RI,loe kan tahu ada seseorang yang lagi butuh kita"
"Terserah loe deh"ia berjalan pergi meninggalkan Akbar dan Sam yang merasa iba melihat gadis impiannya bersedih.
"Kejar kali,masa sahabat loe sedih malah dibiarin"
"Loe benar Sam"Akbar langsung berlari kearah mentari dan menarik tangan mentari berjalan ke koridor sekolah yang cukup sepi dan jarang dilewati oleh murid lain.
"Maafin gue ya"Akbar menggenggam jemari mentari.
"Iya bar,gue paham kok tapi setidaknya loe sadar kalau gue juga sahabat yang butuh perhatian loe sama seperti senja"
"Gue paham kok,malahan loe adalah orang yang sangat gue sayangi"
"Gue beneran sayang sama loe, bar"
Akbar langsung tercengang mendengar kejujuran mentari,ia merasa kejujuran mentari adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi,ia bingung harus berbuat apa sehingga ia memutuskan untuk diam dan mendengarkan seluruh curahan gadis yang dicintainya itu.
"Gue sayang sama loe lebih dari seorang sahabat bahkan sejak kita dibangku SMP,gue juga sangat cemburu kalau loe lebih perhatian sama senja dibandingkan gue dan asal loe tahu kalau gue selama ini pacaran sama orang lain cuman buat menutup rasa sakit hati gue"ia meneteskan air mata,hal itu lah yang sebenarnya tidak diinginkan Akbar,ia tidak mau air mata menetes di wajah mentari.
Ia segera menghapus setiap butiran air mata yang membasuhi wajah gadis itu dan memeluknya erat-erat.
"Bar,apa gue ada harapan untuk singgah dihari loe?"
Akbar masih saja membisu,ia sebenarnya ingin menjawab kalau hanya Mentarilah yang tengah mengisi seluruh ruang hatinya tetapi ia teringat jika hal itu terjadi maka ada banyak hati yang akan terluka.
"Gue antar loe kekelas ya"
Ia melepaskan pelukannya dari mentari.
"Udah,jangan nangis lagi ya nanti loe gak kelihatan cantik lagi"ia merapikan rambut mentari dan berjalan menggenggam tangan mentari kearah meninggalkan koridor tanpa sadar ada hati yang tengah terluka menatap mereka dalam diam.
Hati yang seharusnya tak pernah diberi harapan palsu atau sekedar iming-iming cinta yang tak lain ialah kekasih mentari.
*******
"Senja, cuacanya udah panas diluar,mari masuk sini"ujar Tante Ani kepada putrinya yang sedari tadi hanya menatap balkon.
"Ma,kapan senja pulang?senja bosan disini"
"Insyaallah besok kok,sini masuk sayang"
Senja hanya menurut saja lalu berjalan masuk kembali ke ranjang,tak berapa lama sosok asyik berpakaian pengantar barang masuk sembari menggenggam sebuah bungkusan hitam.
"Atas nama senja ya?"senja dan Tante Ani hanya mengangguk dan saling menatap bingung satu sama lain seolah memberi isyarat kalau keduanya memang tidak tahu siapa pengirim kiriman ini.
"Ini ada kiriman buat mbak senja"ia memberikan barang tersebut kepada senja.
"Dari siapa?"
"Kata masnya jangan kasih tahu namanya mbak,ya sudah saya permisi ya mbak"ia berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.
Setelah pintu perlahan ditutup kembali, senja langsung mengoyak plastik kiriman tersebut dan mendapati sebuah jas hujan cantik bewarna pink dan sebuah buku diary imut berlatar belakang hello Kitty serta tak lupa pula secarik kertas putih yang telah diberi parfum disegala sisinya.
Senja tak kira-kira langsung membaca kertas itu sekuatnya agar bisa didengar sang ibu.
Gue sengaja kasih jas hujan ini ke loe supaya loe bisa menari dibawah guyurannya tanpa perlu memperparah sakit sebab hujan itu adalah anugerah terindah Tuhan yanh wajib dinikmati oleh segala makhluknya,dan gue juga kasih diary supaya loe dan seluruh kesedihan loe bisa tertuang dan gak perlu dipendam sendiri, memendam itu sakit sama kayak gue.
Loe harus sembuh supaya gue bisa lihat senyuman loe dari sisi yang gak bakal bisa loe ketahui.
Tertanda
A.D
"Ja,kok kayaknya dia kenal sama kamu?"
"gak ma,tapi nanti senja tanyak Akbar soalnya baru kali ini senja dapat surat dari orang yang inisial nya seperti ini"senja sedikit bingung,ya gadis itu terlalu polos untuk berpikir lebih jauh tentang nama tersebut.
"Apa mungkin Akbar ya?"tanyanya dalam hati tetapi segera ia menggeleng kepalanya,sebab tak mungkin Akbar melakukan selebay ini dan setahu dia Akbar sama sekali tak mengetahui betapa dirinya sangat mencintai hujan.
"Kalau nanti hujan, boleh senja mandi hujan?"
Tante Nia hanya terdiam sejenak lalu mengangguk pelan tanda menyetujui permintaan senja.
"Makasih ma"ia memeluk mamanya erat-erat.
"Tapi wajib pakai jas hujan"
"Siap ma"
Alhasil gadis itu langsung berlari keluar balkon dan melanjutkan misinya yang tadi sempat tertunda,ia menatap langit sembari berdoa agar segera diturunkan hujan yang begitu sangat dicintainya.
"Please,hujan datang ya!"
Kini Tante Anita mulai paham tentang apa yang dilakukan putrinya setiap kali berdiri lama di Alkon,astaga mengapa pula seorang ibu baru sadar kalau putrinya begitu menyukai hujan dan siapa ya kira-kira orang misterius itu yang begitu sangat mengenal senja sampai sedetail itu?
Ihhh..ada banyak hal pertanyaan yang terlalu sulit untuk dicerna saat ini,yang jelas ia sangat berterimakasih kepada orang tersebut yang telah menyadarkan nya kalau ada suatu hal yang senja inginkan sejak dulu.
Setelah cukup lama menunggu,hujan tak kunjung datang dan hal itu membuat senja sedikit kecewa padal ia telah siap-siap akan mengenakan jas hujan itu.
Untung saja kekesalannya tidak sempat meluap saat pintu ruangan kembali dibuka oleh sosok yang selalu menjaganya.
"Eh ada Akbar,masuk nak"ucap tante Ani,Akbar menyalam tangan Tante Ani dan berjalan menemui senja di balkon yang masih berdiri mematung seraya menggenggam sebuah jas hujan.
"Loe lagi ngapain senja?"
Senja masih larut akan diamnya,ia enggan menjawab pertanyaan Akbar.
"Lagi berdoa supaya hujan turun soalnya senja pengen mandi hujan"akhirnya Tante anilah yang menjawab.
"Yaampun,mending gini aja loe pske jas itu dulu deh"
Senja berbalik menghadap Akbar,ia tak banyak bicara dan langsung menuruti ucapan Akbar.
"Yuk ikut gue!"ditariknya lengan senja,
"Tan,ijin bawa senja ya!"is berpamitan dengan sang Tante dan berjalan pergi menarik gadis itu keluar dari rumah huniannya.
"Mau kemana?"gadis itu mulai buka suara padahal niatnya ia akan mengacuhkan akbar.
"Ikut aja"
Setelah berjalan keluar rumah sakit,Akbar menghentikan langkah mereka tepat dibundaran air mancur rumah sakit.
"Tunggu bentar ya"ia melepaskan jemarinya dan berlari kearah lelaki setengah baya yang memakai jas dokter.
"Pak,bapak lihat pasien disitu?"ia menunjuk kearah senja
"Iya,kenapa ya?"
"Ia sekarang lagi sakit dan pengen banget bermain dipancuran itu pak, kira-kira boleh gak pak?soalnya bapak kan tahu sendiri keinginan pasien itu adalah permintaan spesial yang harus diikuti dokternya dan bapak pastinya gak mau nyesal lihat pasien bapak sedih?"ia berusaha membujuk dokter itu,sang dokter hanya mengamati gerak-gerik senja lalu mengangguk pelan.
"Dia sepertinya bukan pasien saya tapi kamu benar,hanya saja kamu tahu kan bundaran ini gak boleh dipakai buat semena-mena apalagi ini adalah simbol yang langsung mengarah kepintu masuk"
"Ayolah pak, permintaannya sederhana kok pak dan bapak cuman perlu mengatakan setuju dan Mina tolong ke security buat tidak melarang kami"
"Oke baiklah,tapi hanya 5 menit saja"
",Baik pak, makasih ya"keduanya saling menjabat tangan,Akbar pun berlari menemui senja.
"Kamu mau lihat hujan kan?yuk.."Akbar menarik lengan senja kembali menuju sir mancur yang mengguyur kolam bundaran tersebut.
Keduanya terlihat bahagia terutama sneja yang perlahan-lahan tersenyum karena bisa berdiri dan menari dibawah hujan meskipun hanya hujan palsu.
Tanpa mereka sadari ada seseorang berpakaian seragam dokter namun masih berstatus mahasiswa yang tertera dibet nama yang tergabung dikantung jasnya,lelaki itu sedikit tersenyum memandangi kebahagiaan senja yang menggunakan jas hujan pemberiannya.
Astaga lagi-lagi sosok misterius kembali menghantui kehidupan ketiga insan itu,atau Sosok tersebut bukan hanya tamu yang numpang singgah melainkan sosok yang kelak akan menjadi jodoh nya?
Hanya takdirlah yang nanti akan memutuskan.