GEBETAN DAN DATING

1858 Words
"Gue memang bukanlah cowok romantis tetapi setidaknya hati gue murni cuman buat loe" Malam ini, mentari tengah sibuk membolak-balikan majalah fashionnya,ia tak begitu semangat untuk beranjak dari kasurnya setelah peristiwa tadi siang disekolah. Bahkan ia sampai mematikan handphone nya agar tak seorang pun mengganggu atau sekedar menjadi tempat bersandar nya termasuk mamanya sebab ia tak ingin terlihat serapuh itu hanya karena cinta. "Sayang.."ujar tante Lia diluar kamar yang khawatir akan sikap putrinya,ia merasa tak biasanya mentari melewatkan makan malam bersamanya. "Boleh mama masuk?" "Tari cuman Pengen sendiri ma" "Kalau kamu butuh teman curhat bisa kok curhat sama mama" "Please,biarin tari sendirian" "Baiklah sayang,nanti kalau ada apa-apa panggil aja mama ya"perlahan-lahan langkah kaki Tante Lia menjauh dari kamar putri semata wayangnya itu,namun tak menunggu waktu lama tiba-tiba sebuah ketukan pintu kembali menghampiri mentari namun dengan orang yang berbeda dan suara yang sudah sangat dikenal gadis itu. "Ri,ini gue!" "Mau ngapain loe kesini?"suara mentari yang sedikit tak jelas karena dibarengin oleh Isak tangis. "Mau menjelaskan semuanya sama loe"suara Akbar benar-benar menenangkan hati dan pikiran gadis itu,ia langsung bejalan mendekati pintu dan membuka gagang pintu tersebut berharap penjelasan dari bibir Akbar adalah apa yang diharapkan nya selama ini. Tetapi betapa kagetnya mentari saat mengetahui kalau Akbar tidak sendirian melainkan ditemani oleh mamanya dan juga kekasihnya Vito. "Gue tunggu dibawa"ujar Vito yang segera mengalah dan berjalan pergi bersamaan dengan Tante Lia. "Mama buatkan minum ya" Akbar pun langsung menarik tangan mentari kedalam kamar tetapi pintunya dalam keadaan terbuka dan berbicara empat mata bersama gadis itu. "Ri,loe jangan nangis ya"ia menghapus buliran air mata dari wajah sahabatnya itu. "Maafin gue bar,gue seharusnya gak jatuh cinta sama loe" "Perasaan itu gak ada yang salah kok ri,hanya saja ia sulit untuk diajak kerjasama",ia meraih kursi dari meja rias mentari dan mendudukinya. "Ri,loe tahu gak terkadang lebih baik kita harus berhenti memperjuangkan cinta kita yang bahkan sama sekali tak memberikan kepastian daripada harus kehilangan seseorang yang begitu sangat mencintai kita"ia menggenggam jemari gadis itu seraya sebelah tangannya menunjuk kearah luar pintu. "Diluar sana udah ada sosok yang sangat mencintai loe lebih dari apapun,loe ngertikan maksud gue" Mentari hanya mengangguk saja meskipun hatinya tengah melawan nasihat yang disampaikan oleh Akbar. "Kenapa gue gak boleh menunggu kepastian loe?gue masih sanggup kok kalau disuruh untuk menunggu lagi" "Jangan ri,gue aja masih ragu sama perasaan gue sendiri. gimana gue mau kasih kepastian sama seorang gadis kayak loe kalau gue aja gak bisa membedakan yang mana namanya cinta sejati dengan cinta sahabat" "Gimana kalau ternyata suatu hari nanti loe udah paham tentang perasaan loe sendiri?" "Kalaupun suatu hari nanti hati gue berpihak ke loe,mungkin gue akan melakukan hal yang sama" "Mengalah?" "Bukan ri,memilih jalan lain sebab gue gak mau merusak kebahagiaan orang yang udah bahagia bersama loe" "Loe egois,atau jangan-jangan loe cintanya sama senja?" Akbar hanya menggeleng kepala saja dan memeluk gadis itu erat-erat,ia sekarang sangat bingung harus berkata apa pada wanita yang sangat dicintainya itu. Tetapi ia masihlah anak SMA yang tengah merasakan perasaan dimabuk asmara yang suatu saat nanti rasa itu bisa saja memudar atau berpindah kelain hati. "Loe dan senja itu adalah sahabat yang paling gue sayangin,hmmm..loe jangan sedih lagi ya dan kayaknya Vito udah nungguin loe dibawah" Saat Akbar ingin berjalan pergi mendadak lengannya dipegang oleh mentari. "Loe mau kemana?" "Gue gak kemana-mana kok,yuk turun pacar loe udah nungguin"ia langsung melepaskan tangan mentari dan berjalan pergi disusul oleh mentari . "Ri,loe udah baikan?"tanya Vito,ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati gadis itu. "Masalah kalian udah selesai?"tanya nya tak ingin ambil pusing, Akbar hanya mengangguk saja dan menepuk pundak leleaki itu. "Gue pulang duluan ya"ia berjalan pergi tanpa sepatah katapun sedangkan mentari hanya menatapnya dari jauh. Entah apa yang akan terjadi dengan persahabatan mereka kedepannya seba. Tak seharusnya sebuah rasa diungkapkan secara terang-terangan seperti ini,tetapi berbeda dengan Vito yang begitu bersikap santai seakan tak terjadi apa-apa dengan hubungan nya saat ini. "Maafin gue ya Vito"mentari mulai kembali ke dunia realitanya dimana ada Vito yang kini berstatus kekasih nya . "Loe gak salah kok,gue yang salah kurang cepat masuk kehati loe" "Yuk.."ajak Vito,mentari menatapnya heran. "Mau ngapain?" "Nge date..gue memang bukan cowok romantis sih cuman kali aja nge date ulang bisa buat rasa cinta loe timbul buat gue"Vito terlihat menggoda mentari yang mulai tersenyum kecil. "Hmm..kalau mama sih gak ngelarang asal jangan pulang kemalaman"tiba-tiba saja Tante Lia sudah ada dibelakang mereka. "Mama,.."teriak mentari malu. "Jadi mau gak?atau gue ajak aja mama kamu buat nge date sama gue"mentari langsung menggelengkan kepalanya yang dibalas tawa kecil oleh Vito dan Tante Lia. "Ya udah,kamu mandi sana biar Vito nunggu disini"ujar Tante Lia,gadis itu lain langsung berjalan ke kamarnya. Sesaat ia memang perlahan melupakan peristiwa tadi tetapi tidak akan perasaan itu. "Makasih ya nak,kamu sudah memaafkan mentari"Vito hanya tersenyum saja. "Iya tan,lagipula memang tidak ada yang harus dipersalahkan"keduanya saling tersenyum,tak beberapa lama nampak seorang gadis yang berbalut dress putih dengan rambut terurai semakin menambah kecantikan nya. "You are very beautiful"puji Vito terkesima,ia lalu mengulurkan tangannya kearah mentari dan menggenggam jemari gadis itu. "Ma,kami pergi dulu ya" "Hati-hati ya dan jangan pulang malam-malam"mama langsung mengirim kening mentari. "Yuk!"ajark Vito dan keduanya berjalan pergi meninggalkan Tante Lia yang mulai sedikit lega. DIdalam mobil,Vito tak henti-hentinya memandangi gadis itu sampai konsentrasi nya dalam menyetir sedikit terganggu. "Apaan sih vit,udah nyetir dulu yang benar" "Susah buat ngelewatin pemandangan yang indah malam ini,RI"dengan geramnya mentari langsung menyubit bahu Vito. "Ihhh..loe memang cowok gue yang gak ada romantis nya, mainstream tahu gombalan loe"ledeknya yang berakhir sebuah tawa. Hingga tak terasa keduanya sampai disebuah kafe yang berhiaskan cahaya cukup terang tetapi tak menghilang kan pesonanya,dimana lagi kalau bukan cafe romantika yang sengaja disewa oleh Vito dan menyisakan mereka berdua dan beberapa pelayan kafe. "Yuk turun!"lelaki itu membukakan pintu buat mentari dan kembali merangkul lengan gadis itu. "Selamat malam tuang dan nyonya,kami sudah menyiapkan lokasi yang spesial buat anda"ujar pelayan kafe yang dengan sigap menyambut kedatangan dua orang yang tengah dimabuk kasmaran itu. Keduanya hanya tersenyum saja dan mengikuti langkah kaki si pelayan. "Silahkan duduk tuan dan nyonya,makanan spesial dan lezat akan segera di hidangkan"pelayan itu tersenyum ramah dan pergi meninggalkan Vito dan mentari. Tetapi pandangan mentarinya seketika tertuju pada dinding kafe yang dibaluti warna pink dan pajangan permen manis serta beberapa balon. "Ayo kita foto disana!"ajaknya,ia langsung menarik tangan Vito tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu. Keduanya pun berfoto ria tanpa merasa malu akan tatapan geli para pelayan,jujur ini bukanlah sebuah malam ngedate yang diharapkan Vito namun entah kenapa kembalinya senyuman mentari menjadikan malam ini tampak spesial dan perlu untuk dijadikan memori kenangan. ******** "Haaaa…"teriak Akbar yang tampak kesal diatas trotoar jembatan yang lumayan sepi untuk dilewatkan kendaraan,ia sengaja mengambil lokasi disana agar ia bisa leluasa mengekspresikan dirinya yang saat ini tengah kehilangan atau sengaja melepaskan seseorang yang disayanginya. "Kenapa gue harus suka sama loe,loe gak seharusnya ada di hati gue"ia meremas besi jembatan itu bahkan kehadiran sesosok gadis yang tak sengaja lewat dari jembatan itu pun tak disadarinya. "Iya kak,ini dira mau pulang"ucap seorang gadis yang tengah mengobrol dengan seseorang melalui ponselnya,suara gadis itu kebetulan membuyarkan emosi Akbar dan membuat pria itu menoleh kearah gadis yang tengah berjalan melewatinya,gadis yang pernah ia tabrak di sekolah tadi pagi. "Hey,loe kan cewek yang nangis tadi pagi disekolah kan?"gadis itu terlihat gusar dan mematikan ponselnya lalu berjalan pergi tetapi Akbar buru-buru mencegatnya. "Hey,gue minta maaf ya soal origami loe yang hancur itu" Gadis itu hanya menatap terdiam saja dengan tatapan yang sulit untuk dideteksi oleh Akbar sampai-sampai Akbar langsung memalingkan wajah nya karena tak tahan beradu pandang dengan gadai yang tidak diketahui namanya itu. "Oke..oke..,Nama gue Akbar dan loe?" "Atas dasar apa aku harus menjawab pertanyaan kamu"jawabannya bukannya membuat Akbar kesal malahan semakin membuat lelaki itu merasa tertantang. "Mungkin bisa jadi sahabat" "gak bakal pernah ada yang namanya persahabatan lawan jenis,jadi maaf aku menolak permintaan kamu"ucapnya penuh elegan,Akbar hanya menghela nafas sembari tersenyum licik. "Ok baiklah, kalau gitu aku mau pdkt sama kamu"ucapnya menantang gadis itu,ia sebenarnya tak berbicara serius saat ini hanya terbawa suasana aja oleh sikap gadis itu yang merespon nya penuh jual mahal,"atau jadi teman cinta loe" "Aku gak tertarik"ia menolak Akbar dan berjalan pergi meninggalkan lelaki itu,untuk sekarang Akbar enggan menahan nya dan hanya berdiri kaku menatap kepergian gadis itu. Jujur setidaknya kekesalannya hari ini sedikit terobati oleh perkenalannya dengan seorang gadis misterius. ****** Pagi ini udara sangat dingin hingga menembus tulang ditambah lagi cuaca yang perlahan menghitam ditemani oleh rintihan air hujan membuat Akbar enggan untuk berangkat kesekolah. Ia memilih melanjutkan tidurnya seusai mematikan jam alarm yang berada dimeja samping ranjang dan hal itu membuat papanya datang menghampiri kekamar. "Kamu gak kesekolah,bar?" Akbar masih larut dalam tidurnya,ia tetllau malas untuk menjawab jutaan pertanyaan dari papanya. "Akbar!" "Iya pa,bentar lagi" "Alah,palingan juga dia malas sekolah pa"ujar Dimas yang sengaja memanas-manasi suasana, Untung saja papa mereka adalah orang yang humoris dan jarang sekali marah. "Udah biar papa yang bangunin,kamu makan aja dulu kesana"usir papanya,Dimas aja tertawa cengengesan dan berjalan pergi meninggalkan kedua lelaki itu. "Akbar,kau tau kan papa sangat marah kalau anaknya bermalas-malasan untuk sekolah" "Iya pa, sebentar lagi"Akbar terpaksa membuka matanya dan membangkitkan tubuhnya yang tampak sedikit kucel dengan rambut acak-acakan. "What's wrong?" "Nothing pa,semuanya berjalan baik-baik saja"ia menghela nafas panjang, "dan lebih baik papa tunggu dibawah sebab aku akan bersiap-siap" "Oke,iu baru my boy"ia mengacak rambut putra bungsunya itu,lalu berjalan pergi. **** "Apa dia mau sekolah,pa?"tanya Dwi pada suaminya itu,satrio itu hanya tersenyum saja dan menyantap roti panggang berbalut coklat kesukaannya. "Dimas,bagaimana kuliah kamu berjalan lancar?" "Tidak semulus yang aku harapkan"ia terlihat santai mengatakannya. "Kalau memang kamu tidak sanggup,mungkin bisa coba kuliah bisnis diluar negeri supaya bisa meneruskan perusahaan papa"saran Dwi pada putra pertama nya itu,tetapi Dimas hanya menggelengkan kepalanya saja, meskipun sebenarnya ia tahu kalau kemampuannya bukanlah dibidang kedokteran tetapi seperti ada suatu hal yang membuat diri lelaki itu untuk tetap kiat membidangi dunia kedokteran tersebut yang sebenarnya sudah lari dari impian dan cita-cita nya sewaktu kecil. "Gak ma,Dimas tetap mau jadi dokter,ada seseorang yang Dimas harus selamatkan nyawanya" "Pacar kamu?bukannya dia baik-baik saja ya?" "Bukan ma, pokoknya ada deh"tukas dimas yang membuat pasangan suami-istri itu hanya terdiam terpaku saja. "Siapapun orang itu,jangan sampai membuatmu menyerah ditengah jalan jika suatu hari nanti kamu gagal menolongnya"tegas Satrio,dimas hanya mengangguk saja. "Pagi…"ujar Akbar yang telah berpakaian rapi dan karismatik bersamaan pula sosok gadis berpakaian dress putih dengan wajah manis yang dihiasi oleh pita putih dipinggir rambut bergelombangnya yang datang menghampiri mereka sembari membawa sebuah rantang plastik. "Tante dan om,ini Tiara bawakan makanan dari rumah"Dwi langsung memeluk gadis itu dengan penuh bahagia. "Astaga Ara,kok datangnya pagi-pagi banget." "Ia Tan,kangen aja sama Tante soalnya Dimas tuh yang jarang ngajak Tiara mampir kesini"Dimas hanya mengangkat bahunya saja dan kembali menyantap rotinya. "Papa kamu baik?"tanya Satrio, "Baik om,oh iya papa ngajak om nonton bola bareng Minggu depan" "Wah om terima dengan senang hati"sahut Satrio dengan bahagia,hanya Dimas dan Akbar saja yang terlihat acuh akan kehadiran Tiara,karena tak tahan dengan situasi seperti ini akhirnya Dimas menarik lengan Tiara untuk segera pergi. "Kami pergi duluan ya" "Om dan Tante,Tiara pamit ya"teriak Gadis itu dari kejauhan,Dwi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Dasar anak itu!"tawanya geli diikuti oleh suaminya. "Seharusnya kalau gak cinta ya gak usah pacaran"sindir Akbar penuh ironi didalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD