18

1341 Words
Selamat membaca, Astha PoV- "Valeri Diandra Rahardian, bersediakah anda menerima Radeva Wijaya sebagai pasangan anda, dalam suka maupun duka? Saat sehat maupun sakit? " Ku dengar suara pendeta membacakan janji suci di acara pemberkatan pernikahan Valeri. Sungguh pikiranku tidak fokus sama sekali, ragaku berdiri disini namun hati dan pikiranku entah melayang kemana. Tuhan, kau kabulkan doaku, Kau kembalikan dia di hadapanku namun bukan seperti dulu. Separah ini kah kebodohanku yang terus menantinya dalam penjara cinta yang kini malah menyiksa batinku. Pikiranku terus melanglang buana entah kemana, rasa kecewa terasa di hati namun tertutup oleh rasa bahagiaku yang melihat dia kembali, senyumnya, wajahnya yang kini terlihat lebih dewasa. Aku melirik sebentar ke arah barisan di sebelahku dia berdiri tegap, tersenyum sambil bertepuk tangan melihat kakaknya menggandeng seorang mempelai wanita cantik di Altar pernikahan. Tanpa terasa air mataku menetes, begitu bahagianya aku setelah 6 tahun, aku tak melihat wajahnya mendengar suaranya, sungguh aku ingin memeluknya dan tak akan ku lepas lagi. Ku usap air mataku, aku tak ingin terlihat lemah aku laki-laki, tentu aku tidak boleh cengeng aku harus kuat. "Selamat ya,Val!" Ucapku sambil memeluk Valeri. Upacara pemberkatan sudah selesai dan sekarang adalah sesi pemotretan dengan pasangan pengantin. "Tha.." panggil Valeri lirih, aku hanya mengernyitkan alisku. "Apa?" Tanyaku pelan. "Lu gak papa kan?" Valeri menanyaiku dengan meraba lenganku, aku hanya tersenyum tepatnya pura-pura tersenyum karena hatiku saat ini sangat runyam, aku sendiri saja tidak bisa mengartikan apa yang sedang ku rasakan. "Enggak, I'm ok. Eh! ini hari bahagia elo ya! Jangan sampe nanti pas difoto muka lo jelek kayak nenek peot." Ledekku mengalihkan pembicaraan. "Sial, lo!" Aku tertawa mendengar jawaban Valeri, setidaknya aku tidak merusak momen bahagia sahabatku ini dengan urusan cintaku. Aku masih tertawa sampai mataku berhenti menatap seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang, dia sedang memperhatikanku dengan tatapan yang entah apa maksudnya. Seketika tawaku pudar, aku menelan ludahku susah payah. Aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa, semua terasa kosong tatapanku hanya tertuju pada dia, yang sekarang sedang berjalan mendekat ke arahku. Ingin rasanya aku beranjak, aku belum siap mendengar semua penjelasannya. "Tha? Woy! Bengong aja." Ucap Deva sambil menepuk bahuku, aku segera tersadar dan menoleh ke arah Deva. "Eeh? E-enggak kok. Kenapa?"  Tanyaku. "Lo udah lihat Dean kan?" Aku mengangguk lemah, sungguh aku tidak ingin membahas hal itu sekarang. Saat hendak berucap tiba-tiba tanganku ditarik aku menoleh, ternyata dia yang menarikku. Aku mengikuti langkahnya, entah dia akan mengajakku kemana. Kami berhenti di sebuah bangku di bawah pohon, dia duduk dan menyuruhku duduk dengan dagunya . Aku duduk dengan perlahan, aku memandang ke depan entah apa yang aku rasakan, semua bayangan yang dulu aku selalu bayangkan jika bertemu dengannya kembali tiba-tiba sirna, hanya ada rasa kecewa namun lega yang bergelung didalam hati. Kami berdua masih diam menatap ke depan, memandang rumput yang menari oleh angin yang berhembus. Aku menghela nafas gusar, sungguh aku benci keadaan seperti ini. "Apa kabar, Radean Wijaya?" Tanyaku memecah keheningan. Aku tak ingin menatap wajahnya, biarlah aku tak ingin menangis di depannya. "Maaf!" Kata itu yang kudengar, sungguh aku tak ingin mendengar kata itu, bukan kata itu yang harusnya terucap. Semoga semua ini hanya salah paham, tolong jelaskan. Aku mengepalkan tanganku, semua rindu yang ku tahan selama 6 tahun ini seakan hilang begitu saja. "U-untuk apa?" Suaraku tercekat, sungguh aku belum siap. "Kau tahu pasti, aku tak bisa menjelaskannya. Aku bingung harus memulai dari mana-" "Kalau begitu jangan dimulai." Potongku segera. "Setidaknya doaku selama ini terkabul oleh Tuhan. Aku ingin melihatmu bahagia saat kau kembali padaku, membawa semua rindu yang mungkin tertahan diantara jarak yang memisahkan kita." Ucapku, aku berharap tidak ku tumpahkan air mataku di sini. Aku tidak mendengar jawaban apapun dari Dean. Ku mohon ucapkan bahwa kau juga merindukanku, tidakkah ada sedikit rasa untukku lagi? "Heh, aku tahu kau pasti hidup dengan baik. Lihatlah dirimu yang sekarang, kau begitu tampan. Pasti banyak yang mengantri ingin menjadi kekasihmu." Bohong, sungguh bohong bukan ini yang ingin aku ucapkan. Aku mengigit bibir bawahku, sembari menunduk. "Tidakkah kau bahagia sekarang? Aku harap Tuhan juga mengabulkan doaku yang ini. Setiap malam aku berdoa agar kau selalu bahagia. Aku harap itu juga terjadi padamu. Kau lihatkan sekarang aku bahagia, aku baik-baik saja. Aku ingin kau pun begitu!" Ucapku lagi. Sungguh dadaku terasa sesak, entahlah nafasku terasa berat. Aku tak bisa menahan air mataku lagi, tangisku pecah, aku menangis sungguh hatiku tak bisa menahannya lagi. Dean menarikku ke dalam pelukannya, pelukan ini, tangan ini yang ku rindukan selama ini, kini kembali memelukku. Tuhan ku mohon hentikan detik yang bergulir ini, aku ingin  bersamanya kembali. "Aku merindukanmu!" Ucapku di sela tangisku, sungguh aku merindukannya. Tidak taukah dia selama ini betapa tersiksanya aku. Dean merengkuhku dengan erat, menciumi pucuk kepalaku. "Maaf, Tha. Maafin aku." Aku masih menangis dalam pelukan Dean, ku mohon bukan ini yang ingin ku dengar, ucapkan bahwa kau merindukanku ku mohon. "Maafin aku yang pengecut ini, aku gak bisa pertahanin cintaku buat kamu." Katakan ini hanya mimpi buruk, ku mohon katakan. Aku masih sangat mencintainya. Ku lepaskan pelukanku, ku tangkup wajah Dean dengan kedua telapak tanganku. Ku tatap matanya lekat, ku hapus air mata yang mengalir di pipinya. "Aku bahagia saat kamu bahagia, ini bukan salahmu atau pun salahku. Takdir yang menyatakan kita harus seperti ini." Ucapku menenangkan Dean, sejujurnya hatiku lebih hancur. "Namanya Chao lu, dia anak rekan bisnis mama. Setelah mama tahu hubungan kita, mama benar-benar memblokir semua akses informasi ke Indonesia, aku hidup bagaikan robot. Mematuhi segala apa yang diinginkan oleh mama. Bahkan menikah sekalipun." Ujar Dean menjelaskan. Aku diam mencerna semua penjelasan Dean. "Dia sudah hamil saat aku menikahinya, kami sama sekali tidak saling mencintai. Bahkan sekalipun aku tidak pernah menidurinya. Aku  hidup dengannya seperti rekan bisnis, dan kau sudah tahu bukan anak kecil yang kau tolong tadi pagi? Dia Dylan anak chao lu, namun sudah ku anggap anakku sendiri dan keluarga kami pun hanya tahu bahwa aku adalah ayah biologis Dylan." "Lalu?" Dean diam, menghela nafas berat. "Bahagiakah kamu saat ini?" Tanyaku pelan. Dean menoleh ke arahku, dia menatapku kemudian menggenggam erat jemariku. "Ya, aku bahagia saat ini karena aku sedang bersamamu." Jawab Dean. Aku menoleh menatapnya, aku tersenyum padanya. Sungguh, tidak bisakah aku egois. Melupakan semuanya sejenak, lalu membawanya pergi hanya untuk mengeluarkan segala kerinduan yang terpendam selama ini. Aku membelai wajahnya, mengabsen satu persatu apa yang ada disana, semua masih sama. Tanganku turun perlahan ke arah dadanya, hanya ini yang berubah, hatinya ya, hatinya bukan milikku lagi. Sekeras apapun dia memberi alasan toh intinya sekarang dia seorang suami dan ayah, yang tak mungkin bisa ku miliki seutuhnya seperti dulu. "Kamu harus bahagia, kamu punya alasan buat bahagia, kamu punya segalanya sekarang." Ucapku. "Kamu harus janji, kamu bakalan perjuangin semua yang kamu miliki sekarang. Jangan pernah jadi pengecut!" Lanjutku. "Tha...!" "Aku bahagia udah pernah jadi bagian dari kamu, aku bahagia karna pernah jadi nomor satu di hati kamu, aku bahagia karena kamu pernah berjuang buat aku, mungkin aku yang terlalu bodoh gak pernah sadar sama itu semua!" Ujarku sambil menunduk. "Ku mohon bahagialah, saat kamu bahagia aku pun bahagia. Meski ini terdengar tidak mungkin tapi itu benar. Jangan pernah kecewain semua yang sekarang sayang sama kamu." Dean kembali memelukku, tapi kini aku tidak menangis lagi, aku tahu Tuhan maha adil. Aku cukup mengikuti skenarionya dalam hidup. Aku belum merelakannya namun aku belajar melepaskannya dan ini benar aku akan melepaskannya dan tak akan pernah menantinya lagi. Sekarang jalanku dan jalannya sudah bersimpang, biarkan kami bahagia dengan jalan kami masing-masing. Aku melepaskan pelukannya, aku mengusap wajahku tersenyum menatapnya. Kuulurkan tanganku "selamat!" ucapku . Ku lihat wajah Dean yang menatapku dengan tatapan sedih, namun sebisa mungkin aku tegar dan tersenyum. Biarkan ini menjadi perpisahan yang manis bukan pahit. Aku masih menunggu tanganku dijabat olehnya, tak sabar ku tarik tangan kanannya untuk berjabat denganku. "Oh, kita belum putus asal kamu tahu." Ucapku bercanda dengan nada seriang mungkin. "Dean, gue mau putus!" Ucapku. Dean diam tidak menjawab apapun yang ku katakan. Ku lepas jabatan tangan kami berdua, aku berdiri dan memegang pundaknya. "Selamat tinggal." Ucapku. Dean masih menunduk. Aku berbalik, berjalan menjauhinya aku tak kuat menahannya lagi. Air mataku meluncur dengan mulusnya, saat sampai di parkiran aku langsung masuk ke dalam mobil. Tanganku memegang setir mobil dengan erat, hatiku sakit, tidak taukah dia. Aku menunduk menangis tersedu, ini kah balasannya, batinku. "Dear, goodbye!" Tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD