MOVE ON

1153 Words
MENGUKIR KISAH YANG BARU. Pagi ini seperti biasanya mentari bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah,ia sedari tadi telah menyelesaikan sarapan paginya dan saat ini ia tengah menunggu jemputan Vito didepan gerbang rumahnya sembari tidak henti menatap jam ditangan. Sampai akhirnya kedua mata gadis itu teralihkan tatkala ada sebuah kereta Dam mobil yang datang bersamaan menghampiri gadis itu,tentu saja ia sangat mengenal kedua pemuda itu yang tak lain ialah Akbar dan Vito. "Eh sorry,apa gue salah hari kali ya" Ucap akbar yang berusaha memperbaiki suasana Canggung saat ini,tapi Vito hanya tersenyum tipis saja merespon ucapan Akbar sekaligus berusaha mengakrabkan diri kembali. "Gak kok,loe bisa antar mentari kesekolah,dia lebih bahagia kalau loe yang antar dia ke sekolah"Vito meletakkan tangannya dipundak Akbar yang sedari tadi duduk diatas motor sedangkan mentari masih berdiri terpaku mendengarkan pembicaraan kedua lelaki itu. "Tapi mentari kan cewek loe?" "Udah jadi mantan kemarin,gue pikir sekarang giliran loe deh yang maju " sekali lagi Vito berusaha mengalah dengan menyembunyikan perasaan hancurnya dari gadis itu,ia langsung berjalan kedalam mobil tanpa sedikitpun mendongak kebelakang untuk melihat mantan kekasihnya itu,lalu ia langsung mengendarai mobil itu dan kini hanya menyisakan kedua insan yang saling memendam rasa itu. "Hai!!" Sapa hangat Akbar,ia langsung turun dari motornya dan berjalan mendekati gadis pujaannya itu. "Hai juga! Gue udah maafin loe kok" ucap mentari,Akbar spontan menghela nafas panjang pertanda kalau ia kini telah lega dimaafkan oleh mentari . "Syukurlah,oh iya boleh gue antar loe ke sekolah hari ini?" "Cuman hari ini?" Tanya mentari sembari mengerutkan keningnya,Akbar kembali menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksud gue setiap hari kayak seperti biasanya" ia sedikit terlihat grogi didepan mentari,tidak seperti biasanya ia super mengesalkan dan tak akan berhenti menjahili gadis itu. Sepertinya kabar putusnya hubungan mentari dan Vito semakin membuat Akbar sedikit memantapkan diri untuk perlahan mengenal gadis itu sebagai orang asing yang kelak akan dijadikan kekasih dan bukan lagi sahabat yang tetap berstatus sahabat selamanya. "Ya udah ayo berangkat,nanti kita telat lagi bisa dihukum berdua" Mentari hanya tersenyum geli saja memandangi Akbar yang sangat berbeda hari ini dengan tingkah laku yang tak karuan dan salah tingkah. "Gue malah senang dihukum berdua sama loe,bisa bareng-bareng menghabiskan waktu berduaan dibawah terik matahari seharian penuh sambil ngobrol bareng" "Ada-ada aja sih loe,ya udah yuk pergi" kini mentari yang mulai salah Tingkah,ia langsung menarik tangan Akbar menuju motor lelaki itu dan memegang erat pinggang Akbar selayaknya orang pacaran,dan sepertinya Akbar juga tidak mempermasalahkan itu dan jauh di lubuk hatinya malahan ia sangat menyukai momen itu. Entah apa yang merasukinya hari ini,padahal kemarin niatnya ingin meminta maaf kepada mentari dan memulai persahabatan yang baru dengan mentari dan senja tanpa rasa cinta,namun sepertinya perasaan dimabuk asmaranya kini tidak dapat terhentikan lagi setelah kabar gembira itu dilontarkan oleh Vito sendiri. Mungkin hari ini mentari dan Akbar mulai merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya dengan kupu-kupu yang berterbangan mengitari isi kepala mereka dan perasaan cinta yang merasuk jejiwa raga mereka,namun kebahagiaan itu hanya sebatas mereka saja yang merasakan sebab diujung sisi yang lain kini ada Senja yang tengah gelisah akan hatinya . Ia sedari pagi hanya menatap matahari yang perlahan terbit diatas balkon kamarnya,dan saat ini ia terlalu bingung akan perasaannya sendiri yang harus dikemanakan lagi sebab setahu dia juga percuma saja ia menyatakan cintanya pada Akbar yang pastinya bakal berakhir penolakan karena ia percaya kalau Akbar takkan pernah memilih diantara dirinya dan mentari ,Akbar akan memilih tetap berteman saja kepada dirinya dan mentari dan sungguh hal itu juga sedikit didukung oleh gadis pucat ini karena ia juga tak mau persahabatan mereka kandas begitu saja. "Senja,kamu gak siap-siap berangkat sekolah?" Tanya mamanya,senja hanya mengangguk pelan saja tetapi enggan mendongak kearah belakang. "Iya ma,ini senja mau siap-siap kok" jawabnya singkat "Ya udah,mama kebetulan mau arisan jadi sekalian mama antar kamu ya ?" "Gak usah ma,senja berangkat sama supir aja jadi mama bisa duluan aja " ia menatap kearah mamanya,mamanya hanya mengangguk setuju saja atas permintaan anak tersayangnya ini. "Ya udah, sampai ketemu dirumah sayang" "Love you ma" ia langsung memeluk mamanya dan menatap kepergian mamanya dari balik pintu kemudian bersiap-siap mengganti seragamnya dengan seragam sekolah. Beberapa menit kemudian seusai ia berbenah diri,ia langsung turun dari tangga dan menyapa hangat pembantu rumahtangganya lalu berjalan menghampiri supir pribadi keluarga mereka. "Pak,saya hari ini mau pergi sendiri ya" "Bahaya nanti non,tadi ibu pesan kalau non berangkat sama bapak" "Aku baik-baik aja kok pak,ya udah duluan ya pak" ia hanya memperlihatkan wajah ramahnya lalu berjalan pergi meninggalkan bapak supir yang juga tak bisa menolak permintaan senja,memang seluruh penghuni rumah itu tak ada yang bisa menolak permintaan gadis cantik itu,ia memang terlahir sebagai putri kesayangan yang amat sangat dicintai oleh semua orang,dan pastinya tak pernah ada yang sanggup menolak permintaannya . Ia berjalan menyusuri jalan setapak itu sembari bersenandung riang,wajahnya memperlihatkan perasaan bahagia meskipun dihatinya terperangkap perasaan berkecamuk akan perasaan cintanya pada Akbar tetapi saat ini ia enggan memperdulikan itu Ia sengaja tidak mempercepat langkahnya ,karena hari ini ia benar-benar ingin menikmati hidup dengan caranya bukan selalu berada dibelakang pundak Akbar. Tetapi kebebasan itu terhenti tatkala dari kejauhan ia tak sengaja melihat mentari yang tengah memeluk erat tubuh Akbar ,hatinya seketika terasa sakit dan perasaan kecewa berkecamuk dipikirannya. Air mata perlahan membasuhi pipi mungil merah jambu itu,tak perduli lagi ia akan tatapan orang terhadapnya. Dengan langkah kaki yang mulai berat,ia paksakan untuk tetap berjalan sembari terisak-isak sampai langkah itu terhenti juga diatas halte bus yang kebetulan cukup sepi dipagi buta ini. Barulah disana ia perlihatkan kesedihan itu dengan sejadi-jadinya dengan tatapan kosong yang tak tergambarkan sama sekali,ia terus menatap kelantai halte dan menangis hebat,tanpa disadarinya disana ada seseorang lelaki yang tidak sengaja menatapnya keheranan. "Loe senjakan?" Tanya lelaki itu ,tentu saja senja merasa asing akan keberadaan lelaki itu tetapi berbeda pula dengan lelaki itu. Ia terlihat kenal baik akan senja dan tanpa disuruh dirinya langsung duduk di samping gadis itu sembari memberikan sebuah buku kepada senja. "Gue itu leo, sahabatnya Akbar kok" senja hanya menatap bingung kepada leo. "Aku gak kenal kamu,lagian buku ini buat apa?" "Loe memang gak kenal gue tapi kita pertama ketemu waktu loe diajak Akbar dan mentari keacara pesta guru kami setahun yang lalu,inget?" Senja mulai ingat pesta tersebut,lalu mengangguk pelan saja. "Bagus deh,terus kalau buku ini buat hapus air mata loe lah" "Ah?harusnya kan pakai tisu" leo yang memang jahil hanya tersenyum saja,lalu mengoyak kertas dari buku itu kemudia ia berikan pada senja. "Biar unik aja,lagian gue jarang nangis palingan waktu kecil makanya gue gak punya tisu,udah pake ini aja" Senja hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menolak,tetapi leo tetap tidak menyerah dan malahan mempraktekkannya pada gadis itu yang membuat gadis itu tertawa geli. "Hahaha..bisa ya gitu,boleh deh aku coba" ia juga ikut memperagakan cara leo,keduanya tertawa bahagia dan mulai detik ini pemikiran leo tentang senja sedikit berbeda dari sebelumnya dan ia kini paham alasan Akbar enggan menyakiti hati senja sebab senja terlalu lemah,ia gadis lemah yang sengaja diciptakan kemuka bumi ini untuk dimanja dan dilindungi,setidaknya itulah pemikiran leo kini terhadap gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD