SELAMAT MEMBACA//
Deva menggenggam tangan Astha, menguatkan Astha.
"Dia udah tenang di sana Tha." Ujar Deva.
"Gue kangen dia Dev" ucap Astha sambil terisak.
Astha mendongak menatap wajah Deva, tangannya terangkat membelai wajah Deva. Menyentuh mata Deva mata milik Aran yang kini berpindah ke tubuh Deva. Deva memejamkan matanya entah apa yang ada di pikiran Astha saat ini, dia beranjak dari tempatnya duduk kemudian mengecup mata Deva.
"Walaupun kamu udah gak ada kamu masih bisa lihat aku kan Ran? Kamu bisa lihat aku nangis kan Ran? Kamu selalu perhatiin aku kan Ran?" Astha menangis memeluk Deva. Deva membalas pelukan Astha dan mengelus pelan punggung Astha.
Sekarang Astha sudah mulai tenang, dia sudah bisa mengatur perasaannya.
"Ini" ujar Deva.
"Apa ini?"
"Buku milik bang Aran, gue rasa elo harus baca Tha. Sorry gue lancang udah baca duluan. Tapi karna buku itu gue jadi tahu masalalu elo dan bang Aran."
Astha masih diam menatapu buku kecil berwarna abu-abu dengan sampul bertuliskan inisial RAW.
"Kenapa lo bisa tahu kalo orang yang di buku itu gue?" Tanya Astha.
"Elo inget Tha? Anak kecil yang selalu ikut papanya saat jemput Aran? Anak kecil yang selalu sembunyi di dalam mobil dan gak mau keluar?"
"Elo? Aya?"
"Iya Tha, gue Aya. Aya yang selalu minder saat main"
Astha diam, ya memang benar Aran punya adik. Tapi tunggu saat itu hanya ada Deva lalu dimana Dean?
"Kalo kamu Aya, lalu kenapa ada Dean?ku rasa saat itu cuma ada kamu"
"Aku dan Dean pisah. Dean ikut mama dan aku ikut papa. Bang Aran anak dari selingkuhan papa. Dan mama tahu mama memilih bercerai dari papa. Dana aku ikut papa bersama bang Aran."
Oh iya, Benar Dean pernah bercerita.
"Ya awalnya ku rasa kami bisa hidup bertiga bersama papa membawa kami ke Yogya. Kami tinggal di sana tapi hanya sebentar karna mama sering menyuruh orang-orang kepercayaan kakek untuk mengambilku dari papa. Papa kemudian memutuskan untuk pindah ke Solo dan di sana lah aku dan bang Aran bertemu denganmu. Ya walaupun hanya bang Aran yang mengenalmu secara langsung tapi aku sedikit tahu tentangmu karena bang Aran sering bercerita. Aku tahu dia sangat mengagumimu walau pun kalian sama-sama laki-laki dan saat itu kalian masih kecil tapi saat mendengar bang Aran bercerita tentangmu aku tahu apa yang dia rasakan padamu."
Astha hanya diam menggenggam erat buku yang ia pegang sambil mendengarkan cerita Deva.
"Saat itu aku diam-diam mengagumimu, aku pun sama ingin melindungimu tapi aku gak bisa karena aku gak kayak bang Aran. Aku terlalu takut. Sampai kamu pindah ke Jakarta pun bang Aran masih setia nulis tentang kamu di buku itu. Aku penasaran apa yang ditulis bang Aran di buku itu. Diam-diam aku membacanya. Dan dari situ aku mulai jatuh cinta sama kamu Tha."
Astha menoleh ke arah Deva, menatap wajahnya.
"Sampai hari itu datang, kecelakaan yang menimpa kami bertiga. Papa meninggal di tempat bang Aran kritis dan hanya aku yang selamat tapi mataku gak bisa lihat. Mama putusin buat donorin mata bang Aran buatku.
Sejak saat itu aku melihat dengan mata bang Aran, ini lah yang membuatku semakin ingin mencarimu. Sampai kita bertemu di SMA yang sama, tapi nyatanya kamu gak ngenalin aku. Aku gak mungkin jadi orang yang gak tahu diri dan langsung deketin kamu. Tapi lambat laun aku tahu Dean adikku suka sama kamu. Dan dia lebih berani buat deketin kamu. Aku mundur buat daperin kamu, dan sekarang aku udah lega karena aku udah bisa temuin kamu sama bang Aran." Ujar Deva.
"Makasih" ucap Astha.
Hening kini membayang di antara mereka tak ada pembicaraan lagi.
Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Astha yang kini memikirkan Dean. Dan Deva yang memikirkan nasib hatinya.
* * *
Pagi itu ada yang berubah pikir Astha, Dean tidak seperti biasanya.
Dia menjauh dari Astha bahkan lebih diam dan dingin. Astha salah apa? pikirnya. Ingin Astha mengajak Dean bicara tapi Dean lebih dulu menghindar.
"De, gue ada salah sama elo?" Tanya Astha.
"Minggir lo, jijik gue lihat homo kayak lo." Jawab Dean sambil berlalu keluar kelas.
Astha kaget mendengar jawaban Dean, apa lagi ini? Kenapa dengan Dean?
Tiba-tiba ponsel Astha Bergetar.
Notifikasi pesan masuk.
From; Deva
Kita harus ketemu.Gue tunggu di kantin.
Astha hanya menaikkan alisnya sebelah, ada apa lagi pikir Astha.
Astha bergegas menuju kantin.
Sampai di kantin Astha ssudah duduk dengan sahabatnya Valeri. Segera saja Astha menghampiri mereka.
Alangkah kagetnya Astha melihat wajah babak belur Deva. Perasaan kemarin wajah Deva masih mulus kenapa sekarang sudah penuh lebam, batin Astha.
"Elo kenapa Dev?" Tanya Astha.
"Laki lo tuh yang pukulin abangnya ampe kek gini. Gila aja" ujar Valeri.
"Laki gue? Dean?"
"Iya siapa lagi." Ujar Valeri.
"Kenapa bisa?"
"Ternyata kemarin dia ngikutin kita Yas. Dan dia salah paham saat gue pulang dia langsung membabi buta mukul gue." Terang Deva.
"Apa?!" Tanya Astha. "Kalian tunggu sini gue harus cari tuh manusia satu." Ujar Astha.
Astha beranjak dari duduknya. Iya langsung menelfon Dean namun tak di angkat oleh sang empunya.
Astha mencari di kelas, di gedung olahraga, di taman, di lapangan voly. Tetap aja gak ketemu.
Entah kenapa,sesuatu membawa Astha menuju toilet di dekat aula sekolah. Toilet itu memang jarang di pakai karena terlalu jauh dari area kelas murid. Tiba-tiba terdengar suara desahan yang membahana dati dalam toilet. Pintu toilet terbuka sedikit Astha ragu untuk melihatnya namun rasa penasarannya membawa dia untuk masuk lebih jauh. Betapa kagetnya dia melihat Rachel sedang duduk di atas wastafel dengan kancing baju terbuka dan bra yang menyumbul ke atas. Dataran tinggi miliknya kini sudah terbebas dari kandang ku lihat dia sedang merem melek menikmati hisapan di putingnya.
Siapa itu?
Itu Dean. Apa yang sedang dia lakukan? Dengan nafsunya dia mencumbu Rachel, lidah Dean asik memainkan p****g milik Rachel, tangan yang kanan ia gunakan untuk meremas b*******a yang lain sedang yang kiri sedang ia gunakan untuk masuk ke dalam celana dalam Rachel. Rachel tampak sangat menikmati adegan itu.
Aku yang melihatnya merasa jijik dan sakit, apa yang sedang Dean lakukan? Sakit rasanya melihat dia seperti itu.
Astha mundur namun entah kenapa kakinya menyenggol sesuatu dan membuat kegaduhan, Dean berhenti dan menoleh mata mereka bertemu. Astha menatap Dean dan begitupun sebaliknya.
Namun sedetik kemudian Dean melengos san malah mencium bibir Rachel.
Mata Astha memanas.
"Sorry, gue ganggu" dan Astha segera meninggalkan tempat itu.
Astha berjalan dengan memegangi dadanya yang terasa sesak. Apa yang Dean lakukan? Apa selama ini Dean hanya mempermainkannya? Kenapa dia bisa setega itu pada diri Astha.
Astha berhenti da duduk di bangku dia menghela nafas dalam-dalam otaknya masih belum bisa berfikir jernih dia masih membayangkan apa kejadian tadi. Astha mengusap wajahnya gusar, ekspresi acuh Dean. Tatapan mata Dean yangbpenuh akan kebencian, semuanya terbayang di pikiran Astha.
Sementara Dean segera menghentikan aksinya yang sedang menjamah Rachel.
Dean tak bisa meneruskannya setelah melihat wajah sedih Astha. Namun itu gak seberapa dari sikap Astha yang membohonginya pikir Dean.
"Thanks Hel" ucap Dean sambil membenarkan kerah bajunya dan berlalu begitu saja meninggalkan Rachel.
"Elo mau kemana De? Dean!" Teriak Rachel namun tak di gubris oleh Dean.
Keluar dari toilet Dean melihat Astha duduk di bangku tak jauh dari arah toilet. Astha duduk sambil memegangi dadanya.
Jujur Dean tidak tega, tapi Astha yang memulai dulu.
Dean berjalan melewati Astha tanpa menghiraukan Astha.
"Tunggu, De!" Ucap Astha sambil berdiri.
Dean menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ke arah Astha.
"Lo salah paham De." Ujar Astha.
"Maksud lo?"
"Gue gak ada apa-apa sama Deva."
Dean menoleh dan menghampiri Astha. Tangannya menunjuk ke arah wajah Astha.
"ELO SAMA DEVA SAMA-SAMA HOMO SIALAN!!!ANJING."
"Ini bukan kayak yang lo pikirin"
"OH YA? LO PELUKAN, LO CIUM DIA DAN LO BILANG INI SALAH PAHAM? INI SALAH GUE? b*****t LO!! HOMO SIALAN!!"
Bugh!! Astha menonjok Dean, entah kenapa tangannya tak bisa ia kontrol.
"Heh, begonya gue suka sama cowok sialan kayak elo. HOMO GATEL, HOMO NISTA, HOMO SIALAN!!" ujar Dean." Elo sama Deva itu sama aja!!"
"JAGA MULUT LO ANJING! ELO GAK BERHAK NGOMONG GITU KE GUE!!!"
"HOMO EMANG COCOK SAMA HOMO. SAMA-SAMA BIADAB"
cuih, Dean meludah di hadapan Astha kemudian kembali berjalan meninggalkan Astha.
Astha bergeming menatap punggung laki-laki yang belakangan ini mengisi relung hatinya. Apa yang akan ia lakukan sekarang? Pikir Astha.
Tbc...