Selamat membaca,
1,5 tahun kemudian.
"Belom dapat kabar juga, Tha?" Tanya Valeri pada Astha.
"Hmmm, belom!" Jawab Astha singkat.
"Udahlah, gue yakin doi baik-baik aja. Jangan terlalu dipikirin."
"Hmmmm." Jawab Astha sambil mengangguk.
"Oh iya, ntar malem elo mau ikut gue ke partynya si Nesya gak Tha?" Tanya Valeri tiba-tiba.
"Nesya? Siapa? Gue gak kenal!" Jawab Astha.
"Itu anak IPA 3, mau ya?" Bujuk Valeri.
"Enggak ah, gue gak kenal ntar yang ada gue di sana bingung kayak sapi mau di jual. Lagian gue ada acara sendiri."
"Yaaaah, kan itung-itung ngerayain kelulusan kita Asthaaaaaa!." Ujar Valeri.
"G Val G. Ok!!" Jawab Astha singkat kemudian menyeruput minumannya. Sekarang mereka berdua sedang berada di caffe di sebuah mol.
Valeri mendengus kesal mendengar penolakan Astha.
"Ngomong-ngomong, Nyet. Lo jadi lanjutin ke Aussy?" Tanya Valeri.
"Gue belom tahu, nyokap nyuruh gue buat langsung terjun ke perusahaannya dia tapi gue masih bingung." Ujar Astha.
"Bingung kenapa? Atau elo mau nyusulin si Dean?" Tanya Valeri.
Astha hanya menggeleng lalu menghela nafasnya dalam sambil meluruskan tangannya di atas meja dan merebahkan kepalanya. Valeri yang melihatnya hanya mendengus kesal lagi. Astha memang berubah semenjak ditinggal Dean, dia sering murung dan lebih pendiam apalagi jika di kelas, Valeri selalu mendapat laporan dari temannya jika Dean seringkali tidak fokus dan lebih banyak melamun.
"Tha, Gramed aja Yuk!!!!" Ujar Valeri sambil menggoyang-goyangkan tubuh Astha. Astha mendongak dan menatap wajah Valeri.
"Gak salah lo, nyet? Tumben ngajak ke Gramed?" Timpal Astha.
"Ck! Udah ayo, daripada bosen!" Valeri kemudian menarik lengan Astha keluar dari Caffe dan menuju toko buku tersebut.
Kini mereka sudah memasuki toko buku, Astha langsung mencari novel yang baru terbit mungkin ada yang bagus untuk dia baca sedangkan Valeri hanya mengekori Astha.
"Udah dapet?" Tanya Valeri.
Astha hanya menggeleng sambil matanya fokus membaca prolog dalam setiap novel yang ia ambil di rak buku.
Valeri menguap berkali-kali, Astha sebenarnya tahu sahabatnya ini memang paling anti jika harus masuk toko buku.
"Lo harusnya tadi bawa tiker, Nyet!" Ucap Astha.
"Eh? Buat apa?" Tanya Valeri.
Astha tersenyum "noh, buat gelaran di sono terus lo tidur di sono!" Ujar Astha sambil menunjuk lantai di sela-sela rak buku. Valeri mendengus kesal mendengar ucapan Astha.
"Gak sekalian bawa rantang?"
Astha hanya tertawa terbahak mendengar pertanyaan Valeri, saat sedang Asyik tertawa tanpa sengaja ia menyenggol salah satu pengunjung.
"Hati-hati dong mas!" Ujar lelaki yang tidak sengaja disenggol Astha tersebut. Astha menoleh dan mendapati di lelaki tersebut.
"Maaf, gak-" Astha tidak melanjutkan kalimatnya, ia kaget ternyata yang ia senggol adalah Yudha. "Kak Yudha?"
Ujar Astha.
"Astha?" Ujar Yudha. Astha tidak menyangka setelah 2 tahun dia akan bertemu lagi dengan Yudha. Sekarang Yudha sudah berubah lebih terlihat dewasa mungkin karena dia juga sudah menjadi pegawai kantoran dan cara berpakaiannya berubah.
"Ngapain kamu di sini Tha?" Tanya Astha.
Valeri yang mendengar pertanyaan Yudha untuk Astha hanya memutar bola matanya jengah, ia tahu kelakuan Yudha dulu yang meninggalkan Astha begitu saja.
"Makan! Ya cari buku lah!" Ujar Astha ketus, Valeri hanya menahan tawanya mendengar sang sahabat menjawabi pertanyaan sang mantan kekasihnya itu.
"Long time no see, where have you been, baby?" Ujar Yudha sambil menarik tangan Astha.
Astha kaget dengan perlakuan Yudha dan langsung menghentakan genggaman tangan Yudha, gak inget apa dulu Astha mohon-mohon supaya gak di putusin eh, dia malah ninggalin Astha gitu aja, batin Astha.
"Hey, b***h watch your mouth!!!! Gue bukan siapa-siapa lo lagi!" Ujar Astha.
Astha kemudian menarik lengan Valeri "gue udah gak nafsu di sini, ayo!" Ujar Astha. Astha kemudian berjalan sambil menggandeng Valeri namun Yudha tidak mau menyerah dia mengejar Astha hingga keluar toko buku.
"Tha, tunggu!" Teriak Yudha, namun Astha masih tetap berjalan tergesa bersama Valeri.
Yudha kemudian sedikit berlari begitu sudah dekat denga Astha, Yudha menarik lengan Astha. Astha dan Valeri berhenti.
"Tunggu, Tha. Kamu harus denger penjelasan kakak. Kenapa waktu itu kakak harus tinggalin kamu!" Ujar Yudha.
"Gak usah dan gak perlu, gue sama elo udah gak ada apa-apa lagi!" Jawab Astha sambil melepas cengkraman tangan Yudha.
"Satu lagi, lo gak usah ganggu gue! Anggap kita gak pernah ketemu!" Ucap Astha sambil menunjuk wajah Yudha. Yudha masih diam mematung.
Astha kemudian menarik tangan Valeri dan berlalu begitu saja dari hadapan Yudha.
"Sial, sial!" Ucap Yudha sambil menendang angin.
"Kita pulang aja ya, nyet." Ujar Valeri yang melihat wajah Astha sudah penuh dengan kekesalan.
Astha hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil Valeri. Sepanjang perjalanan Astha hanya diam menatapi jalanan di luar.
Kenapa hari ini menyebalkan sekali pikir Astha.
"Nyet, lu yakin gak mau ikut gue entar malem?" Tanya Valeri, begitu mereka sudah sampai di depan rumah Astha. "Yakin, thanks ya!" Ucap Astha kemudian keluar dari mobil Valeri dan berjalan masuk ke rumahnya.
Begitu sampai di kamar ia langsung duduk di tepi ranjang, diambilnya sebuah kalender kecil yang ada di atas nakas di samping ranjangny, ia meraba salah satu tanggal yang sudah ia lingkari, hari ini hari jadinya dengan Dean yang ke-2 tahun dan selama itu Dean tidak memberinya kabar. Astha menghela nafas dalam-dalam, entahlah semua akun media sosial Dean pun tidak aktif, e-mail yang Astha kirim pun tidak ada yang di balas oleh Dean. "De, elo apa kabar?" Gumam Astha, ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menatap foto mereka berdua yang terakhir kali di ambil sewaktu di taman. Astha mengecup foto Dean di layar ponselnya "i miss you, really really miss You.." ucap Astha yang tidak ia sadari air matanya sudah menetes.

Astha memejamkan matanya dan tak terasa ia tertidur sambil menggenggam ponsel miliknya.
Pukul 6 sore Astha terbangun, ia mengecek ponselnya namun tidak ada notifikasi sama sekali. Ia beranjak bangun dan segera berjalan ke kamar mandi, nanti malam dia akan merayakan hari jadinya bersama Dean seperti tahun kemarin batin Astha.
30 menit berlalu Astha sudah rapih dan segera turun ke bawah. Adtha keluar menuju garasi mengambil sepeda miliknya, ia hendak pergi ke caffe tempat pertama kali ia berkencan dengan Dean, tempatnya memang tidak terlalu jauh sehingga Astha memilih untuk menaiki sepeda.
Sesampainya di depan caffe Astha segera memarkirkan sepedanya dan bergegas masuk. Untung meja yang dulu ia duduki bersama Dean kosong tanpa pengunjung, Astha kemudian langsung memesan milkshake strawberry, red velvet cake dan Orange juice Astha masih ingat apa yang mereka pesan ketika pertama kali mereka berkencan. Begitu Astha sudah mendapat pesanannya segera ia membawanya menuju tempat ia duduk. Astha menaruh milkshake di meja bagiannya dan orange juice di meja bagian kursi kosong di depannya. Astha selalu menganggap bahwa Dean ada di situ.
"Happy anniversary, De!" Ucap Astha kemudian mengigit bibir bawahnya, rasanya sesak sekali kenapa dia harus merasakan ini, batin Astha. Astha tidak ingin menangis namun apalah daya hatinya berkhianat airmatanya meluncur begitu saja, dia menangis tersedu sambil memakan cake yang ada di hadapannya itu.
Pulang dari Caffe Astha berhenti di taman, ia duduk di bangku taman itu mengingat semua memori yang terjadi diantara dirinya dan Dean.
"De, gimana kabar lo?" Ucap Dean sambil mengangkat wajahnya menatap langit yang penuh bintang. Tiba-tiba pundak Astha terasa di tepuk, Astha kaget mungkinkah itu Dean pikir Astha, ketika ia menoleh wajah itu wajah yang selalu ia rindukan.
"De-Deva?" Ujar Astha.
"Gue kira lo bakal ngira kalo gue Dean!" Jawab Deva tersenyum. "Gue boleh duduk?" Tanya Deva. Astha kemudian mengangguk dan mempersilahkan Deva untuk duduk.
Mereka berdua masih saling diam menatap lurus ke depan, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Kapan lo nyampe Jakarta Dev?" Tanya Astha memecah kesunyian di antara mereka.
"Dua hari yang lalu Tha, gimana kabar lo?" Tanya Deva.
"Can you see, right? I'm ok." Jawab Astha.
Deva tersenyum kemudian menatap langit di atas.
"Gue yakin dia juga baik-baik aja, dan pasti dia kangen banget sama elo!" Ujar Deva tanpa menoleh ke arah Astha.
Astha tersenyum getir mendengar ucapan Deva, ya Astha berharap Dean masih mengingatnya.
"Gue harap juga gitu, Dev." Ujar Astha pelan sambil menunduk.
Dada Astha sudah terasa sesak lagi, tidak mungkin dia menangis lagi hanya karena mendengar nama Dean disebut.
"Gue kangen sama dia, gue kangen Dev." Ujar Astha sambil menitikan air matanya. Deva yang mendengar suara Astha mulai bergetar kini menoleh ke arah Astha yang sedang menunduk.
Deva mengelus punggung lelaki yang ia cintai di masalalunya itu.
Astha menangis semakin menjadi, hati Deva benar-benar sakit melihat Astha menangis namun bagaimana lagi ini sudah menjadi jalan terbaik untuk Dean dan Astha setidaknya sampai Dean bisa menghidupi Astha saat mereka memilih untuk hidup berdua tanpa restu dari orang tua mereka.
"Sabar Tha, gue yakin Dean pun sama." Ujar Deva yang kini sudah menarik Astha ke dalam pelukannya.
"Kenapa dia tinggalin gue tanpa sedikit kabar pun? Gue tersiksa, gue bingung!" Ucap Astha masih sambil menangis dan meremas jaket yang di pakai Deva.
"Gue benci dia, gue benci diri gue yang gak pernah bisa ngerelain dia, gue benci karena gue udah terlalu jatuh terlalu dalam sama pesonanya." Lanjut Astha.
"Lu inget kan De,hari ini anniv kita? Mana janji lo yang gak bakal ninggalin gue? Mana De? Mana?!" Ujar Astha lagi sambil tersedu.
Deva hanya diam mendengar semua ocehan Astha, Deva tahu bahkan sangat tahu Astha sudah benar-benar jatuh cinta pada Dean.
Malam itu Astha menangis di pelukan Deva, ia menumpahkan segala isi hatinya pada Deva. Setidaknya ia merasa sedikit lega apa yang selama ini dia pendam kini bisa ia ungkapkan meski bukan pada Dean langsung.
'Cepat pulang, cepat kembali jangan 0ergi lagi' batin Astha.
Tbc.......