"A-aran?" Panggil Astha perlahan.
Deva terdiam, lengannya ia lepaskan dari tubuh Astha. Tangan Deva kini beralih mencengkram erat kemudi.
"Elo masih inget Yas?" Ujar Deva tanpa menoleh ke arah Astha.
"Jadi, bener kamu Aran? Kamu Rakian Arandra?"
"Bukan!" Jawab Deva sedikit membentak, lalu ia menghela nafas dalam menenangkan hatinya sendiri. "Gue Radeva Wijaya, Yas." Lanjut Deva.
Astha bingung, jadi yang sekarang ada di hadapannya ini siapa? Kalau dia bukan Aran kenapa dia berlagak seperti Aran? Dan tahu tentang nama itu? Dan sorot matanya. Itu mata Aran mata kecil Aran yang selalu memberi ketenangan untuk Astha.
"Elo pasti nanya kenapa gue mirip Aran? Dan elo pasti bisa ngerasaainnya lewat tatapan mata gue. Tapi sayang hanya ini yang tersisa dari bang Aran." Jelas Deva.
"Maksudmu?"tanya Astha.
"Turunlah, bukan saatnya gue jelasin. Besok gue bakal ngajak elo ketemu dia. Lebih baik lo pikirin apa yang bakal lo omongin ke dia." Ucap Deva dingin.
Astha keluar dari mobil Deva tanpa sepatah katapun. Apa yang sebenarnya terjadi? Sambil berjalan masuk kerumahnya. Banyak sekali pertanyaan yang sekarang muncul di pikiran Astha. Siapa Deva? Apa hubungannya dengan Aran?
* * *
"De, nanti gue pulang sendiri aja ya. Soalnya mama pulang dan supir harus yang jemput" ujar Astha.
Dean yang duduk di sebelah Astha hanya menganggukan kepalanya.
Saat ini mereka sedang makan bersama di kantin sekolah.
"Ya udah, entar malem kita nonton yuk? Gimana?" Ajak Dean.
"Gue gak janji, kan mama pulang gue yakin dia minta di temenin." Tolak Astha. Astha terpaksa harus berbohong. Tadi pagi dirinya bertemu dengan Deva, Deva bilang setelah pulang sekolah nanti Deva akan mengajak Astha untuk menjelaskan sesuatu.
"Yah,,, gue udah beli tiket Tha.. yah yah yah mau yah???" Rengek Dean.
"Ih apaan sih De, malu tahu." Ucap Astha.
Dean hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Besok aja gimana? Gue beneran gak bisa hari ini De".
"Iya, iya. Besok janji ya." Ujar Dean. Astha hanya mengangguk menjawabi ucapan Dean.
Setelah selesai makan mereka kembali ke kelas. Hubungan Astha dan Dean semakin membaik, Dean sudah terbiasa dengan segala hal yang ada pada Astha. Bahkan Dean merasa semakin hari cintanya untuk Astha semakin bertumbuh banyak. Dia tiak bisa melepaskan Astha, kadang Dean berfikir mengingat kejadian dulu saat Astha di putuskan oleh Yudha. Kenapa Yudha bodoh sekali, sampai rela memutuskan hubungannya dengan Astha. Tapi kalau tidak putus sekarang juga Astha tidak bersamanya pikir Dean, jadi ada baiknya juga Astha putus dengan Yudha. Pikiran Dean menerawang kemana-mana.
"Gila lo? Senyum-senyum sendiri" ujar Astha sambil duduk di bangkunya.
"Ih, gila karena elo." Jawab Dean.
Astha hanya menggeleng mendengar jawaban Dean. Sekarang Dean pintar bergombal bisa saja tiba-tiba Dean mengatakan sesuatu dan membuat Astha serasa melayang dan juga tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah.
"Tha..." panggil Dean.
Astha yang sedang mengambil buku pelajaran hanya bergumam menjawab panggilan Dean.
"Jangan tinggalin gue ya? Gue sayang banget sama elo" ujar Dean sambil menggenggam tangan Astha di bawah meja.
Astha menaikkan sebwlah alisnya sebelum mwnjaqab pertanyaan Dean.
"Iya, De" jawab Astha. Dean benar-benar sudah jatuh cinta dengannya, batin Astha.
Astha tidak mungkin mengecewakan Dean, tapi Astha juga tidak berbohong kalau cinta pertamanya Aran masih punya posisi sendiri di hatinya. Astha bingung apa yang akan Astha katakan nanti saat bertemu dengan Aran. Biarlah apa yang akan terjadi nanti pikir Astha.
* * *
Bel pulang sekolah berbunyi, guru di kelas Astha segera mengakhiri pelajaran di kelas. Astha bergegas membereskan peralatan sekolahnya dan keluar ruangan kelas.
Astha berjalan beriringan dengan Dean menuju ke parkiran sekolah.
"Kita pisah di sini ya, gue nunggu supir mama di halte depan aja" ujar Astha.
Dean kemudian tersenyum dan mengangguk, menoleh sebentar memeriksa keadaan saat dia tahu parkiran agak sepi Dean langsung mencium kening Astha.
"Apaan sih lo De, banyak orang tahu." Ujar Astha.
"Gak ada kok cuma kita. Ya, udah aku pulang dulu. Hati-hati kamu" ucap Dean.
Astha hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya kemudian berbalik dan berjalan menuju gerbang sekolah. Dia sudah janji dengan Deva untuk bertemu di halte dekat sekolah.
Astha sudah sampai di halte namun Deva belum muncul juga.
Lima belas menit menunggu, terlihat mobil Deva keluar dari parkiran sekolah. Deva turun dari mobil dan menghampiri Astha.
"Sorry, tadi gue ada tambahan pelajaran dikit. Elo udah lama nunggu?" Ucap Deva.
"Lumayan, cepetan ah gue gerah" ujar Astha sambil melangkah menuju mobil Deva namun karena tak hati-hati Astha terpeleset dan hampir jatuh tapi untung ada Deva di belakangnya sehingga ia tidak jatuh.
"Elo gak papa?" Tanya Deva.
"Enggak kok, makasih." Ucap Astha melembut . Kenapa saat sedang dengan Deva ia merasa kalau Deva adalah Aran, semua yang ada pada Deva sama dengan yang ada pada Aran. Akhir-akhir ini, saat bertemu dengan Deva pun hati Astha selalu berdebar lebih kencang. Perasaan yang dulu dia rasakan pada Aran kini muncul lagi namun pada Deva. Aran dan Deva, bedakah mereka? Tapi kenapa Deva mirip Aran? Selalu menolongnya.
"Ya udah kita jalan sekarang aja." Deva dan Astha kemudian langsung masuk ke mobil. Deva melajukan mobilnya pelan membelah jalanan yang cukup macet siang itu. Lama di perjalanan mereka sampai di sebuah Danau buatan di pinggiran kota. Deva mengajak Astha turun.
Mereka berdua duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah danau. Tak ada pembicaraan di antara mereka hanya ada hening.
"Dhyas?" Panggil Deva memecah keheningan.
Astha hanya menoleh menatap wajah Deva. Menatap sorot mata yang tenang, menikmati pantulan mega sore dari beningnya air danau.
"Rakian Arandra, bocah kecil yang selalu bela siapapun yang di tindas. Cita-citanya pingin jadi super man" ucap Deva sambil tersenyum.
Astha masih diam mendengarkan cerita Deva. Jadi sebenarnya Deva itu Aran atau bukan?
"Lo inget Yas? Waktu elo jatuh dari ayunan dan elo nangis karna lutut lo berdarah? Siapa yang gendong elo sampai rumah?" Tanya Deva.
Astha terkesiap mendengar pertanyaan Deva, masa itu masa dimana pertama kali Astha bertemu dengan Aran.
"Cup dong, jangan nangis masa anak cowok nangis sih. Aku tiupin ya lukanya."
"Ini sakit tahu.huaaaa "
"Wuuuu~~~~h, ayo naik ke punggungku aku gendong kamu sampai rumahmu"
"Tapi rumahku jauh"
"Udah gak papa, aku kuat kok"
Astha terbayang kejadian itu, dirinya digendong oleh Aran sampai di depan rumahnya.
"Dan elo inget Yas, waktu elo di ejek temen-temen elo yang bilang elo itu kayak anak perempuan? Terus elo di dandanin kayak anak perempuan ama temen-temen elo? Siapa yang bela elo saat itu?" Tanya Deva lagi.
"A-aran" ucap Astha tergagap.
"Ya, Rakian Arandra Wijaya." Ujar Deva.
"Wijaya?" Ujar Astha kaget.
"Iya, dia anak dari keluarga Wijaya. Lebih tepatnya kakakku dan Dean" ujar Deva.
Jadi Deva dan Dean adik dari Aran?kebetulan macam apa ini? Tapi kenapa waktu itu dia tidak melihat Aran di rumah mereka. Kemana Aran? Harusnya saat ini pun pasti dia berkuliah. Belom menikah, pikir Astha.
"Elo pasti nanya dimana sekarang bang Aran." Ujar Deva.
Astha hanya diam sambil menahan gejolak di hatinya, menunggu penjelasan Deva.
"Elo kangen dia kan? Elo mau ketemu dia kan? ." ucap Deva sambil menghela nafas dalam.
"Gue bakal ajak elo ketemu bang Aran." Ujar Deva.
Deva kemudian beranjak dan menggandeng tangan Astha. Mereka berjalan menyusuri tepi danau hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sampai di sebuah pemakaman.
Astha bingung untuk apa ia di ajak kesini. Ada apa sebenarnya?
Astha dan Deva masuk ke area pemakaman. Hingga kaki Deva berhenti di sebuah makam yang cukup bersih dengan nisan yang terbuat dari keramik berwarna abu-abu.
Disana tertulis Rakian Arandra W.
Nama itu, nama Aran. Astha pasti salah lihat, tidak mungkin bukan orang yang selama ini dia cari, dia rindukan sudah terbaring di pemakaman? Ini bohong kan pikir Astha.
Astha maju melangkah ke depan memastikan tulisan nama di batu nisan itu. Dan benar itu Rakian Arandra, Aran-nya, Aran yang selalu ia rindukan.
Astha duduk memegangi nisan Aran, menahan dadanya yang terasa sesak dia ingin menangis. Kenapa harus kematian terlebih dahulu yang bertemu denga Aran, begitu banyak hal yang ingin Astha ceritakan pada Aran. Kehidupannya setelah ia tak berjumpa lagi dengan Aran.
Astha tertunduk, air matanya tak dapat lagi di tahan Ia menangis memeluk nisan Aran.
"Aku mau jadi pengawal kamu aja Dhyas, habis kamu cengeng sih"
"Aku gak cengeng Aran."
"Tapi kamu selalu nangis kalo di ganggu sama temen cowokmu"
"Karena mereka itu jahat"
"Makanya aku mau lindungin kamu"
"Janji ya?"
"Janji kelingking"
"Mana Ran janji kamu? Mana? Kamu bilang mau ngelindungin aku? Kenapa kamu pergi dulu? Kenapa kamu gak pamit sama aku? Kenapa Ran? Kenapa?" Ujar Astha sambil menangis memeluk Nisan Aran.
"Kamu tega Ran ninggalin aku, bertahun-tahun aku nyari kamu buat nagih janji aku. Dan sekarang kamu seenaknya pergi dan gak kembali? Kamu jahat Ran. Jahat" Astha menangis tersedu air matanya tak kunjung berhenti dadanya benar-benar sakit. Dia selelu mencari Arann berharap bisa bertemu dengan Aran dan mengungkapkan isi hatinya pada Aran. Astha menangis meratapi nisan milik Aran, Deva yang sedari tadi menatap Astha kini melangkah menghampiri Astha memeluk Astha yang sedang menangis.
"Kenapa Dev? Kenapa dia ninggalin gue? Gue belum bilang makasih ke dia, dia udah berani-beraninya pergi gitu aja. Kenapa Dev?" Ujar Astha sambil meangis di pelukan Deva.
Deva tahu ini kenyataan yang mengecewakan untuk Astha. Tapi bagaimana lagi ini adalah takdir manusia hanya bisa mengikuti.
Deva mengelus rambut Astha pelan.
Dia tidak boleh ikut larut dalam kesedihan Astha . Masih ada hal yang harus ia jelaskan tentang siapa dirinya pada Astha dan mengapa Deva baru memberi tahu sekarang tentang ini kepada Astha.
Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan. Matanya tak lepas dari pandangan di depan, menyaksikan dua orang yang sedang berpelukkan. Tangannya terkepal, memyaksikan kekasihnya di peluk oleh Kakaknya sendiri.
Tbc...