"Loe benar bar" Teriak keras leo sampai mengagetkan Akbar dan samuel yang tengah menyantap semangkok bakso Langganan mereka.
"apaan sih leo?hampir aja gue ketelan bakso gegara loe" ketus samuel kesal,tetapi leo hanya tertawa puas saja menyaksikan kesialan temannya.
"loe sih makan sampe fokus gitu" ledeknya lagi,lalu matanya tertuju pada Akbar yang hanya memandangi aneh kedua sahabatnya itu.
"bar,loe tahu gak pagi ini gue ngobrol bareng senja"
Akbar sontak kaget dan kedua matanya terbuka lebar dengan tatapan penuh investigasi karena memang ia terlalu protektif terhadap keselamatan senja ditambah lagi ia paham kalau Samuel itu playboy disekolah.
"dimana loe ketemu dia?"
"biasa aja kali bar,gue tadi pagi ketemu dia dihalte bus yang dekat sama komplek perumahan loe"
"oke leo,gue tahu loe sahabat gue tapi dia gak cocok deh jadi target cinta loe berikutnya" ucap akbar terlihat panik setengah mati sedangkan leo hanya bisa menghela nafas saja.
"dia bukan tipe gue kali,lagian tadi pagi gue kebetulan aja jumpa dia yang lagi nangis gegara motor gue masuk bengkel makanya naik bus"
"nangis?" tanyanya bingung, leo hanya mengangguk saja.
"gue gak paham tentang topik pembicaraan kalian sama sekali" gerutu Samuel,ia merasa topik pembicaraan kedua sahabatnya itu terasa asing ditelinganya dengan nama batu seorang gadis, tetapi ucapannya sama sekali tidak direspon oleh mereka sebab keduanya tengah sibuk saling berbagi informasi dimana posisinya Leo yang sedang diintrogasi oleh Akbar.
"jadi kenapa dia nangis?" tanya Akbar lagi,Leo sedikit risih dengan berjuta pertanyaan yang dituju padanya dan kemudian ia langsung berdiri sembari menghela nafas panjang.
"gue gak tau" jawabnya singkat , "lagian loe protektif banget sama dia deh dan malahan nyindir gue playboy lagi" ketus kesal Leo atau biasa dikenal sebagai Leon Andreas.
"loe marah?kan emang bener" sambung Samuel ,leo hanya bisa menggerutu kesal lalu mengambil paksa mangkok bakso Akbar dan menyantapnya kesal.
"loe kesal atau lapar?" tanya Akbar
"dua-duanya" jawabnya singkat,ketiganya saling tertawa saja sembari menyantap bakso tersebut dengan nikmat.
Ditengah obrolan ringan ketiga lelaki itu,mendadak seorang wanita SMA datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"kakak-kakak!" panggil wanita berambut panjang dengan senyuman manis yang membuat lelaki mana saja terpesona.
"Dira?" leo terlihat sedikit kaget,tidak biasanya adiknya akan menghampirinya kalau disekolah karena Dira selalu mengatakan kalau dirinya malu berpapasan dengan kakaknya itu yang dikenal playboy.
"tolong yang namanya kak Akbar dipanggil sama buk Nina kekantor" ketusnya sembari menatap jijik kearah wajah Akbar,lalu ia berbalik badan berjalan cepat menjauhi mereka tetapi langkah itu terhenti dengan penuh kekesalan.
"kak Akbar! ayo cepat" teriaknya,barulah Akbar langsung bergerak mengikuti gadis itu .Tetapi Dira terlalu cepat berjalan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa seakan ingin cepat sampai saja dan hal itu membuat Akbar sedikit terganggu.
saat dikoridor lantai dua yang cukup sepi,Akbar langsung menarik lengan Dira dan membuatnya terpaksa menghentikan langkah kakinya kemudian Akbar membalikkan tubuh Dira kearahnya dan memegang kedua bahu gadis itu.
"gue gak paham sama sekali alasan loe sangat membatu setiap ketemu gue,kasih tau gue?" tanya nya,Dira langsung menyingkirkan tangan Akbar dari bahunya dan melipat kedua tangannya dengan tatapan sinis.
"aku sama sekali gak punya masalah sama kakak,aku cuman males aja sama cowok aneh kayak kakak"
"aneh?" ia menaikan alisnya keatas,lalu sedikit memiringkan kepalanya.
"loe itu terganggu sama kelakuan gue terhadap loe atau malahan kesulitan move one dari keanehan gue ?"
"enggak sama sekali" ia menatap kesal kewajah Akbar,keduanya saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat hingga kedua hembusan nafasnya saling bertemu.
" warna pupil mata loe itu bagus banget,biru langit dengan penuh kedamaiannya sama kayak hati gue yang damai kalau ketemu sama loe" ia tersenyum ramah,entah kenapa setiap kali berhadapan dengan Dira pastinya ia akan menggoda gadis itu,ia merasa hidup setiap kali beradu argumen pada Dira dan rasanya beban kekalemannya terbebas,belum lagi setiap kali ia menggombali adiknya Leo itu, perasaannya menjadi sangat bahagia jikalau setiap kali Dira kaget dan tersipu malu mendengarkan rayuannya.
" kakak yang damai tapi akunya berapi-api" ia berjalan mundur dari Akbar, "udah ayo temui buk Nina!" sambung gadis itu.
Akbar hanya bisa mengangguk saja lalu mengikuti langkah kaki Dira yang seperti terburu-buru,ia hanya bisa menahan rasa gelinya setiap kali ia sadar kalau dirinya telah membuat salah tingkah gadis itu lagi.
***
"selamat siang Buk,ini kak Akbarnya udah datang buk" ucap dira pada salah satu guru muda yang tengah menyantap makanannya diatas meja .
"makasih ya Dira,yaudah sini kalian duduk" tawar Bu Nina, keduanya saling menatap lalu mengikuti perintah gurunya itu.
Buk Nina langsung menyudahi makan siangnya,dan merapikan posisi duduknya sebagai seorang guru.
"maaf ya tadi pagi ibu belum sarapan" ucap buk Nina sembari tersenyum malu,Akbar dan Dira hanya bisa tersenyum kembali membalas permintaan maaf gurunya itu.
"jadi alasan ibu memanggil kalian kesini karena ibu ingin mengikutkan kalian lomba olimpiade sejarah,mau kan?"
"cuman saya dan kak Akbar buk?" tanya balik Dira,gurunya hanya menghela nafas sembari tetap memperlihatkan wajah ramahnya .
"bertiga kok, tadi ibu udah bilang sama Vito buat ikut olimpiade ini dan dirinya setuju,kalian gimana?"
"saya sih setuju aja buk,gak tahu kalau adik kelas yang satu ini" ledek Akbar,sekali lagi dirinya membuat kesal Dira dan spontan gadis itu menginjak keras sepatu Akbar sampai wajah lelaki itu berubah lucu karena menahan rasa sakit.
"kamu kenapa,Akbar?"
"gak apa-apa buk" jawabnya sembari tersenyum dipaksa.
"hmmmm...saya mau kok buk,kan ada kak Vito" ucap dira yang menerima tawaran gurunya,lalu melirik sedikit keakbar dengan ekspresi mengejek.
"ya udah,besok sepulang sekolah temui ibu dikantor ya"
"baik buk,permisi ya buk" gadis itu bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan Akbar.
ia berjalan sangat cepat dan berharap agar bisa cepat pergi kedalam kelas dan terhindar dari makhluk seperti Akbar, sedangkan Akbar yang tidak sempat mengejar gadis itu langsung kembali ke kelas.
disana dirinya memperhatikan mentari yang sibuk menuliskan sesuatu dibuku diary.
"isi hati tentang gue?" tanya Akbar yang membuat mentari langsung menutup buku hariannya dan memasukkan buku itu kedalam laci meja.
"secara garis besarnya sih benar,tetapi gak tentang loe sih secara spesifiknya"
Akbar berjalan mendekati gadis yang disukainya itu,lalu duduk dibangku depan meja gadis itu.
"gue juga gak peduli apapun pemikiran loe tentang gue selama Loe gak puasa ngomong sama gue "
"emangnya loe gak tahan dicueki sama gue?" tanya mentari yang wajahnya sedikit memerah,Akbar hanya tersenyum tipis saja dan dirinya merasakan degup kencang dijantungnya.
"tanpa gue kasih tahu, jawaban itu udah tertulis dikedua mata gue yang sama sekali gak bisa bohong tentang perasaan gue" keduanya saling tersenyum dan semakin lama wajahnya mulai mendekat perlahan-lahan sampai hembusan nafasnya terdengar jelas,,akan tetapi mentari langsung menjauhi wajah Akbar ketika melihat sosok Vito yang berdiri tepat diambang pintu kelasnya.
"vit?"
"maaf gue ganggu" ucapnya singkat,lalu berjalan pergi meninggalkan dua remaja muda yang tengah dimabuk cinta.
Tetapi sepertinya mentari sangat merasa bersalah ,ia langsung berlari mengejar mantan kekasihnya itu.