DIANTARA DUA HATI

3936 Words
"Hatiku kini terjepit diantara dua samudera yang menginginkan ombaknya kembali." Akbar terlihat tengah mencari seseorang,ia berjalan melambat Melawati koridor sekolah yang lumayan panjang dan kebetulan sudah sangat ramai. Teriakan-teriakan beberapa gadis yang menjerit memanggil namanya pun tak dihiraukan oleh lelaki itu,Matanya terus saja mencari sampai akhirnya sosok yang dicari olehnya tampak tengah terduduk santai sembari membaca buku kesukaannya didepan kelas. "Gue udah bela-belain datang kerumah loe,tapi Tante bilang kalau loe udah pergi bareng Vito"Akbar menyambar buku mentari dan duduk sangat rapat disamping gadis itu,sampai gadis itu merasa sangat gugup ditambah lagi jantungnya yang mulai berdetak kencang dan tak terkendali. "Akbar,sini balikan buku gue"ia mengambil kembali buku itu dari genggaman Akbar dan kembali membaca seakan tak menghiraukan keberadaan akbar. "Jadi gimana ngedate loe semalam bareng Vito?dia gak macam-macam sama loe kan? hubungan kalian baik-baik aja kan?"Pertanyaan Akbar membuyar fokus gadis itu,ia langsung menutup bukunya dan menatap mata Akbar dengan baik-baik. "Bar,berhenti menganggap hubungan kita baik-baik aja"Tukasnya tegas,Akbar hanya menghela nafas saja,cukup lama keduanya saling memandang satu sama lain sampai akhirnya kebisuan itu terhenti oleh kehadiran sesosok gadis dihadapan mereka,gadis yang membuat keduanya tertegun kaget dan bertanya-tanya. "Senja,bukannya kamu masih sakit ya?"Mentari langsung bangkit dari kursinya dan menatap bingung pada senja,sebab setaunya kalau senja masihlah dirumah sakit lagipula senja bukanlah satu sekolah dengan mereka. "Aku udah dibolehkan pulang sama dokter semalam dan …"ia memegag jemari mentari dan Akbar, "aku pura-pura jadi murid disekolah kalian hari ini" "Ya gak bisa dong senja,lagipula nanti kalau ketahuan bahaya loh dan sebentar lagi kelas juga udah mau masuk"Nasihat mentari,ia sedikit kesal akan perilaku senja yang memang salah baginya. "Aku bisa nunggu dikantin sambil bantu-bantu ibu kantin kalian,tadi juga aku udah ijin ke ibu kantin kok sebelum aku nemuin kalian disini" "Senja mendingan kamu pulang deh!!!"Akbar tampak kesal,ia sedikit setuju akan pemikiran mentari yang memang melihat senja sedikit kekanakan ditambah lagi ia memang khawatir kalau senja kecapekan dan malah membuat penyakitnya kambuh lagi. "Sorry…"senja langsung berjalan pergi meninggalkan Akbar dan mentari, ia berjalan tergesa-gesa dengan rasa kekecewaan yang diterimanya padahal ia sebenarnya ingin memberikan kejutan kepada kedua sahabatnya itu. "Gue kejar senja dulu"Tetapi tangannya langsung ditahan mentari. "Loe bisa dikira bolos,gue yakin senja baik-baik saja dan kali ini tolong dengerin gue dan sekali aja loe jangan bolos" "Gue kayaknya kasar banget sama dia" "Sikap loe benar kok,lagian kita juga gak ingin senja kelelahan apalagi dia baru pulang dari rumah sakit" Akbar hanya menggeleng kepala saja lalu berjalan masuk kelasnya meskipun ia khawatir akan keberadaan senja. "Mungkin pulang sekolah nanti gue kerumahnya"Ujarnya dalam hati. **** Senja berlari keluar pagar yang kebetulan masih terbuka tanpa menghiraukan teriakan satpam yang mengira kalau dirinya adalah siswi disekolah ini,ia terus saja berlari dengan suasana hati kesal. Bahkan bunyi mobil hitam Avanza yang sedari tadi mengikutinya saja tak dihiraukan oleh gadis itu. "Neng senja mau kemana?"Teriak supirnya,senja hanya menatap tajam kearah supirnya itu. "Mendingan bapak pulang duluan aja,senja bisa pulang sendiri" "Nanti bapak dimarahin nyonya kalau terjadi sesuatu dengan neng,ayo pulang neng senja" "Pak...tolong!senja cuman ingin sendiri"Ucap senja memelas,mau tak mau supirnya hanya mengiyakan saja permintaan bossnya itu. "Ya sudah,tapi kalau ada apa-apa hubungi bapak ya"senja hanya mengangguk saja dan berjalan pergi memasuki jalan sempit yang berada dekat disebelah kirinya,ia terus saja jalan tanpa sedikitpun menoleh kearah belakang sebab suasana hatinya kini telah kacau. Ia sebenarnya tak masalah kalau dimarahin oleh mentari hanya saja tak biasanya Akbar memarahi dirinya sebab hatinya seketika terluka saat mendengar bentakan dari lelaki yang amat disayanginya itu. Ia terus saja berjalan melewati jalan smepit itu sampai akhirnya tembus kejalan besar yang sama sekali tidak diketahuinya,entah kemana langkah kaki itu membawa senja yang jelas ia ingin meluapkan emosinya sendirian tanpa pengganggu sedikitpun. "Aku sayang kamu,Akbar"Desisnya pelan berkali-kali disepanjang jalan,kalimat sederhana yang amat sulit diucapkan oleh gadis itu, pernah beberapa kali ia ingin mengucapkan secara langsung kalimat itu pada Akbar namun hanya sebatas ucapan membatin saja.Gadis itu terlalu lemah untuk mendengarkan jawaban menyakitkan yang bisa saja keluar dari bibirnya Akbar. Ditengah langkah kakinya yang mulai kelelahan,sebuah kereta tak sengaja menyimpratkan air genangan didik abu-abu senja dan membuat gadis itu kesal, ditambah lagi yang membuat ia kesal ialah pemilik motor itu yang tak lain ialah Dimas yang mengenakan kemeja panjang rapi yang dilapisi dengan perpaduan sweater yang menambah ketampanannya. Dimas langsung turun dari motornya dan berjalan mendekati senja yang sangat marah. "Loe mau mati!ngapain ditengah jalan pagi-pagi gini bukannya pergi sekolah"Bentak Dimas yang juga tak kalah kesal tetapi lebih seperti dibuat-buat. Senja hanya diam saja,ia sangat jarang mengekspresikan dirinya kecuali dalam hal bermanja diri dan itupun hanya pada Akbar. "Dasar cewek manja,sok cantik dan nyusahin aja"sambungnya,seketika ucapannya itu sangat menusuk dibatin senja,tak terasa air mata membanjiri kedua matanya dan pipinya menjadi merah muda padam. Ia terduduk lemas di aspal jalan dengan tatapan fokus kearah badan aspal itu. Tentu saja hal itu membuat Dimas iba,ia memang sering membuat gadis itu menangis sejak kecil,tetapi ia yakin kali ini senja menangis bukan karena hinaannya melainkan ada sesuatu hal yang sangat membuatnya penasaran. "Loe nangis kenapa?"Ia ikut Jongkong juga menatap kearah senja yang masih tak mau mengalihkan tatapannya kebadan aspal. "Loe tahu gak kalau gue paling benci sama loe karena loe itu manja dan lemah,apapun masalah loe yang jelas bagi gue itu adalah kesalahan loe"Ia menghapus air mata dipipi senja menggunakan tangannya,gadis itu sontak kaget dan menatap bingung kearah dimas. "Jangan nangis, kehidupan bukan tempat untuk dramatis dan gue juga bukan tempat buat loe menangis"Dimas mengangkat tubuh gadis itu dan menarik lengannya dengan erat. "Gue antar pulang ya!"ia langsung menyalakan motornya dan meminta gadis itu untuk segera naik kemotornya,senja yang masih bingung hanya menurut saja dan memeluk erat tubuh Dimas. "Jangan dipeluk kali,gue udah punya kekasih"senja yang mendengarkan kekesalan Dimas pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Dimas,ia hanya memegang kursi belakang motornya saja. "Berhenti disini aja kak!"Perintah senja,mau tak mau Dimas pun menghentikan motornya tepat ditanam kompleks perumahan. "Mau ngapain putri manja?"tanya sedikit kesal,senja tak menghiraukan pertanyaan dimas. Gadis itu langsung berjalan pergi kearah ayunan tanpa peduli terhadap sosok Dimas yang menatapnya kesal sebelum akhirnya Dimas ikut mengisi ayunan sebelah senja yang kebetulan kosong. "Loe gak ada terimakasihnya ya"Sekali lagi senja tidak merespon keluhan Dimas,ia masih fokus memainkan ayunannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Dimas yang sedari tadi mencuri pandang ke senja. "Loe tahu gak ada satu hal didunia ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan?"Dimas berusaha membuka percakapan diantara mereka berdua,ia memang bukan sosok yang terlalu suka keheningan tetapi ia juga tak terlalu minat menjadi pembuka topik disetiap pertermuan termasu dengan pacarnya.Namun entah kenapa berbeda ketika bersama senja,ia akan berusaha mencuri perhatian gadis itu meskipun senja kerap sekali mengacuhkannya dan berfokus pada Akbar saja. "Apa kak?"Tanyanya,tetapi pandangan gadis manis itu sama sekali tidak menoleh kearah dimas. "Cinta.Perasaan yang terlalu sulit untuk dipecahkan dan gue pikir itu yang sedang loe rasakan sekarang"Sindirnya pada senja,gadis itu sontak menatap kearah dimas dan terlihat sedikit salah tingkah tetapi matanya memberikan sebuah isyarat kalau memang saat ini ia tengah mencintai seseorang yang tidak lain ialah Akbar. "Siapa?"Tanya Dimas tanpa bertele-tele,gadis itu hanya menunduk malu saja dan mulutnya sama sekali enggan untuk berkata, "Pasti bukan gue?" "Ah…???"senja kaget,ia hampir menjatuhkan dirinya dari ayunan. "Ngapain loe kaget,kan memang bukan gue dan semoga aja loe gak berpikiran kalau gue suka sama loe" "Aku gak sebaper itu kok hanya karena kakak hari ini baik sama ku,lagian memang bukan kakak" Seketika kalimat itu memberikan lubang yang cukup mendalam dihari Dimas,ia merasakan patah hati yang berjuta kali lipat dan rasanya perasaan terpendamnya terasa sia-sia seakan pintu harapan tertutup untuknya. Entah karena dirinya yang terlalu gengsi untuk mendekati gadis itu atau takdir yang enggan mempersatukan mereka. Astaga,sekali lagi masih saja berbicara takdir yang mungkin tidak akan bisa terwujud kalau manusianya sendiri tidak berusaha sama halnya Dimas yang berharap dicintai oleh senja tetapi selalu bersikap kasar pada gadis itu. "Terus kenapa menangis? bertepuk sebelah tangan atau ditolak?" Senja menatapnya kesal,ia tahu pertanyaannya itu terlalu kasar untuk didengarkan oleh senja tetapi seperti yang kita ketahui kalau Dimas memang bukan tipe cowok selembut Akbar dan ia terkesan acuh pada wanita termasuk pada kekasihnya sendiri. "Kalau kehadiran kakak disini cuman jadi wartawan yang mempertanyakan semua isi hati orang lain,maaf kak aku gak punya waktu jadi narasumbernya karena aku cuman butuh angin ataupun keheningan yang bisa memberikan ketenangan saat ini" "Tapi gue gak bisa jadi seperti yang loe butuhkan saat ini,mungkin lebih baik gue pergi deh"Ia bangkit dari duduknya, "oh iya, terkadang apa yang gak loe inginkan adalah hal yang sebenarnya loe butuhkan dan seseorang yang kehadirannya gak loe harapkan bisa jadi orang yang bakal loe rindukan kelak"sambungnya,ia langsung berjalan pergi meninggalkan senja yang menatap kepergiannya. **** "Akbar!!!"Jerit mentari ditelinga Akbar Sebab selama mata pelajaran dimulai,ia melihat lelaki itu tidak fokus dan terlalu banyak merenungkan sesuatu. "Eh,kenapa mentari?" "Loe kenapa sih?mikirin apa?"Tanya gadis itu. "Enggak apa-apa kok,cuman kepikiran senja aja sih"Ucap Akbar tanpa rasa bersalah sedikitpun,mentari yang mulai sedikit cemburu hanya bisa menghela nafas dan memaklumi kekhawatiran sahabatnya itu. "Mungkin aja udah pulang,lagian senja juga udah dewasa pasti dia baik-baik saja kok bar" "Tetap aja gue khawatir kali ri,apa gue cabut aja ya kerumahnya" "Gila loe bar,masa gara-gara hal sepele yang loe lakuin hari ini membuat loe dihukum disekolah besok!"Bentak mentari,Akbar hanya menghela nafas saja. Ia belum pernah melihat mentari Semarang ini,biasanya mentari selalu mendukung dirinya untuk menjaga senja tetapi kali ini seakan gadis itu berusaha mendisplinkan dirinya entah karena memang ingin melindungi Akbar atau karena perasaan cemburunya. "Apa yang loe rasakan sekarang,ri? Akbar berdiri dari kursinya dan menolak pelan tubuh gadis itu sampai benar-benar bersandar di dinding kelas yang kebetulan saat ini kelas cukup sepi dan menyisakan mereka berdua. Akbar cukup lama memandangi wajah mentari,bukan niat apa-apa selain hanya sekedar ingin mengetahui perasaan seperti apa yang tengah disembunyikan gadis itu dari dirinya. "Gue cuman takut kalau loe membalas perasaan senja"Akbar mengangkat kedua alisnya,ia bingung dan memang tidak peka terhadap perasaan kedua gadis itu. Ia terlalu kaku untuk memahami perasaan orang lain,bahkan perasaannya sendiri saja ia tidak berani memperjelas. "Maksud loe?"Mentari menolak sedikit tubuh Akbar hingga mereka cukup berjarak,lalu meletakkan kedua jemarinya dipipi lelaki itu.Wajah Akbar yang tampan dengan lesung pipi dan alis tebal yang membuat gadis itu semakin menyukai Akbar. "Loe benar-benar gak sadar ya kalau senja juga mencintai loe,bar" "Gue cuman anggap dia sebagai sahabat gue,sama kayak loe"Akbar mencoba memperjelas kembali ucapannya,tapi mentari merasa sedikit tenang yang bercampur luka membelenggu hatinya. Ia langsung menarik tangannya dari pipi lelaki itu sembari menghela nafas panjang. "Cepat atau lambat,loe harus menyadari perasaan loe atau perasaan loe sendiri yang menciptakan luka buat kita bertiga" "Move on ri, mencintai gue itu sama aja dengan melukai perasaan loe sendiri dan gue juga bakal bilang itu ke senja" "Kenapa sih loe gak bisa jujur sama hati loe,bar!!!!!"Bentak mentari yang sudah sangat kesal,ia langsung pergi meninggalkan kelas tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Akbar hanya bisa menggeleng-geleng kepala saja, sebenarnya ia ingin mengatakan sejujurnya tetapi setelah mendengarkan kabar kalau senja juga menyukainya.harapannya semakin pupus,ia langsung mengubur dalam-dalam perasaan cinta itu pada mentari. Ia tidak ingin melukai kedua perasaan gadis itu,atau dialah sebenarnya yang terlalu egois akan perasaannya sendiri. Ditengah kegundahan hati,Akbar berjalan menyusuri lorong-lorong belakang sekolah, berusaha mencoba menenangkan hatinya dan mencari jawaban atas hati yang terlalu sulit berkata jujur. "Mau sampai kapan buat mentari menangis,bar?"Sebuah suara yang tidak asing membuat Akbar menoleh kebelakang,tentu saja itu adalah Vito. "Gue gak bermaksud kayak gitu vit"ucap Akbar, "gue sama sekali gak pengen membuat mereka bersedih"sambungnya. "Maka berhentilah buat mereka menangisi cinta loe"sindir Vito,"gue siap kok harus putus sama mentari kalau memang hati loe memilih dia"lelaki itupun berjalan pergi tanpa menghiraukan respon dari Akbar lagi. Namun perkataannya memberikan bekas yang mendalam bagi Akbar,Vito memang benar seharusnya Akbar harus berhenti membuat kedua gadis itu menangisi cintanya dengan meminta mereka berdua tetap menjadi sahabatnya dan memberikan perhatian yang khusus pada kedua gadis itu. "Ahhh!!!!..."Teriaknya sembari memukul tembok dinding belakang sekolah,tangan lelaki itu kini meneteskan cairan berwarna merah yang lumayan banyak. Ia terus saja memukul tembok itu,kali ini ia marah pada dirinya sendiri. Ia juga bingung akan perasaan itu, perasaan yang malah menjebaknya pada cinta segitiga yang malah akan menghancurkan persahabatan yang telah dibangunnya sejak kecil. Kini ada dua samudera yang tengah membutuhkan ombaknya kembali yang telah diam-diam direnggut oleh Akbar. "Gue benci perasaan gue sendiri"Jeritnya dalam batin, "gue sayang sama loe,mentari.Tapi gue gak mau buat kesehatan senja memburuk"sambungnya sembari terduduk lemas ditanah. Chapter 7: Seorang gadis berjalan pelan memasuki rumahnya dan betapa kagetnya ia mendapati Akbar yang sedang duduk disofa menunggu kehadiran gadis itu yang tidak lain ialah senja. "Kok baru pulang,senja?"Tanya Akbar cemas. "Habis ketaman,memangnya kenapa bar?"Senja menatap kesal kearah Akbar sembari memainkan kedua jemari tangannya. "Lagian mama juga belum pulang kerja kok"Sambung gadis itu mencoba membela diri. "Maaf ya buat tadi pagi,oh iya masak yuk?"Tawar Akbar yang kini telah bangkit dari duduknya dan mendekati gadis itu. "Kamu kan gak pandai masak Akbar?"Sindir senja,Akbar hanya tersenyum saja lalu meletakkan tangannya dipundak senja. "Pandai kok,ya udah mendingan kita langsung masak aja kedapur dan lihat bagaimana pesona chef Akbar "Akbar langsung berjalan duluan kedapur,ia seperti tengah berusaha mencairkan suasana diantara mereka yang sebelumnya sempat sedikit kaku karena masalah tadi pagi. Kini batinnya telah bulat,ia tidak akan memilih diantara kedua sahabatnya itu dan mungkin saja ia tidak harus mempertanyakan perasaan senja tegsdapnya dengan berpura-pura tidak tahu seperti sebelumnya, demikian halnya dengan mentari,mungkin ia akan memperbaiki hubungannya dengan gadis yang kini telah berstatus pacar Vito dan belajar untuk move on dari mentar. "Semuanya akan berjalan baik-baik saja"Ucap Akbar dari dalam hatinya. Dengan penuh kepercayaan diri,Akbar menguasai seisi ruangan dapur itu dan malah menyuruh senja untuk menontonnya saja.Anehnya lagi bahkan ia sendiri tidak tahu ingin memasak menu apa hari ini dan itu membuat senja tertawa geli. "Kamu sendiri aja gak tahu menu yang kamu masak,bar"Sindir senja berbarengan dengan tawa geli. "Asal loe tahu aja ya senja yang imut, seorang chef itu gak perlu tahu menu apa yang dimasaknya namanya juga eksperimen" "Gimana kalau eksperimennya gak enak?apa hukumannya?"Tantang senja dengan nada mengejek,Akbar hanya tersenyum licik saja sembari mengupas bawang putih tanpa sedikitpun mengupas bawang merah. Astaga,kalau kalian tahu pasti kalian akan ikut tertawa seperti senja sebab sebenarnya Akbar memang hanya memasak telur darah tetapi ribetnya setengah mati. Ia sampai membuat jorok meja dapur dan mengotori lantai dengan pecahan telur dan itu membuat pembantu dirumah senja hanya bisa menatap kesal dihalaman belakang sembari menyapu daun-daun yang berguguran. "Gue gendong loe mengelilingi perumahan"Senja menjabat tangan Akbar yang dilumuri bau amis telur dan keduanya tertawa bersama. Ditengah penantian senja menunggu sahabatnya memasak itu,acap beberapa kali senja merekam aksi Akbar yang menurutnya sangat menggelitkan untuk bisa disimpan sebagai kenangan.Tentu saja akbar tidak keberatan akan hal itu dan malahan ia segera bergaya cool saat kedapatan tengah dipotret oleh senja. "Oke ,Minyak goreng jauh lebih menyeramkan Dibandingkan apapun"kini ia mengeluh sejenak,lalu kembali menguatkan tekadnya untuk memasak. Sampai akhirnya masakan itupun jadi tetapi dalam wujud telur setengah gosong "Boleh aku tahu tuan, apa ya nama masakan itu?" "Hmmm...telur hitam rasa kerinduan yang dibaluti senyuman hangat"jawabnya sembari mengedipkan mata. "Hahahaha.. ada-ada aja bar,itu gosong kali dan udah jelas kamu kalah" Akbar langsung tertawa geli sendiri dan meletakkan piring yang berisi telur buatannya itu dimeja lalu berjalan kearah senja. "Oke baiklah,gue kalah!!!" "Lagian kamu sih sok-sokan masak yang ada malah dapur kotor karenamu" "Yaudah,yuk gue gendong mengelilingi dunia"ia menggendong tubuh senja dan membawa gadis itu mengelilingi kompleks perumahan. ***" Dilain sisi Dimas yang baru saja sampai ke kampus langsung menerima amarah kekesalan dari kekasihnya. Tiara yang sedari tadi menunggu di tempat parkiran langsung menyerbu Dimas dengan berjuta pertanyaan dan keluhan. "Jawab dong mas,aku capek nunggu kamu disini dan kata teman-temanmu kalau kamu itu gak masuk kelas hari ini" Dimas hanya mengiyakan saja sembari melepaskan helmnya. "Ara,intogasinya nanti aja didalam kantin kelas soalnya gue haus"Ia langsung menarik lengan kekasihnya itu tanpa menunggu respon dari Tiara. Lalu setibanya dikantin,Dimas langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kosong yang menghadap kelapangan biro. "Kamu dari mana aja sih,mas?" "Ketemu anak kecil tadi dipinggir jalan,jadi mau gak mau gue hibur deh daripada digangguin sama orang jahat" Jawabnya dengan penuh yakin,Tiara yang mendengarkan alasan Dimas itu hanya bisa menghela nafas lega dan penuh yakin kalau Dimas sedang tidak berbohong padsnya. "Wah untung ada kamu,kasihan juga anak kecil itu ya" "Hmmm….loe gak pesan minum buat kita,Ra?" "Oh iya sampe lupa,kamu pesan apa mas biar aku pesanin sekalian ke ibu kantin?" "Kamu…"jawabnya sembari mengedipkan mata,tentu saja Tiara langsung tersipu malu. "Dimas???" "Iya-iya,jus alpukat aja ra"ucapnya,Tiara pun langsung berjalan meninggalkan Dimas sebentar. "Ia bahkan gak nanyak sama gue usia anak kecil yang gue temui dijalan tadi,tapi emang benar sih senja erllau lemah kayak anak kecil"Ujarnya didalam hati,kini ia berargumen sendiri didalam hati tanpa ada yang tahu isi hati lelaki itu. **** "Vit,kita mau kemana sih rupanya?"Tanya mentari,ia sedikit bingung terhadap Vito yang mendadak mengajaknya jalan-jalan saat pulang sekolah. Namun Vito hanya diam saja,ia terlihat fokus mengendarai mobilnya dan itu sedikit membuat mentari risih,ia mulai berpikir kalau Vito sedang kesal ataupun mungkin saja Vito melihatnya tengah berduaan dengan Akbar saat jam istirahat disekolah tadi. "Vit?are you okay?"Ia pelan-pelan memegang bahu Vito,tetapi Vito maisu saja enggan menoleh kearah mentari. "Vit,kalau gue punya salah mungkin kita bisa bicarakan secara baik-baik tanpa harus diem-dieman kayak gini"Mentari membelai rambut Vito tetapi tetap saja Vito tidak menoleh kearahnya,bahkan ia tidak memperdulikan ucapan gadis itu. Ia benar-benar membuat gadis itu kebingungan padahal tidak seperti biasanya Vito semarah ini pada gadis itu. Hingga akhirnya mentari menyerah untuk membujuk kekasihnya itu dan memilih untuk duduk diam tanpa berkata sedikitpun,sampai akhirnya mobil itu menepi disebuah pantai yang amat sejuk dan indah. Pantai itu dihiasi oleh banyak pohon kelapa yang menjulang tinggi dan lumayan sepi untuk hari sibuk seperti ini,tidak jauh dari keberadaan mobil mereka yang terparkir;mentari juga bisa melihat ada dua meja dan dua buah kursi yang disusun rapi menghadap pantai dan dihiasi oleh makanan penghidangnya. "Vit?"Tanya mentari penuh keheranan. "Gue lelah menyakiti perasaan loe terus"Jawabnya tanpa basa-basi,ia lalu menggenggam jemari gadis itu dan menatap lekat-lekat kearah mata mentari. "Kalau gue minta loe jadi kekasih gue secara baik-baik, berarti gue juga harus mengakhiri hubungan ini secara baik-baik juga"Kali ini Vito terlihat serius,ia memang tidak pernah main-main akan ucapannya. Tentu saja mentari langsung syok dan melepaskan genggaman tangan Vito. "Apa sih maksud loe,vit?kok loe minta putus?"Ia sedikit kesal seakan kesalahannya mencintai Akbar adalah dosa yang sangat besar. "Gue gak perlu mengulang kembali perkataan gue kali ri,lagian gue gak bisa menyiksa loe untuk terus menjadi milik gue sedangkan hati loe tertekan"Tukas vito sembari memegang pipi mentari. "Gue minta maaf ya" "Lie gak salah ri karena perasaan itu bukan sebuah televisi yang siarannya bisa diatur sesuka kita,dan hati loe itu terlalu rapuh dan akan semakin rapuh kalau berusaha menuruti kehendak gue" Mentari hanya bisa meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh Vito,cukup lama ia memeluk tubuh kekasihnya itu sampai akhirnya Vito sendiri yang melepaskan pelukan itu. "Jadi sekarang kita bisa ngedate buat mengakhiri hubungan ini?" Mentari hanya bisa mengangguk pelan saja,ia bingung kenapa rasanya ia enggan untuk mengakhiri hubungan diantara mereka dan sesak rasanya tatkala saat Vito meminta putus kepadanya. Keduanya langsung turun dari mobil dan menghabiskan waktu berduaan disana sembari memandangi pantai yang amat indah itu dan menyantap hidangan yang disajikan dengan rasa yang sangat lezat. Awalnya mereka erljhat canggung,tetapi semakin lama akhirnya kecanggungan itu perlahan mulai mereda dan membaik. "Jadi,apa yang gak gue tahu tentang loe?"Tanya mentari,Vito hanya menoleh sejena lalu kembali memandangi ombak-ombak yang menari-nari diatas pasirnya. "Loe sama sekali gak tahu tentang gue?"Mentari hanya menggelengkan kepalanya saja. "Harusnya dulu gue mengenali loe ke dunia gue ,baru deh gue nembak loe"Ledeknya,mentari langsung mencubit lengan Vito dan keduanya tertawa kecil bersama. "Gue pernah buta waktu usia 2 tahun sampai akhirnya gue bisa melihat untuk pertama kalinya saat duduk dikelas 3 SMP"kedua mata mentari menatap serius pada sosok laki-laki disampingnya itu,ia tidak percaya akan hal itu. "Loe serius?maaf vit,gue bahkan gak tahu soal itu"ia menundukkan kepalanya sejenak. "Iya gitulah,makanya gue kalau udah sayang banget sama orang gak pernah pakai logika apalagi mengukur fisik orang lain,gue selalu pakai perasaan dan pada saat itu cuman perasaanlah yang bisa gue andalkan sampai sekalipun gue mendapatkan pendonor dan bisa melihat lagi ,tapi kebiasaan itu masih selalu gue terapkan untu mengasihi semua orang menggunakan hati" "Loe memang orang yang baik vit"kini mentari mulai menyadari kalau kesalahannya mencintai Akbar dan menyakiti perasaan Vito adalah dua hal kesalahan besar yang kini harus ditanggungnya. "Semua orang baik kok ri,oh iya gimana perasaan loe sama Akbar?" "Gue masih sayang banget sama dia,bagi gue dia adalah sahabat sekaligus pangeran idaman gue"Mentar tersenyum lebar cukup lama,lalu setelah itu ia tersadar kalau ucapannya barusan bisa saja menyakiti hati Vito. "Eh maaf vit,gue.."Vito hanya tersenyum menghela nafas saja seakan memberikan isyarat kalau ia baik-baik saja. Ia akan selalu baik-baik saja selama gadis yang disayanginya itu tetap bahagia,setidaknya gak ada salahnya kan melihat orang yang kita cintai hidup bahagia meskipun bersama orang lain. **** "Aduh pegal deh badan gue,senja"Celoteh Akbar sembari meneguk habis minuman yang diberikan oleh senja. "Itu sih kamu,sok jagoan"Senja hanya tertawa kecil saja melihat ekspresi Akbar yang cukup menggelikan. "Gue kan pelindung loe jadi harus jagoan dong,yaudah gue pulang dulu ya senja"Ia memberikan gelas kosong itu pada pemiliknya dan menyubit pelan pipi senja kemudian lelaki itu langsung pergi meninggalkan senja yang tampak bahagia atas hari ini. Tentu saja demikian juga dengan Akbar,ia juga sangat bahagia telah memperbaiki hubungannya dengan gadis lemah itu, Dengan tubuh yang sedikit pegal dan keringat bercucuran Akbar berjalan menuju kearah rumahnya yang berada beberapa blok dari rumah senja. Namun sesampainya di rumah,ia terlihat kaget saat ia melihat gadis misterius itu lagi berada dihalaman depan rumahnya bersama salah seorang temannya yang tidak lain ialah Leon. "Loe ngapain kesini?"Tanyanya pada gadis itu,lalu tatapannya beralih ke Leon yang jauh lebih bingung, "ini pacar loe,leon? Seketika lelaki bernama Leon itu langsung tawa keras ,ia merasa pertanyaan sahabatnya itu cukup menggelikan sebab bagaimana mungkin sosok Dira bisa menjadi kekasihnya. "Dira itu adik gue kali,bukan pacar gue" "Sumpah!gak ada miripnya"Tukasnya,Dira yang mendengarkan itu langsung menatap tajam kearah Akbar,namun bukannya takut malahan Akbar ikut membalas tatapan tajam gadis itu. "Hey apaan sih kalian,kok malah tatapan kayak gini"leo langsung memisahkan mereka berdua dan menepuk pelan pundak Akbar. "Gue tadi ngantar bingkisan dari nyokap gue yang baru pulang dari Amerika,ya udah gue mau pulang"Ia langsung mengeluarkan kunci motornya dan memberikan isyarat kepada Dira untuk segera berpamitan pada Akbar yang merupakan seniornya disekolah. Tapi bukannya pamitan,Dira malah berjalan duluan mendahului kedua lelaki itu. "Benci banget adik gue sama loe?"Tanya Leon heran,Akbar hanya menaikkan bahunya saja. "Loe tunggu disini aja,gue pinjem adik loe bentar"Akbar langsung berjalan mengejar Dira dan memegang erat lengan gadis itu dan membalikkan badan gadis itu tepat kehadapannya,Keduanya saling bertatapan dekat hingga bunyi nafasnya cukup terdengar hebat dengan jarak Entah apa maksud Akbar,ia seakan tak kerah membuat semua gadis bertekuk lutut padanya yang jelas tatapannya memberikan isyarat kalau diralah satu-satunya kunci utama agar persahabatan dirinya dan mentari serta senja kembali akur tanpa melibatkan perasaan cinta,sudah jelas kalau ia ingin menjadikan Dira sebagai kekasihnya sehingga ia tidak perlu keberatan untuk memilih senja ataupun mentari tetapi ia seakan tidak tahu kalau ini akan menimbulkan masalah baru dan belum tentu juga Dira mau menerimanya. "Loe mau kan jadi teman cinta gue?"Dira berusaha menolak tubuh Akbar tetapi lelaki itu terlalu kuat,cukup lama mereka bertatapan dan rasanya Leon enggan merelai keduanya apalagi ia tahu kalau Akbar bukanlah cowok playboy jadi ia hanya bagian dari penonton yang melihat kemesraan mereka dan memastikan kalau tidak ada yang aneh diantara adegan tersebut. "Enggak"Ketus kesal Dira,kini jantungnya perlahan berdegup kencang dan hembusan nafas yang tidak beraturan. "Kenapa?"Dira yang mulai risih langsung menginjak kaki Akbar yang langsung melepaskannya dan tertawa kecil. "Kamu bukan tipe aku,kakak ayo pulang"teriaknya,Leon pun segera berlari kearah mereka dan menghidupkan motornya sembari menatap geli kearah Akbar. Ia tidak percaya kalau sahabatnya itu tertarik pada adiknya sendiri dan mungkin itu akan jadi rencana besar untuknya menjahili Akbar disekolah besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD